Endi mendekati Gina yang duduk termenung dan bersandar pada kursi tunggu tepat di depan ruang ICU dengan air mata yang tak kunjung mengering dari pipinya. Ia dengan lesu menunggui Helen yang mengurus administrasi, berkas, juga jenazah sang ayah dan segala yang berhubungan dengan berita acara penyerahannya dan pihak rumah tahanan dan kepolisian. " Kamu baik- baik aja?" tanya Endi dengan prihatin. " Baik? Saya bahkan nggak tahu apa masih bisa hidup setelah ini. Saya baru saja kehilangan orang yang saya cintai dua kali. Dan hati saya sudah hancur berkeping- keping. Andai saja bisa, rasanya saya ingin ikut ayah saya saja." jawab Gina masih dengan tatapan kosong lurus ke depan bahkan tanpa menoleh pada Endi yang duduk di sisinya. " Jangan ngomong gitu... Selalu ada harapan kok, Gin. Kamu mas

