satu

962 Kata
Raka melangkah menelusuri lobi kampus. Ia tampak sibuk dengan kertas-kertas file yang tidak beraturan di sela-sela halaman bukunya. Kesibukannya sebagai mahasiswa tingkat akhir hampir membuatnya gila. Ditambah sudah tiga kali judul Tugas Akhirnya ditolak. Mood-nya benar-benar berantakan. Langkahnya terhenti kala teman baiknya tiba-tiba menghadang. "Hey, Ka. Lo masih ada kuliah?" tanya Arian semangat, seperti biasa. Kemarin Raka mengalahkannya tanding basket, Raka sudah bisa nemebak Arian akan meminta pertandingan ulang sore ini. "Gue mau balik," sahutnya singkat. "Ke belakang dulu lah. Yang lain juga ada di sana." Pandangan Raka beralih pada ujung lobi, Abyra sudah menunggunya. Gadis itu melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar Raka cepat naik ke dalam mobilnya. Arian ikut menoleh. "Oh, udah ada janjian sama Abyra." Kemudian pria itu menepuk pundak Raka dan pergi berlalu. Abyra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Raka terlihat diam duduk di samping sambil menatap kosong ke luar jendela. Sebuah lagu berjudul Use Somebody milik Kings of Leon mengalun. Sesekali Abyra bernyanyi kecil mengikuti irama lagu tersebut. Abyra melirik Raka. Pria itu terlihat sedikit lesu. Buru-buru ia mencari bahan obrolan dengannya. "Kelasku tadi dosennya gak masuk, tapi daripada gak ada kerjaan di rumah, langsung aja deh, aku jemput kamu," ucap Abyra sambil terus berkonsentrasi pada jalan. "Anyway kita makan di mana ya?" "Terserah," jawab Raka tanpa menoleh. Abyra hanya mengangguk perlahan. Akhirnya Abyra mengajak Raka makan di Koju, sebuah coffe shop semi bar lounge milik salah satu teman mereka. Awalnya tempat ini adalah sebuah kedai kopi, tapi kemudian si pemilik juga menjual beer dan soju. Biasanya mereka datang ke sini pada malam hari, tapi berhubung Koju sudah buka dari pukul empat dan Abyra bingung ingin mengajak Raka makan di mana, ia pun memutuskan untuk ke sini. Bangunan Koju berdinding bata merah serta dipenuhi dengan lukisan-lukisan antik di setiap sisi dindingnya. Terdapat beberapa lampu berbentuk lampion yang menggantung di langit-langit. Serta jendela-jendela besar yang menghadap ke jalan raya serta sebuah sungai di sebrangnya. Abyra dan Raka menempati sebuah meja yang letaknya sedikit berjauhan dengan pengunjung lainnya. Dan kini ia tampak asyik melihat daftar menu sambil memikirkan apa yang ingin dipesannya. Sedangkan Raka terlihat masih tidak bersemangat. Posisi duduknya sedikit bersandar sambil memainkan handphone-nya. "Kamu mau makan apa, Ka?" "Apa aja lah. Belum laper-laper banget." Abyra kembali memikirkan apa yang akan ia pesan untuk Raka. Namun ketika ia menurunkan daftar menu untuk melihat Raka, justru ia mendapati pria itu sedang terpaku menatap lurus ke depannya. Abyra penasaran. Ia menoleh ke belakang. Mencari sesuatu yang sedang dilihat oleh Raka. Tidak jauh dari mereka, tampak sepasangan kekasih yang duduk dalam satu meja. Namun yang membuat beberapa pasang mata memusatkan perhatiannya, karena pasangan itu tengah bertengkar. Koju yang belum begitu ramai membuat pertengkaran mereka terdengar begitu jelas. Beberapa karyawan pun tampak mencuri pandang dan saling berbisik. Lalu sang pria tiba-tiba saja menampar si wanita itu. Abyra terkejut. Ia kembali menoleh pada Raka. Dilihatnya Raka berekspresi seperti menahan kekesalan sambil menatap ke meja itu. Bahkan Raka sempat mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Dan tanpa sadar Raka ingin bangun dari kursinya, tapi urung saat menyadari jika Abyra saat ini sedang memandanginya. "Ka, itu Tarisa, kan?" Raka tidak menjawab. Wajahnya terlihat ragu. Namun suara pecahan gelas membuat mereka kembali menoleh ke meja tersebut. Tampaknya si lelaki baru saja membanting sebuah botol beer kemudian berjalan cepat menuju luar Koju. Gadis itu bangun dari kursi dan membereskan pecahan gelas dibantu oleh seorang pelayan pria. Tiba-tiba Raka bangun dari kursinya untuk menghampiri meja tersebut. Spontan Abyra pun juga melakukan hal yang sama. Tangan wanita gemetar, dengan tangis yang tertahan. Berkali-kali ia meminta maaf pada pelayan yang membantunya. Wanita itu berambut panjang dengan bagian ikal di ujung rambut. Pakaian yang dikenakan sederhana. Hanya baju terusan selutut dengan cardigan hitam serta memakai flat shoes sebagai alas kakinya. "Tarisa..." lirih Raka ketika ia berdiri di depan wanita itu. Abyra mengenal wanita ini. Tarisa juga teman kampus mereka. Lebih tepatnya teman Raka yang tidak pernah dikenalkan padanya. Tarisa begitu terkejut melihat Raka di depannya. Namun luka goresan di telapak tanggannya membuat perhatiannya teralih. Sebuah darah segar mengalir dari tangan Tarisa. Ia baru saja tergores pecahan kaca dari gelas tersebut. Dengan sigap Abyra langsung ikut berjongkok di depan Tarisa. "Martian, lo ada kotak obat?" tanya Abyra pada si pelayan pria yang juga teman kampusnya. Abyra mengajak Tarisa duduk di meja yang ia tempati setelah Martian mengambil kotak p3k. Dengan telaten ia mengurus luka yang ada di tangan Tarisa. Mulai dari membersihkannya sampai membalutnya dengan perban. Tarisa sedikit canggung saat Abyra selesai membalut lukanya. "Hmm... makasih ya." Tarisa melirik Raka yang duduk di depannya. "Sori ya, kalian harus ngeliat yang tadi." Tanpa sengaja Abyra melihat Raka dan Tarisa saling berpandangan. Namun ia buru-buru mengalihkan perhatiannya dengan memanggil seorang pelayan untuk meminta air minum. Dengan sigap Tarisa langsung mengambil tas yang ada di sampingnya. "Gue mau langsung balik. Anyway makasih udah diobatin." Tarisa terlihat sedikit canggung. Tanpa pamit lagi, Tarisa langsung pergi meninggalkan Abyra dan Raka. *** "Aku turun di sini aja ya." Ucapan Raka spontan membuat Abyra langsung menghentikan laju kemudi mobilnya. Perjalanan menuju apartemen Raka masih jauh, tapi tiba-tiba pria itu memintanya untuk berhenti. "Di sini?" Abyra melihat ke arah jalan. Ia bingung mengapa Raka ingin turun di sini sedangkan ia sendiri tidak tahu apa yang ingin dilakukan pria itu. Hari sudah mulai gelap. Lampu jalan mulai menghiasi sepanjang jalan dengan sinarnya yang kekuningan. "Kamu mau ke mana?" "Aku baru inget aku ada urusan." "Aku antar, ya?" "Kamu langsung pulang aja." "Kamu mau ketemu sama Tarisa ya?" tebak Abyra spontan. Raka menghelang napas. Tampaknya ia sudah tidak sabar ingin keluar dari mobil Abyra. Raka juga tidak ingin menjawab pertanyaan Abyra. "Kamu langsung balik. Nanti aku telepon." Raka melesat meninggalkan mobil, kemudian menyebrang sisi jalan, dan menghilang. Abyra hanya bisa terdiam memandang bayangan Raka yang makin lama makin tidak terlihat.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN