BAB 63 – NEGOSIASI TANPA KATA
Ruangan terasa semakin sempit, meskipun mereka berada di salah satu restoran paling mewah di kota ini. Di sekitar mereka, orang-orang berlalu lalang dengan gaun mahal dan jas berpotongan sempurna. Namun, hanya ada satu hal yang menarik perhatian mereka—satu sama lain.
Marco menatap Lovania seperti seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun, yang ada di hadapannya bukan wanita biasa. Lovania bukan tipe yang tunduk pada d******i siapapun.
Marco: (Nada rendah, penuh kendali.)
"Aku penasaran, Miss Valley. Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
Lovania menyilangkan kakinya, mempermainkan ujung gelas anggurnya dengan jemari yang ramping. Matanya menatap Marco dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.
Lovania: (Nada santai, tapi mematikan.)
"Kau harus lebih spesifik, Marco. Ada banyak hal yang aku inginkan, dan aku tidak terbiasa menjelaskan keinginanku pada seseorang yang belum membuktikan dirinya layak."
Senyuman tipis Marco muncul, seperti seorang pria yang terbiasa menghadapi tantangan.
Marco: (Nada tajam, penuh makna.)
"Menarik. Jadi, aku harus membuktikan diriku layak untuk sekadar mengetahui ambisimu?"
Lovania menyesap anggurnya dengan anggun, sebelum menatapnya langsung dengan mata yang tajam bak berlian.
Lovania: (Nada menggoda, tapi serius.)
"Tepat. Aku tidak pernah membiarkan orang biasa memahami pikiranku."
Ada keheningan sejenak. Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan, tetapi karena keduanya sedang menakar satu sama lain.
Marco meletakkan gelas whiskey-nya dengan tenang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
Marco: (Nada lebih dalam, penuh otoritas.)
"Kau tidak seperti yang lain. Dan itu membuatku semakin tertarik."
Lovania mengangkat bahu kecil, seolah ketertarikannya bukan hal yang luar biasa.
Lovania: (Nada dingin, tetapi menggoda.)
"Banyak pria tertarik padaku, Marco. Yang membedakan adalah bagaimana mereka bertahan."
Marco menatapnya lama, bibirnya melengkung tipis.
Marco: (Nada rendah, intens.)
"Aku bukan tipe pria yang hanya sekadar tertarik, sayang. Aku seorang pemburu. Dan aku selalu mendapatkan apa yang aku kejar."
Lovania terkekeh pelan, suaranya bagaikan bisikan lembut yang mematikan.
Lovania: (Nada menantang.)
"Maka aku ingin melihat seberapa jauh kau akan mengejar."
Mata mereka saling bertaut, menciptakan ketegangan yang tak bisa diabaikan.
Ini bukan hanya permainan biasa. Ini adalah negosiasi tanpa kata, di mana kekuatan, kendali, dan ketertarikan saling bertabrakan dalam elegansi yang mengancam.
Malam ini, keduanya tahu—mereka baru saja memasuki permainan yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar romansa.