"Mama...." Bilal genggam tangan Ayu yang masih pucat. "Hm ... aku butuh pendamping yang peduli mamaku yang cantik. Clay sudah tau Mama sakit, tapi dia marah dan kesal. Dia nggak peduli Mama." Lagi-lagi Ayu mendelik tidak percaya. "Masa sih?" "Iya, Ma. Aku berulang kali menghubunginya, tapi dia malah balik kesal ke aku, marah ... dia nggak peduli Mama." "Nggak mungkin, Bilal. Atau mungkin dia kesal menunggu kamu terlalu lama." Bilal menggeleng. "Ya ... tapi kan itu sudah menunjukkan bahwa dia hanya peduli sama dirinya sendiri dan nggak peduli Mama." Tidak tahu kenapa Bilal seolah menutupi kenyataan yang sebenarnya di depan mamanya, bahwa yang sebenarnya terjadi adalah justru dia yang telah mengabaikan Clay dan tidak memberi kabar mamanya kepada Clay. Atau, mungkin Bilal yang terlalu ke

