Damian melonggarkan pelukan. Lalu menatap Kinan dengan hangat. Ada linangan di dalam matanya yang sekuat tenaga ia tahan. Namun, dia berusaha mengembangkan senyum untuk pertama kalinya pada Kinan. Senyum tulus tanpa dibuat-buat. Senyum yang membuat Kinan merasakan sebuah perasaan yang lama sekali tidak ia dapatkan dari sosok laki-laki. Senyuman yang mampu menggetarkan hatinya begitu heba. “Boleh aku memelukmu sekali lagi?” tanya Damian dengan suara parau. Andai saja ini bukan tempat umum, mungkin air di mata Damian sudah menganak sungai. Ia akan menangis sejadi-jadinya seperti apa yang Kinan bilang, bahwa tak masalah ketika seorang laki-laki menangis. Karena menangis bukan sebagai pertanda kaum laki-laki lemah. Justru lewat air matalah ketulusan ikut meruah di dalamnya. Kinan

