Sekarang Abel mengerti sepasang rubi yang berpendar dalam diri Juliet mengingatkannya kepada Duke Naval, Monster dari Selatan. Keberuntungan, lagi-lagi, kembali berpihak kepada Elias. Apabila saudara tirinya berhasil mendekati Juliet, dengan kata lain merebut hati Duke Naval, maka bisa dipastikan posisi Elias dalam permainan takhta tidak terbantahkan.
Tanpa sadar Abel menggigit bibir dan darah segar pun mengalir. Dia bahkan mengabaikan panggilan Yevette, kedua matanya terfokus kepada Duke Naval yang kini membopong Juliet.
Perkelahian antara musang dan ular.
Kesatria milik Naval menghalangi Rowan mendekat barang sejengkal kepada Juliet. Seperti kekasih yang dicampakkan, Rowan berusaha mengejar. Dia berhasil melumpuhkan salah seorang kesatria dan merebut pedangnya.
Abel tetap bungkam ketika Rowan berlari mengejar Duke Naval sembari melawan para penghadang. Pedang berdenting ketika bilah besi saling bersentuhan. Suara nyaring mengiris udara. Teriakan amarah dan harga diri.
“Yang Mulia....”
Panggilan Yevette terdengar jauh. Seakan dia tidak berada di dekat Yevette. Terlalu banyak emosi yang ia rasakan secara bersamaan; marah, kecewa, bahkan kecemburuan. Namun, tubuh Abel bergeming. Tidak bergerak satu langkah pun dari tempatnya berpijak.
‘Aku menyukaimu, Yang Mulia.’
Papan catur telah dibalik dan kini semua bidak jatuh berserakan. Abel tidak sempat memungut setiap bidak sebab pihak lawan telah bergerak sementara dirinya telanjur mematung.
‘Kita berdua tidak perlu saling mematuk demi sebuah takhta. Namun, kau sepertinya tidak peduli.’
Abel mulai memikirkan Elias. Kemungkinan kakaknya mengajukan lamaran terhadap Naval ... tidak bisa. Duke Naval jelas memihak Elias, dengan ataupun tanpa ikatan pernikahan di antara dua keluarga. Sekarang Abel perlu memikirkan cara menyingkirkan rintangan.
Setelah menghela napas, mencoba mengumpulkan seluruh energi, dan menjernihkan pikiran; Abel pun berkata, “Konyol.”
‘Kita berdua sudah ada di neraka. Apa bedanya?’
*
Kesatria milik keluarga Charion bergegas datang begitu mendapat laporan dari pelayan. Mereka semua mencengkeram gagang pedang dan bersiap melawan. Rowan harus mengakui kemampuan berpedang kesatria Naval. Dia yang telah berhadapan langsung dengan para monster ternyata masih kepayahan
Level kesatria keluarga Naval setara dengan pasukan setan memang bukan sekadar isapan jempol.
“Juliet!”
Rowan memukul mundur lawan, berkali-kali ia beradu pedang dan setiap kali mengira berhasil lolos, lagi-lagi pergerakannya terhalang.
“Juliet!”
Tidak satu kali pun Juliet berpaling kepada Rowan. Gadis itu masih menangis, wajah terbenam di kedua telapak tangan.
“Rowan! Apa yang kaulakukan?”
Teriakan Diana pun diabaikan oleh Rowan. Dia hanya ingin merebut Juliet dari Duke Naval.
Taman dan bagian depan kediaman Charion tampak seperti telah diamuk badai. Kesatria Charion tergeletak bersimbah darah sementara kesatria Naval masih bertahan.
Kemudian debum terdengar menggelegar hingga Rowan terdiam sesaat.
Asley Charion berhasil keluar dari materai sihir.
*
“Musang!” Asley menatap Alexander yang tengah membopong Juliet. Amarah berkobar di kedua matanya yang gelap. Kedua tangan mengepal. Gigi bergemeletuk menahan emosi. “Kau tidak bisa seenaknya memorak-porandakan kediamanku!”
Mendengar teriakan Asley, tubuh Juliet gemetar.
‘Beraninya menyakiti putriku!’
“Aku akan dengan senang hati memisahkan kepala dan lehermu, Ular,” Alexander merespons amukan Asley. “Tapi, sekarang aku harus menyelamatkan putriku dari pengaruh jahatmu.”
Mengabaikan pelototan Asley, Alexander berjalan menuju kereta. Namun, langkahnya terhenti ketika pecahan kayu menancap di depannya.
“Juliet akan tetap bersama Charion,” Asley mendesis. Setelah melempar potongan kayu, ia mencengkeram daun pintu kereta dan meremuknya. “Tempatnya bersama Charion, bukan Naval.”
“Kau berani menentang perintah Baginda?”
Sejenak Asley kehilangan kata-kata. Hanya Juliet satu-satunya warisan yang ditinggalkan oleh Leyna. Apabila Alexander mengambil Juliet, maka keberadaan Leyna akan benar-benar lenyap dari pandangan Asley.
“Ganti rugi akan dibayarkan olehku.” Alexander mengabaikan Asley yang kini diam seribu bahasa. “Namun, jangan sekali-kali mencoba mendekati putriku.” Tatapan Alexander jatuh kepada Rowan. “Camkan itu.”
Alexander masuk ke kereta kuda. Setelahnya kesatria Naval pun bergegas meninggalkan kediaman Charion. Para pekerja dan kesatria Charion amat terguncang. Seumur hidup mereka tidak mungkin lupa pada perkelahian di antara musang dan ular.
*
Aku bisa merasakan betapa Juliet mendamba kehadiran seseorang yang akan memosisikan dirinya sebagai yang utama. Cukup sulit memahami pola pikiran Juliet, terlebih mengenai pendapatnya akan perilaku seseorang. Aeron, Rowan, Abel, Yevette, Duke Charion, dan mungkin semua orang. Andai aku bisa bertatap muka dengan Juliet, maka bibir ini akan dengan senang hati mengungkapkan kebenaran: Menjadi satu-satunya yang berharap itu amat melelahkan. Dia tidak harus bertahan; menanti Duke Charion mempersilakannya sebagai keluarga, mengemis cinta Abel, dan berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Penolakan. Seperti buah yang dicampakan pohon begitu menyentuh bumi. Perlahan belatung menggerogoti daging, sedikit demi sedikit, hingga tidak ada yang tersisa selain warna hitam. Busuk.
Akan tetapi, takdir Juliet jauh lebih baik daripada milikku. Ternyata dia memiliki seorang ayah. Pria, yang menurutku, jauh lebih baik daripada Duke Charion.
“Juliet, sekarang kau bersama keluargamu.”
Derai air mata telah terhenti. Mataku menyisir sekitar; ranjang sutra, nakas, lukisan bunga, lantai yang diselimuti permadani merah, dan jendela tanpa palang. Dalam d**a bisa kurasakan desir kecemburuan. Andai Juliet bisa bersabar, mungkin saat ini dia bersama ayahnya.
Cahaya matahari terasa hangat. Jendela terbuka dan aku bisa melihat rimbun mawar yang menjalar hingga ke sisi kanan dan kiri jendela. Kuntum merah muda membingkai sebagian besar sisi jendela. Pohon jacaranda dan tatebuya memamerkan semarak warna ungu dan merah muda. Kuntum bunga berguguran meyelimuti tanah. Sebagian pekerja berseragam hitam putih tengah sibuk menyiapkan sesuatu.
“Juliet, apa kau mau memanggilku sebagai ayah?”
Jemariku mengambil sehelai rumput yang menempel di gaun. Sesaat aku memperhatikan betapa berantakan dan konyolnya penampilanku saat ini. “Ayah?”
Lelaki itu, tidak seperti Duke Charion, menampilkan semburat rona merah di pipi dan binar cemerlang di kedua matanya yang semerah rubi. Warna mata yang sama dengan milik Juliet.
“Ya,” katanya mengakui. “Aku adalah ayahmu.”
Bisa saja aku mempertanyakan keabsenannya selama ini. Kenapa dia tidak segera menemui Juliet? Kenapa dia membiarkan ibu Juliet bersama Duke Charion? Kenapa, kenapa, dan kenapa. Namun, itu tidaklah penting. Aku bukan Juliet. Aku sama sekali tidak tertarik mengorek informasi kehidupan orang lain. Sebenarnya aku tidak berencana menetap sebagai Juliet. Cepat atau lambat, pasti ada kesempatan pergi dari dunia Juliet.
“Ayah,” kataku, sekadar demi membalas budi baik karena telah menyelamatkan Juliet dari cengkeraman Charion. “Apa kau tidak keberatan memiliki putri sepertiku?”
Kerutan di dahi lelaki itu semakin dalam. Seolah aku membuatnya terluka. “Bagaimana mungkin aku kecewa? Kau adalah putri terbaik yang kumiliki.”
Sungguh ingin aku menampilkan seraut senyum sebagai hadiah. Namun, yang kurasakan hanyalah kehampaan. “Aku ingin bisa tersenyum,” kataku berterus terang, kujulurkan tangan melewati jendela dan melepas rumput yang tadi menempel di gaun. “Tapi, rasanya sulit.” Kali ini aku menatap wajahnya, lekat-lekat. “Seperti ada yang salah dengan fungsi tubuhku. Namun, bukan berarti aku tidak senang. Hanya saja ada sesuatu yang salah denganku. Di sini,” kataku menunjuk d**a. “Seperti ada ulat yang memakan seluruh emosi baik. Ayah, apa kau tidak akan mengunciku? Duke Charion selalu mengurungku di kamar kalau aku bertindak salah. Aeron kadang membelaku, tetapi tidak cukup kuat hingga bisa membebaskanku. Sementara Rowan hanya bisa membuatku jengkel. Apa Ayah tidak keberatan bila aku tidak seindah Yevette?”
Ini semua merupakan kekhawatiran milik Juliet. Aku hanya ingin memastikan dia tidak akan mengalami nasib serupa seperti di kediaman Charion.
“Duke....” Pria di belakang ayah Juliet berbisik memperingatkan. Segera saja dia terbatuk dan berkata, “Juliet, seorang Naval pasti akan membayar utang sekecil apa pun.” Kali ini ia meletakkan kedua tangan di bahuku. “Ayah akan pastikan mereka membayar setiap sen utangnya kepadamu.”
“Utang?”
“Juliet, katakan kepada Ayah, apa yang kauinginkan? Memenggal Charion k*****t itu atau membuat keponakannya batal menjadi calon istri pangeran tengik itu? katakan, Juliet.”
Satu-satunya yang aku inginkan hanyalah mati dan meninggalkan tubuh Juliet! Aku tidak butuh kepala Duke Charion. Aku bahkan tidak peduli kepada Yevette maupun Abel!
“Damian, persiapkan pesta debut bagi Juliet. Dia harus mendapatkan haknya yang dirampas Charion.”
“Tidak. Aku tidak butuh pesta apa pun.”
“Benar juga. Aku tidak butuh menantu.”
Duke Naval, bukan itu maksudku.
*
Pelayan di kediaman Naval memperlakukanku dengan sangat baik. Mereka tidak menatap dengan sorot menuduh maupun bergunjing. Tipikal pekerja kompeten.
Duke Naval membanjiriku dengan hadiah. Perhiasan, pakaian, parfum, buku, boneka. Namun, semakin banyak hadiah yang datang, maka kian merana pula diriku. Setiap kali melihat boneka, aku teringat kenangan tidak menyenangkan.
Aku bukan anak yang baik maupun pengertian.
Aku adalah anak yang buruk.
Masa kanak-kanak bukan masa yang menyenangkan. Entah mengapa dulu aku tidak bisa menahan diri dan selalu menginginkan sesuatu. Lantas apabila barang yang kuinginkan tidak bisa terbeli, maka aku akan meraung. Mungkin karena itulah ayahku membenciku.
Akan tetapi, apalah yang anak kecil mengerti mengenai ekonomi? Saat mereka lapar, maka mereka akan minta makan. Saat mereka sedih, maka mereka akan menangis. Semudah itu.
Oleh karenanya, meski memiliki mainan aku selalu mengharapkan barang baru; tidak peduli kondisi perekonomian keluarga. Ayahku muak. Murka. Beliau mengambil seluruh mainanku, melemparnya tepat di depan pedagang mainan, dan hendak membakarnya saat itu juga. Orang dewasa beserta anak-anak yang menyaksikan kejadian itu hanya terdiam. Mungkin mereka terlalu kaget dengan bocah cilik yang dimaki ayahnya karena meminta mainan. Mungkin mereka tidak berani menengahi karena takut dijadikan bulan-bulanan. Atau mungkin, memang mereka tidak peduli.
Itu saja.
Meski aku bersalah karena serakah, tetapi menghukumku dengan cara yang demikian tidaklah membantuku bersikap dewasa. Bagaimana bisa seorang ayah mempermalukan putrinya sendiri di hadapan umum? Terlebih dia hanyalah bocah tujuh tahun.
Aku tidak mengerti alasan ketika kanak-kanak rasanya selalu menginginkan sesuatu. Seolah ada lubang dalam diriku yang menuntut dipenuhi oleh barang-barang.
Mungkin itu merupakan salah satu penyebab aku merasa tidak berharga.
Tidak. Seharusnya aku tidak perlu merasakan apa pun. Barangkali itu jauh lebih baik daripada bisa merasakan apa pun. Setidaknya aku tidak perlu merasa rendah diri terlahir sebagai “aku”.
Oh, Juliet. Betapa aku iri kepadamu. Kau memiliki seorang ayah yang rela mencarimu. Dia bahkan tidak menganggapmu sebagai beban.
Seharusnya anak-anak tidak perlu merasa dirinya tidak berharga.
Seharusnya orangtua tidak melukai anak-anaknya.
Kemiskinan tidak boleh menjadi alasan bagi orangtua bertindak keji.
Bukan salah anak-anak bila mereka tidak bisa menahan diri saat menginginkan sesuatu.
Anak-anak mungkin hanyalah cerminan dari orangtuanya.
Seperti aku merupakan cerminan dari orangtuaku.