Perdebatan

1927 Kata
Clara terkejut saat dirinya bersendawa. Rasanya sudah sangat lama dirinya tidak mengalami hal seperti ini, di mana dirinya makan hingga kenyang dan dirinya bersendawa seperti ini. Sungguh, ini adalah kemewahan di tengah masa sulit yang ia alami sebagai manusia yang hidup dalam kehancuran. Tentu saja ini adalah kehidupan yang sangat nyaman karena masalah perutnya sudah terjamin. Selain itu, dirinya bisa beristirahat dengan nyaman. Tidak perlu terganggu karena rasa panas atau tersiksa karena kedinginan. Ruangan di mana Clara beristirahat selalu disesuaikan suhu ruangannya. Hingga ia pun bisa menikmati waktu yang nyaman saat beristirahat. “Ini seperti tipu muslihat iblis,” gumam Clara saat dirinya menatap dinding kamar yang dihiasi oleh sebuah foto Ostra yang menggunakan pakaian resminya sebagai seorang Jenderal Besar. Di sana, terlihat dengan sangat jelas, bahwa Ostra memang memiliki aura yang sangat luar biasa sebagai seorang pemimpin. Walaupun hanya foto, tetapi dirinya sudah berhasil menunjukkan eksistensinya di tempat tersebut. Seakan-akan bukan hanya foto, tetapi Ostra memang hadir di tempat tersebut untuk mengawasi Clara secara langsung. Clara pun menghela napas panjang. Sungguh, dirinya merasa sangat cemas. Ia takut jika dirinya terus saja tinggal di tempat tersebut. Bukan karena takut para draconian melukai dirinya, tetapi dirinya takut merasa nyaman dan melupakan kenyataan bahwa sebenarnya dirinya tengah berada di kandang musuh yang sangat berbahaya. Mungkin saja, saat dirinya benar-benar merasa nyaman dan lengah, saat itulah Clara mendapatkan perlakuan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Selain itu, dirinya akan merasa menjadi seorang pengkhianat jika situasi ini terus beranjut. Sungguh, ini adalah surga. Di mana dirinya bisa mendapatkan semua keperluannya tanpa bersusah payah. Namun, ia sadar jika ini bukanlah surga sesungguhnya. Ini tempat yang dikuasai oleh banyak ibli. Sarang di mana iblis mengincar semua orang yang mereka tandai. Tentu saja, ini adalah neraka yang berkedok surga. Ia tidak boleh terkecoh dan merasa nyaman di sini. Karena itulah, Clara pun menegapkan punggungnya dan menendang selimut yang sebelumnya menutupi kakinya dan berusaha untuk mencari sesuatu di laci meja. Namun, dirinya sama sekali tidak menemukan apa yang ia inginkan. Clara pun bangkit dari posisinya dan beranjak menuju pintu kamarnya dan memeriksa jika ternyata tidak ada lubang kunci, tetapi pintu tidak bisa dibuka. Ia pun sadar, jika dirinya tidak akan bisa ke luar jika memang tidak mendapatkan izin dari Ostra. Semuanya diatur, agar Clara memang tidak bisa mencari cara untuk melarikan diri dari tempat tersebut. “Ya, walaupun aku diperlakukan dengan sangat baik dan diberi makan dengan layak, ternyata aku memang tidak akan pernah berubah status dari seorang tawanan. Percuma saja memiliki status sebagai seorang istri dari Jenderal Besar,” gumam Clara terlihat sangat jengkel dengan situasi tersebut. Karena tidak menemukan celah apa pun di tempat tersebut, pada akhirnya Clara kembali ke ranjang dengan kening mengernyit dalam. Terlihat sangat jelas jika saat ini dirinya merasa sangat jengkel, sekaligus terlihat berusaha keras untuk memikirkan solusi. “Aku harus segera menyusun rencana,” ucap Clara. Tepat begitu dirinya selesai berkata seperti itu, dirinya pun menoleh karena dirinya sadar ada seseorang yang memasuki kamar yang ia tempati. Ternyata itu adalah Ostra yang terlihat membawa sebuah botol berisi cairan putih yang Clara kenali sebagai s**u putih. Clara mengernyitkan keningnya, berusaha untuk mengingat seperti apa rasa s**u putih yang sudah lama tidak ia konsumsi. Clara tidak ingat rasanya, tetapi ia ingat betapa dirinya saat kecil senang meminum s**u tersebut. Clara pun menatap Ostra yang menyerahkan botol berisi penuh s**u tersebut dan berkata, “Habiskan.” Ostra tentu saja membawa s**u tersebut karena sebelumnya Gaal mengatakan padanya untuk membuat Clara memenuhi nutrisinya. Salah satu caranya adalah membuat Clara meminum s**u yang akan memastikan kebutuhan nutrinya terpenuhi. Clara sendiri hanya menatap botol tersebut. Jengkel karena Clara hanya diam dan menatap tangannya. Pada akhirnya ia pun membukakan tutup botol untuk Clara dan kembali menyodorkan botol tersebut. Sayangnya, Clara yang mengendus bau s**u segar tersebut seketika merasakan serangan rasa mual yang membuatnya mengernyitkan hidungnya. Lalu Clara pun membuang muka sebelum berkata, “Jauhkan itu. Sungguh baunya membuatku mual.” Clara sendiri tidak mengerti mengapa dirinya bisa merasa sangat mual seperti ini. Padahal, sebelumnya ia ingat betul saat dirinya kecil ia tidak bereaksi seperti ini saat berhadapan dengan segelas s**u. Ia malah sangat antusias untuk menghabiskan susunya, walaupun saat ini Clara bahkan tidak ingat bagaimana rasanya s**u tersebut. Mendengar apa yang dikatakan oleh Clara, Ostra pun mengernyitkan keningnya. Namun, ia pun segera menarik tangannya dan menutup botol tersebut dengan rapat-rapat. Memastikan jika tidak ada aroma s**u yang ke luar dari sana. Karena Ostra sadar, bahwa sepertinya indra penciuman Clara terlalu sensitif dan mereka harus berhati-hati. “Padahal Gaal memintaku memastikan kau meminum s**u agar nutrisi yang kau dan janinmu butuhkan terpenuhi dengan sempurna,” ucap Ostra tentu saja memikirkan kondisi Clara yang tidak mau meminum s**u. “Aku tidak mau meminumnya. Jangankan meminumnya, aku bahkan tidak tahan saat mencium aromanya. Jika kau memaksaku untuk menghabiskannya, aku bisa memastikan jika aku akan memuntahkannya kembali berikut dengan semua makanan yang sebelumnya sudah kumakan,” ucap Clara bersungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan. Mengingat, dirinya memang tidak tahan dengan rasa mual yang datang saat dirinya menghirup aroma s**u segar tersebut. Clara lebih dari yakin, jika ia akan memuntahkan semuanya begitu itu masuk ke dalam perutnya. Membayangkannya saja sudah membuat Clara merasa sangat frustasi. Pasti akan sangat menyiksa, padahal ia baru saja merasa lega karena beberapa hari ini ia terbebas dari rasa mual dan perasaan tersiksa ketika dirinya muntah. Namun, kini ia sudah menghadapi ancaman bahwa ia akan muntah kembali. Tentu saja Clara tidak ingin sampai hal tersebut terjadi kembali. Jadi, ia sebisa mungkin harus menghindari hal yang membuatnya akan tersiksa dan muntah kembali. Clara pun mengernyitkan keningnya dan berusaha menghindari tatapan Ostra. Tentu saja, Ostra yang melihat hal tersebut mendekus kasar. “Memangnya siapa yang berkata bahwa aku akan memaksamu untuk meminum ini? Tidak perlu memasang ekspresi seperti itu. Aku tidak akan melakukan hal yang membuatmu tidak nyaman,” ucap Ostra membuat Clara seketika menoleh padanya dan menatapnya dengan penuh harap. “Kau bersungguh-sungguh tidak akan melakukan hal yang membuatku tidak nyaman? Jika benar, bagaimana jika kau melepaskanku?” tanya Clara membuat Ostra mencibir istrinya itu secara terang-terangan. “Siapa yang tengah kau coba bodohi sekarang?” tanya Ostra membuat Clara mendengkus dan memutar bola matanya. Sebab dirinya sadar bahwa perkataan Ostra sebelumnya bisa digolongkan sebagai omong kosong yang tidak bisa dijadikan harapan apa pun baginya. Ostra pun mengalihkan pandangannya untuk menatap jam dan dirinya pun segera berkata, “Sekarang bangunlah. Kita harus pergi.” Mendengar apa yang dikatakan oleh Ostra, jelas saja Clara mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Selama ini, Clara sama sekali tidak bisa melangkah ke luar dari kamar yang ia tempati. Sebab pintu selalu saja terkunci. Selain itu, semua yang ia butuhkan juga selalu tersedia dan diantarkan ke dalam kamar tersebut. Membuat Clara tidak memiliki alasan apa pun untuk melangkah ke luar dari sana, selain alasan jika dirinya muak menjadi tahanan dan tetap berada di dalam kamar tersebut seorang diri. Meskipun dirinya mendengar hal yang menyenangkan bahwa ia akan ke luar dari kamar tersebut, ia tetap tidak boleh terlalu bersemangat. Sebab Clara harus memastikan terlebih dahulu. Ke mana dirinya akan dibawa pergi. “Tunggu dulu. Memangnya kau akan membawaku pergi ke mana? Aku tidak akan perti, jika kau tidak memberitahuku terlebih dahulu aku akan pergi ke mana,” ucap Clara terlihat akan bertahan dengan sifat keras kepalanya. Ostra sendiri sepertinya tidak berniat untuk merahasiakan apa pun. Sebab dirinya segera berkata, “Kita harus menemui Gaal untuk memeriksa kondisi kesehatanmu. Jadi, berhenti terlalu curiga, dan sekarang berdirilah. Atau mungkin, kau ingin aku gendong?” Clara yang mendengar hal tersebut tentu saja segera melemparkan pandangan mencemooh. Sebab apa yang dikatakan oleh Ostra terdengar sangat tidak masuk akal baginya. Karena itulah, dirinya pun mencibir dan berkata, “Kau bertanya karena sepertinya ingin melakukan hal itu.” Ejekan tersebut ternyata ditanggapi dengan sangat baik oleh Ostra, sebab Ostra segera berkata, “Aku sama sekali tidak keberatan jika kau memang ingin melakukan hal tersebut. Aku akan menggendongmu, jika kau memang memintaku untuk melakukannya.” “Bahkan dalam mimpi pun, aku tidak akan pernah mau melakukannya. Jadi, berhenti mengatakan atau memikirkan omong kosong yang sangat mustahil seperti itu,” ucap Clara terlihat sangat percaya diri. Jika hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Sebab menurut Clara, ia tidak mungkin menggantungkan dirinya dan mengharapkan bantuan terhadap Ostra yang masihlah menjadi musuh terbesar baginya. Ostra yang mendengar hal itu pun mengendikkan bahunya. Lalu dirinya pun menyeringai. “Entahlah. Kita lihat saja, akan bertahan hingga mana pendirianmu itu, Clara. Aku rasa, suatu hari nanti tidak hanya meminta untuk digendong, kau bahkan akan bertingkah manis padaku, Clara,” ucap Ostra jelas saja membuat Clara yang mendengarnya merinding bukan main. Sungguh, ia bahkan tidak berani membayangkan hal tersebut. Sebab rasanya hal itu benar-benar mengerikan. “Kubilang berhenti mengatakan hal-hal yang membuatku merinding!” teriak Clara dengan sangat keras. ** Clara tampak tenang saat Gaal tengah melakukan pemeriksaan terhadapan dirinya. Saat ini, Clara memang tengah berada di ruangan yang dimiliki oleh Gaal. Ruangan tersebut adalah salah satu ruangan yang memang berada di area miliknya. Sebagian besar area kekuasaannya tersebut difungsikan menjadi labolatorium atau tempat penyimpanan khusus barang-barang penelitiannya. Hanya ada sebagian kecil area yang digunakan sebagai area pribadi yang ia gunakan sebagai tempat beristirahat yang nyaman. Itu adalah area yang sangat tertutup, bahkan Ostra dan Riolo sendiri tidak memiliki kesempatan untuk mengunjungi tempat tersebut. “Kondisimu sudah jauh lebih baik. Selain kondisi jantungmu yang menunjukkan peingkatan, kondisi kandunganmu juga sangat stabil,” ucap Gaal. Tentu saja menjelaskan pada Clara yang terlihat mendengarkannya dengan sangat tenang. Sementara Ostra sendiri ada di sana, karena dirinya mengantarkan Clara sendiri ke tempat tersebut untuk diperiksa kondisi kesehatannya. Tentu saja Ostra mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Gaal dengan sangat saksama. Ia mengingat hal-hal yang penting, agar dirinya bisa memastikan hal apa yang perlu ia perhatikan demi kesehatan Clara dan janinnya. Lalu Gaal pun menoleh menatap Ostra dan berkata, “Kondisinya saat ini memang bisa membuatmu bernapas lega. Sayangnya, ada hal yang perlu kau perhatikan dengan saksama. Hal itu adalah berat badannya. Aku masih dengan saran yang sama. Dia harus segera menaikkan berat badan.” “Aku sudah membuatnya makan banyak dan membawakannya s**u segar seperti yang kau minta. Tapi dia masih belum juga bertambah berat. Selain itu, ada beberapa makanan yang ia tolak begitu saja,” ucap Ostra membuat Gaal yang mendengar hal itu pun mengernyitkan keningnya dan menatap Clara. “Kau perlu makan dan beristirahat dengan baik, sebab mengandung benih bangsa kami adalah hal yang sulit. Bahkan akan lebih berat daripada kehamilan normal manusia yang kau ketahui. Karena itulah, kau perlu tenaga dan energi yang lebih banyak untuk mengandung. Aku akan meresepkan obat untuk meredakan rasa mualmu, dan menambah nafsu makan. Pastikan saja kau memakannya. Karena selain untuk janinmu, itu juga untuk nyawamu sendiri. Jika tidak ingin mati, maka kau harus makan dengan baik,” ucap Gaal dengan penuh penekanan. Hal itu membuat Clara sadar, jika dirinya saat ini tengah dibuai oleh kenyamanan saat nyawanya tengah terancam kapan pun. Clara pun mengepalkan kedua tangannya, merasa sangat cemas dengan situasi saat ini. Ostra yang mendengar ucapan Gaal pun mengangguk. “Aku akan memastikannya makan dengan benar. Jika tidak berhasil memaksanya dengan cara normal, mungkin aku akan menggunakan cara yang tidak pernah ia pikirkan untuk memastikan dirinya makan,” ucap Ostra mengernyitkan keningnya dan menatap pria itu dengan sangat kesal. “Hentikan pikiranmu itu, karena aku akan berusaha bertahan hidup dengan caraku sendiri,” ucap Clara. “Oh, ya?” tanya Ostra dengan nada menyebalkan yang membuat Clara pada akhirnya cekcok dengan Ostra. Keduanya saling melemparkan perkataan tajam yang membuat Gaal yang mendengarnya tersenyum sembari merasa bahwa gendang telinganya saat ini hampir pecah karena perdebatan keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN