Layla sedang memandang langit-langit kamarnya ketika pintu kamarnya dibuka. Tidak lama dari itu Noah masuk. Langkah Noah tegas dan mantap. Lelaki itu seakan tak terpengaruh melihat kondisi tunangannya yang mengenaskan.
“Kamu kurus sekali,” kata Noah sebagai kalimat sapaan. “Makanan di pusat rehabilitasi enggak enak?”
Layla melirik Noah melalui ekor matanya. Walaupun mereka sudah bertunangan satu tahun yang lalu, namun tak ada kehangatan di dalam hubungan keduanya. Alih-alih harmonis Layla dan Noah lebih mirip musuh yang saling menyimpan senjata di balik punggung masing-masing.
“Aku enggak berharap kamu datang.”
“Kamu marah karena aku enggak bisa ikut menjemput di pusat rehabilitasi?”
Layla mendengkus kasar. Dia tak pernah sekalipun berharap Noah akan menjemputnya. Perasaan Layla kepada Noah sudah mati di hari itu.
Noah menendang asal bantal yang jatuh di lantai lantas duduk di tepi kasur. “Kamu harus banyak makan setelah ini. Mama enggak akan suka kalau tau calon menantunya terlihat seperti mayat hidup.”
Layla mengubah sikap menjadi duduk. Dipandanginya Noah dengan sorot terluka. Selama 90 hari Layla direhabilitasi tak ada satu hari pun di mana Layla tak membenci Noah. Di balik kamar rehabilitasi yang dingin dan sepi Layla mengutuk lelaki itu.
“Aku ingin kita mengakhiri pertunangan ini,” kata Layla dalam sekali tarikan napas. “Aku enggak sanggup harus terikat dengan seorang pembun*h seperti kamu.”
Tatapan Noah yang semula lembut hanya dalam hitungan detik berganti keras. Topeng malaikatnya seakan baru saja lepas dan menampilkan dirinya yang sesungguhnya. “Bukan hanya aku yang membun*h bayi itu. Kamu juga ikut berperan, Layla. Kalau kamu enggak meminum obat itu sudah pasti dia masih ada atau … mungkin sudah lahir. Jangan salahkan diriku terlalu banyak.”
“Kamu bilang itu vitamin!” Layla melempar bantal ke arah Noah sebagai upaya melampiaskan emosinya. “Dan, aku percaya pada kamu! Aku percaya kamu enggak akan melukai kami.” Layla terisak.
Noah melirik pintu. Teriakan Layla bisa saja menimbulkan tanda tanya bagi orang-orang di luar sana. Tanpa rasa kasihan Noah mencengkram rahang Layla supaya perempuan itu bungkam.
“Aku melakukannya demi kebaikan kamu. Dengar, Layla. Aku akan terjun ke dunia politik. Menikahi perempuan yang pernah hamil di luar nikah hanya akan menjadi aib bagi citraku.”
Layla meringis merasakan tekanan yang kuat di sekitar rahangnya. “Kamu menganggap anak kita sebagai aib?”
“Iya. Dia hanya anak h4ram. Kamu enggak perlu terlalu merasa berduka. Toh, setelah kita menikah nanti kita masih bisa menghasilkan keturunan yang lain. Pada akhirnya mayat bayi itu akan tergantikan.”
“Tapi, kenapa … kenapa kamu harus membun*hnya?” Pandangan Layla buram akibat airmata. “Kamu berjanji untuk membawa kami ke Singapura. Kalau kamu memang keberatan seharusnya … sejak awal kamu enggak perlu menjanjikan apapun. Aku bisa membesarkan dia sendirian.”
“Dan, membuat orang lain mempertanyakan tentang diriku? Mau sejauh apapun kamu menyembunyikan bayi itu, kelak orang lain akan tau siapa ayahnya.” Noah melepas cengkramannya begitu mendengar suara langkah kaki mendekat.
“Layla ….” Sheila muncul tak lama kemudian. Kakak perempuan Layla itu masih sedih setiap kali melihat kondisi Layla. Sudah seminggu adiknya tinggal bersama di rumahnya dan Gasendra, namun belum ada kemajuan yang berarti. “Semoga Layla enggak mengatakan hal yang menyakiti kamu. Sejak keluar dari pusat rehabilitasi emosi Layla memang sering meledak-ledak.”
Noah menampilkan senyum kecil. “Enggak apa-apa, Kak.” Satu tangan Noah kemudian bergerak mengusap puncak kepala Layla. “Aku akan menunggu sampai Layla siap. Kalau begitu, aku pamit dulu ya? Nanti aku akan ke sini lagi.”
Noah sempat mengecup pipi Layla sebelum berlalu meninggalkan kamar perempuan itu.
***
Athala mengangkat pandangannya ke langit. Di atas sana awan kelabu terlihat berkumpul membentuk mendung. Cuaca yang tak bersahabat menambah suram atmosfer pemakaman siang itu.
“Mas, itu … sejak kita datang perempuan itu sudah ada di sana, iya enggak, sih?” Damar berbisik. Adik laki-lakinya itu berdiri di samping Athala sejak proses pemakaman kakek buyutnya dimulai.
Refleks pandangan Athala beralih ke perempuan yang dimaksud oleh Damar. Layla berdiri sekitar 10 meter dari tempat Athala berada. Perempuan itu sudah berdiri menghadap gundukan tanah kecil tanpa nisan sejak rombongan Athala datang. Tadinya Athala mengira bahwa itu bukanlah perempuan yang dia lihat di apartemen, namun jika diperhatikan lebih jeli lagi Athala yakin itu adalah perempuan yang sama.
“Menurut lo dia sedang memandangi makam siapa?” tanya Athala dengan suara pelan.
“Melihat dari ukuran makamnya sih, kayaknya makam anak-anak, deh? Atau mungkin bayi? Tapi, enggak ada batu nisannya ya.”
“Anaknya gitu?”
Damar mengendikan bahunya tak acuh. “Enggak tau. Bukan urusan kita juga.”
Sesekali Athala masih mencuri pandang ke arah Layla. Perempuan itu tampak jauh lebih menyedihkan dari ketika Athala melihatnya di apartemen untuk pertama kali.
Tubuh Layla jauh lebih kurus. Rambutnya yang panjang seakan tak terurus. Athala membayangkan penampilan Layla ketika perempuan itu dalam suasana hati yang lebih baik. Pasti akan cantik sekali. Entah guncangan seperti apa yang menimpa Layla, namun Athala berasumsi bahwa semula Layla tak seperti itu.
“Hujan. Ayo, cepat masuk ke dalam mobil!” seru Seruni kepada kedua anak lelakinya.
Upacara pemakaman selesai bertepatan dengan turunnya hujan. Tak tanggung-tanggung hujan turun bukan lagi dalam bentuk gerimis kecil, melainkan hujan lebat.
Athala mengikuti saudara-saudaranya yang berlarian menuju parkiran pemakaman—tempat di mana mobil mereka berada. Pada saat itulah Athala melewati Layla. Berbeda dari orang-orang yang berlarian berusaha menyelamatkan diri mereka dari serbuan air hujan, Layla justru mematung di tempat.
Athala mengemudi sendirian menjauhi pemakaman sebagaimana anggota keluarganya yang lain. Sekitar 10 menit berkendara Athala memutuskan untuk kembali ke pemakaman. Bayangan wajah Layla yang berdiri di bawah guyuran hujan menghantuinya.
Athala kembali ke pemakaman. Tempat itu sepi. Layla sudah tak terlihat di mana pun.
“Udah pulang berarti,” gumam Athala merasa lega.
Athala berjalan di bawah payung hendak kembali ke parkiran.
“Awas!”
“Ada yang ketabrak!”
“Panggil ambulans!”
Pada saat itulah atensi Athala tersedot pada teriakan tak jauh dari mobilnya parkir. Athala mendatangi asal suara. Tak jauh dari tempat mobilnya parkir Athala melihat segerombolan orang berpayung yang berdiri sedikit di tengah jalan raya.
Betapa terkejutnya Athala ketika melihat tubuh Layla yang terbaring di atas aspal. Tak jauh dari Layla tampak sebuah sepeda motor yang roboh, sedangkan pengemudinya ikut terlempar dengan luka baret di lutut, siku, dan telapak tangan.
Athala melemparkan payungnya dan menghampiri Layla. Ada luka baret di tulang pipi Layla dan luka sobek di kening.
“Kamu bisa mendengar saya?” Athala menepuk pelan pipi Layla yang bebas luka.
Sentuhan itu membuat Layla membuka matanya. Dia menandangi Athala. Guyuran air hujan membuat Layla tak mampu melihat wajah Athala dengan jelas.
“Ada bagian lain yang sakit?”
Bibir Layla yang pucat akibat kedinginan bergerak. “Kakiku.”
“Yang mana?”
“Kiri.”
Athala menyibak celana Layla dan melihat adanya tulang yang menonjol. Sepertinya patah tulang. Karena hujan tak mungkin Athala membiarkan Layla tergeletak di aspal sampai ambulans datang. Dengan nekad Athala menyelipkan satu tangannya di balik lipatan lutut Layla, sedangkan satunya lagi di belakang punggung perempuan itu. Dalam sekali tarikan napas Athala sudah berhasil menarik Layla ke dalam gendongannya.
Warga lain membantu pengemudi motor itu. Beruntungnya dia memakai helm sehingga kepalanya aman dari benturan.
“Bapak ikut saya aja ke RS sekalian berobat. Nanti sisanya biar minta tolong polisi.”
Pengendara motor itu mengangguk dengan tak rela. Athala membaringkan Layla di kursi penumpang belakang, sedangkan pengendara motor yang terluka duduk di samping kursi sopir. Athala bergegas berkendara mencari rumah sakit terdekat.
***
“Dia kayak mau bun*h diri, Pak. Berdiri di tengah jalan raya seperti sedang menunggu untuk ditabrak. Saya sempat klakson. Saya juga udah usaha buat rem. Tapi, karena hujan jadi aspal licin. Rem mendadak malah bikin motor meluncur."
Athala mencuri dengar percakapan yang sedang terjalin antara pihak kepolisian dengan pengendara motor. Sebagai orang yang membawa Layla, Athala harus menjadi wali perempuan itu sampai keluarganya tiba.
Layla menahan napasnya ketika perawat menjahit luka robek di kening. Aroma disinfektan, kesibukan RS, dan dokter yang hilir mudik mengingatkan Layla ketika dia melahirkan bayinya. Rasa panik menjalar ke jantung Layla. Dengan gelisah Layla bergerak tak nyaman di tempatnya.
“Ibu, tolong diam sebentar.” Perawat yang bertugas mengobati luka Layla mulai kewalahan.
Athala yang melihat itu berusaha untuk menenangkan Layla. Digenggamnya tangan Layla yang bergetar. Walaupun sama-sama basah, namun karena banyak bergerak suhu tubuh Athala jadi lebih hangat. Kehangatan itu ikut menjalar ke tubuh Layla. Secara perlahan Layla kembali tenang.
“Sebentar lagi beres kok. Sabar ya?” kata Athala menghibur.
Layla mengangguk.
“Siapa nama Ibu?” Dokter jaga IGD bertanya begitu luka robek Layla selesai dijahit.
Layla menggigil di atas brankar. “Layla.”
“Bapak walinya?”
Athala yang ikut menemani di samping brankar Layla menggeleng. “Saya yang membantu membawa dia kemari.”
Dokter itu menampilkan ekspresi masam. “Bisa Ibu hubungi keluarga Ibu? Kami harus melakukan sejumlah tindakan. Besar kemungkinan juga akan dilakukan operasi karena terjadi fraktur.”
Mau tak mau Layla memberikan nomor telepon Harsa kepada Athala.
“Itu nomor keponakanku,” jelas Layla sebelum Athala keluar meninggalkannya.
Laki-laki bernama Harsa terdengar panik sewaktu Athala menjelaskan melalui sambungan telepon mengenai kondisi Layla. Laki-laki itu juga berjanji akan tiba sekitar 45 menit lagi.
Athala teringat kondisi Layla yang basah kuyup dan menggigil. Di IGD tak ada selimut jadilah lelaki itu pergi kembali ke mobilnya. Athala menyimpan dua jas ganti di mobil. Sepertinya itu bisa digunakan untuk menghangatkan tubuh Layla. Ketika lewat kantin RS Athala juga sempat berhenti untuk membeli teh hangat tawar.
Ketika kembali Layla masih berbaring di brankar. Perempuan itu terlihat sedang memeluk tubuhnya sendiri berusaha mencari kehangatan.
“Saya enggak punya selimut, tapi semoga kamu enggak keberatan pakai ini dulu.” Athala menyelimuti tubuh Layla menggunakan jas miliknya. “Mau minum sedikit-sedikit? Supaya kamu merasa agak hangat?”
Layla melirik gelas karton yang dibawa oleh Athala. Aroma daun teh yang diseduh tercium harum. Merasa bahwa Athla tak akan menyakitinya Layla mengangguk. Secara telaten Athala membantu Layla untuk bersandar ke bantal supaya perempuan itu bisa minum dengan posisi yang nyaman.
“Keluarga kamu akan datang sebentar lagi,” kata Athala berusaha menghibur Layla.
“Layla Cantika Hoesnadi. Di mana adik saya?”
Athala mendengar suara langkah kaki yang banyak. Tak lama dari itu tirai yang membatasi brankar Layla dengan pasien lainnya disibak. Seorang perempuan yang terlihat mirip dengan Layla, namun dalam versi yang lebih berusia terlihat khawatir.
“Ya, ampun.” Sheila terkesiap melihat kondisi Layla yang menyedihkan. “Apa yang terjadi pada kamu ….” Sheila terisak. Perempuan itu bergerak memeluk pelan tubuh adiknya. Meskipun tak ada balasan, namun Sheila merasa cukup lega karena Layla telah ditemukan.
Merasa bahwa tugasnya sudah selesai Athala melangkah menjauh. Kini Layla sudah bersama keluarganya.
Di lobi IGD seseorang menepuk bahu Athala.
“Mas Athala ya?” Seorang pemuda dengan tampang rupawan bertanya. Garis wajahnya sedikit mengingatkan Athala akan sosok Layla. Dia menyodorkan tangan. “Saya Harsa. Keponakannya Tante Layla.”
Athala menjabat tangan Harsa.
“Itu … terima kasih sudah membawa Tante Layla ke RS. Siang tadi sebetulnya Tante Layla pergi keluar bersama saya. Kami pergi ke taman kota. Tante Layla terlihat senang berada di sana jadi, saya enggak kepikiran kalau dia akan pergi. Saat saya harus ke toilet sepertinya Tante Layla memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Saya … kalang kabut mencari. Keluarga kami heboh. Melapor polisi pun percuma karena hilangnya Tante Layla belum sampai 2x24 jam.” Harsa menjelaskan panjang lebar.
Begitu menginformasikan bahwa Layla hilang Harsa menjadi orang pertama yang disalahkan oleh Sheila. Mendapat kabar bahwa Layla telah ditemukan jelas menjadi angin segar bagi keluarganya. Karena itu pula Harsa merasa harus menceritakannya kepada Athala.
“Semoga Layla sembuh dengan cepat.”
Harsa mengangguk. “Terima kasih. Tapi, tadi Mas Athala menemukan Tante Layla di mana ya?”
“Tante kamu sudah menikah?”
Harsa terlihat heran. “Belum. Kenapa memangnya Mas?”
Insting Athala mengatakan bahwa dia tak boleh mengatakan yang sejujurnya. “Saya kebetulan lewat di jalan dan melihat kecelakaan itu. Kalau begitu saya pamit ya.”
Harsa memandangi punggung Athala yang semakin jauh ditelan jarak.
[]