25

2015 Kata

Kami berdua, aku dan Putra Mahkota, berjalan bersisian. Gambaran romantis yang biasa muncul dalam novel. Putri duke dan pewaris takhta. Betapa indah. Sejoli yang dipersatukan oleh ikatan jodoh. Sayangnya aku tidak tertarik berpartisipasi dalam pertunjukan akbar. Menjadi pasangan Putra Mahkota sama saja dengan mempersilakan diriku menjadi sasaran panah manusia haus kekuasaan. Barangkali Putra Mahkota bisa membaca suasana hatiku karena tidak satu pun kata keluar dari bibirnya. Seolah dia ingin membiarkanku tenang dalam permenungan. Atau, dia hanya ingin menjaga perasaanku. Yang mana pun aku bersyukur. Adapun yang berbeda hanyalah rute. Putra Mahkota mengarahkanku menjauh dari aula pesta. Dia mengantarku menuju ke gerha. Di sana aku dipersilakan duduk di sofa dan barulah Putra Mahkota

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN