3. Pertarungan di Telaga

2558 Kata
Ular itu masih hidup Chris melompat dari ketinggian kepala ular dan menyelam ke telaga membiarkan ular itu kesakitan. Selang beberapa saat yang hanya mendengarkan desisan ular tanpa menyemburkan racunnya, Chris muncul ke permukaan. "Chris, apa yang terjadi?! Cepat kemari!" Armei berteriak seraya menarik pedangnya. Ular itu sudah menyadari keberadaan Chris. Chris segera berenang ke permukaan. Ular besar tidak akan mati jika hanya tertusuk taringnya sendiri. Chris berusaha menghindar sayangnya ular itu berhasil mendahuluinya dan membuka mulut lebar-lebar agar Chris bisa masuk dengan sendirinya. Chris tidak bisa menghentikan arus air yang mendorongnya ke mulut ular. Dia juga tidak bisa bicara minta tolong karena terkejut. Sehingga ular itu benar-benar memakannya. Armei menganga, "Dasar ular sialan! Rasakan ini!" melompat jauh hingga berhasil naik ke punggung ular itu dan segera menebasnya menjadi dua sedangkan kakinya tergelincir di atas ular. "Terimalah tebasan pedang angin dariku!" seru Armei dan pedang itu mengeluarkan pusaran angin yang mengelilingi mata pedang membuatnya sangat mudah menebas ular menjadi dua. Kepala ular itu menjerit dan bagian ekornya ambruk ke telaga membuat guncangan gelombang yang lebih besar. Armei juga ikut jatuh mencebur. Di saat yang bersamaan Chris berhasil meninju rahang ular dan taring bagian bawahnya hingga patah sempurna. Ular itu menjerit lagi dengan sisa tenaga, kemudian mati sungguhan. Chris masih berada di mulut air dan tenggelam ketika ular itu juga tenggelam. Armei segera mendekati Chris dan menyelamatkannya ke tepi telaga. "Hei, bangun! Chris, aku bilang bangun! Bertahanlah, aku akan mengeluarkan air dalam perutmu." Armei bersikap tenang meskipun khawatir. Dia takut Chris akan mati karena terkena racun ular ketika berada di dalam mulut ular itu. Dia bisa melihat jika taring ular itu patah sungguhan dari akarnya. Karena itu meninggalkan luka di tangan Chris. Darahnya terus keluar. Armei menekan d**a Chris tanpa henti. Hingga akhirnya air itu berhasil keluar dari mulut Chris. Chris terbatuk, sadar dan duduk segera. "Di mana ular itu? Aku mematahkan taringnya tadi." celingukan ke sekitar telaga. Napasnya tersenggal-senggal. "Dia binasa. Syukurlah tidak terjadi hal berbahaya padamu. Aku takut kau terkena racun. Taring itu pasti beracun," jelas Armei. "Berbahaya? Yang tadi itu sudah berbahaya tau? Aku hampir dimakan olehnya." memperhatikan kedua tangannya yang terluka. "Sudah masuk ke mulut ular dan masih hidup. Kau beruntung." Armei mengangguk. "Kau datang menyelamatkanku, 'kan? Aku sempat melihatnya. Pedangmu itu mengeluarkan pusaran aneh." Chris memicing. "Iya, ini pedang yang bagus." Armei menunjukkan pedangnya yang sudah bersih tanpa ada darah ular. "Hahh, kau tidak mau mengatakan kelebihan pedang itu padaku, 'kan? Tidak masalah, suatu saat nanti aku akan punya senjata yang lebih tangguh darimu. Aron tidak memberikan pedangnya padaku dan kau tidak mau mengatakan keahlian pedangmu. Kalian sama saja." Chris memaksakan diri untuk berdiri. "Hati-hati." Armei membantu Chris berdiri karena Chris mendesis kesakitan. "Terserah apa katamu, yang jelas aku takjub padamu. Kau ... memang sangat kuat. Mengalahkan ular raksasa dengan tangan kosong," Armei menarik tangannya membiarkan Chris berdiri tegap memandangi telaga yang sudah tercemar darah ular. "Aku ... sudah mengerahkan seluruh tenagaku. Ototku rasanya sakit, aku butuh istirahat. Bisakah kita menginap sehari di sini?" "Tentu. Aku sudah membawa beberapa apel, kau makanlah. Aku harap tidak ada binatang menakutkan lagi yang mengacau selagi aku pergi mencari tanaman obat. Lukamu itu cukup mengesankan." Armei menunjuk kepalan tangan Chris. "Ah, ini memang cukup berdarah, haha," tawa Chris kaku. "Kau ini benar-benar merepotkan. Tunggu dan makan saja di sini." Armei mengetuk tanah dengan pedangnya kemudian pergi. "Terima kasih, Bibi!" Chris sedikit menunduk memberi hormat. Dia melihat beberapa apel yang berwarna merah dan hijau di dekat salah satu pohon besar. Chris duduk di sana sambil meluruskan kaki. Matanya hanya menyorot pada telaga dan kedua tangannya. "Pertempuran yang luar biasa. Aku tidak pernah melawan ular sebesar itu. Aku bahkan kurang pasti bisa mematahkan taringnya. Mematahkan tulang manusia saja aku masih kualahan. Tapi bagaimana bisa?" Tangannya menengadah. Darah dari setiap jarinya sangat jelas dan sudah mulai berhenti. Beruntung bertemu dengan Armei Ziacu sebelumnya, jika tidak pasti tidak akan ada yang menolongnya saat ini. Chris mendesah lelah. Dia menggeleng merasakan kondisinya sekarang. "Chris, kegilaan apa ini? Kau sudah hilang akal?" gumamnya seraya memijit kepala dengan sebelah tangan. Telaga itu tidak memunculkan ularnya. Mungkin besok pagi bangkai ular itu akan mengambang. Chris hanya ingin tahu bagaimana bentuk ular itu yang sudah terpotong dan juga taringnya. "Pedang yang hebat berada di tangan yang hebat pula. Apa aku juga bisa seperti itu?" menggapai satu apel hijau dan memakannya. 'Semua yang ada di dunia bayangan lain dari dunia nyata. Aku pikir akan ada banyak bayangan di setiap ruang. Ternyata monster jenis ular pun ada. Pendekar pedang seperti bibi Armei juga ada. Dia orang yang setia. Menunggu selama itu hanya untuk mengantar surat. Jika aku pasti sudah kurobek hari itu juga. Orang-orang di dunia nyata juga tidak mungkin terlalu setia seperti dirinya. Ini mirip di buku dongeng saja. Apel ini rasanya juga lumayan,' pikiran Chris tidak mau berhenti. Seiring mengunyah, apel itu seolah memberinya pandangan yang lebih luas. Jika dia bisa makan apel sesegar sekarang, berarti dia memang hidup dan berpijak di dunia bayangan yang tidak pernah dia duga. Chris berasa bermimpi. Namun, lukanya terasa sakit, berarti tidak bermimpi. Rasa lapar itu tidak seberapa hingga satu apel saja sudah memuaskan perutnya. "Kau yang gagah berani tidak heran bisa tiba di dunia ini meskipun aku masih berpikir bagaimana Aron bisa menghilang ke duniamu." Armei tiba membawa beberapa dedaunan aneh membuat Chris terkejut. "Cepat sekali?" Chris tersenyum. Armei duduk di sebelahnya dan mengeluarkan semua dedaunan itu. Dia merobek sedikit pakaiannya digunakan untuk membuat obat. "Woah, apa semua ini? Kau ahli pengobatan juga, ya?" Chris antusias dengan semua daun itu. "Hanya sedikit tau. Ini adalah daun-daunan herbal. Hanya bisa digunakan untuk luka gores sepertimu. Karena lukamu cukup parah jadi aku membawanya banyak. Ini sangat mujarab. Besok pagi pasti akan baik-baik saja." Armei mengambil beberapa daun itu dan menghancurkannya menjadi kecil-kecil dengan kain itu jingga sarinya keluar dari kain. "Wah, menggunakan bahan seadanya. Kau memang hebat, Bibi!" Chris berbinar. "Jangan banyak bergerak. Berikan tanganmu," pinta Armei. Chris mendekatkan lukanya. Armei memeras ramuan obat itu ke luka Chris tanpa peringatan. "Aaargghh, pedih sekali! Bibi, ini lebih parah dari obat merah di tempatku!" Chris protes ingin menarik tangannya, tetapi Armei mencegahnya. "Diam kau! Tahan sebentar, rasanya memang perih karena air dedaunan ini banyak walau tidak dicampur air. Efeknya akan lebih terasa nanti." Armei terus memerasnya dan meratakan ke luka Chris. Chris hanya bisa mendesis menahan sakit. Selesai sudah lukanya dipakaikan obat tanpa terbalut apapun. Chris ragu jika besok akan membaik. "Tidak ada perban? Malang sekali diriku." menimang kedua tangannya. "Tidak ada. Aku tidak mau mencari apapun lagi. Sebentar lagi malam." Armei bersandar salah satu pohon. "Hahh, nasib." Chris memoncongkan bibirnya. "Terima kasih sudah mau membantuku. Kalau tidak ada kau, aku tidak tau harus berbuat apa," mendadak Chris bergumam menyambung ucapannya. Armei tersenyum miring, "Sudah tugasku melindungimu." "Apa?" Chris menoleh bingung. "Tidak, bukan apa-apa. Kau itu orang baru di sini. Pakaianmu jauh berbeda denganku. Besok kita pergi membeli pakaian untukmu dan menutup lukamu," Armei tidak mau memandang Chris. Chris memicing, "Hmm, aku yakin kau menggumamkan sesuatu tadi. Tapi tidak masalah selama kau baik padaku, haha. Kau punya banyak uang, ya? Sampai ingin membelikan pakaian untukku." "Uang yang kubawa masih utuh. Mungkin harganya akan berubah seiring waktu yang telah kubuang, tapi pasti cukup hanya untuk dirimu," jawab Armei. Chris mengangguk-angguk, "Begitu, ya? Lalu, di mana rumahmu? Kalau pergi ke rumahmu terlebih dulu pasti akan lebih mudah. Kita bisa melakukan persiapan di sana." "Rumahku masih jauh. Aku jarang pulang," Armei tidak banyak bicara seperti sebelumnya. "Kenapa? Bagaimana dengan keluargamu? Mereka pasti menunggumu," Chris mulai tertarik. "Aku tidak punya keluarga. Identitasku tidak diketahui banyak orang." Chris tersentak dalam hati, "Oh, ternyata kita sama. Aku juga tidak punya keluarga. Tapi aku punya rumah kecil sebagai tempat harapan." "Harapan?" kini Armei yang penasaran. Dia menoleh pada Chris. "Iya, harapan yang sangat besar." Chris mengangguk pasti. "Harapan apa itu?" Armei sampai meneleng. "Harapan untuk menemukan jati diriku." "Ha? Bukannya kau bilang seorang mahasiswa dan petarung hebat?" Armei menaikkan sebelah alisnya. "Iya, tapi tetap saja hidupku terasa hampa. Menjadi orang terpelajar dan petarung hebat apa untungnya kalau aku tidak bisa melindungi siapapun? Setiap hari berjalan di trotoar dan bermain bersama teman-teman juga para gadis yang mengejarku di kampus, lalu aku akan menyedihkan di malam hari ketika semuanya pergi. Aku akan sendirian dan itulah aku yang sebenarnya. Tidak asik, 'kan? Karena itulah aku harus menemukan jati diriku yang sesungguhnya. Aku menyukai petualangan, perjalanan besar, tantangan, dan semua yang memicu adrenalin. Termasuk bertarung dengan ular bertaring satu itu. Aku mulai menyukai tempat ini. Ini lebih dari luar biasa!" Chris menoleh ke telaga. Senyumnya tidak hilang sedikitpun. "Apa itu kampus?" Armei mengambil apel. Chris mendelik, "Astaga, aku bicara banyak dan hanya itu jawabanmu? Tidak sopan!" "Memangnya kenapa?" Armei mengendikkan bahu. Chris melengos, "Setidaknya beri aku semangat." "Kau menyedihkan." dengan santai Armei memakan apel merah yang terlalu matang. Chris mengetatkan giginya, "Apa kau bilang?!" "Sudah-sudah, diam. Lihat, matahari sangat indah di langit barat." Armei menunjuk arah barat dengan dagunya. Chris memandang matahari itu yang sudah hampir terbenam, "Wah, menuju malam, ya? Gurun di sana pasti redup sekarang." Chris tidak bisa tidur meskipun malam sudah datang. Dia memandang matahari terbenam sangat indah walau pepohonan menghalanginya. Armei terdiam, tangannya tak mau melepaskan pedangnya. Chris tidak mau mengganggu. Buah apel itu masih ada sisa. Pakaian Chris masih belum kering meskipun airnya sudah berkurang. Jelas terasa dingin di tubuhnya. Armei sudah memintanya untuk menjemur pakaiannya, tetapi Chris tidak mau. Obat dari dedaunan itu bekerja cepat. Airnya meresap dan Chris tidak merasakan sakit lagi. Hanya saja luka yang terbuka akan sangat rentan. Dia harus segera membalut lukanya. Tiba-tiba Chris berdiri menimbulkan perhatian Armei tertuju padanya. "Kau mau ke mana?" tanya Armei. "Aku akan melihat-lihat sebentar. Tenang saja, aku tidak akan tersesat," Chris masih diam di tempat. "Kau bukan bocah bayi, jadi untuk apa tersesat?" Armei kembali bersandar santai. Chris terkekeh kemudian pergi. Armei membiarkannya karena dipikir Chris tidak mungkin tidak kembali. Jalanan yang gelap cukup menakutkan karena pohon-pohon besar tidak memperlihatkan warnanya. Semua akan gelap di bawah langit malam. Bintang tidak hadir lagi malam ini. Chris tidak tahu apakah sudah memasuki bulan baru atau mungkin bulan purnama. Setiap langkahnya pasti dan dia mengingat di mana dia melangkah sebelumnya. 'Tidak ada pohon buah. Rumput juga tumbuh lebat. Ini bukan hutan, tapi mirip hutan. Di mana jalan keluarnya? Di mana juga bibi Armei mendapatkan banyak apel?' pikir Chris. Chris berhenti ketika melihat cahaya jingga jauh di depannya. 'Apa itu? Mungkinkah ada orang yang tinggal di sana? Sebuah pemukiman?' kata Chris dalam hati. Perlahan Chris mendekati cahaya itu. Masih kurang terlihat jelas, justru dia menemukan sebuah pohon apel yang berbuah lebat dan masih berwarna hijau. "Ah, ternyata di sini pohonnya. Berarti bibi Armei mengambil apel dari sini dan mungkin juga itu adalah jalan keluarnya. Baik, aku mengerti." Chris puas sudah menemukan jalan keluar. Dia berputar arah, tetapi tidak untuk kembali. Masih ingin berjalan-jalan memutari hutan kecil yang indah sampai kantuknya tiba. Kemungkinan pukul delapan malam Chris kembali ke telaga. Armei belum tidur, hanya menutup mata. Chris tahu itu karena Armei memeluk pedangnya erat. "Hahh, tidak ada teknologi di sini. Sulit untuk mengetahui waktu." Chris bersandar pohon. "Ada beberapa teknologi. Kami menyebutnya ilmu pengetahuan. Hanya orang-orang pintar yang bisa membuatnya," kata Armei tanpa membuka mata. "Benarkah? Besok tunjukkan padaku, ya!" Chris semangat. 'Pasti ini sama seperti zaman kuno yang mulai menemukan teknologi,' pikir Chris. "Tidak mau," Armei acuh. "Apa? Kenapa?" Chris mendelik. "Itu sangat jauh ada di dekat istana. Untuk ke sana butuh waktu berhari-hari," Armei tetap terpejam. Chris mendengkus, "Istana ... pasti yang membuat juga orang-orang yang berkecimpung di istana." "Benar." "Memangnya teknologi semacam apa?" Chris sudah malas tertarik. "Semacam teropong yang bisa menembus jarak dari istana hingga perbatasan daratan." Chris terbelalak, "Woah, cermin yang sangat hebat! Bagaimana kalian melakukanya?" "Bagaimana kau tau kalau itu dari cermin?" mata Armei terbuka. "Eee, aku pikir kalian membuatnya dengan cermin yang besar. Ini, 'kan berbeda dari duniaku." Chris melipat tangan. "Tidak terlalu besar, hanya saja teropong itu pasti memiliki cara khusus." "Oh, lalu yang lain? Selain teropong?" "Penunjuk waktu dari cermin." Armei menoleh. "Cermin lagi?" Chris meneleng. "Ketika akan tiba di istana ada cermin raksasa yang bisa menunjukkan waktu mulai dari pagi hingga datang pagi lagi. Hanya Raja yang bisa membuatnya. Cermin itu sangat besar sampai terlihat dari seluruh penjuru istana," jelas Armei. "Wah, keren! Apa tidak terbakar matahari?" Armei menggeleng, "Raja itu orang paling hebat di sini. Dia bisa melakukan perubahan apa saja. Cermin itu tidak mudah terbakar karena dilapisi perisai olehnya. Aku juga tidak mengerti cara kerjanya, tapi penunjuk waktu itu sangat membantu." "Ternyata kalian lebih menyedihkan dariku." Chris mengangguk polos. "Diam kau, Bocah!" Armei tersulut. Chris mengendikkan bahu dan membuang pandangannya dari Armei, "Aku tidak mau berdebat. Yang jelas aku tau kalau dunia ini penuh dengan tipu muslihat. Apa ada sihir atau sulap? Membingungkan sekali. Aku mau tidur." "Cepat sekali kau terlelap?" Armei heran karena Chris menutup mata dan langsung tertidur. Malam berganti pagi dengan cepat. Chris seolah tidak percaya dia sudah berpijak selama dua hari di dunia bayangan. Pagi harinya segera mengambil jalan yang sudah ditemukan sebelumnya. Cahaya jingga kemarin malam itu menghilang, Chris semakin yakin jika itu adalah cahaya penerangan dari salah satu rumah. Pakaian Chris kering dengan sendirinya. 'Dua hari tidak mandi rasanya cukup aneh,' batin Chris. Tidak butuh waktu lama mereka berhasil keluar dari hutan kecil itu. Dugaan Chris benar jika itu adalah pemukiman. Rumah-rumah yang sangat ramai dan unik. Chris senang bertemu manusia lain selain Armei. Dia tidak merasa tersesat lagi sekarang. "Akhirnya aku menemukan kehidupan! Luar biasaaaa!" Chris berteriak. Armei segera membekap mulut Chris membuat Chris meronta. "Diam, dasar bodoh," desis Armei. Chris berhasil melepaskan diri, "Bibi, mereka manusia sungguhan! Aku pikir dugaanku salah. Aku ingin menangis karena terharu rasanya." Bugh!!! Armei tidak ragu-ragu memukul kepala Chris, "Bodoh! Mereka semua memperhatikanmu karena pakaian jelekmu! Ikut aku!" Armei menarik Chris kasar sampai tangan Chris kesakitan. "Hei-hei, ini pemaksaan! Lepaskan aku!" Chris masih saja berteriak. Di belakang rumah salah satu warga Armei mengancam Chris dengan pedangnya. Alhasil Chris mendesah pasrah. "Kalau kau ingin aku baik padamu, bersikaplah normal! Diam di sini aku akan mencarikan pakaian untukmu. Jangan sampai ketahuan, jangan bersuara, jangan bergerak!" "Bibi, aku bukan anak kecil yang takut dengan ancaman pedangmu." Chris menyentuh pedang itu dan menepikannya. Armei memasukan pedangnya ke dalam sarung, "Diam di sini!" kemudian pergi. "Dasar bibi cerewet!" maki Chris bahkan ketika Armei belum pergi jauh darinya. Armei mendengarnya, tetapi tidak dihiraukan. Chris berdecak kesal. Matanya bersinar ketika melihat sebuah batu bersinar di dekat pintu belakang rumah. Dia menghampirinya dan duduk di depannya. "Waaahh, batu apa ini? Seperti berlian yang belum dipotong! Dari mana orang-orang itu dapat?" gumam Chris. Tangannya ingin menyentuh batu itu, tetapi diurungkan. "Tidak, aku tidak boleh terlena dengan semua yang ada di sini. Aku harus tetap fokus dan terlihat keren." Chris mengatur suaranya. "Siapa yang bicara?" Chris terkejut langsung berdiri mendengar seruan dari dalam. "Astaga! Ada pemiliknya!" Chris celingukan mencari tempat bersembunyi. Dia lari ke samping rumah bertepatan dengan pintu belakang terbuka. "Hmm, tidak ada siapa-siapa. Lalu, siapa yang bersuara tadi?" heran orang itu. Chris mengintip sampai pintu itu ditutup lagi. "Huft, syukurlah tidak ketahuan," desahnya. Kembali mendekati batu permata yang belum dipotong itu. "Nah, sekarang kita sendirian lagi. Kenapa orang itu membiarkanmu di sini? Apa tidak tau kalau kau begitu berharga?" Chris bicara pada batu itu. Tetap tidak mau menyentuh batu itu meskipun tangannya sudah gatal ingin melakukannya. Armei datang dengan cepat membawa beberapa kain pembalut luka dan pakaian laki-laki. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN