Suara renyah Clay menghilangkan penat di otak Naresh, yang seharian ini memikirkan sikap Bilal. Dia putar setirnya ke arah rumah Clay. Mengingat-ingat awal kedekatannya dengan Clay mendamaikan perasaan Naresh. Dia lalu menepis bayang-bayang wajah kesal Bilal yang barusan dia lihat, berpikir bahwa itu harus diabaikan. Pertunangannya dengan Clay sudah disetujui keluarga besar dan semua mendukungnya. Jadi dia tidak punya alasan apapun untuk hanya memikirkan perasaan satu orang, bahkan orang itu sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Clay. Ketika mobil Naresh sudah hampir mendekati pagar tinggi rumah Clay, secara otomatis pagar itu terbuka, seakan sudah mengenal mobil yang dikendarai Naresh, karena sudah pernah masuk ke dalam pekarangan rumah Clay. Sontak teriakan ramai datang dar

