Kau Tak Pernah Tahu Siapa yang Menjagamu

993 Kata
Beberapa bulan setelah perceraian, Nazharina melangkah keluar dari ruangan General Manager dengan langkah gontai dan bahu yang terasa lebih berat dari biasanya. Wajah cantik itu pucat, matanya sembab, dan udara sore di lobi hotel terasa jauh lebih pengap dari seharusnya. Di dekat lift, seorang perempuan muda menyapanya dengan suara khawatir. "Nazh... kamu nggak apa-apa?" Nazharina tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja, Kinoshita." Tentu saja itu bohong. Dan Kinoshita tahu, tapi tidak memaksa. Ia hanya meraih lengan Nazharina, menuntunnya duduk di sofa lobi yang sepi. Kinoshita bukan hanya rekan kerja. Ia adalah sahabat pertama Nazharina setelah memulai hidup baru. Mereka pertama kali bertemu di sebuah butik, di mana mereka menjadi partner kerja yang kompak—hingga hari di mana seorang rekan bernama Shelby menjatuhkan Nazharina dengan fitnah. Nazharina dipecat. Tapi di hari terakhirnya, supervisor butik diam-diam menyodorkan secarik kertas berisi kontak HRD dari Velaris Grand Royale Hotel. "Ada posisi resepsionis yang terbuka. Aku merekomendasikanmu dan sudah bicara ke atasan kami yang lain. Mereka bilang akan mempertimbangkan untuk memberi posisi itu." Nazharina tak pernah tahu, bahwa semua itu terjadi atas perintah seseorang yang bahkan belum muncul di hidupnya lagi—Arian. Namun kini, ia kembali merasa terperosok. Pekerjaan yang awalnya membuat ia bersemangat perlahan berubah menjadi musibah yang tenang. Sejak dipindahkan menjadi sekretaris pribadi General Manager, Nazharina merasa seperti boneka yang diletakkan di ruangan mewah tanpa peran jelas. Awalnya ia sempat berpikir ini mungkin bentuk penghargaan. Tapi sejak hari pertama di ruang itu, ia tahu... ada sesuatu yang salah. Dan benar saja. Pekerjaannya sebagai "sekretaris pribadi" sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Ia tidak pernah diminta mengurus dokumen, menjadwalkan pertemuan, atau hal-hal administratif lainnya. Ia hanya… ada di sana. Duduk di ruangan GM sepanjang hari, hanya keluar ketika diminta menemani pertemuan di luar hotel. Sementara itu, pelecehan demi pelecehan mulai datang dengan cara yang terselubung. "Nazharina," suara Reynold terdengar dari balik meja kerjanya suatu hari. "Kau punya posisi favorit saat bercinta?" Nazharina sontak membeku. Ia menoleh, menatap pria itu dengan ekspresi tak percaya. "Apa, Tuan?" Reynold tertawa kecil, seolah pertanyaannya adalah hal yang biasa. "Santai saja. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Kau tahu, sebagai atasan dan bawahan yang baik." Nazharina menelan ludahnya dengan susah payah. Berusaha tak terpengaruh. Namun, tidak ada yang lebih buruk dari momen ketika Reynold mulai memainkan pikirannya. Seperti saat ketika pria itu tiba-tiba memutar video tak senonoh di layar monitor, dengan volume keras. Seakan menguji reaksinya. Nazharina berusaha mengabaikan, menatap lurus ke arah meja, tetapi ia bisa merasakan tatapan Reynold yang mengamatinya dengan intens. Puncaknya terjadi pada malam itu, saat langit di luar sudah mulai gelap ketika Nazharina menyelesaikan laporan terakhirnya. Ia menghela napas lega. Velaris Hotel sudah mulai sepi, hanya tersisa beberapa pegawai yang masih bekerja lembur. Ia baru saja akan merapikan mejanya ketika suara langkah terdengar mendekat. “Kerja lembur lagi?” Nazharina menegang. Ia mengenali suara itu. Reynold. Tanpa menoleh, ia berkata, “Saya baru saja selesai, Tuan. Akan segera pulang.” Reynold tertawa kecil. “Bagus. Tapi sebelum kau pergi, aku ingin menanyakan sesuatu yang membuatku penasaran.” Nazharina sudah mulai merasa merinding mendengar intonasi kalimat yang keluar dari mulut pria itu. Tapi ia tetap berusaha sopan. “Apa itu, Tuan?” "Kau benar-benar masih perawan?" suara rendah itu mengendap dari balik meja kerja yang dilapisi kayu mahal. Nazharina menahan napas. Jemarinya mengepal di atas rok. "Saya tak punya alasan untuk berbohong, Tuan." Reynold tertawa kecil. Langkahnya mendekat perlahan. "Wanita secantik ini, sepuluh tahun menikah... tidak pernah disentuh? Luar biasa." Ia mengepung ruang gerak Nazharina. Nafasnya mengandung aroma alkohol yang samar. "Kau pasti penasaran... seperti apa rasanya disentuh pria?" Nazharina bergidik. Ia ingin mundur, tapi meja di belakangnya menghalangi. "Tuan... saya ingin pulang." "Setelah bicara sebentar saja," bisik Reynold, menyentuh pinggangnya. Nazharina menepis tangan itu. "Jangan sentuh saya." Tatapan Reynold berubah. Gelap. Jari-jarinya mencengkeram rahang Nazharina, menariknya lebih dekat. "Kau pikir bisa menolakku? Setelah semua yang kuberikan?" "Saya tidak ingin ini. Saya tidak pernah ingin jadi sekretaris Anda." Tamparan tidak pernah datang. Tapi suara kain yang robek menggema di ruangan itu. Blus Nazharina terkoyak. Dengan sekuat tenaga, ia menghantam s**********n pria itu dengan lututnya. Reynold berteriak. Mengumpat. Dan Nazharina kabur dari ruangan, berlari secepat yang ia bisa ke lorong hotel dengan d**a naik-turun. Matanya basah. Tapi ia tidak berhenti sampai tiba di lobi. Di luar, malam menutup langit kota. Mobil-mobil berseliweran. Di dalam taksi yang melaju perlahan, Nazharina duduk diam. Bahunya gemetar. Kini ia tahu satu hal... Ia tidak akan kembali. Sementara itu di tempat lain, di lantai tertinggi kantor pusat AM Global Group, Arian mengepalkan tangan dengan kuat. Di layar monitor... rekaman CCTV dari ruang kerja Reynold. Nazharina berlari keluar, rambut berantakan, pakaian sobek. Arian menatap layar itu seperti menatap hantu dari masa lalunya. Tapi ini bukan masa lalu. Ini nyata. “Dia nyaris menyentuhnya.” Arian menggeram. Seorang pria berdiri di belakangnya. Mengenakan jas hitam. Diam. Arian tak berpaling saat berbicara. Suaranya datar. "Tangkap Reynold malam ini juga. Jangan biarkan dia keluar dari hotel." "Baik, Tuan." "Dan pastikan semua rekaman diamankan. Tanpa jejak. Tanpa suara bocor." "Ya." Arian berdiri, menatap kota dari balik jendela kaca besar. Dan kali ini, tatapan dingin itu bukan untuk bisnis. Tapi untuk seseorang yang berani menyentuh miliknya. Velaris Grand Royale Hotel berada dalam jaringan bisnis yang ia miliki—dan tentu saja di bawah pengawasannya. Tidak banyak yang tahu bahwa pemilik utamanya adalah dia. Sudah pasti tak ada juga yang menyangka, bahwa alasan utama Nazharina bisa diterima kerja di sana... adalah karena Arian memintanya. Ia pikir bisa melindungi mantan istrinya itu dari jauh. Memberi perlindungan tanpa harus hadir. Tapi hari ini, kenyataan menamparnya—Nazharina hampir dihancurkan. Ternyata, keputusan itu justru membawa Nazharina masuk ke dalam neraka yang lain. Dan kini, Arian tahu... untuk menjaga Nazharina, ia harus kembali ke sisinya—bukan hanya sebagai pelindung dari balik layar. Tapi sebagai lelaki yang seharusnya selalu tampil di depan. Apakah ini sudah saatnya ia muncul secara langsung di hadapan Nazharina—wanita yang ia lindungi diam-diam sejak mereka resmi bercerai?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN