Chapter 23

1008 Kata
Layla berjalan sambil menuntun kuda cokelat kemerahan. Gadis itu merasa ngeri saat melihat ke arah bawah yang dipenuhi semak belukar, pepohonan, dan tanaman liar. "Layla, jangan liat ke bawah kalau takut," ucap Eisha memberikan nasihat. Dia berjalan dengan hati-hati. "Iya, Vaiva aku akan berusaha," ujar Layla. Salah satu kaki Layla tak sengaja tergelincir bebatuan saat berjalan. Tubuhnya jatuh limbung ke arah jurang, tangannya berpegangan ke pinggir tepi. "Layla!" teriak Eisha yang panik saat melihat Layla yang bergelantungan. "Vaiva, tolong aku! Aku takut jatuh ke bawah," mohon Layla, dia semakin takut saat ada hewan buas berada di bawah jurang yang dalam. Eisha berjalan mendekati, berjongkok, dan tangannya bergerak untuk menarik tubuh Layla. "Layla pegang tanganku yang kuat," ujarnya sambil terus berusaha untuk menarik temannya. Ini susah sekali untuk menariknya, bagaimana ini? Tak ada orang yang belum pula, batin Eisha mengeluh. Walaupun sudah berusaha untuk menarik Layla, namun tubuh Layla yang berat susah untuk naik ke atas. Hingga akhirnya Layla tak sanggup untuk berpegangan dengan Eisha. "Layla!" teriak Eisha kuat sambil menatap ke arah Layla yang sedang jatuh bebas. "Vaiva, tolong aku! Aku tak ingin menjadi santapan hewan buas," ujar Layla. Di bawah kawanan serigala sudah meneteskan air liur bertanda mereka sudah lapar. Mulut hewan berbulu abu-abu tersebut membuka mulut mereka yang isinya dipenuhi gigi yang tajam. "Ini bagaimana? Aku tak punya tali pula," ucap Eisha yang kebingungan. Harus bagaimana? Layla mencoba untuk bangkit dari posisi jatuhnya, tubuhnya sakit semua, dan beberapa lecet. Tak jauh dari tempatnya jatuh gerombolan serigala datang dari berbagai arah bergerak berjalan menghampiri Layla yang sudah bergetar ketakutan. Kawanan serigala tidak hanya ada satu, tetapi ada tiga ekor serigala ukuran besar. "Layla, kau bisa mendengarkan aku? Jika bisa, kau harus berusaha untuk melawan kawanan hewan buas itu!" teriak Eisha dari tepi tebing yang curam. Suara teriakan Eisha memantul di antara dua dinding jurang. Di dalam jurang juga terdapat pepohonan hijau. Layla sempat mendongak ke atas untuk menatap Eisha yang masih berada di posisi yang sama. "Iya, aku bisa mendengarmu," ujarnya. "Semangat Layla!" jerit Eisha lagi. Dia ingin sekali membantu Layla, tapi dia tak bisa melakukan apapun. Keadaan genting begini, aku malah tak bisa membantu Layla. Maafkan aku Layla, batin Eisha merasa bersalah. Bisa saja Eisha ikut terjun ke jurang dan hal itu tambah membuat masalah yang baru. Layla berusaha untuk melawan rasa takutnya sendiri, dia mengumpulkan kekuatan api di tangannya. Dan dalam beberapa detik api berukuran kecil muncul di atas telapak tangannya. Dia mengarahkan kekuatan api tersebut pada salah satu serigala yang bergerak hendak mendekatinya, api merah menjalar membakar bulu serigala abu-abu tersebut. Serigala abu-abu menatap marah Layla yang dengan berani membakar bulu abu-abu kesayangannya. Kawanan serigala yang lain menyerang Layla dan Layla berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan dirinya. "Pergi kau serigala busuk! Menjauh dari temanku Layla!" Dari atas Eisha melemparkan batu-batu kecil yang tergeletak di sekitarnya. Bebatuan tersebut mengenai kepala dan tubuh serigala, namun tak banyak berefek. Aku harus mencari batu yang lebih besar, batin Eisha. Gadis itu berjalan untuk mencari batu yang besar, dan dia menemukannya. Dengan susah payah dia mengangkat batu berukuran besar dan melemparkannya ke serigala yang hendak menggigit Layla. "Layla, hati-hati!" teriak Eisha. Berhasil, batu besar mengenai tepat di atas kepala serigala, dan membuat kepalanya berdarah dan terluka. Serigala tersebut menggelang, darah merah menutupi pandangannya, dia kesakitan. "Rasakan itu serigala nakal!" ucap Eisha dengan puas. Dua serigala yang lain tampak tak terima melihat temannya terluka. Keduanya berjalan melompat menuju ke tempat Layla berdiri. Layla mengeluarkan kekuatannya untuk membuat perisai. Perisai merah muncul di hadapannya melindungi dirinya. Dua serigala abu-abu mengais dan berusaha memukul berusaha memecahkan perisai yang melindungi Layla. Layla berusaha untuk terus mempertahankan perisai merah yang dibuatnya, namun karena kekuatannya yang melemah dan berkurang banyak. Prang, suara perisai pecah berkeping-keping terdengar bahkan Eisha yang berada di atas juga mendengarnya. Tubuh Layla terasa lemah dan lemas. Itu membuat Eisha tambah merasa cemas. Dua ekor serigala bersamaan mengarahkan cakar ke arah Layla dan gadis itu hanya bisa pasrah. "Syukurlah atmanya Layla datang," ujar Eisha sedikit bernapas dengan lega. Paling tidak Layla ada yang membantunya. Tiba-tiba seekor rubah berbulu merah datang entah dari mana. Dia memasang wajah yang bengis, dan mengeluarkan cakar yang tajam. Seolah tak takut akan tiga serigala yang tubuhnya jauh lebih besar tiga kali lipat darinya. Terjadi pertengkaran antara rubah merah dengan serigala. Rubah merah dengan entengnya naik ke atas tubuh salah satu serigala dan mencakarnya dengan ganas. Serigala meraung kesakitan, darah merah segar mengalir mengotori cakar rubah merah. Sementara itu Layla berusaha untuk memulihkan dirinya dengan sedikit menjauh dari area pertarungan. Rubah merah terus menyerang sampai bisa melumpuhkan tiga ekor serigala sampai terkapar di atas tanah rerumputan. Bulu merahnya dinodai oleh darah, tanah, dan debu ketika bertarung tadi. Ketika Layla membuka mata, tiga serigala sudah jatuh terkapar tak berdaya. Energi kekuatan di tubuhnya sudah seperampat terisi. Walaupun belum penuh seutuhnya, namun sudah lumayan. Dengan bangga rubah merah menduduki tubuh serigala yang paling besar dengan gaya yang angkuh. Dia memainkan ekor merahnya dengan lemah gemulai. "Aku ucapkan terima kasih rubah merah," ucap Layla dengan tulus berasal dari hati. Dia berkata pada rubah merah. "Aku tak tahu, jika kau tak datang, aku pasti sudah kehilangan nyawaku," sambung Layla. Tak perlu merasa senang karena aku telah membantumu. Aku melakukannya demi diriku sendiri, jawab rubah merah melalui mindlink. Maksudnya bagaimana? tanya Layla yang tak mengerti. Jika terjadi sesuatu misalnya majikan kehilangan nyawa, maka aku sebagai atmamu akan kehilangan nyawaku, jelas rubah merah. Dia sebenarnya tak mau repot-repot membuang energinya demi seorang Layla. Layla mendengarkan dengan baik perkataan dari rubah merah. Lalu jika atmanya mati, apakah aku akan mati? tanya Layla untuk yang kedua kalinya. Dia pun ikut penasaran. Tidak, itu memang tak adil bagiku yang sebagai atma, sahut rubah merah dengan dengusan sebal dan kesal. Harusnya dia sebagai atma juga diperlakukan sama. Apapun alasannya aku ucapkan terima kasih, ucap Layla. Dia tahu jika rubah merah gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui jika dia mengkhawatirkan Layla. Sudah jangan banyak bicara, jawab rubah merah. Astaga kenapa aku punya atma yang seperti ini? batin Layla. Rubah merah tanpa aba-aba membawa Layla ke atas sampai membuat Layla terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN