Memasuki Dunia Kelas Atas

1406 Kata
Mentari pagi baru bangun, namun Cahyati sudah berada di bayangan raksasa gedung yang menjulang. Cahyati, dengan blouse berwarna pudar dan celana jeans belel, merasa seperti sebutir debu yang tersesat di istana para Dewa. Ia memandang ke atas, lehernya pegal, dan dalam hati bertanya-tanya, Anjir, ini orang beneran kerja di sini? Jangan-jangan dia kepala security-nya? Semoga bukan kepala cabang, insecure aing. Kakinya melangkah ragu. Setiap hembusan dingin AC terasa seperti bisikan tetangga. Lift pun membawanya naik. Cahyati merapal mantra keyakinan dalam hati. Tenang... tenang... ini cuma akting, business is business. Jangan norak, jangan norak, jangan norak! Meskipun matanya tak henti-hentinya mengagumi setiap inci gedung, dari lantai marmer yang mengilat hingga lampu gantung yang harganya cukup untuk membeli kerupuk se-truk, beserta truknya. Sampailah Cahyati di depan pintu yang gagah. Sebuah plakat perak berukir "HUGO SATRIA ALVALINO, CEO" seakan mengejek keberadaannya. Nyalinya menciut, seolah tersedot lubang hitam. Ia pun mengetuk pelan. "Masuk," suara Hugo terdengar dari dalam. Cahyati membuka pintu dan terkesima. Ruangan itu luas dan mewah. Di dalamnya terdapat meja kerja kokoh yang eksklusif, jendela-jendela membentang, dan aura kekuasaan terasa begitu pekat. Hugo duduk di singgasananya, dengan senyum tipis. "Sini, Celine," sapa Hugo. Tatapannya berubah sekejap ketika menyebut nama Celine. Cahyati menurut, duduk di kursi yang empuknya seperti dibuat dari roti kasur. "Ini draf kontraknya. Kita bahas ya. Biar lo paham, gue nggak bohong soal gaji dan fasilitas," Hugo memulai, sambil menyodorkan lembaran kertas diklip rapi. Cahyati membaca dengan mata membelalak. Poin-poinnya sungguh aneh. Gaji satu miliar per bulan. Biaya perawatan bulanan yang tak terbatas. Sandang, pangan, dan papan dijamin mapan. Bahkan dalam pasal tertulis, "Jika pihak pertama menyinggung, pihak kedua berhak membatalkan kontrak kapan pun tanpa syarat, dan pihak pertama wajib membayar uang ganti rugi dengan jumlah yang ditentukan pihak kedua." "Gila lo? Kenapa... gini amat kontraknya? Apa untungnya buat lo?" tanya Cahyati dengan nada tak percaya. Hugo menyeringai. "Keuntungan gue, status. Lo jadi istri, gue jadi suami. Setahun doang kok." Cahyati terdiam. Pikirannya melayang, menebak apa motif sebenarnya. Nih orang waras nggak sih? Ganteng, kaya, dermawan, baik hati, dan tidak sombong. Kayaknya rajin menabung juga. Masa iya nggak laku? Lalu, sebuah kesimpulan random terlintas di benaknya, Ah, jangan-jangan... homo? Atau... impoten? Matanya sontak memandang Hugo iba. Ya Tuhan. Tabah ya, Bos... Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang rapi dan karismatik masuk, ternyata notarisnya. Cahyati menyaksikan sendiri bagaimana kertas itu disahkan setelah ditandatanganinya bersama Hugo. Setelahnya, Hugo menyerahkan amplop cokelat besar, isinya kartu identitas, kartu kredit, dan kartu ATM. Disertakan juga satu buku nikah yang tampak legit dilengkapi pas foto keduanya, entah dari mana. Cahyati mengamati kartu identitasnya dengan nama Celine Anara dan status Menikah. “Kok bisa?” Cahyati, alias Celine, tercengang. “Hacker langganan, biasalah!” Hugo mengangkat bahunya, seolah bukan hal besar. Hugo juga menunjukkan sebuah foto yang terpajang di bingkai. Memperlihatkan mereka berdua sedang berpose mesra di sebuah altar pernikahan. Cahyati tampak mengenakan gaun putih yang cantik, sementara Hugo mengenakan jas hitam. Foto itu tampak begitu nyata dan intim. Cahyati memicingkan mata, meneliti setiap detilnya. "Ini kan foto pas gue lagi di hajatan? Kok... jadi foto nikah?" Hugo terkekeh. "Teknolojia. Canggih, kan?" Cahyati hanya bisa geleng-geleng kepala. Di foto itu, ia terlihat begitu menawan, seolah-olah memang takdirnya menjadi seorang Celine. Dan hari itu, secara resmi ia telah bertransformasi menjadi Celine, istri kontrak seorang miliarder yang misterius. -oOo- Hari itu, tidak seperti biasa, Cahyati tidak bekerja. Ia berkemas di kamar kosannya, lalu teringat tunggakan hutangnya pada pemilik kosan, Ceu Euis. Ia meraih ponselnya, transferan uang muka dengan jumlah yang besar membuat rekeningnya kegirangan. Tidak lama kemudian, terdengar keributan di depan kosannya. Ternyata Pak Herman, debt collector-nya, mengajak komplotannya. "Cahyati, keluar kamu! Bayar hutangmu! Atau..." "Atau apa?" tanya Cahyati, melangkah santai dari kosannya. "Berisik tau! Berapa sih?" Pak Herman mengecek catatan di saku. "Dua ratus juta tiga puluh tiga ribu." Cahyati langsung membuka ponsel dan mentransfer ke rekening aplikasi pinjol. "Tuh, udah kan?" ia memperlihatkan layar ponselnya. Para penagih hutang yang berebutan melihat layar ponselnya tercengang. "Heh, lintah darat! Sana hempas dari hidup gue! Dasar musuh masyarakat," seru Cahyati lantang sambil memakai kacamata hitam yang ia beli di kaki lima. Ia menyeringai melihat mereka saling pandang dengan wajah bodoh. Salah satu dari mereka berbisik, "Baru jadi simpenan orang kaya kali, Bos." Mereka mengangguk serempak, lalu pulang. Cahyati puas. Perihnya masa lalu kini terbayar kontan dengan kesombongan yang manis. Cahyati masuk kembali ke kosannya. Langkahnya ringan, seperti baru melepaskan beban di pundaknya. Ia mendapati Ceu Euis sedang duduk cemberut di ruang tengah kosan. "Ceu, saya mau bayar kosan," kata Cahyati, sambil menyodorkan seikat uang tunai. "Duh, Neng… serius ini? Uang dari mana?" Ceu Euis langsung merubah raut wajah, sumringah. "Alhamdulillah, ada rejeki. Saya bayar tiga bulan ke belakang. Lebihnya karena Ceu Euis sudah baik hati bolehin nunggak terus." Mata Ceu Euis membelalak. Ia buru-buru membantu Cahyati mengepak barang, bahkan membawakan tas berisi pakaian. "Duh, Neng... Neng mau ke mana? Kok banyak bawa barang? Jangan-jangan mau pulang kampung, ya?" "Saya pindah, Ceu, ke apartemen suami," jawab Cahyati sambil tersenyum misterius. Tak lama kemudian, sebuah mobil BMW seri terbaru, yang kilau bodinya memantulkan sinar matahari, tiba di depan kosan. Kaca mobil terbuka, menampakkan Hugo. Ia mengenakan kaus hitam polos dan celana jeans, namun tetap saja terlihat seperti bintang film yang sedang berlibur di Cannes. Cahyati pun masuk ke mobil itu, meninggalkan semua kenangan pahitnya di belakang, beserta Ceu Euis yang melepasnya dengan ternganga. -oOo- Di bawah langit Jakarta yang sore itu bermandikan jingga, Cahyati, atau kini Celine, berdiri di depan gerbang sebuah apartemen megah. Bangunannya menjulang, memamerkan kemewahan yang seolah menertawakan segala kepolosannya. Di balik gerbang, terbentang kolam renang sejernih kristal, pepohonan rindang menaungi jalan setapak. Mobil-mobil berkilau berjejer bagai barisan prajurit. Anjir, ini apartemen apa taman safari orang kaya sih? batin Celine. Hugo berjalan mendahului, langkahnya penuh percaya diri seolah seluruh koridor adalah karpet merah miliknya. Cahyati mengekor di belakangnya, hatinya berdebar tak keruan. Mereka memasuki lift yang beraroma seperti parfum mahal dan wangi kemakmuran. Lift naik dengan cepat, membawa mereka ke ketinggian. Di lantai 22, pintu terbuka tanpa suara. Di depan Unit 2212, Hugo mengeluarkan kartu akses. Suara "klik" dari kunci yang terbuka terdengar seperti lonceng surga. Begitu pintu terbuka, sebuah dunia baru terhampar di depan mata Cahyati. Ruangan itu begitu luas, mirip luxury suite di hotel, namun dengan sentuhan personal yang lebih hangat. Jendela-jendela besar membentang dari lantai ke langit-langit, menyuguhkan panorama kota Jakarta yang berkilau bagai jutaan permata. Matanya membelalak. Mulutnya menganga. Ini beneran tempat tinggal? Bukan museum atau tempat syuting film Hollywood? batinnya, takjub. Hugo berjalan lebih dulu, mengundangnya masuk. Gaya interiornya bergaya Art Deco yang elegan. Cahyati merasa seperti memasuki majalah interior rumah. Dinding-dindingnya berhias motif geometris, perabotan dari kayu gelap dengan aksen emas dan perak yang berkilau, serta karpet tebal dengan pola-pola rumit. Gadis itu sampai takut menginjaknya, khawatir merusak keindahan maha karya itu. Ia menoleh ke Hugo, "Gue beneran boleh injak lantai ini? Nggak bakal lecet?" Hugo tertawa kecil, menikmati ekspresi polos Cahyati. "Santai aja, Celine. Lo boleh lari-lari di sini. Lantainya nggak bakal bolong." "Lo ngumpulin semua barang antik ini dari mana, sih? Jangan-jangan nyolong dari museum Mesir kuno ya?" bisik Cahyati, matanya tak lepas dari patung-patung kecil yang menghiasi sudut ruangan. Hugo hanya menggelengkan kepala geli, "Bukan, itu gue beli. Ikut gue, gue tunjukin kamar lo." Hugo membawanya ke sebuah lorong. Di sebelah kanan, Hugo berhenti dan menunjuk pintu kayu gelap. "Ini kamar gue," katanya. "Dan ini..." ia menunjuk pintu di sebelahnya, "kamar lo." Cahyati membuka pintu itu. Sebuah ruangan megah menyambutnya. Ranjang berukuran king-size diletakkan di tengah, dengan selimut tebal yang terlihat nyaman. Dilengkapi sofa, meja rias, bahkan lemari pakaian yang besarnya setara dengan kamar kosnya yang lama. Ia berjalan masuk, mencoba menyentuh setiap benda yang ada. Dinding dihiasi lukisan dan lampu di setiap sudut. Hugo menekan saklar, dan cahaya ruangan berubah dari terang menjadi hangat. "Lo bisa atur sendiri lighting-nya. Tekan aja tombolnya semau lo," jelas Hugo. "Ini... beneran buat gue?" tanya Cahyati, suaranya bergetar. "Ini sih bukan kamar, tapi istana! Gue pasti mimpi indah di sini. Makasih ya, Hugo." Melihat matanya yang berbinar senang, Hugo merasa kehangatan merambat di dadanya. Hugo mengamati wajahnya lama. Ada sesuatu di sorot mata itu. Sesuatu yang tidak Cahyati mengerti. “Kalau ada yang kurang, bilang gue,” suara Hugo terdengar lebih lembut dari biasanya. Dasar norak, tapi kok lucu, pikirnya. Ia akhirnya menemukan hiburan yang jauh lebih menarik daripada segala kekayaannya. Hiburan itu bernama Cahyati, si gadis polos dengan komentar-komentar absurdnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN