Chapter 38

1147 Kata

Davika menutup kopernya dan menarik benda itu melewati pintu kamarnya. Kaki jenjangnya kembali melangkah masuk dalam kamarnya dan berdiri di sana sejenak. Gadis itu meremas jemarinya ketika melihat sekeliling kamarnya. Ruangan ini menjadi tempatnya paling banyak menghabiskan waktu. Banyak kenangan yang terbentuk di ruangan ini. Kini, Davika akan pergi meninggalkannya entah sampai kapan. Setelah puas melihatnya untuk kali terakhir, gadis bermata cokelat itu keluar dari kamarnya. Dia menutup pintu kamarnya perlahan lalu menyeretnya ke lantai satu. Sampai di bawah, matanya kembali berkelana di setiap sudut rumah itu. Rumah ini yang menjadi saksi bisu dirinya dari kecil hingga seperti sekarang. Sama seperti kamarnya, lantai bawah ini juga banyak menyisakan kenangan yang membuat dadanya sesak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN