Who Is He

1088 Kata
Tubuh Thalia terasa lemas saat mendengarkan penjelasan Adrian yang panjang lebar mengenai kondisi kesehatan putranya. Yang dari semuanya bisa ia simpulkan bahwa Bastian sedang tidak baik- baik saja. Ia kehilangan memory yang terekam di otaknya selama tiga tahun terakhir. Dan benar saja jika ia memang tidak mengingat tentang kecelakaan yang menimpanya juga tentang pernikahannya. " Lalu kita harus gimana, Adrian? Sampai kapan ingatannya akan seperti ini? Bagaimana dengan pekerjaannya? Bagaimana dengan istrinya?" " Kita harus masih menunggu. Dan seperti yang tadi saya jelaskan, jangan memaksa dia. Karena itu bisa semakin membahayakan Tian sendiri. Oh ya... Istrinya mana?" " Dia sedang di tempat kost. Dia mengambil barang miliknya karena Tian sudah sadar dan tante memintanya untuk di rumah saja. " " Memangnya selama ini dia tidak di rumah tante, di rumah Tian?" tanya Adrian heran. " Dia nggak mau. Dia lebih mau kost di dekat- dekat sini. Katanya nggak enak kalau harus di rumah sedangkan tante sendiri disini. Kami gantian untuk menginap disini. Tapi karena sekarang Tian sudah sadar, jadi dia mau nggak mau harus ikut tante. Dan itupun karena tante paksa." jelas Thalia. " Ng... Tante, apa tante nggak merasa kalau pernikahan mereka ada yang sedikit ganjil?" " Awalnya tante juga berpikir begitu, tapi melihat bagaimana Gina terlihat tulus dan tidak memanfaatkan keadaan ini, tante sedikit demi sedikit jadi percaya kalau memang dia adalah gadis yang baik dan polos. Tian pasti melihat sesuatu dalam diri gadis itu sampai- sampai tidak bisa menahan diri dan menikahinya dengan cepat." jawab Thalia. " Mungkin... Tapi aku harap semua akan baik- baik saja. Yang penting sekarang, Tian sudah sadar dan baik- baik saja." " Lalu kapan dia bisa pulang?" " Besok bisa sih... Asalkan Tian udah nggak lemas dan harus tetap ke sini setiap minggunya untuk check up. Saya juga akan kasih obat dan vitamin nanti." " Syukurlah, Adrian... Kalau gitu, tante ke ruangan Tian dulu untuk kasih tahu. Sejak semalam dia sudah minta pulang dan mencari semua orang." " Nanti biar aku jelaskan sama Tian juga soal kondisinya." " Adrian... Tante minta tolong, jangan sampai orang lain tahu soal keadaan Bastian. Ini akan berpengaruh dalam pekerjaannya. Dan tante nggak mau saingan bisnis Tian akan mengambil keuntungan dari hal ini." " Tentu, tante. Nggak perlu khawatir. Aku hanya menjelaskan ini sama tante, Tian dan Gina. Untuk yang lainnya, itu diluar kapasitas aku." ucap Adrian. *** " Niko, kamu dimana? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku haru gimana?" ucap Gina sambil kembali mencoba menghubungi pria yang telah menikahinya tersebut. " Apa dia emang Niko? Mungkin aja dia habis operasi plastik dan kecelakaan dan jadi lupa sama aku. Tapi... Ya Tuhan... Apa ini semua?!" ujar Gina dengan kesal dan kebingungan. Ia masih bisa mengingat dengan jelas wajah pria yang melamar dan menikahinya waktu itu. Dan wajahnya sangatlah berbeda dengan pria yang masih terbaring di rumah sakit dan terus memandanginya dengan tatapan heran tersebut. " Aku juga nggak bisa ngapa- ngapain karena hanya Niko yang tahu papa ada dimana. Di penjara dimana. Dan aku disini malah harus masuk ke rumah mereka. Aku harus ngapain? Gimana kalau mereka tahu kalau ini semua hanya salah paham." Gina lalu membuka pesan terakhir Niko padanya tempo hari dan kembali kesal dibuatnya. --- Sayang, maaf aku harus tinggalin kamu sebentar. Ada yang harus aku urus dan aku sudah memberitahu keluarga aku soal pernikahan kita. Saat ada yang menjemput kamu, ikut saja. Aku yang menyuruh mereka. Dan aku mohon jangan ucapkan apapun dan jangan menjelaskan apapun pada siapapun entah bagaimana pun bingungnya kamu nanti. Aku harus menyelesaikan urusan ayah kamu dulu dan aku akan kembali menjemput kamu. Bersikaplah layaknya menantu dan istri yang baik. Karena kalau tidak, aku dan ayah kamu mungkin tidak akan bisa kembali bersama kamu. Jadi aku mohon kamu bersabar sampai seseorang menyerahkan surat pengalihan properti aku ke kamu. Kamu adalah istri sah aku jadi apapun milik aku adalah milik kamu. Tunggu aku ya, sayang. Tunggu sampai aku membawa ayah kamu kembali.--- Dan Gina masih tidak bisa mengerti isi pesan tersebut sampai akhirnya Thalia menelepon untuk memberitahukan suaminya mengalami kecelakaan dan keesokan harinya, seseorang datang menjemputnya. Ia bahkan juga masih mengingat bagaimana terkejutnya ia ketika melihat pria yang berbaring tak sadarkan diri dengan begitu banyak verban di sekujur tubuhnya dan juga melilit sebagian kepalanya bukanlah pria yang telah menikahinya hari itu. Ia ingin sekali menanyakan hal itu pada Thalia namun ia kembali mengingat isi pesan Niko yang kini malah terdengar seperti sebuah ancaman untuknya hingga akhirnya ia kembali menunggu kedatangan pria tersebut dan berdoa semoga pria yang tidak sadarkan diri tersebut belum sadar sebelum kedatangan Niko. Namun kini, ia merasa sangat ketakutan saat pria yang bernama Tian itu telah sadar dan tentu tidak mengenali dan menganggapnya sebagai istri. Ponsel Gina berdering dan nama Thalia muncul disana membuat ia semakin panik dan berusaha untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. " Gina... Kamu dimana?" sapa Thalia begitu akhirnya Gina menjawab panggilannya. " Di kost, ma... Lagi beres- beres. Maaf aku tadi nggak dengar." " Nggak apa- apa. Oh ya... Mama mau jemput kamu aja biar kita sama- sama pulang ke rumah dan mempersiapkan keperluan Tian. Gimana?" " Ng... Gimana ya, ma... Aku... Aku..." " Kita ngobrol nanti aja. Tunggu mama ya..." ucap Thalia yang mengerti kegundahan hati sang menantu. " Tapi, ma..." " Udah... Tungguin aja. Pak, ke tempat ibu Gina ya..." ucap Thalia dan meminta supirnya untuk mengantarkannya ke tempat ia biasa mengantarkan gadis tersebut. Gina meletakkan ponselnya dan merasa begitu kebingungan saat ini. Entah langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya dan tidak membuat kesalahan. Ia sama sekali tidak tahu berada di posisi seperti apa saat ini. ( " Apa aku bilang saja sama ibu Thalia kalau dia bukan suami aku? Apa mereka salah orang? Tapi mereka memiliki buku nikah kami bukan? Nggak mungkin mereka salah mengenali aku. Dan bagaimana aku bisa menghadapi Bastian? Bagaimana kalau dia tahu aku bukan istrinya? Bagaimana kalau dia punya istri yang sebenarnya?") batin Galina. " Ah, itu bukan urusan aku juga... Yang harus aku pikirin saat ini adalah bagaimana caranya aku lepas dari ini semua. Dan siapa orang yang bernama Nikolas Sebastian Wirawan yang menikahi aku itu? Dan dimana dia? Dimana dia dan ayah?" ucap Gina dengan gusar. Gina nampak berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Thalia sebelum semuanya terlambat. Ia tahu ini semua tidak benar dan ia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi. " Iya... Aku lebih baik cerita ke ibu Thalia. Dia baik dan bijaksana. Aku yakin dia akan mengerti dan tidak akan menyalahkan aku. Lagian, aku memang tidak salah apapun. Iya... Aku akan bilang ke ibu Thalia saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN