Kinan menyenderkan sikunya ke jendela mobil. Menopang dagunnya sambil menatap keluar. Mengamati pemandangan yang ia lewati sepanjang jalan. Raganya ada bersama Sekretaris Sin di dalam mobil, namun pikirannya berkeliaran entah kemana. Kelebatan tentang Damian yang merubah hidupnya beberapa hari ini, terus memenuhi pikirannya. “Muka Anda persis seperti muka Pak Damian saat sampai di kantor tadi,” ucap Sekretaris Sin tiba-tiba, saat menyadari wajah Kinan yang keruh. Ia ragu sebenarnya untuk memulai percakapan. Namun tetap memberanikan diri mencoba untuk mencairkan suasana. Meski topik yang dibahas adalah soal Damian yang menurut sebagian karyawan begitu menyebalkan untuk diperbincangkan. Kinan hanya membalas ucapan Sekretaris Sin dengan senyum sedikit dipaksakan. Ia membenarkan rambut yan

