Ostra menatap Clara yang tengah makan masakannya dengan sangat lahap. Makanan itu menjadi penutup dari makan siang yang ia makan. Benar, sekarang Ostra terhitung rutin selalu memasak menu sederhana untuk Clara. Sebelumnya, Ostra berpikir jika dirinya akan mencari resep lain untuk Clara. Setidaknya agar makanan yang ia buat bisa lebih bernutrisi. Namun, ternyata Clara berkata jika dirinya hanya ingin makanan sederhana yang memang dibuat Ostra pertama kali. Yaitu roti telur bakar dengan sayuran tumis dan buah segar potong. Meskipun merepotkan, tetapi Ostra menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun mengenai hal tersebut.
“Makan sayurnya hingga habis,” ucap Ostra saat menyadari jika Clara tidak menghabiskan sayuran, sebab dirinya memilih-milih makanan yang ia makan. Padahal, sebelumnya Clara sudah berjanji padanya akan makan semuanya hingga habis, agar kebutuhan nutrisi hariannya terpenuhi. Dan Ostra tidak perlu mencemaskan apa pun mengenai kondisi fisik Clara dan kebutuhan janin yang berada dalam kandungan perempuan satu itu.
Clara pun mendengkus, ia pun berkata, “Baiklah.”
Clara pada akhirnya menghabiskan semua makanan tersebut sesuai dengan apa yang ia katakan. Membuat Ostra yang melihatnya merasa sangat puas. Tentu saja, Clara saat ini merasa begitu kenyang karena semua makanan yang mengisi perutnya. Saat Clara tengah minum air, Ostra pun berkata, “Sepertinya berat badanmu sudah semakin naik karena semua makanan yang sudah kau makan. Tapi, aku tetap harus melihat dengan benar kenaikan berat badanmu.”
Clara yang mendengar hal itu pun mengernyitkan keningnya. “Apa kau tidak tahu? Sangat tidak sopan membicarakan berat badan seorang wanita. Terlebih, saat wanita itu baru saja selesai makan,” ucap Clara jelas terlihat sangat tidak senang dengan apa yang sudah dilakukan oleh Ostra padanya.
Ostra sendiri masih terlihat tenang, walaupun secara diam-diam dirinya memikirkan sesuatu yang menarik. Seperti menggoda Clara lebih jauh mengenai hal ini. Namun, Ostra harus menahan diri untuk sejenak. Mengingat saat ini Ostra memang harus melihat berat badan Clara terlebih dahulu, untuk mengetahui kenaikan berat badan Clara, dan membandingkannya dengan berat badan Clara sebelumnya. “Jangan mengatakan hal-hal yang aneh. Sekarang, aku harus memastikan berat badanmu karena kondisi kehamilanmu. Usia janin dan berat badanmu jelas harus seimbang,” ucap Clara.
Clara sadar mengenai hal itu, tetapi tetap saja itu terasa sangat memalukan. Ia memang harus patuh dengan perkataan Ostra, agar dirinya masih memiliki akses untuk ke luar dari kamar dan melakukan apa pun yang ia inginkan di luar sana. Namun, Clara tidak bisa mengabaikan rasa malunya saat ini. Ia pun berkata, “Tapi aku baru saja makan. Berat badanku pasti akan lebih berat daripada seharusnya.”
Perkataan Clara tersebut memang masuk akal, tetapi untuk saat ini Ostra hanya ingin melihat berapa berat badan istrinya yang tengah mengandung tersebut. Setidaknya, berat badannya ketika baru saja makan ini akan menjadi target bagi Ostra. “Tidak perlu memikirkan hal itu. Sekarang berdirilah, dan timbang berat badanmu. Aku harus melihatnya sebelum pergi untuk mengerjakan tugasku,” ucap Ostra sama sekali tidak ingin menerima alasan yang diberikan oleh Clara kepadanya.
Clara pun tidak memiliki pilihan lain, selian bangkit dari kursinya dan melangkah menuju area di mana ada timbangan berat badan yang memang disimpan di dalam kamarnya serta Ostra. Clara pun menatap alat itu dengan penuh permusuhan, sebelum dirinya pun menimbang berat badannya dengan berat hati. Pada akhirnya, Ostra pun mengetahui berat badan Selina yang jelas lebih meningkat daripada sebelumnya. Bahkan bisa dibilang Clara meningkat dua puluh kilogram daripada beratnya saat tertangkap oleh Ostra sebelumnya.
Jelas, ini adalah peningkatan yang sangat baik. Mungkin, itu adalah hal yang sangat tidak diinginkan oleh seorang wanita. Namun, saat ini Clara tengah mengandung. Berat badannya harus terus bertambah seiring dengan bertambahnya usia dari janinnya yang bertambah tersebut. Jika berat badannya menurun, tidak hanya berbahaya bagi janinnya, itu juga akan berbahaya bagi nyawa Clara sendiri. Sebab itulah, mau tidak mau Ostra harus menaruh perhatian lebih terhadap kondisi Clara.
“Baik, kau sudah bertambah dua kilo. Kita harus tetap menambah berat badanmu. Sekarang, kau boleh pergi ke luar. Tapi ingat, kali ini kau hanya boleh menghabiskan waktu sebanyak satu jam dan harus kembali ke kamar. Jika tidak menurut, maka izin untuk ke luar, akan kucabut,” ucap Ostra membuat Clara mengerucutkan bibirnya.
Namun, Clara tidak mengatakan apa pun dan segera pergi ke ke luar dengan diikuti oleh para pelayan dan para pengawal yang memang bertugas untuk mengikuti setiap langkah Clara dan melaporkan semua yang dilakukan olehnya pada Ostra. Setelah melihat Clara pergi, Ostra memastikan para pelayan merapikan semua alat makan yang sudah digunakan, Ostra pun beranjak pergi menuju ruang kerjanya sendiri. Sebab memang ada begitu banyak pekerjaan yang sudah menunggu. Ternyata, saat dirinya tiba di ruang kerjanya, Riolo dan Gaal sudah menunggu untuk memberikan laporan mengenai pekerjaan mereka masing-masing.
Riolo memicingkan matanya saat melihat Ostra yang duduk di kursi kerjanya. Lalu ia bertanya, “Kenapa sangat terlambat? Apa kau kembali memasak untuk istrimu itu?”
Ostra yang baru saja membuka laporan yang diberikan oleh Gaal pun mengangkat pandangannya dan menatap sang Letnan sebelum menjawab, “Benar. Aku memasak karena ia tidak akan merasa kenyang, jika belum memakan makanan yang kumasak untuknya. Karena itulah, aku harus memasak bahkan jika itu hanya roti dan telur yang kupanggang.”
“Wah, akan hingga kapan kau melakukan semua itu? Bukankah ini seperti kau bertingkah seperti seorang suami yang penurut. Bukankah terlalu konyol jika kau terus menuruti perkataannya?” tanya Riolo seakan-akan tidak bisa menerima perlakuan spesial yang diberikan oleh Ostra pada Clara.
Memang, Riolo tahu jika sangat wajar jika seorang suami memberikan perlakuan yang sangat spesial bagi para istrinya. Sebab ini memanglah situasi yang pastinya terjadi di kalangan para draconian yang terlahir dengan sifat yang setia. Baik setia pada pasangannya, atau pun pada kesetiaan loyalitas sebagai seorang prajurit yang memang mengabdi pada bangsa. Namun, bagi Riolo sangat tidak masuk akal ketika mereka juga harus memperlakuan manusia dengan perlakuan yang spesial seperti itu. Padahal, mereka jelas-jelas sangat berbeda.
Namun, Ostra yang mendengar perkataan Riolo tersebut juga merasa tidak senang. Jelas, ia merasa sangat tersinggung karena saat ini Riolo seperti tengah mengkritik dirinya dan menempatkan istrinya pada posisi yang bisa ia cemooh. Ostra pun menatap Riolo dan berkata, “Sepertinya, aku harus memberikan peringatan lagi padamu. Ingat, Riolo. Meskipun dia berasal dari bangsa manusia yang lemah sekali pun, ia tetaplah istriku. Dia, adalah istri dari Jenderal besar. Kau harus mengormatinya.”
Gaal sendiri menggeleng menatap Riolo dan berkata, “Kau juga tidak perlu berlebihan seperti ini. Memangnya kau pikir, nantinya kau akan menikah dan memiliki penerus dengan siapa jika bukan dengan istri yang beradal dari kalangan manusia? Jika saatnya tiba nanti, kau pasti akan memahami apa yang sudah dilakukan oleh Ostra ini.”
Riolo yang mendengar perkataan Gaal pun memasang ekspresi yang sangat tidak senang. “Jika pun nantinya aku menikah dan memiliki istri dari kalangan bangsa manusia, aku tidak akan pernah bersikap seperti Ostra. Aku tidak akan takluk di bawah perintah istriku yang lemah,” ucap Riolo terlihat penuh dengan percaya diri.
Namun, Gaal yang mendengarnya tertawa. Sebab dirinya benar-benar merasa jika perkataan Riolo tersebut sangatlah lucu untuk ia dengar. Lalu Riolo pun berkata, “Kau sebaiknya berhati-hati dengan apa yang kau ucapkan, Riolo. Karena bisa saja, nantinya Riolo yang berada di posisi tersebut. Tidak ada satu pun dari kita yang tahu apa yang terjadi di masa depan nantinya.”
_____________
“Semuanya sudah siap,” ucap Calvin pada Zayn yang kini akan bertugas untuk memimpin kelompok mereka untuk memulai perjalanan mereka kembali. Saat ini, mereka memang harus meninggalkan tempat persembunyian sementara mereka. Sebab mereka jelas tidak bisa tinggal di sana lebih lama, bisa saja itu menjadi sangat bahaya bagi anggota kelompok mereka semua.
Untungnya, sebelumnya Zayn dan Hial sudah menemukan tempat baru yang memang berbeda daripada tempat yang sebelumnya sudah mereka akan jadikan sebagai tempat persembunyian baru. Sebab jelas mereka harus merencanakan semuanya dari awal dan membuat rencana baru. Karena tempat yang sebelumnya akan mereka jadikan sebagai tempat persembunyian, sudah diawasi bahkan dikuasai oleh para draconian. Jelas, mereka harus mengambil langkah yang berlawanan dari apa yang mereka rencanakan sebelumnya.
“Kalau begitu, kita bisa memulai perjalanan kita. Ingat, hati-hati untuk tidak terpisah dengan rombongan,” ucap Zayn lalu mereka pun memulai perjalanan tersebut.
Tentu saja sebelumnya Zayn, Calvin, dan Hial sudah memperhitungkan hal tersebut dengan sangat baik. Hingga selama perjalanan menuju tempat tujuan mereka nantinya, mereka bisa menghindar untuk berpapasan dengan para mhonyedt atau pun dengan para prajurit bangsa Draconian yang tengah melakukan patroli. Semula, semuanya berjalan dengan sangat lancar. Mereka bisa mencapai jarak yang cukup jauh sesuai dengan alur perjalanan mereka. Sayangnya, tanpa diduga mereka pun bertemu dengan para mhonyedt yang menyergap mereka di area reruntuhan yang biasanya tidak pernah dikunjungi oleh mereka.
Tentu saja, Calvin yang berjaga di belakang rombongan segera berseru untuk membuat formasi. Formasi tersebut tak lain adalah para pria segera menjaga pagar hidup dan para wanita berada di tengah. Selain untuk tetap dilindungi, agar mereka tetap berada di rombongan dan tidak terpisah. Calvin dan Zayn sama-sama memimpin para pria dalam anggota kelompok mereka untuk melawan para mhonyedt yang menyerang. Namun, situasi benar-benar tidak berpihak pada mereka. Sebab selain para mhonyedt yang menyerang tampak lebih kuat dan liar, saat ini kondisi anggota kelompok juga tidak sepenuhnya baik. Mereka sudah setengah lelah karena menempuh perjalanan yang jauh dan di bawah sengatan matahari.
“Ini benar-benar buruk!” seru Calvin dan membuat Zayn mengetatkan rahangnya karena situasi memang benar-benar sangat buruk saat ini.
“Benar. Ini sangat buruk. Tapi kita tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi mereka sebisa mungkin,” jawaz Zayn.
Calvin pun berseru, “Semuanya fokus! Kita pasti bisa mengalahkan para mhonyedt yang sudah kehilangan kemampuan berpikir mereka!”
Namun, seruan penuh semangat yang dilontarkan oleh para anggota tidak bisa menutup fakta bahwa mereka memang tidak bisa mengalahkan pada mhonyedt yang sudah bertambah kuat dan liar. Selain itu, insting hewani mereka yang meningkat membuat mereka terlihat sangat tidak bisa dikalahkan. Mereka memiliki kemampuan untuk bertarung yang sangat di luar akal sehat mereka. Tentu saja semua itu terasa semakin sulit, ketika pertarungan terus berlangsung dalam waktu yang panjang.
Hingga, mereka pun mendengar suara mesin dan beberapa saat kemudian debu beterbangan membuat pandangan untuk beberapa saat terganggu. Para manusia mulai menahan napas mereka, saat sadar jika hal yang menyebabkan semua itu tak lain adalah beberapa buah drone yang dilengkapi dengan senjata api yang sangat canggih. Secara alami, para manusia tentu saja berpikir jika drone itu dioperasi oleh para draconian karena hanya bangsa draconian yang memiliki semua teknologi seperti itu.
“Sialan, sepertinya riwayat kita akan benar-benar habis sekarang,” ucap Calvin saat merasakan firasat buruk yang sama sekali tidak bisa ia tepi.
Sementara Zayn saat ini berusaha untuk memutar otaknya, agar dirinya bisa mencari jalan keluar dari situasi yang sangat tidak terduga tersebut. Sementara di sisi lain, drone yang mengintai tersebut sudah mulai mempersiapkan senjata yang memang menyatu dengan badan drone yang diterbangkan dengan sangat stabil tersebut. Saat melihat semua itu, tentu saja para anggota kelompok memikirkan hal yang sama. Mereka benar-benar akan mati jika terkena tembakan senjata tersebut.
Namun, mereka juga tidak bisa melarikan diri begitu saja, sebab saat ini, mereka tengah dikepung oleh para mhonyedt yang terlihat sangat mengerikan. Tentu saja, Zayn yang memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin perjalanan tersebut harus memutar otak untuk menyelamatkan anggotanya. Zayn dengan refleks segera berteriak dengan lantang, “Semuanya menunduk!”