16. THE SPECIAL ABILITY

2700 Kata
Pihak kepolisian beserta jajarannya sudah berupaya untuk memaksimalkan pencarian Erick, tapi sampai saat ini belum membuahkan hasil sama sekali. Mereka hanya bisa mengandalkan identifikasi mobil tanpa plat, yang mana ada banyak jenis mobil-mobil seperti itu. Crisibell bersama dengan Ivana memutuskan untuk mendatangi kantor polisi hari ini, rencananya Crisibell akan melaporkan bagaimana rupa wanita yang telah menculik Erick agar polisi bisa membuat sketas wajah serta menangkap pelakunya dengan cepat. “Ayo, kita langsung masuk saja.” Ujar Ivana pada Crisibell. “Baiklah,” jawab Crisibell sembari turun dari mobil milik Ivana. Mereka berdua berjalan secara beriringan, di pintu masuk ia berpapasan dengan salah satu polisi dan menanyakan keperluan keduanya. “Ada yang bisa kami bantu?” tanya polisi berperawakan tinggi tegap itu. “Saya adalah sepupu Erick Swan, saya ingin memberikan kesaksian rupa mengenai penculik itu.” Tukas Crisibell pada polisi. Polisi itu mengangguk paham, ia pun menyuruh Crisibell agar mengikuti dirinya. “Ikut saya ke ruang pelaporan,” Sesampainya mereka di sana, ada Jasper dan juga Ferdinan yang saling membahas sesuatu di ruang itu. “Kau—Crisibell?” Jasper yang sedang duduk pun akhirnya bangkit berdiri, ia menyambut kedatangan gadis-gadis itu dengan ramah. “Ya, aku ingin melaporkan karakter wajah dari peneliti itu.” “Ide yang bagus, silahkan duduk, Nona.” Ferdinan menyuruh mereka berdua untuk duduk di kursi. “Jadi, bagaimana ciri-ciri penculik itu? Jasper, kau bisa menggambarkan sketsanya.” “Baik,” Jasper mengambil kertas dan juga pensil di atas meja, sebagai tim analisis maka ia sudah handal dalam menggambar sketsa wajah pelaku. Crisibell mulai tegang, otaknya bersikeras untuk mengingat rupa Rathree dengan detail. “Namanya Rathree, tingginya hampir sama denganku yakni 160cm. Rambutnya berwarna merah ikal sebahu, ada t**i lalat pada sudut mata kanannya, matanya berwarna kelabu, karakter wajahnya oval.” Dari keterangan Crisibell, Jasper menggambarkan sosok bernama Rathree ini, pria cerdas itu sangat fokus dan teliti dalam mengerjakan pekerjaannya. Kurang lebih selama tigapuluh menit Jasper berkutat pada pensil dan kertasnya, bahkan ada titik-titik keringat didahinya. Ivana menepuk bahu Crisibell, memberi motivasi pada gadis itu bahwa semuanya pasti akan terungkap dengan segera. “Fyuh..” Jasper menyeka butiran keringat di dahinya, ia melihat hasil gambarnya sekali lagi sebelum memperlihatkannya pada mereka semua. “Apakah seperti ini?” Setelahnya Jasper menunjukkan hasil sketsanya pada orang-orang di ruang itu. Crisibell menatapnya dengan lekat, bola matanya melebar senang saat mendapati bahwa hasil gambaran Jasper memang mirip dengan wajah asli Rathree. “Ya, ini dia orangnya, sama persis.” Balas Crisibell dengan girang. Jasper mengulas senyum lega, begitu juga dengan Ferdinan. “Kita akan mencocokkan hasil sketsa ini dengan identitas pelaku, terima kasih atas bantuan kalian nona-nona.” Ujar Ferdinan. “Sama-sama, tolong segera temukan Erick.” Setelah mengobrol singkat akhirnya Crisibell dan Ivana pun pamit undur diri, hari ini Crisibell memiliki jadwal mengajar piano. Hubungan antara Ivana dan Crisibell juga semakin dekat selayaknya teman, Ivana mengantarkan Crisibell sampai ke studio pianonya. “Terima kasih banyak atas bantuanmu, Ivana.” Ujar Crisibell sebelum turun dari mobil Ivana. “Sama-sama, dengan kejadian ini kita bisa saling mengenal dan berteman.” Ivana senang karena ia mendapat tambahan teman lagi, Crisibell juga sama baiknya seperti Erick. “Baiklah aku akan masuk, kau berhati-hati lah.” “Ya,” Setelahnya Ivana kembali memacu kendaraannya untuk kembali ke apartemen. Sementara itu di tempat lain, terlihat ada dua pasang suami istri yang sedang memperdebatkan suatu hal. Nampak sekali jika sang istri menatap suaminya dengan pandangan memburu, ia kesal terhadap kekeraskepalaan suaminya hingga membuat putri bungsunya kabur dari rumah. “Bawa kembali putriku, kau yang membuatnya kabur dari rumah.” Teriak si wanita, meski usianya menyentuh limapuluh tahun, tapi wajahnya masih terlihat awet muda dan cantik. “Aku sudah mencarinya tapi belum ketemu,” balas si suami dengan nada santainya. Terlihat jelas tidak ada raut khawatir dari sana, ia tampak biasa saja saat mengetahui putrinya kabur. Awalnya ia kesal dan geram karena hal ini bisa mengganggu citranya sebagai pengusaha sukses dengan keluarga harmonis, tapi lama-lama ia juga jengah dengan kelakuan putrinya yang seenaknya itu. Wanita itu mengepalkan tangannya dengan erat, urat-urat lehernya terlihat menonjol. “Ayah macam apa kau ini ‘hah? Di saat putrimu kabur dari rumah, kau hanya bersantai-santai memikirkan dirimu sendiri.” Dengan kekesalan yang di ujung tanduk, wanita itu pun menyentak suaminya. “Tutup mulutmu, Adeline! Kau kira sudah sebaik apa dirimu menjadi Ibu? Kita tidak jauh berbeda, kau dan aku sama-sama memperlakukan Ivana dengan buruk.” Balas si pria tak kalah keras. Ya, mereka sedang membahas mengenai Ivana, keduanya adalah orangtua dari gadis malang itu. Adeline—ibu dari Ivana terisak pelan, air matanya mulai meluruh. Benar bahwa ia bukan ibu yang baik, dulu ia sering mengabaikan putri kecilnya atau membanding-bandingkan Ivana dengan kedua kakaknya. Akan tetapi, setelah ia merenungi kesalahannya cukup lama, kini Adeline menyesal. Tidak seharusnya ia menyia-nyiakan Ivana, putri kecilnya yang sangat ia sayangi itu. “Aku memang bukan Ibu yang baik, tapi sekarang aku sadar bahwa Ivana juga putriku yang butuh kasih sayang serta dukungan dari orangtuanya. Aku menyesal, aku menyesal karena pernah memiliki sifat abai seperti dirimu. Kau yang hanya mengunggulkan Eryan dan Ersan, dan mengabaikan Ivana.” Adelin menunjuk suaminya dengan jarinya, pipinya mulai basah berlinangan air mata. Dexter menatap istrinya dengan pandangan datar. “Eryan dan Ersan adalah anak laki-laki yang membanggakan, salahmu sendiri melahirkan anak ketiga sebagai perempuan!” Dexter menyalahkan Adeline yang melahirkan Ivana sebagai sosok perempuan. Ia hanya butuh anak laki-laki sebagai penerus dirinya, bukan gadis lemah seperti Ivana yang hanya akan menyusahkan dirinya saja. Mata Adeline memincing dengan sempurna. “Kau pikir aku bisa menentukan seperti apa jenis kelamin anakku? Kau sangat bodoh, Dexter! Oke sekarang kau bisa menyia-nyiakan Ivana, tapi akan ku pastikan kau menyesal setelah melihat putrimu bersinar.” Dexter mendengus, anak perempuan sama sekali tidak ia inginkan. Setelah mengatakan hal itu Adeline pun melenggang pergi dari sana, ia muak dengan sikap suaminya yang tidak mempedulikan putri kandungnya sendiri. Ayah macam apa yang selalu menyesal memiliki anak perempuan dan sering membanding-bandingkan putrinya dengan dua kakaknya?! Ya, itu lah Dexter, orang yang tak pandai bersyukur dan hanya haus oleh kekuasaan serta materi. Saat yang bersamaan, seseorang muncul dari lorong gelap. “Tuan Dexter, kami mendapatkan berita tentang keberadaan Nona Ivana.” Ucapnya memberikan berita mengenai lokasi nona muda tersebut. Sontak saja hal itu membuat Dexter langsung bereaksi, ia menatap anak buahnya dengan tajam. “Ada di mana anak itu?” tanyanya dengan nada suara yang cukup tegas. “Kami mendapat sinyal bahwa Nona Ivana sempat menghampiri kantor polisi bersama dengan seorang temannya,” ujar anak buah dari Dexter. Dexter mengerutkan keningnya heran, ulah apa lagi yang dilakukan oleh Ivana itu. “Temukan Ivana dan seret dia pulang, secepatnya!” titah Dexter dengan nada memerintah. “Baik, Tuan.” Ujar pria tersebut, selanjutnya ia pun pamit untuk menemukan nona mudanya. Dexter berdiri memandangi langit-langit ruangannya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Adeline sudah berubah, wanita itu kini mulai menyayangi anak perempuannya. Ia harus menemukan Ivana secepatnya untuk membungkam mulut berisik istrinya itu, ia tidak tahan mendengar omelan Adeline sepanjang waktu. Serta tidak lupa untuk menjaga nama baik keluarga harmonis yang sudah melekat pada dirinya, entah apa yang Ivana perbuat di kantor kepolisian, ia harap anak gadisnya itu tidak membawa masalah untuknya. *** Sepulang dari mengantar Crisibell, Ivana tidak jadi pulang ke apartemennya. Ada satu hal yang perlu ia urus mengenai event perlombaan fotografi, kini gadis itu sudah berada di depan gedung sederhana yang menjadi pusat pendaftaran bagi para fotografer. Ivana sudah mendaftar beberapa hari lalu, tapi kini ia kembali untuk melihat hasil fotografinya yang terpajang di sana. Tempat itu sekaligus menjadi galeri yang memajang foto-foto jepretan para fotografer. Ivana melangkah masuk ke dalam gedung itu, di sana ia mendapati banyak sekali foto-foto memukau yang menempel di dinding. Foto itu dicetak dengan ukuran 1x1 meter menggunakan kertas terbaik, tepat di antara foto-foto di sana ada satu foto yang diambil oleh Ivana. Gadis itu memandangi hasil jepretannya dengan sendu, foto yang memperlihatkan sebuah keluarga harmonis di pedesaan. Ada ayah, ibu dan anak gadisnya. Ketiganya tampak tersenyum cerah sembari duduk di pinggir sungai memandangi langit senja, kesan harmonis sangat kental terpancar dari gambar itu. Tidak seperti dirinya... ahh atau lebih ayahnya, yang berpura-pura menjadi keluarga harmonis padahal sebenarnya yang terjadi sangat lah miris. Ivana sama sekali tidak menyesal karena terlahir sebagai anak perempuan, justru ia sangat bersyukur. Dengan begini maka ia tidak perlu dituntut menjadi perfesionis seperti dua kakaknya, Eryan dan Ersan selalu mendapat tekanan dari Dexter agar menjadi sosok yang sangat sempurna di mata publik. Ya, Ivana mensyukurinya karena ia tidak terlalu mendapat tuntutan macam-macam dari ayahnya sendiri. Meskipun ia harus menerima konsekuensi bak anak buangan yang tidak disayangi oleh orangtua sendiri. “Hftt...” Ivana mengembuskan napasnya pelan. Tidak terasa ada setitik air mata yang membasahi pipinya, ia pun buru-buru menghapusnya. Ivana melihat semua koleksi di gedung galeri itu. Foto-foto ini merupakan foto yang didapat dari para fotografer, pemenangnya akan diumumkan beberapa minggu ke depan. Ivana berharap ia bisa memenangkan event ini dan membuat bangga semua orang, tak terkecuali oleh orangtuanya sendiri, yah meskipun mereka tidak pernah mengharapkan dirinya. Ia ingin menikmati karya-karya terbaik ini bersama Erick, tapi pemuda itu lebih dulu menghilang, Ivana berharap agar Erick segera diketemukan. Puas memandangi foto-foto itu, Ivana pun pergi dari sana. Tubuhnya terasa lelah dan ingin segera bertemu dengan ranjang empuknya. Di dalam mobil, Ivana menyentuh dadanya yang berdetak dengan cepat, napasnya juga tiba-tiba memburu. Jika seperti ini maka ia bisa merasakan akan ada suatu hal negatif menimpanya, Ivana tidak tahu bahaya apa yang akan ia temui ke depannya. Ia mencoba untuk tenang, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Tidak mau berpikir yang tidak-tidak, ia terus mengendarai mobilnya hingga ke apartemen. *** Sementara itu di apartemen milik Ivana, sudah ada tiga orang berbadan kekar yang masuk ke dalam kamarnya tanpa persetujuan dari pemilik. Siapa lagi iika bukan anak buah dari Dexter, dengan berbekal sedikit informasi, akhirnya mereka pun bisa melacak keberadaan nona mudanya itu. “Bagaimana?” tanyanya. “Nona Ivana tidak ada di dalam, sepertinya ia sedang keluar.” “Cari ke sekitar, siapa tahu ia ada di lantai atas atau bawah.” Balas yang lain. “Ya.” Mereka pun berpencar untuk menemukan Ivana, di saat yang bersamaan Ivana sudah berada di basement lantai paling bawah. Ia keluar dari mobilnya sambil menenteng tas selempang miliknya. Semakin ia melangkah, jantungnya juga semakin berdetak semakin kencang pula. “Sebenarnya ada apa ini?” Ivana memasuki lobi, gedung ini memiliki banyak kamar-kamar apartemen yang disewakan atau diperjual belikan. Ivana tersenyum kecil menyapa resepsionis di sana. Gadis itu menaiki lift untuk naik ke lantai tiga, di sana lah kamar apartemennya berada. Setelah keluar dari lift, Ivana harus berjalan sedikit di lorong-lorong menuju apartemennya. Belum sempurna ia berbelok di tikungan lorong, ia mendengar sebuah seruan suara yang sontak saja membuat kakinya refleks menghentikan langkah. “Tidak ada Nona Ivana di sini, kita harus mencarinya di lantai lain.” Ujar seseorang, dari nada suaranya terdengar sebagai laki-laki. Tubuh Ivana menegang dengan hebat, matanya juga tidak berkedip untuk beberapa saat. Ivana adalah namanya, dan orang yang memanggil dengan sebutan ‘Nona’ hanya lah orang-orang suruhan ayahnya. Tidak boleh dibiarkan, Ivana tidak mau tertangkap oleh mereka, bagaimana mungkin antek-antek ayahnya bisa sampai menemukan keberadaan dirinya di sini? Ahh sialnya! Langkah kaki mereka terdengar mendekati belokan lorong ini, Ivana segera memutar otak untuk mencari tempat persembunyian. Ia menatap ke sekeliling, tidak ada tempat yang cocok dijadikan persembunyian. Kembali ke lift pun percuma, karena sebelum lift benar-benar tertutup pasti orang-orang itu masih memiliki kesempatan untuk melihat dirinya. Gadis itu mengacak rambutnya dengan frustrasi. Ia mendongak ke atas, ada sebuah tangga gantung yang biasanya digunakan ole h Officeboy untuk membersihkan loteng, buru-buru Ivana meraih tangga itu dengan cara melompat. Hap! Dapat! Ivana menaiki tangga itu dengan segera, untung saja ia mengenakan celana sehingga memudahkan dirinya untuk naik. Ia bersembunyi di atas loteng, tak lupa menarik kembali tangga di sana. Dari atas loteng, Ivana bisa melihat dua orang yang sedang berjalan tepat di bawahnya. Gadis itu menahan napas, berharap agar mereka tidak menatap ke arah itu. “Bagaimana jika kita tidak mendapatkan Nona Ivana? Tuan Dexter akan menggantung kepala kita.” Ujar salah satu dari keduanya. “Kita coba tunggu dia di bawah atau di parkiran, Nona Ivana pasti akan kembali ke apartemennya.” “Kau benar, itu ide yang bagus dengan menghadangnya di pintu keluar dan pintu masuk apartemen ini.” Ivana meringis mendengar obrolan mereka. Kedua orang suruhan Dexter pun memasuki lift untuk mencari Ivana ke lantai lain, setelahnya mereka akan berjaga di pintu keluar masuk apartemen ini. Memastikan bahwa tidak ada lagi cecunguk-cecunguk bodoh itu. Ivana segera kembali turun, ia melompat tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri. Gadis itu harus segera pergi dari sini untuk mencari aman. “Apartemen ini sudah tidak aman lagi, aku harus pergi secepatnya sebelum diketahui oleh orang-orang itu. Ayah benar-benar keterlaluan!” Ivana menyumpah serapahi ayahnya dalam hati, ingatkan dia untuk membalaskan dendamnya pada pria tua yang sialnya menjadi ayah kandungnya itu. Ivana mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya, dilihatnya ada sebagian barang yang berpindah tempat. “Ck, mereka merusak tatanan yang susah payah ku lakukan.” Ivana mendesis kesal, ia paling sebal jika barang-barangnya disentuh oleh orang lain. Untung saja si bodoh itu tidak mengambil dokumne-dokumen penting miliknya, dengan ini maka Ivana memutuskan untuk mencari tempat persembunyian baru. Apartemen sudah tidak aman, apalagi hotel. Sembari berpikir, Ivana juga memasukkan pakaian beserta barang-barang miliknya ke koper. Ia akan memikirkan nanti mengenai tempat dan persembunyian yang tepat, yang terpenting detik ini adalah keluar dari apartemen dengan selamat. Ia keluar dari apartemennya dengan perlahan, dilihatnya tidak ada orang yang mencurigakan, ia pun segera menggunakan tangga darurat untuk turun ke lantai lain. Ivana mengenakan masker, topi, serta kacamata hitam untuk mengelabui orang-orang yang berjaga di pintu keluar. Ia memilih bersembunyi terlebih dulu. Secercah harapan muncul ketika ia mendapati Officeboy apartemen. “Stt, kau kemari lah.” Ivana memanggil pemuda usia tujuh belas tahun itu. “Ada apa, Nona?” “Tolong bawakan koperku sampai ke basemen, aku akan menyusulmu dengan segera, Ohh ya, ini uang untukmu.” Ivana menyelipkan beberapa uang kertas pada pemuda itu. “Baik, terima kasih.” “Ehh tunggu sebentar—“ Ivana menghentikan langkah pemuda itu lagi. “Kemarikan alat pel dan embermu.” “Ini?” “Ya, ku pinjam sebentar.” Pemuda itu memberikan alat pel beserta ember pada Ivana, membuat gadis itu mengangkat jempolnya. “Baiklah, kau bisa pergi.” Ivana tersenyum penuh kemenangan, ia yakin seribu persen bahwa cara ini dapat mengelabui orang-orang kepercayaan ayahnya itu. Gadis itu berdehem pelan untuk menormalkan lagak tubuhnya, meskipun ia memiliki kepercayaan diri yang tinggi tapi tetap saja ia merasa deg-degan di antara hidup dan mati. Ivana berjalan sembari membawa alat pel beserta embernya, ia menundukkan kepala kala hampir melewati pria-pria kekar itu. Pria suruhan Dexter memantau pergerakan orang-orang yang lalu lalang keluar dari apartemen. Mereka memincingkan matanya heran karena ada seorang gadis berpakaian rapi tapi menenteng ember dan pel di tangannya. “Nona, tunggu sebentar.” Ujar salah satu dari mereka. Sontak saja Ivana refleks menghentikan langkahnya sambil menggigit bibir dalam maskernya. Tamat riwayatmu, Ivana! Pria itu berjalan mendekati Ivana, membuat gadis itu mengeratkan pegangannya pada ember. Ia bersiap-siap jika sampai salah satu dari mereka memergokinya, maka Ivana akan melempar ember yang berisi air keruh ini ke muka pria-pria itu. “Apa yang kau lakukan dengan ember—“ “Bu Manager, terima kasih telah membawa ember dan pel ini, maafkan aku karena meletakkannya dengan asal.” Sebuah suara menginterupsi, sehingga pria tadi pun terpotong ucapannya. Ivana sedikit mengintip dari balik topinya, dilihatnya pemuda yang ia bayar tadi berusaha untuk menyelamatkannya. “Manager, sebagai rasa terima kasih maka aku akan membelikanmu cokelat hangat.” Tambah pemuda itu, sesekali ia melirik pada pria-pria berotot di sana. Ivana mengangguk, setelahnya ia mendekati pemuda tadi dan pergi dari sana. Pria yang berjaga di sana pun tidak mengambil tindakan atas kepergian Ivana, meski awalnya ia curiga dengan perawakan sosok 'manager' yang hampir mirip dengan nona mudanya, tapi akhirnya tiga orang itu pun hanya mengabaikannya saja. Sejak kapan nona mudanya menjadi Manager apartemen? ada-ada saja. Setahu mereka, selain menjadi mahasiswi Ivana juga menyukai fotografi. Mereka hanya tidak tahu saja bahwa gadis yang sedang dicarinya baru saja lolos dari kejaran!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN