Chapter 15

1144 Kata
Si laba-laba ukuran jumbo tampak mengembuskan napas kasar. Wajahnya tampak tak senang. "Aku sebenarnya tak sudi melepas temanmu itu dari tali yang mengikat tubuhnya." Hewan berkaki delapan mengangkat salah satu kakinya menunjuk ke arah Layla yang posisi sudah tak setinggi pada awalnya. "Dia membuatku kesal dengan ucapannya yang seakan menuduhku kalau aku ini bukan hewan magis laba-laba yang baik." Eisha mengangguk-angguk mengerti. "Aku paham bagaimana perasaanmu laba-laba putih." Eisha memberanikan diri untuk menyentuh dan mengusap salah satu kaki depan si laba-laba jumbo. Dia bisa merasakan kalau kaki laba-laba sedikit kasar dan ditumbuhi banyak bulu-bulu halus putih. "Sudah jangan marah lagi, ya, laba-laba putih? Aku tahu kalau kau adalah laba-laba yang baik." Dia berkata sambil menatap empat mata laba-laba. Dua mata ukuran besar berbentuk bulat hitam berada di tengah, sedangkan dua mata ukuran lebih kecil yang juga bentuk bulat berada di sisi kiri dan sisi kanannya. Saat tangan Eisha menyentuh kakinya tanpa rasa takut, laba-laba putih sedang berpikir. Dia mengembuskan napas untuk yang kedua kalinya. "Baiklah, aku akan melepaskan temanmu. Itu aku lakukan hanya memandangmu yang tulus untuk membantunya." Eisha segera mengucapkan terima kasih pada laba-laba putih. Laba-laba jumbo menurunkan Layla ke tanah dengan perlahan bersamaan dengan tali lengket yang telah dilepaskan seutuhnya. Hanya menyisakan rasa lengket saja di kulit Layla. Layla mengambil napas sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya yang kekurangan oksigen. "Kau harus berterima kasih pada temanmu ini," ujar laba-laba putih pada Layla. "Terima kasih Vaiva." "Sama-sama, Layla." Setelah itu laba-laba putih kembali ke ukurannya yang semula yang sebesar telapak tangan, dia tidak lupa pamit pada Eisha sebelum meninggalkan Eisha bersama Layla. Layla mengembuskan napas lega sambil mengelus da-da, setelah dipastikan bayangan si laba-laba putih benar-benar tak terlihat lagi. "Membuatku takut saja." Eisha mengangguk setuju. Laba-laba putih memang tampak menyeramkan dari luar, namun sebenarnya hewan berkaki delapan itu baik sama seperti Layla. "Kau baik-baik saja bukan?" tanyanya sambil memeriksa keadaan tubuh Layla dari ujung rambut sampai ujung kaki. Layla menggeleng sebagai jawaban. "Aku baik-baik saja sekarang berkat kau. Laba-laba tadi itu seperti ingin mengambil nyawaku saja," ujarnya dalam satu tarikan napas. "Dia mengikat tubuhku sangat erat dan kuat sampai aku kesulitan untuk bernapas. Ditambah aku diangkat ke udara, mana aku takut ketinggian. Aku berharap tak akan bertemu dengannya lagi," sambung Layla dengan ekspresi bergidik ngeri. "Oh, ya, sepertinya aku harus membersihkan tubuhku dari sisa cairan lengket tali laba-laba sia-lan itu." "Aku akan berjaga di sini, kau mandilah dengan tenang. Aku akan mengambilkan pakaian ganti terlebih dahulu." Eisha berjalan masuk ke dalam kereta kuda untuk mengambil satu setel pakaian bersih untuk Layla. Untungnya mereka membawa beberapa setel pakaian. Kuda putih terlihat makan rumput dengan tenang seakan tak terpengaruh dengan keadaan mencekam yang menimpa pemiliknya Layla beberapa saat yang lalu. Dasar kuda yang tak peka! Bagusnya dijual dan diganti dengan kuda yang baru, yang lebih sayang dengan pemiliknya. Layla mengucapkan terima kasih saat Eisha membawa satu setel pakaian bersih. "Vaiva, aku akan membersihkan tubuhku di sungai. Kau jaga di sekitar, jangan biarkan orang lain berjalan mendekat," ujarnya. Layla sekarang hanya memakai pakaian kaos dalam dan celana pendek yang menampilkan pahanya yang mulus. "Kau jangan khawatir!" sahut Eisha sambil menerima pakaian kotor yang disodorkan Layla padanya. Suara aliran sungai memanjakan indra pendengaran. Suaranya yang khas dan lembut. Air sungainya sangatlah jernih, bahkan bebatuan yang ada di dalamnya pun kelihatan. Eisha memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang rotan yang tergeletak di dekat sungai, lalu membawanya ke dalam kereta kuda. Gadis itu kembali duduk di bawah salah satu pohon yang ada di dekat sungai. Sementara itu Layla sedang berjalan masuk ke dalam sungai untuk membersihkan cairan lengket yang menempel di kulit putihnya. Rambut pirang sepinggangnya mengembang saat di dalam air. "Airnya sangat sejuk dan segar. Vaiva, kau mau mandi tidak?" tanya Layla sambil menggosok kulit tangannya. "Tak usah kau saja yang mandi," tolak Eisha, matanya fokus membersihkan celana bagian lutut yang kotor terkena tanah dengan sedikit meneteskan air. "Baiklah, aku tak mengganggumu lagi!" seru Layla melanjutkan sesi mandinya. Eisha mengambil botol air yang terbuat dari kayu, kemudian meminum beberapa tegukan untuk menghilangkan dahaga. Tak lupa menutup botol kayu kembali. Eisha memejamkan matanya menikmati angin yang bertiup dengan lembut membelai wajah dan rambutnya. Sangat segar dan damai. Samar-samar Eisha melihat dua wajah yang berbeda, satu laki-laki dan satunya perempuan sedang berdiri dengan jarak sepuluh meter dari tempat Eisha berdiri. Dua orang tersebut memanggil nama Eisha dengan nada yang akrab dan dengan senyuman yang manis. Siapa mereka? Kenapa aku merasa akrab dengan mereka berdua? Seperti hubunganku dengan Layla saat ini, batin Eisha bertanya-tanya. Saat Eisha berjalan mendekati sepasang laki-laki dan perempuan tersebut, bayangan mereka semakin menjauh dan akhirnya menghilang. "Jangan pergi! Aku belum tahu siapa kalian?" Eisha berkata tanpa sadar. "Vaiva, kau kenapa? Siapa yang akan pergi?" tanya Layla sambil menyentuh tangan Eisha. Eisha tersentak membuka matanya, dan di hadapannya ada sosok Layla berjongkok yang sudah memakai pakaian yang baru. Rambut Layla masih terlihat basah. "Ada apa denganmu?" Layla mengulang pertanyaannya. Eisha menatap wajah Layla yang khawatir. "Aku sempat melihat dua orang, satu laki-laki dan perempuan. Namun saat aku ingin menghampiri mereka malah pergi menjauh dan menghilang," jelasnya. "Apa kau melihat wajah keduanya dengan jelas?" tanya Layla. Eisha menggeleng. "Wajah mereka tak jelas, hanya samar-samar." Layla mengangguk mengerti. Dia menebak dua orang yang dimaksud Vaiva, mungkin adalah dua orang yang hilang dari ingatannya. "Hal tersebut wajar Vaiva. Mungkin mereka adalah orang yang berarti di dalam hidupmu. Aku yakin suatu saat nanti seiring dengan waktu kau pasti akan melihat wajah mereka dengan jelas," hiburnya pada Eisha. "Semoga saja yang kau katakan akan benar terjadi, Layla. Aku sangat ingin semua ingatanku semuanya kembali." Eisha berkata dengan penuh harapan. "Masih butuh istirahat?" tanya Layla. "Kurasa tak perlu, kita sudah banyak membuang waktu karena beberapa masalah. Kita lanjutkan saja perjalanannya," ucap Eisha lalu mengambil tas berbahan rajut dan menggendongnya di punggung. "Baiklah, kita lanjutkan perjalanan kembali." Eisha berjalan naik dan masuk ke dalam kereta kuda. Layla melepaskan ikatan tali pengendali kuda dan duduk di tempatnya semula yang ada di depan. "Bong, cepatlah bergerak! Kau belum puas sudah menghabiskan banyak rumput yang ada di sekitar?" Si kuda putih atau panggilannya Bong masih asyik memakan rumput hijau. Si Bong tampak tak memedulikan ucapan pemiliknya yang sudah menyindirnya. Memang kuda yang durhaka dan suka membuat orang kesal. Layla menampilkan senyuman yang lebih pantas dikatakan menyeringai. Kau yang memaksaku berbuat begini, jadi jangan salahkan aku! batin Layla. Dia mengangkat tangannya sebatas da-da, memfokuskan pikiran. Beberapa detik kemudian api merah kecil menyala di atas telapak tangannya. Layla menyalurkan api tersebut ke pan-tat Si Bong. Dan tebak apa yang terjadi selanjutnya? Si Bong terkejut, spontan menghentikan sesi makan rumput yang nikmat. Kuda putih meringkik kesakitan sebab pan-tatnya terbakar api dan berlari dengan cepat. Sementara itu Layla tertawa, rencananya berhasil. "Itu yang akan kau dapatkan Bong, jika sibuk makan tanpa mendengarkan apa yang pemilikmu katakan!" seru Layla dengan puas. Memang sesekali harus diberi pelajaran agar kuda putih ini tak terlalu ku-rang ajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN