19. Kelompok Pemecah Misi

2506 Kata
Tikar yang terbuat dari daun bambu kering dengan corak berbagai macam rupa tak menunjukkan kelas rendah dari nilai harga jualnya. Bisa ditafsir melebihi seratus keping koin emas. Mata Laura berubah menjadi emas seketika. Tikar yang mereka duduki sembari menenangkan Armei yang masih syok hendak dia ambil paksa. Chris tidak menghiraukannya.  "Bibi, kau kenapa?" Chris tak henti-hentinya memeriksa keadaan Armei. Seiring berjalannya waktu, keringat dingin Armei mulai menghilang dan deru napasnya menjadi tenang. Meskipun begitu dia masih tak bersuara.  "Tikar mahal!" Laura masih terbius dengan sebuah tikar.  Chris berdecak menoleh pada Laura, "Gadis itu benar-benar tidak ada obatnya."  Kembali fokus pada Armei. Berulang kali dia goyangkan tubuh Armei, tetapi tidak bergeming juga. Chris bingung.  "Sudah sejauh ini jangan takut, anak muda." suara bariton itu muncul lagi.  Chris menoleh kaget. Orang itu membawa nampan berisi makanan dan minuman. Meletakkannya di depan Chris. Seketika Laura terkesiap dan duduk manis di samping Chris.  "Paman misterius, kau baik sekali! Terima kasih makanannya!" Laura tak segan-segan menangkupkan tangan.  "Ck, dasar gadis tak tau malu," desis Chris walau yang dipandang adalah orang itu.  "Makanlah, pasti melelahkan untuk bisa sampai di sini. Bagaimana pun juga, takdir sudah bermain."  Sedikit pun dari yang dikatakan orang itu tidak dimengerti Laura. Chris meneleng lalu melirik Armei yang sudah mengalihkan pandangannya. Itu pun terhadap orang misterius di depannya.  'Apa ini?' batin Chris.  "Kenan Malroy...," panggil Armei setelah bungkam cukup lama.  Deg!!!  Chris tersentak mendengarnya. Bola matanya berputar para Armei dan orang itu yang dipanggil dengan nama oleh Armei. Tak disangka orang itu menangkupkan tangannya sambil tersenyum untuk pertama kalinya membuat Chris semakin terkejut.  "Kenan ... Malroy?" panggilan Armei berubah menjadi pertanyaan. Bibir bawahnya kembali bergetar.  "Salam, Armei Ziacu. Akhirnya kita bertemu lagi," senyum yang sama. Dalam artian orang itu mengakui nama yang dipanggil Armei adalah miliknya.  "Tu-tunggu! Kalian ini...," Chris tak sempat menyelesaikan ucapannya. Laura mendorongnya agar dirinya bisa melototi Kenan Malroy. Chris mengaduk kepalanya sedikit terbentuk tikar.  "Paman, kau ada hubungan apa sama Bibi Armei? Mataku tak kalah tajam denganmu, loh." Laura terus melotot membuat Kenan ingin tertawa.  Chris duduk tegak lagi sembari mendorong Laura agar menepi, "Kenan Malroy itu apa namamu? Kenapa kalian saling kenal?" tuntutnya pada orang bernama Kenan.  "Kau sudah ingat, Armei? Sepertinya kau melupakan sedikit masa lalumu. Hanya beberapa yang kau mengerti. Apa itu benar?" Kenan tak menghiraukan Chris. Dari pertanyaan Kenan itu membuat Armei mengangguk. Jelas saja Chris semakin bingung.  "Artinya semakin lama semakin berdampak pada kita. Hei, anak muda. Apa pemilik kalung itu baik-baik saja?" sambung Kenan bicara pada Chris.  Chris mengerang sembari menggenggam erat kalung batu giok-nya, "Jika iya kenapa?"  "Di mana dia sekarang? Kenapa tidak kembali dan justru kau yang ada di sini?!" Kenan sedikit menaikan nada bicaranya.  "Apa? Kenapa jadi kau yang marah? Tidak akan kukatakan apapun tentang paman Aron!" Chris tak mau kalah. Dua orang itu berdebat lewat tatapan tajam.  "Kenan, dia utusan dari Aron. Chris, Kenan Malroy bukan orang jahat. Dia yang memberiku perintah pengiriman surat pada Aron. Dia yang kita cari selama ini," susah payah Armei mencoba bicara dengan benar dan napasnya mulai teratur jauh lebih baik.  Chris dan Laura tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Namun, kecemasan akan keadaan Armei masih membuat mereka heran. Kenapa dia lemas tiba-tiba padahal orang yang ada di depannya bukanlah orang yang tak dikenal? Lalu, Kenan mendekati Armei dan menyentuh tanah di mana perkiraan ada bayangan Armei yang terkena sinar matahari dari celah-celah rumah.  "Bibi, apa yang kau katakan itu benar?" Chris masih terkejut.  "Apa yang mau kau lakukan pada Bibi Armei?!" Laura menunjuk Kenan tak terima.  Kenan memejamkan matanya, "Sudah kuduga! Ini juga terjadi pada semua orang di dunia bahwa kekuatan penguasa dunia telah bergerak mengambil alih sedikit memori kecil yang kita punya demi memperkuat dirinya."  "Apa?! Jangan-jangan itu yang terjadi pada kalian karena tidak tau mengapa bayangan klaian tidak ada?!" Chris panik menatap Armei dan Laura. Mereka menggeleng tidak ingat apapun. "Jadi, sejak tadi kau diam dan gemetar karena sedang mengingat semua itu?" sambung Chris bertanya pada Armei dan Armei mengangguk.  "Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi? Katakan yang jelas!" Chris meraup wajahnya.  Sontak Kenan membuka matanya dan mulai serius dalam pembicaraan. Sudah cukup mencermati keadaan Armei dan kedatangan Chris yang membuatnya tercengang dalam hati. Kenan memang orang yang cenderung diam dan serius sama seperti Armei. Meskipun Armei saat ini sudah terpengaruh dengan kegilaan Chris dan Laura, menyisakan sedikit kewibawaannya yang masih mengemban tugas besar.  Kenan mengambil napas panjang, "Sudah lama semenjak tragedi itu terjadi. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, Armei. Dua anak muda-mudi yang mau bawa ini pasti bukan orang sembarangan. Kau tidak akan memilihnya tanpa berpikir dahulu."  Chris menganga, "Hei, Paman Kenan! Bicaralah yang jelas!"  Kenan tak menghiraukan amarah Chris. Menurutnya itu hanyalah semangat jiwa anak muda. Sedangkan Laura masih mempertahankan mata tajamnya seakan menginterogasi Kenan walau dalam hati dia tak mengerti dan penasaran sama seperti Chris.  "Namaku Kenan Malroy. Usiaku sudah empat puluh lima tahun. Melewati masa muda yang hambar tanpa ada kepastian kabar dari salah satu rekanku dan terutama kau Armei untuk keberlangsungan dunia ini. Salah satu kelompok pemecah misi sekaligus orang yang mengirim surat pada Aron Gronn melewati Armei Ziacu. Namun, Armei bukan salah satu kelompok pemecah misi. Dia adalah pengantar surat rahasia yang sangat terpercaya. Kalung yang kau gunakan adalah milik rekanku. Jelaskan padaku terlebih dahulu tentang semua yang kau ketahui, setelah itu aku akan menceritakan semuanya!" Kenan menunjuk kalung Chris.  Kedua alis Chris terangkat. Dia hendak bicara sedikit gagap, "Ahaha, jadi kau memang orang baik, ya, haha. Aku Evans Chris, memang sedikit aneh bisa ada di sini, tapi karena bertemu dengan paman Aron membuatku bisa sampai di sini." tersenyum bodoh menunjukkan deretan giginya. "Aku Laura Zay. Pencuri cerdik dari desa dekat gurun. Aku terkenal hingga ke telinga pemerintah dunia, tetapi tidak ada satu pun orang yang berhasil menangkapku. Kau punya barang berharga tidak? Serahkan padaku!" Laura menyahut setelah berkedip. Menengadahkan tangan meminta harta tanpa ragu. Tampak sekali Kenan mengerutkan dahi bingung.  "Ahaha, jangan dengarkan dia. Gadis ini gila." Chris menyilangkan tangan segera membuat Laura melotot padanya.  'Tidak ada pilihan lain selain percaya, 'kan? Mungkin benar jika takdir sudah bertindak. Beruntungnya bertemu si pengirim surat sebelum aku menyusuri tiap jalan menuju pusat pemerintahan,' batin Chris.  "Pertemuanku dengan paman Aron sedikit melibatkan kerja sama, tetapi aku menolaknya. Aku datang karena ambisiku dan rasa penasaran yang tinggi jika dunia bayangan itu ada. Kemudian kalian membuktikannya." Chris tersenyum. Kalung itu dia pegang kembali. "Sihir cermin bayangan, dia gunakan untuk berlindung di dunia kami yang penuh huru-hara. Kekejaman meraja lela tanpa kenal takut. Orang-orang hanya ingin merasakan kebebasan dirinya sendiri tanpa berpikir kebebasan orang lain. Itu adalah dunia yang keji bagi paman Aron, tapi tidak untukku karena memang di sana lah aku berasal. Dia beradaptasi dengan baik. Menjadi pengamen jalanan dengan sebuah gitar tua dan mengumpulkan uang di markasnya. Meskipun dia hilang ingatan dan hanya mengingat sedikit tentang jati dirinya. Dalam kata lain keadaannya baik-baik saja," sambung Chris. Barulah Kenan bisa bernapas lega.  "Dia memberiku petunjuk yaitu sebuah tujuan. Di mana aku harus menemukan dan menyelesaikan misinya yang hilang. Dia bilang ini tentang masa depan dunia bayangan yang dia taruh harapan besar padaku. Kini ada di tanganku. Ketika aku bertemu bibi Armei, perjalananku bermula. Hingga sekarang belum tau bagaimana caraku menemukan misi itu. Lalu, cerita singkat tentang penguasa dunia bayangan apa yang kau maksud? Mungkin saja ada sedikit kaitannya dengan tujuanku," kata Chris di saat matanya berubah menjadi sayu.  Armei pun berhasil menenangkan diri. Dia terlalu syok terlebih lagi mengembalikan ingatan yang tidak tahu tiba-tiba menghilang meskipun sebelumnya dia ingat teramat jelas. Laura mendengarkan Chris dalam-dalam. Tidak disangka Kenan menghela napas lega dan dia membuka cadarnya membuat mereka terkejut terlebih lagi Chris.  "Ukiran itu!" Chris menujuk pipi kiri Kenan yang terdapat tato mirip ukiran seperti yang ada di kalung batu giok Aron.  "Ini simbol bagi anggota pemecah misi. Aron juga memilikinya dalam kalung itu," ujar Kenan.  Chris melepas kalung itu dan mencocokkan ukirannya sama dengan tato di pipi Kenan. "Ini benar-benar mirip, tapi giok ini ada nama paman Aron."  "Tentu saja. Ini bukanlah simbol biasa. Apa dengan kalung itu caramu bisa menembus dunia kami?"  "Iya, aku menggenggamnya erat dan memfokuskan pikiranku." Chris mengangguk tanpa ragu.  "Ukiran ini menyimpan sebagian kekuatan kami. Sengaja terkunci di dalamnya agar tidak mudah hilang ketika terjadi sesuatu yang buruk pada pemilik aslinya yaitu tubuh kami," jelas Kenan.  Chris berpikir sejenak, "Kalau begitu kenapa kau taruh di pipi kiri? Kalau kau mati bukannya kekuatan yang terkunci di tato itu juga lenyap?"  "Karena aku tak mau membaginya pada benda." Kenan menggaruk pipi kirinya santai.  Chris tercekat, "Apa?! Konyol sekali! Itu namanya kau tak sayang nyawa, menaruh kekuatanmu pada dirimu sepenuhnya. Lalu buat apa membuat simbol? Kekanak-kanakan sekali!"  "Yahh, walau begitu ini tetap penting. Selanjutnya, kenapa kau bisa ke sini dengan kalung itu sedangkan Aron tidak?" lanjut Kenan.  "Entahlah, paman Aron memberi harapan besar agar aku bisa membuka gerbang antara duniaku dan dunia bayangan nantinya. Menurutnya hanya orang dari sana yang bisa masuk emenruskan misinya, untuk itu paman Aron tidak bisa berbuat apa-apa. Aku rasa kekuatannya tak berfungsi pada dirinya sendiri jika berada di duniaku," jelas Chris seusai dengan apa yang dia pikirkan selama ini.  "Hmm, sungguh di luar dugaan, tetapi syukurlah di baik-baik saja." Kenan mengangguk-angguk.  "Paman Kenan, sebenarnya misi yang hilang itu apa? Aku menemukan satu prasangka, kuharap itu benar," Chris kembali serius.  "Jawabannya ada di surat yang dibawa Armei. Sudah terlalu lama terkunci, akhirnya dunia ini memburuk tanpa ada perlindungan utama. Misi disebut gagal, padahal tertunda hingga kini." jawab Kenan yang memandang Armei.  Chris tersentak lagi, "Aku mengerti! Aku mengerti misteri kecil ini. Izinkan aku membedahnya sendiri, Paman. Bibi, bisakah kau berikan surat itu?" menengadahkan tangan meminta pada Armei.  Armei sedikit tergagap, "Iya, ini."  Surat yang masih utuh, Chris berikan pada Kenan. Kenan pun tercengang melihatnya, tetapi senyumnya berhasil tertarik, "Paman, tolong buka surat ini. Aku ingin membacanya jika kau percaya padaku dan mengizinkanku menaklukkan apa yang tidak merdeka di sini."  "Heh? Apa ini tantangan, anak muda?" Kenan mengambil surat yang dia buat. "Luar biasa! Aku tidak meragukan kesetiaanmu, Armei. Kau benar-benar pejuang yang bisa diandalkan. Terima kasih sudah menjaganya. Tugasmu telah usai," sambung Kenan.  "Tidak, ini belum selesai sampai aku melihat Aron kembali," tolak Armei.  "Baiklah, jiwa kesatria sepertimu tidak bisa istirahat sebelum misimu tuntas," Kenan mengapresiasi keteguhan Armei.  "Ini bukan tantangan, tapi tentang kepercayaan. Di duniaku mengajarkan arti keyakinan yang tinggi dan kerja sama yang ideal untuk mencapai tujuan bersama. Tanpa kepercayaan maka landasan untuk menang telah hancur. Bagaimana?" Chris bermain-main dengan ucapan yang berbelit-belit.  "Terus terang saja," kata Kenan tak bernada.  "Aku berjanji untuk membantu kalian!" penuh percaya diri akan kekuatan yang dia miliki. Senyum semangat itu tak bisa menghilang dari wajah Chris. Kenan justru mengerutkan dahi. Dia berpikir mengapa temannya yang bernama Aron mengirim orang seperti Chris untuk menyambung misi? Meskipun kata-kata Chris begitu meyakinkan.  "Paman, meskipun dia bodoh, tapi yang dikatakannya itu benar. Buktinya sejauh ini dia telah banyak mengetahui apa yang tidak kami ketahui. Banyak pula yang berhasil dia pikat dan selesaikan. Untuk itu aku ikut bergabung dengan petualangannya. Kau harus percaya padanya, Paman misterius." Laura pun mengangguk-angguk.  Chris tidak tahu Laura akan berkata seperti itu, tetapi dia terkesan dalam hati. Lain dengan Armei yang memasang raut serius setekah berhasil mengendalikan dirinya. Kenan memandang mereka satu per-satu membaca setiap gerak-gerik dan sifatnya. 'Crhis memang pemuda yang pemberani dan menantang apapun demi kebenaran hatinya sendiri. Semangat muda yang baik. Dengan kekuatan kecil yang dia miliki masih bisa memilih mana yang benar dan salah. Pilihan Aron pasti tidak salah,' pikir Kenan. "Baiklah." Kenan mengangguk satu kali.  Chris sangat senang dan tidak sabar menunggunya. Laura pun memekik, dia sedikit mendekat agar bisa melihat lebih jelas bagaimana Kenan membuka perisai suratnya. Lain dengan Armei yang hanya memandang dari belakang Chris dan Laura.  Ketika Kenan mulai menutup matanya, ukiran tato unik di pipi kirinya bersinar. Mata Chris dan Laura melebar, dahi Armei justru berkerut tipis. Saat itu juga kertas terlipat itu terbuka dengan sendirinya membuat Chris menganga. Perisainya mulai hilang. Tulisan setiap kata mulai terlihat. Cahayanya menyalur ke dalam kertas tanpa jalur lintasan.  'Inikah sihir yang sama dengan sihir cermin paman Aron? Wah, hebat! Itu berarti kalung giok ini memang memiliki kekuatan ajaib,' batin Chris kagum. Meskipun sudah berkali-kali, tetapi Chris tetap terpana.  'Kalau semua orang di dunia nyata punya kekuatan magis seperti ini apa jadinya, ya?' pikir Chris yang bukan-bukan.  Perlahan-lahan kertas itu menunjukkan rangkaian kata yang berubah menjadi kalimat panjang. Armei bergetar lagi setelah sekian lama bisa mengetahui isi surat yang selalu dia jaga. Memegang dadanya yang bergemuruh, berusaha menguatkan diri di saat pembongkaran petunjuk misi.  'Inilah saatnya. Kuatkan dirimu, Armei. Jangan menangis,' batin Armei. Laura ikut ternganga ketika semua tulisannya menjadi jelas. Cahayanya pun pudar dari pipi Kenan. Dia pun membuka mata, tetapi Chris dan Laura masih belum selesai dengan keterkejutannya.  "Rahangmu hampir jatuh, anak muda," ujar Kenan datar. Sontak Chris berhenti ternganga, "Panggil saja Chris, Paman. Silahkan dibaca."  Laura tetap ternganga meskipun Kenan memulai membaca surat itu. Kata demi kata terucap dari penulisnya sendiri. Saat itu juga air mata Armei luruh. Chris sangat mengerti betul perasaan Armei sekarang, tapi dia biarkan saja lantaran harus menyimpulkan semua yang terjadi di dunia bayangan kemudian dia gabungkan dengan asumsinya. Membiarkan Armei terkalut dalam emosinya sendiri saat ini adalah pilihan yang tepat. Armei membutuhkan waktu pribadi untuk misinya sendiri sebagai pengantar pesan selama dua puluh tahun lamanya. Tak terbayang bagaimana emosi penyampaian misi itu. Karena itu Chris membiarkannya menikmati setiap detik pertemuannya dengan Kenan dan membiarkan hatinya berdetak lebih kencang mendengar isi surat itu.  Laura menyadari tingkah Armei, tidak dia sangka gadis tua itu bisa menangis hanya dengan mendengar surat perintah. Lalu, dia sadar apa yang Armei rasakan. Namun, ketika melihat Chris yang tak melakukan apapun pada Armei, dia ikut diam. Mungkin memang lebih baik membiarkan Armei seakan mengacuhkannya sebentar.  "Paman, terima kasih sudah mau membacanya. Aku seratus persen mengerti. Jadi ... itulah misi yang hilang?" Chris jauh lebih serius.  Laura tersentak, tidak dengan Armei.  Kenan mengangguk, "Inilah misi dua puluh tahun silam yang telah hilang di kabar awam."  "Alasan mengapa bayangan semua yang ada di dunia bayangan menghilang meskipun semua masih hidup normal, itulah misi yang dijalankan paman Aron. Sama persis dengan asumsiku jika bayangan itu sendirilah yang misi yang hilang. Misi paman Aron adalah mengembalikan semua bayangan tersebut dan paman Kenan adalah teman satu misi dengannya. Yeahh! Sudah kutemukan apa itu misimu, Paman Aron!!!" Chris menguak kisahnya meninju udara dnegan kedua tangan. "Waaahh! Selamat-selamat, hahaha!" Laura bertepuk tangan meriah memandang Chris yang serasa bersinar.  Armei menghela napas panjang setelah menahannya sejak tadi, "Syukurlah, semuanya sudah jelas." luruh tak berdaya. Hanya senyuman yang menampilkan semangat ekskresinya.  "Yeeyyy, yeeyyy, misinya telah ditemukan, yuhuuuuu!!!" Laura tak berhenti bersorak seraya Chris merasa puas dengan pencapaiannya.  "Hmm, ini terlaku mudah. Aku menginginkan petualangan yang jauh lebih keras. Haha, ada pertanyaan yang maish belum terjawab. Surat itu bagaikan petunjuk main game ternyata." Chris menarik surat dari tangan Kenan.  "Game? Main?" Kenan menaikkan salah satu alisnya.  Chris menatapnya bodoh. Menggaruk tengkuknya seraya tertawa kaku, "Hanya kata kiasan saja, jangan terlalu dipikirkan."  Kenan langsung mengerti yang di maksud Chris. Chris beruntung Kenan percaya begitu saja. Karena masih bekum puas, Chris membaca ulang surat itu dari dalam hati. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN