Sean ada di halaman rumahnya. Dia menikmati hembusan angin malam dan bergumam hari ini rasanya terlalu berat.
“Malam yang cerah.” Sean sambil melihat ke langit. Namun tiba-tiba kilat menyambar dan angin berhembus kencang, dan lampupun padam. Anjing di samping Sean menyalak keras seolah memberi tanda. Sean pun heran dengan situasi yang tiba-tiba ini.
Sean menoleh ke belakang, karena dia mendengar sebuah suara. Sean mencoba mencari sumber suara yang ternyata membuatnya melangkah masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke ruangan itu, Sean membuka sebuah laci dan mendapati sebuah ponsel yang bergetar tanda bahwa ada panggilan masuk.
Di sebuah tempat, Letta sedang duduk di pinggir sungai sambil melihat orang-orang berlalu lalang sambil memikirkan kejadian tadi siang. Kemudian tampaknya Letta sedang menelpon seseorang. Dia berkata bahwa “sekarang dia sendirian di Tukad Badung. Ada keluarga dan pasangan yang sedang pacaran. Ada banyak orang tapi aku merasa sendirian. Pasti menyenangkan jika kamu ada di sini. Kini apa yang harus aku lakukan? Kini aku harus pergi kemana? Aku ketakutan dan tersesat. Kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu tinggalkan aku sendiri?” Letta menceritakan dengan sedih keadaan tempatnya saat itu, dimana banyak orang pacaran dan juga pesta keluarga.
Di seberang sana, ternyata Sean lah yang mendengar curahan hati Letta lewat HP Anita. Tentu saja dia tak mengenal siapa gadis yang tengah bersedih ini. Sean terus mendengar kata-kata Letta yang kini tengah bingung harus pergi kemana. Saat sedang medengarkan Letta sambil bingung, hpnya tiba-tiba mati dan tak dapat menyala kembali.