4

1299 Kata
Begitu mudah mengingat hal menyedihkan daripada membahagiakan. Seolah ada yang salah dengan sel dalam otakku hingga segala kesedihan meluap meminta perhatian. Aku ingin melupakannnya. Sedikitpun tidak ingin mengingat kejadian mana pun yang menyebabkan lara. Namun, setiap kali mengira telah lupa, ternyata pengalaman menyedihkan muncul kembali dalam wujud mimpi. Salah satunya adalah kenangan mengenai ayahku. Beliau tipikal lelaki yang tidak bisa dibanggakan. Senang main togel, gemar menonton adu tinju, suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya di warung sekadar omong kosong belaka, dan yang terparah: Tidak bisa menjaga emosi. Meskipun tidak memukul, meneriaki anak—terlebih anak kecil—merupakan tindakan tercela. Luka fisik lebih mudah disembuhkan daripada luka psikis. Saat seseorang tersakiti hati dan mentalnya, maka luka tersebut akan bertahan selama bertahun-tahun hingga menjadi bagian dari hidupnya. Barang, warna, nama, bahkan apa pun bisa memicu ingatan lama mengenai luka tersebut. Benar-benar buruk. Aku ingin menyalahkan ayahku atas luka yang ia berikan kepadaku. Saat menginjak usia enam tahun, aku tidak bisa mengendalikan emosi. Segalanya terasa terlalu berlebihan untuk kutanggung seorang diri. Aku gampang menangis. Saat merasa sedih hatiku benar-benar remuk redam. Yang terparah, aku kesulitan bicara; tidak seperti bocah sebayaku yang pandai mengoceh dan mengungkapkan perasaan mereka. Oleh sebab itu, aku merupakan sasaran empuk perundungan. Seperti kebanyakan orangtua yang mengirim anaknya ke sekolah, ayahku pun memasukkanku ke salah satu sekolah. Namun, bukan tanpa kesulitan. Saat pengajar menjelaskan huruf asing dan cara membaca, aku tidak bisa mengerti. Karena tidak mengerti, aku selalu menangis. Aku ingin bisa membaca huruf asing tersebut, tetapi sekeras apa pun berusaha tetap tidak mengerti. Akhirnya pengajar menyerah dan membiarkanku duduk mengamati anak-anak lain belajar. Akan tetapi, sekolah pinggiran yang ada di perkampungan kaum papa merupakan sarang anak nakal. Selalu ada bocah yang menggangguku. Pada akhirnya aku selalu menangis dan puncak kejadian Yono, ketua pengajar, merasa muak dan meneriakiku. “Kalau tidak bisa diatur sebaiknya pulang saja!” Bentakan itu ditujukan kepadaku, bukan kepada bocah-bocah yang merundungku. Aku masih ingat ekspresi setiap orang, termasuk putri Yono. Mereka semua bungkam, keheningan amat terasa, dan satu-satunya suara yang keluar hanya tangisku. Mengapa aku yang harus pergi? Kenapa bukan bocah-bocah yang menggangguku? Meskipun ingin mengutarakan ketidakadilan, aku hanya menatap nanar kepada Yono. Lelaki itu benar-benar murka dan menyimpulkan diriku sebagai biang keladi. Orang dewasa tampaknya lupa bahwa mereka pernah menjadi anak kecil. Seharusnya dia tahu bahwa aku berada dalam posisi teraniaya. Namun, tidak. Dia melabeliku sebagai bocah bermasalah hanya karena kerap menangis dan tidak bisa membela dirinya sendiri. Pada akhirnya aku pulang, sadar bahwa tidak ada pilihan. Sepanjang perjalanan aku menangis, meraung, merasa patah hati. Lantas ketika sampai di rumah, orang yang kukira bisa memberiku perlindungan justru mengamuk karena merasa terganggu. Ayahku lebih memilih televisi yang tengah menyiarkan tinju daripada putrinya yang mengalami ketidakadilan dan perundungan. Tidak hanya kejadian dengan Yono, perundungan yang aku alami di sekolah pagi pun tidak pernah digubris oleh ayahku. Beliau tidak bertanya mengenai seragamku yang selalu ada cap kaki maupun buku sekolahku yang selalu dalam kondisi robek. Beliau bahkan tidak mendatangi orangtua pelaku perundungan. Sekarang aku mengerti mengapa dulu ketika kecil tidak pernah mengutarakan kejadian buruk apa pun terhadap orangtuaku. Mereka tidak peduli. Mereka tidak mau mengerti. * Lagi-lagi, aku memimpikan masa lalu. Bukan hanya memimpikan masa lalu, saat bangun wajah Rowan-lah yang pertama kali menyapa. “Kau kelihatan berantakan,” katanya. Berkat saran Dokter Louis, aku mendapatkan keluasaan keluar dari kamar. Meskipun, tentu saja, dengan pengawasan pelayan. Kadang Aeron menyempatkan diri menemaniku, walau sesungguhnya aku tidak peduli. Mungkin mereka takut aku melompat ke danau karena lubang yang kugunakan menuju danau telah tertutup rapat. Benar-benar k*****t! Alhasil aku lebih senang menghabiskan waktu dengan cara berbaring di bawah pohon. Sembari menatap langit dan menghitung berapa lama aku harus terjebak dalam raga Juliet. “Kau tidak ingin melempariku dengan selop?” Rowan, tengah menunduk, memamerkan sepasang senyum yang aku artikan sebagai tantangan. “Minggir.” “Huh?” “Kau menghalangi sinar matahari,” kataku, dingin. Enyah! Aku tidak butuh Aeron, Yevette, ataupun Rowan. Satu-satunya yang kuinginkan hanyalah pergi. “Kalau aku menolak?” Aku tidak membalas tantangan Rowan. Tidak ada gunanya. Tanpa peduli pekikan pelayan, aku memilih berguling menjauh dan berbaring di dekat kumpulan bunga aster. Rumput dan daun kering terselip di rambut, tidak sekalipun muncul keinginan membersihkannya. Kedua tanganku terentang, merasakan rumput yang amat empuk setiap kali kutekan. Sebagai Juliet, pasti saat ini aku terlihat seperti malaikat jatuh. Sayangnya aku bukan malaikat jatuh. “Hei, kau tidak boleh mengabaikanku!” Rowan, seperti dugaanku, kukuh mengikutiku. Kini dia memilih duduk di sampingku, menatap ke langit dan berkata, “Pangeran Abel menyukai Yevette. Kau tahu, bukan?” Pangeran Abel. Cinta pertama Juliet. Salah satu hal yang ingin dimiliki Juliet, tetapi mustahil sebab bagi Abel, Yevette tampak lebih menjanjikan untuk menguatkan posisinya di istana. Erangan lolos dari mulutku. Ingatan dan perasaan Juliet membanjir tanpa bisa aku cegah. Benar-benar menyedihkan. Juliet menyulam bunga di saputangan dengan harapan bisa diberikan kepada Abel. Namun, lelaki itu memilih saputangan dari Yevette karena keluarga Charion mengakui Yevette sebagai orang penting. “Kau harus belajar melupakan Pangeran Abel.” Bung, aku bahkan tidak peduli dengan Abel. “Tidak bisakah kau meninggalkanku seorang diri?” “Agar kau bisa melompat ke danau?” “Aku tidak berencana bunuh diri.” Tatapan mataku terfokus ke arak-arakan awan yang menggumpal di langit. “Tidak dalam waktu dekat.” “Kau ini,” Rowan menggerutu. “Mengapa begitu ingin mengakhiri hidup? Bukankah kami memberimu pakaian, kemewahan, dan pakaian? Apa lagi yang kurang?” Kalau yang kaumaksud sebagai perhatian ialah kekayaan, maka dengan senang hati aku jelaskan: “Kalian benar-benar bodoh atau tidak mau mengerti? Bagaimana mungkin seseorang bisa hidup dalam kekecewaan?” Kali ini aku menoleh, menatap langsung ke mata Rowan. “Semua orang pasti akan mendengarkanmu, Rowan. Sebab dalam dirimu mengalir darah Charion. Sementara aku harus berusaha menjadi sesuatu yang bahkan bukan diriku sekadar ingin dianggap sebagai manusia oleh ayahmu. Bagaimana rasanya dipuji tanpa perlu berusaha? Menyenangkan, bukan? Kau bahkan boleh menjadi kesatria sementara aku harus belajar hal-hal yang disodorkan orangtuamu tanpa melihat bakat milikku yang sesungguhnya. Bahkan di meja makan pun tidak ada yang bertanya kondisiku.” Rowan hendak mendebat, tetapi aku bergegas memotong: “Kalian baru peduli saat aku memutuskan mati. Wow luar biasa.” “Apa kau melakukan semua ini hanya demi perhatian?” Perlahan aku bangkit, mencoba berselonjor. “Kau tidak mengerti,” kataku. “Orang ingin mati bukan karena mereka butuh perhatian, melainkan lantaran mereka sudah tidak sanggup.” “Juliet, dengarkan aku. Kalau kauingin melihat kematian, maka dengan senang hati aku perkenalkan diriku kepadamu.” “Kau bukan kematian,” kataku mendebat. “Kau hanyalah manusia yang menggunakan otot sebagai alat berpikir.” Dengan kata lain, tidak ada empati. Ujung bibir Rowan melengkung. “Apa kau pernah melihat kesatria yang sekarat karena terkena racun dari monster? Kematian tidak seindah bayanganmu. Kami berjuang meskipun tahu tidak ada kesempatan hidup saat masuk sarang monster, tetapi lihatlah. Kami tetap berusaha. Melihatmu begitu mendambakan kematian membuatku tersinggung.” “Rowan....” Tanganku terjulur, menyentuh dadanya, tepat di atas jantung yang tengah berdetak. “Kau tidak bisa membandingkan kesedihan. Tidak akan sama. Apa kau pernah melihat langsung ke mata monster yang kaubinasakan? Mereka hanya memiliki naluri bertahan hidup. Tidak ada cinta, hasrat akan kekayaan, bahkan mempercantik diri. Sementara manusia lebih kompleks. Kau hanya melihat diriku melalui kacamata milikmu.” Saat aku mencoba menarik tangan, Rowan mencengkeram pergelangan tanganku, memaksa agar tetap bertahan di sana. “Kalau begitu jelaskan,” katanya menuntut, kedua matanya berkobar oleh emosi yang tidak bisa aku artikan. “Jelaskan kepadaku mengapa kau ingin pergi? Tidak bisakah kau tetap di sini? Bersama kami? Bersamaku?” Jangan lagi! Aku tidak butuh perhatian dari Aeron maupun Rowan. “Juliet....” Suara Rowan terdengar berat, kini kedua tangannya melingkupi tanganku. “Coba pertimbangkan aku sebagai salah satu alasan mengapa dirimu harus tetap hidup.” Dia lebih gila daripada Aeron!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN