Part 20 - Nostalgia

1593 Kata

Punggung Dira langsung tersandar lemas. Lututnya ikut lemas membuatnya tak sanggup berdiri. Seketika wajah Dira pun menjadi pucat. Matanya masih terbelalak menatap Naurin yang tembus pandang. Dira bisa melihat tulisan di dinding perpustakaan yang berada di belakang Naurin. Tubuh Naurin seperti bayangan tembus pandang berwarna pucat, namun sekitar tubuhnya memancarkan cahaya. “Aku bukan lagi manusia, Ra.” Sekali lagi Naurin memberi pengakuan pada Dira.   ***   “Ra!” Dirga memanggil sang adik yang sedang melamun dan menyadarkannya kembali pada kenyataan. “Eh iya, Mas!” jawab Dira. “Kok kamu bengong gitu sih, Ra?” tanya Dirga seraya duduk di sebelah sang adik. Dira menggeleng pelan. “Enggak bengong kok, Mas!” elak Dira. “Gak usah bohong sama Mas Dirga, Ra! Pasti ada sesuatu yang lagi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN