BAB 9 – SEBUAH JANJI DI BAWAH CAHAYA BULAN
Angin malam Riviera berembus lembut, membawa aroma laut yang bercampur dengan wewangian eksklusif yang memenuhi udara. La Vienne, kapal pesiar milik Marco Maxdev, berlayar anggun di atas perairan gelap yang berkilauan di bawah cahaya bulan.
Di dek utama, di bawah lampu kristal yang tergantung tinggi, tamu-tamu kalangan elit menikmati malam mereka dengan sampanye terbaik dan percakapan penuh kepentingan. Namun, di tengah semua itu, hanya ada satu sosok yang menarik perhatian Marco.
Lovania Valley.
Wanita itu berdiri di dekat pagar kapal, mengenakan gaun hitam berkilauan dengan belahan tinggi yang memperlihatkan siluet kakinya yang panjang dan anggun. Rambutnya tergerai lembut, mata keemasannya memantulkan cahaya malam, menciptakan ilusi seorang ratu di atas tahtanya.
Marco berjalan mendekat, langkahnya tetap tenang, tetapi tatapannya mengunci pada Lovania seolah dia adalah satu-satunya hal yang benar-benar berarti di tempat ini.
Tanpa menoleh, Lovania berbicara terlebih dahulu.
Lovania: (Suaranya tenang, tetapi ada ketajaman tersembunyi di dalamnya)
"Saya hampir berpikir Anda tidak akan datang untuk menemui saya malam ini, Tuan Maxdev."
Marco berhenti tepat di sampingnya, menyandarkan satu tangannya ke pagar kapal, membiarkan tubuh mereka hampir bersentuhan.
Marco: (Suaranya dalam, rendah, dengan senyum samar di sudut bibirnya)
"Jika saya ingin sesuatu, saya selalu memastikan untuk mendapatkannya, sayang."
Lovania akhirnya menoleh, menatap Marco dengan mata yang menyimpan sesuatu yang tidak mudah dipecahkan.
Lovania: (Nada suaranya sedikit menggoda, tetapi tetap terkontrol dengan sempurna)
"Dan apa yang Anda inginkan malam ini?"
Marco tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia mengambil gelas sampanye dari meja di dekatnya, menyesapnya perlahan sebelum menaruhnya kembali. Lalu, dengan gerakan halus, dia mengangkat tangan dan menyentuh dagu Lovania, mengarahkannya sedikit agar wajah mereka semakin dekat.
Marco: (Bisikannya begitu halus, tetapi memiliki daya tarik yang sulit diabaikan)
"Saya ingin jawaban."
Lovania tersenyum kecil—sebuah senyum yang lebih seperti tantangan daripada persetujuan.
Lovania: (Nada suaranya tetap tenang, seolah sedang memainkan permainan yang sudah lama dia kuasai)
"Dan jika saya belum siap memberikannya?"
Marco mendekat sedikit lagi, hingga dia bisa merasakan kehangatan napas Lovania di kulitnya.
Marco: (Suaranya dalam, hampir seperti janji yang tersembunyi di balik ancaman halus)
"Saya tidak pernah keberatan menunggu… selama saya tahu apa yang saya tunggu itu sepadan."
Lovania mengangkat alisnya sedikit sebelum akhirnya tertawa pelan.
Lovania: (Mengangkat gelas sampanye dari tangannya dan menyesapnya dengan anggun)
"Anda adalah pria yang sangat percaya diri, Tuan Maxdev."
Marco tersenyum tipis, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membiarkan bibirnya hampir menyentuh telinga Lovania.
Marco: (Berbisik dengan nada rendah yang berbahaya)
"Dan Anda adalah wanita yang terlalu sulit untuk ditebak, Miss Valley."
Lovania menoleh perlahan, sehingga wajah mereka hanya terpisah beberapa inci.
Lovania: (Suaranya lembut, tetapi ada sesuatu yang tajam di baliknya)
"Mungkin karena saya bukan teka-teki yang bisa diselesaikan dengan mudah."
Marco menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil sebelum akhirnya menarik diri dengan gerakan yang begitu terkalkulasi—meninggalkan Lovania dengan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa penasaran.
Malam itu, tanpa kata-kata yang jelas, sebuah janji telah terukir di antara mereka—janji yang melibatkan lebih dari sekadar permainan, tetapi juga sesuatu yang jauh lebih berbahaya.