“PUNYA MATA ITU DIPAKE. JANGAN CUMA DIJADIKAN PAJANGAN!” bentak laki-laki bertubuh tinggi di depan Kinan. Garis wajahnya benar-benar tampan meski sedang marah besar.Kulitnya putih terawat dengan garis rahang yang tegas. Tubuhnya proporsional dengan bahu lebar dan d**a yang bidang.
“Ma-maaf. Saya tidak sengaja.”
Kinan menurunkan kepala tiga puluh derajat untuk meminta maaf. Khawatir kalau laki-laki itu bertindak semakin jauh. Ia segera berbalik meminta tisu pada seorang wanita yang berdiri di depan kasir. Wanita itu dengan sigap mendekatkan kotak tisu yang berada tak jauh darinya.
Dengan gelagapan juga tangan gemetar, Kinan mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap noda kopi di d**a laki-laki yang bernama Damian itu. Ia menghujani Damian dengan kata maaf agar kemarahan Damian segera mereda.
“Don’t touch!” Damian menggenggam tangan Kinan yang memegang tisu agar menjauh dari tubuhnya. “Aku tidak suka dipegang. Kamu lancang sekali!”
Seluruh pasang mata di kafe terpusat pada mereka. Air wajah Kinan berubah merah sepenuhnya. Ia seperti ditelanjangi saat ini. Benar-benar dipermalukan.
“Saya akan cuci bersih bajunya. Kalau perlu saya ganti rugi seharga kemeja yang Anda pakai. Anda buka dulu saja!” ucap Kinan sesopan mungkin. Maksud perkataannya adalah tentang bagaimana Damian memberikan kemeja itu pada Kinan setelah berganti baju. Namun karna kata-kata Kinan terdengar ambigu hingga Damian menangkapnya lain.
“Semakin kurang ajar, ya, kamu!”
Semakin tinggi intonasi Damian, membuat kepala Kinan semakin menunduk karena perasaan bersalahnya. Ia bingung sekaligus tak tahu lagi harus berbuat apa agar laki-laki itu mau memaafkannya dan tak membuat masalah ini berlarut.
“Bu-bukan begitu maksud saya. Ta-tapi …,”
Damian menilik jam di pergelangan tangan yang harganya setara uang sewa kontrakan Kinan selama satu tahun. Ia menghela napas berat lalu menggeleng putus asa.
“Kamu mengacaukan semuanya. Hari ini bukan hanya kemeja saya yang kamu kotori. Tapi seluruh jadwal saya hancur. Pertemuan dengan klien hari ini batal gara-gara kamu! Apa kamu bilang? Ganti rugi kemeja saya? Kamu tahu berapa harga kemeja yang saya pakai?”
Damian menatap Kinan dari atas sampai bawah. Mulutnya mendesis. Bahkan dia bisa memastikan harga outfit yang dikenakan Kinan totalnya hanya seperempat dari harga kemejanya saja.
“Saya tetap akan ganti meski begitu. Sebagai wujud permintaan maaf saya.”
Lagi-lagi Damian hanya berekspresi merendahkan. Saat ini Kinan tak bisa berbuat banyak karena sadar betul dia salah.
Kinan melongok ke arah jendela di mana tadi dia duduk bersama Tasya. Orang yang ia cari tak ada. Kursi di meja yang mereka tempati kosong. Kemana Natasya saat ini? Padahal sekarang dirinya begitu butuh bantuan.
Tanpa diduga Damian membuka kemejanya yang terkena noda kopi. Mempreteli satu per satu kancing yang menempel. Lalu melemparkan kemejanya sedikit kasar ke arah Kinan.
“Aku kabulkan permintaanmu. Cuci saja bajuku hingga bersih. Tapi hanya dalam lima menit kamu harus bisa membuatnya seperti semula! Bisa?”
Dada bidang Damian yang menonjol naik turun. Ritmenya seirama dengan kemarahan yang ia miliki. Harusnya ia tak perlu semarah ini pikir Kinan. Namun laki-laki dengan rambut belah samping memakai gel rambut itu, pasti punya sebuah alasan.
Kinan memungut kemeja putih yang jatuh ke lantai lalu mendekapnya ke d**a. Dalam otaknya, hanya manusia yang mempunyai jin peliharaan yang bisa mengabulkan permintaan laki-laki itu. Tentang bagaimana kemeja akan bersih seperti semula dalam lima menit.
“Besok saya kembalikan!” ujarnya pelan. Hampir tak terdengar. Baginya perlakuan tak menyenangkan dari orang adalah hal biasa. Meski memang tetap saja membuat hatinya sakit.
Damian menarik paksa kemeja dari tangan Kinan lalu memakainya kembali. Mengancingi kemejanya satu per satu hingga tersisa dua kancing bagian atas yang sengaja terbuka. Membuat d**a bidang itu masih terlihat jelas.
“Bahkan jika kau menjual dirimu, itu tak akan cukup mengganti semuanya. Tentang waktu berhargaku juga segala kerugian yang kamu sebabkan hari ini. Salahkan ibu dan ayahmu karena membuat dirimu terlahir di keluarga miskin.”
Damian memutar balik tubuhnya lalu melangkah meninggalkan Kinan yang mematung.
Kata-kata Damian yang tajam seketika membuat air mata Kinan menggenang di pelupuk. Lalu dalam hitungan sepersekian detik berebut keluar tanpa terelakan. Kali ini kata-kata Damian baginya teramat keterlaluan.
“HEEEY LAKI-LAKI KURANG AJAR!” Kinan berteriak keras sembari melangkah besar mengejar langkah Damian.
Sadar jika kata itu ditujukan padanya, Damian dengan cepat berbalik.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Damian dengan tiba-tiba. Damian tercengang sembari memegangi pipinya yang memerah. Menatap kesal pada Kinan yang berani sekali terhadapnya.
“Aku memang miskin. Tapi aku masih punya harga diri. Dirimu kaya tapi tak pantas jika merendahkan siapapun yang kamu temui hanya karena sebuah kesalahan kecil yang tak disengaja. Kamu sudah keterlaluan, Tuan Kaya Raya!”
Kondisi kafe benar-benar hening saat itu. Tidak ada pergerakan berarti dari semua pengunjung yang mengisi kafe hampir lima puluh persennya. Dimana sepuluh meja terisi. Sedang meja lainnya kosong. Bahkan laki-laki muda yang bertugas sebagai waiters tidak berani melerai. Termasuk perempuan kasir yang memberikan tisu. Mereka tahu betul siapa yang mereka hadapi. Damian adalah pemilik kafe dimana tempat mereka bekerja. Mereka tak mau sampai dipecat akhirnya.
“Kamu tak tahu jika ketidaksengajaanmu mengacaukan segalanya? Makanya aku tak pernah mau berurusan dengan orang miskin sepertimu. Semuanya hanya akan kacau jika tangan-tangan mereka terlibat.”
“Jaga ucapanmu! Tidak semua orang bisa kamu perlakukan seenaknya. Aku bertanya-tanya darimana sifatmu berasal. Namun aku yakin semua menurun dari didikan ayah, terutama ibumu. Benar, kan, Anak Mami?! Dia tak mengajarimu cara bagaimana memperlakukan perempuan, bukan?”
Lagi-lagi hening untuk sesaat. Hanya alunan musik klasik yang terdengar menjadi latar pertengkaran mereka.
Damian mengepalkan tangan ke udara hendak melayangkannya pada Kinan. Kinan bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Memejamkan mata dan mempersiapkan diri menahan sakit dari tamparan yang akan ia terima.
“Ayo, tampar!” pinta Kinan saat membuka mata dan mendapati tangan Damian hanya mengambang di udara.
Tiba-tiba saja Damian membungkukan badan agar sejajar dengan Kinan. Mendekatkan bibirnya tepat di telinga Kinan.
“Jangan sampai kau bertemu lagi denganku. Jika itu terjadi, maka hidupmu akan kubuat menderita.” bisik Damian dengan tegas. Lalu ia menarik wajahnya menjauh. Menyunggingkan senyum jahat dengan mata dan wajah yang sepenuhnya memerah.
“Oh, ya, satu lagi!!” Damian mendekatkan wajahnya di depan wajah Kinan. Kembali menyetarakan tinggi dengan Kinan yang hanya setinggi dadanya. Mata mereka kini hanya berjarak beberapa senti. “Kau harus meminta maaf pada ibuku di surga.”
Kinan terhenyak. Bibirnya kelu dengan aliran darah yang sepertinya terhenti saat laki-laki itu meninggalkan tubuhnya sendirian. Dia menatap punggung Damian yang menjauh hingga menghilang dari balik pintu kaca transparan. Masuk ke dalam mobil mewahnya.
Badan Kinan seketika lemas. Ia tak bisa berdiri tegak setelah kemarahannya tadi. Namun seseorang dari belakang yang setengah berlari dari arah toilet ,menahannya segera agar tak jatuh ke lantai. Membantunya duduk di kursi terdekat. Meminta segelas air putih pada seorang waiters yang dengan cepat berlari mengambilkan air.
“Dari mana saja kamu, Sya?” tanya Kinan dengan suara lemas.
“Aku habis dari toilet tadi. Tiba-tiba perutku sakit. Ada apa ini, Nan?” tanya Tasya cemas.
Kinan hanya menggeleng lemah. Sebaiknya ia menceritakan kejadian ini pada Tasya saat nanti di kontrakan.
Seorang pelayan membawakan segelas air putih yang diminta ke meja mereka. Namun sebelum Kinan meminumnya, telepon genggam dari balik saku jaket yang ia kenakan bergetar. Muncul nama Kavin dengan emoticon love di layar. Ia mengangkat segera dengan suara parau. Wajah Kinan pucat dalam sambungan telepon itu. Dia bahkan menutup teleponnya tanpa berbicara sepatah kata pun pada orang di sebrang sana.
“Kenapa, Nan? Apa kata Kavin barusan?”
Kinan mengumpulkan kekuatan sebisa mungkin sebelum menjawab. Menghela napas pelan sembari menutup mata untuk sepersekian detik.
“Kavin minta putus, Sya …,” ucapnya dengan suara bergetar.
Tanpa bertanya lebih banyak, Tasya segera memeluk Kinan yang terisak dengan amat erat. Menepuk-nepuk punggungnya lembut.
Perhatian tamu kafe masih belum beralih dari Kinan. Namun ia memilih tak perduli. Kinan hanya ingin menumpahkan tangisnya kali ini.