BAB 17 – TARUHAN DI ANTARA KITA
Cahaya lampu dari dek yacht yang megah menerangi siluet mereka berdua, menciptakan bayangan samar di permukaan air yang beriak tenang. Di antara kilauan anggur merah dan aroma laut yang lembut, atmosfer di antara mereka menjadi semakin intens—bukan sekadar godaan, tetapi sebuah permainan d******i yang belum menemukan pemenangnya.
Marco menatap Lovania dengan mata yang tajam, penuh kalkulasi. Wanita ini bukan sekadar tantangan, dia adalah misteri yang ingin dia kuasai, tetapi tanpa harus menghancurkannya.
Sementara itu, Lovania tetap berdiri dengan elegan, jemari lentiknya dengan tenang menyentuh gelas anggurnya. Dia tahu betul bahwa Marco menginginkan kendali, tetapi dia juga sadar bahwa tidak ada pria yang bisa benar-benar memiliki dirinya tanpa konsekuensi.
Keheningan di antara mereka bukanlah keheningan biasa—itu adalah ketegangan yang mendebarkan, sebuah permainan yang hanya mereka berdua pahami.
Lovania: (Dengan nada tenang, penuh ironi.)
"Jadi, Marco… jika ini sebuah permainan, apa yang Anda pertaruhkan?" (Dia menyesap anggurnya perlahan, matanya masih menatap Marco dengan penuh perhitungan.)
Marco menyeringai kecil—senyum khas seorang pria yang terbiasa menang, tetapi kali ini dia tahu lawannya bukan wanita biasa.
Marco: (Dengan nada rendah, nyaris berbisik, tetapi penuh otoritas.)
"Saya tidak pernah bermain tanpa memastikan bahwa saya menang, sayang." (Dia melangkah lebih dekat, jemarinya menyentuh pagar kapal, mengurung Lovania dalam auranya yang mendominasi.)
"Tapi untuk Anda, saya mungkin akan membuat pengecualian."
Lovania menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya tetap tak tergoyahkan. Dia tidak seperti wanita lain yang mudah terbuai oleh kata-kata Marco—justru, dia menikmati melihat pria itu mencoba membuatnya tunduk.
Lovania: (Dengan nada menggoda, tetapi tetap dingin.)
"Pengecualian?" (Dia tersenyum samar, bibir merahnya membentuk kurva sempurna.)
"Atau justru Anda mulai ragu bahwa Anda bisa menaklukkan saya?"
Marco tertawa pelan, suaranya dalam dan kaya, seperti anggur mahal yang telah melalui proses fermentasi terbaik. Dia mendekat sedikit lagi, membiarkan aromanya yang maskulin dan eksklusif menyelimuti Lovania.
Marco: (Dengan suara yang lebih rendah, lebih intim.)
"Saya tidak pernah ragu. Saya hanya menikmati melihat Anda mencoba melawan sesuatu yang tak terhindarkan." (Dia menyentuh ujung rambut Lovania dengan lembut, memainkan helaian gelap itu di jemarinya.)
"Dan percaya saya, Miss Valley… tidak ada satu pun wanita yang bisa lari dari saya ketika saya sudah menginginkannya."
Lovania tetap diam, tetapi tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan sesuatu—bukan kepanikan, bukan ketakutan, tetapi ketertarikan yang samar, sesuatu yang bahkan dia sendiri enggan akui.
Dia menyandarkan dirinya sedikit ke pagar kapal, memainkan gelas anggur di tangannya. Jika Marco berpikir dia bisa menaklukkannya dengan mudah, maka pria itu salah besar.
Lovania: (Dengan nada halus, tetapi menusuk.)
"Maka kita lihat saja, Tuan Maxdev… siapa yang akan menyerah lebih dulu?"
Marco mengangkat gelasnya, menyesap anggurnya dengan elegan, sebelum menatap Lovania dengan sorot mata yang lebih dalam.
Marco: (Dengan nada penuh keyakinan.)
"Sayang, Anda mungkin bisa bersembunyi di balik permainan ini… tapi Anda akan segera menyadari bahwa saya tidak akan membiarkan Anda lari begitu saja."
Lovania tersenyum kecil. Malam ini, permainan telah menemukan taruhannya—dan mereka berdua terlalu menikmati ketegangan ini untuk segera mengakhirinya.