Bab 5: Perpisahan Sementara

1460 Kata
Pagi itu, suasana di meja makan terasa sangat berat. Aroma kopi yang biasanya menenangkan kini terasa hambar bagi Alya. Di seberang meja, Rayhan duduk dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat formal, namun wajahnya terlihat jauh lebih muram dari biasanya. Ia terus menatap layar tabletnya, namun jemarinya berulang kali mengetuk meja dengan tidak sabar. "Mas benar-benar harus pergi hari ini?" tanya Alya memecah keheningan. Rayhan meletakkan tabletnya dan menatap Alya dalam-dalam. "Hanya dua hari, Alya. Ada masalah di pabrik cabang di Surabaya yang tidak bisa diselesaikan lewat telepon. Doni sudah di sana, dan aku harus menyusul untuk menandatangani dokumen penting." Mendengar nama Doni, jantung Alya mencelos. Ia masih teringat tatapan tidak sopan pria itu kemarin. "Apa tidak bisa orang lain saja yang pergi?" Rayhan berdiri, berjalan memutari meja dan berdiri di belakang Alya. Ia memeluk pundak istrinya dari belakang, menghirup aroma rambut Alya yang segar. "Percayalah, jika aku bisa membawa pabrik itu ke sini, aku akan melakukannya agar tidak perlu meninggalkanmu sedetik pun." Rayhan memutar kursi Alya sehingga mereka berhadapan. Ia berlutut di depan istrinya, memegang kedua tangan Alya dengan sangat erat. "Selama aku pergi, aku ingin kau tetap di dalam rumah. Jangan pergi ke taman depan, jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali Bi Minah. Jika ada paket, suruh Sari yang ambil dan letakkan di depan pintu kamar saja." Alya mengangguk patuh. "Aku mengerti, Mas. Mas jangan terlalu khawatir." "Bagaimana aku tidak khawatir?" suara Rayhan merendah, menjadi sangat serak. "Memikirkan ada laki-laki lain di luar sana yang mungkin berpapasan denganmu saja sudah membuatku gila, apalagi harus meninggalkanmu sejauh ini." Rayhan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan aplikasi CCTV rumah mereka. "Aku akan memantau dari sana setiap jam. Jika kau butuh sesuatu, langsung telepon aku. Ponselmu jangan pernah jauh dari tanganmu, mengerti?" "Iya, Tuan Suami," goda Alya mencoba mencairkan suasana. Mendengar panggilan itu, Rayhan menarik Alya ke dalam pelukannya yang sangat posesif. Ia mencium bibir Alya dengan penuh penekanan, seolah ingin meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus oleh siapa pun. Perpisahan yang hanya dua hari itu terasa seperti dua tahun bagi Rayhan yang sudah kecanduan pada kehadiran Alya. Tepat jam sembilan pagi, mobil jemputan Rayhan tiba. Rayhan berulang kali berbalik sebelum masuk ke mobil, menatap Alya yang berdiri di ambang pintu. Setelah mobil itu hilang dari pandangan, Alya menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia merasa rumah besar itu mendadak menjadi sangat sepi dan dingin. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun, saat melewati dapur, ia melihat Sari sedang berdiri di dekat jendela, memperhatikan mobil Rayhan yang menjauh dengan senyum yang aneh. "Puas ya, Nyonya? Akhirnya bisa bebas dari pengawasan Tuan Rayhan?" sindir Sari tanpa menoleh. Alya berhenti. "Apa maksudmu, Sari? Mas Rayhan pergi untuk bekerja." Sari berbalik, matanya berkilat penuh kebencian. "Bekerja atau tidak, yang jelas penjagamu sudah pergi. Kamu pikir Tuan Rayhan itu mencintaimu? Dia itu hanya terobsesi. Kamu itu seperti burung dalam sangkar, dan sekarang sangkarnya sedang tidak terkunci. Tapi ingat, mata-matanya ada di mana-mana." Alya tidak menanggapi. Ia memilih naik ke lantai atas. Ia tidak ingin berdebat dengan gadis yang jelas-jelas iri padanya. Namun, perkataan Sari soal "sangkar tidak terkunci" membuat Alya merasa tidak nyaman. Di dalam kamar, Alya mencoba menyibukkan diri dengan membaca buku. Namun, setiap beberapa menit, ponselnya bergetar. “Kenapa kau menutup gorden kamar? Aku tidak bisa melihatmu dari kamera balkon.” Pesan dari Rayhan masuk. Alya segera membuka gordennya. “Maaf Mas, silau matahari tadi mengenai buku yang aku baca.” “Tetap biarkan terbuka. Aku ingin melihatmu setiap kali aku membuka aplikasi ini di sela rapat.” Balas Rayhan lagi. Alya menghela napas. Ia merasa seperti peserta reality show yang dipantau 24 jam. Ia berjalan ke arah kamera CCTV di pojok plafon, lalu melambaikan tangan kecil ke arah lensa itu. Di seberang sana, di dalam mobil menuju bandara, Rayhan tersenyum tipis melihat tingkah istrinya melalui layar ponselnya. Siang harinya, Bi Minah mengetuk pintu kamar Alya. "Non, ada kiriman bunga untuk Non Alya. Katanya dari teman Tuan Rayhan." Alya mengernyit. Teman Rayhan? Ia turun ke bawah dengan ragu. Di meja tamu, ada sebuket besar mawar merah darah yang sangat mencolok. Tidak ada kartu nama, hanya sebuah tulisan pendek: “Untuk mawar yang tersembunyi di dalam rumah batu. Sampai jumpa segera.” Alya merasa bulu kuduknya berdiri. Tulisan itu tidak terasa seperti ucapan selamat, tapi lebih seperti ancaman yang dibungkus keromantisan. Ia segera menelepon Rayhan, namun ponsel suaminya tidak aktif—mungkin sudah berada di dalam pesawat. "Bi, siapa yang mengantar ini?" tanya Alya pada Bi Minah. "Hanya kurir, Non. Tapi tadi katanya yang pesan pria muda, suaranya agak serak begitu," jawab Bi Minah polos. Alya teringat suara Doni. Ia segera menyuruh Bi Minah membuang bunga itu ke tempat sampah di luar. Ia tidak ingin Rayhan melihat bunga itu melalui CCTV dan salah paham. Namun, saat Alya hendak kembali ke atas, ia melihat Sari sedang berdiri di pojok ruangan, sedang asyik memainkan ponselnya sambil tersenyum-senyum. "Sari! Apa kau yang memberitahu alamat rumah ini pada orang luar?" tanya Alya tegas. Sari mengangkat bahu dengan santai. "Semua orang juga tahu rumah Tuan Rayhan, Nyonya. Tidak perlu diberitahu." Sari kemudian pergi ke belakang sambil bergumam, "Mawar merah... sangat cocok untuk gadis 'nakal' seperti dia." Malam pun tiba. Ini adalah malam pertama Alya tidur sendirian di ranjang besar itu. Ia merasa sangat kesepian tanpa d**a bidang Rayhan yang biasanya menjadi tempatnya bersandar. Ia mengenakan daster daster satin tipisnya, namun kali ini ia membungkusnya dengan bathrobe tebal karena merasa kedinginan—atau mungkin merasa tidak aman. Tiba-tiba, suara dentum keras terdengar dari lantai bawah. Seperti suara kaca pecah. Alya tersentak dari tempat tidur. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia bisa mendengarnya di telinga sendiri. Ia segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Rayhan. Masih tidak aktif. Ia mencoba menghubungi nomor kantor Rayhan, namun tidak ada jawaban karena sudah larut malam. Alya memberanikan diri keluar kamar. Ia membawa lampu tidur kecil sebagai senjata seadanya. Dengan langkah gemetar, ia menuruni tangga. Suasana sangat gelap karena Rayhan selalu menyuruh mematikan lampu tengah untuk menghemat energi dan agar CCTV inframerah bekerja lebih baik. "Bi Minah? Sari?" panggil Alya dengan suara bergetar. Tidak ada jawaban. Saat sampai di ruang tamu, Alya melihat jendela dekat taman belakang sudah terbuka lebar. Angin malam yang dingin berembus masuk, menerbangkan gorden putih di sana. Di lantai, ada vas bunga yang pecah berkeping-keping. Alya hendak berbalik lari ke atas untuk mengunci diri, namun tiba-tiba sebuah tangan besar membekap mulutnya dari belakang. Aroma alkohol yang menyengat langsung menusuk hidungnya. "Sssshhh... jangan berisik, Mawar Cantik," bisik sebuah suara yang sangat ia kenali. Suara Doni. "Rayhan sedang sibuk dengan mesin-mesinnya di Surabaya. Dia tidak akan tahu kalau aku mampir sebentar untuk mencicipi apa yang selalu dia banggakan." Alya meronta sekuat tenaga. Ia mencoba menendang dan mencakar, namun tenaga Doni jauh lebih kuat. Doni menyeret Alya menuju sofa ruang tamu. "Lepassshhh!" Alya berhasil menggigit tangan Doni hingga pria itu mengaduh. "b******k!" Doni menampar pipi Alya hingga gadis itu terjatuh ke sofa. "Jangan jual mahal. Aku tahu kau biasa nongkrong dengan laki-laki. Apa bedanya aku dengan mereka?" Doni mulai mendekat, namun di saat kritis itu, tiba-tiba seluruh lampu di rumah itu menyala dengan sangat terang. Suara sirine keamanan yang memekakkan telinga meraung-raung dari setiap sudut plafon. "APA-APAAN INI?!" teriak Doni panik sambil menutup telinganya. Dari pengeras suara tersembunyi di langit-langit, terdengar suara Rayhan yang menggelegar, sangat dingin dan penuh amarah yang mematikan. "Doni... aku sudah melihatmu sejak kau menginjakkan kaki di halaman belakangku. Jangan berani menyentuhnya dengan satu jari pun, atau kau tidak akan pernah melihat matahari besok pagi." Alya menangis sejadi-jadinya, ia menatap ke arah kamera CCTV di pojok ruangan. Rayhan benar-benar memantaunya. Meskipun berada di kota yang berbeda, Rayhan masih bisa mengendalikan keamanan rumahnya. "Sari! Panggil polisi sekarang atau kau juga akan mendekam di penjara bersama pria b******k ini!" teriak suara Rayhan lagi melalui sistem intercom rumah. Doni yang ketakutan setengah mati segera berlari keluar melalui jendela yang ia pecahkan tadi. Ia tidak menyangka sistem keamanan Rayhan seketat itu. Ia pikir Rayhan hanya membual soal memantau setiap detik. Alya meringkuk di sofa, gemetar hebat. Tak lama kemudian, Rayhan menelepon ponselnya. Alya mengangkatnya dengan tangan yang masih gemetar. "Alya! Kau tidak apa-apa?! Katakan padaku kau tidak apa-apa!" suara Rayhan terdengar sangat panik dan penuh penyesalan. "Mas... aku takut... hiks... Mas, pulang..." tangis Alya pecah. "Aku akan pulang sekarang juga! Aku sudah menyewa helikopter pribadi, aku akan sampai dalam dua jam. Tetaplah di sana, jangan matikan telepon ini. Aku ingin mendengar napasmu sampai aku sampai di depanmu. Bi Minah sedang menuju ke sana sekarang, aku sudah meneleponnya." Malam itu menjadi malam yang sangat panjang. Alya menyadari bahwa sangkar emas ini memang mengurungnya, tapi sangkar ini jugalah yang melindunginya dari monster di luar sana. Dan bagi Rayhan, kejadian ini adalah puncak dari segala obsesinya. Ia tidak akan pernah lagi meninggalkan Alya sendirian, meski hanya untuk satu jam saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN