Bab 24. Bunga Kesukaan Karin

997 Kata
Tapi Gama sepertinya tak acuh. Ia menggerakan tangannya untuk menyentuh bibir Hera yang mungil. Merasa tak berhasil, Hera kembali memutar otak. “Gama! Kita harus bergegas turun ke bawah untuk sarapan. Ingat lima belas menit lagi.” “Aku tahu! Tapi khusus pagi ini, aku ingin sarapan di kamarku. Sepertinya, bibir dan leher istriku lebih menggoda dari roti panggang yang terhidang di atas meja makan. Biarkan aku menghabiskan lima belas menit ini dengan melahapmu, Hera! Itu akan membuatku seribu kali lipat lebih bertenaga untuk pergi ke kantor,” kata Gama dengan mesra. Hingga membuat si wanita cantik yang saat ini sudah terbaring tak berdaya di atas tempat tidur itu hanya bisa pasrah. *** Hera menuruni tangga. Setelahnya sampai di anak tangga paling bawah. Kepalanya menoleh ke arah pintu masuk. Ia menghela napasnya pelan. “Lagi-lagi, Gama pulang sedikit larut.” Hera kasian pada suaminya itu. Leanna mengelus perutnya dengan lembut. “Sayang! Sepertinya malam ini kita makan lebih dulu lagi dari papa. Sebenarnya mama ingin menunggu. Tapi perut Mama sudah lapar. Jadi kita makan berdua saja, ya?” Hera mengajak bicara bayi yang bergelung manja di dalam rahimnya. Karena rasa lapar yang sudah tak dapat ia tahan. Hera beranjak menuju dapur untuk memanaskan makanan yang sudah dimasak olehnya. Hera hendak menyalakan kompor. Tapi, lampu dapur mendadak mati. Hingga membuat Hera terkejut dan meraba-raba sekelilingnya. Hera tak bisa melihat apapun. Tangannya masih mencapai apa yang bisa ia sentuh. Hinggalah tubuhnya menegang saat seseorang mendekapnya dari belakang. Napas Hera terengah. Dan ia hendak melepas paksa tangan kekar itu dari perutnya. Tapi, suara lembut yang sangat familiar di telinga. Membuatnya urung melakukannya. “Jangan takut, Hera. Ini aku!” kata orang itu yang ternyata adalah Gama. Hera mengerutkan keningnya dalam kegelapan. “Gama? Kau sudah pulang?” kini Hera melepaskan tangan Gama. Lalu ia membalikan tubuh agar menghadap lelaki itu. Ya. Walaupun percuma saja. Hera tak bisa melihat wajah Gama secara jelas. Hanya deruan napas lelaki itu yang terdengar. Tapi, meskipun begitu. Hera tersenyum. Ia semakin tenang saat mendapati kalau lelaki yang berdiri di depannya kini memang suaminya. Itu dapat ia ketahui saat tangannya terangkat pelan, untuk meraba setiap inci wajah dari lelaki itu. Gama terkekeh saat jemari Hera menyentuh wajahnya. “Kenapa? Kau takut kalau ini bukan aku?” Gama bertanya dengan nada menggoda. Hera tersenyum dalam kepekatan. Wanita itu menganggukan kepala yang tak bisa Gama lihat. “Penerangannya mati, Gama. Aku takut kalau ada pencuri masuk ke dalam rumah.” Gama menaikan sebelah alisnya. Lalu, sedetik kemudian Gama menyalakan senter ponselnya di depan Hera. Hingga kini wanita itu bisa melihat wajah tampannya dengan jelas. “Hei? Coba katakan! Pencuri mana yang berani memeluk-tubuh istriku dari belakang? Dan pencuri mana yang wajahnya setampan diriku?” lelaki itu bertanya seraya menaik turunkan alisnya pada Hera. Wanita itu mengulum senyum. Lalu ia memencet hidung Gama dengan telunjuknya. “Kau! Kau adalah pencurinya. Dengan beraninya kau masuk ke dalam hidupku. Lalu mencuri seluruh atensiku,” jawab Hera diakhiri dengan mencubit gemas pipi kiri suaminya. Gama terkekeh. Ia menoleh ke samping, lalu menaruh ponselnya agar dapat menerangi dari atas kitchen setnya. Lantas, lelaki itu kembali mengarahkan pandangannya pada Hera. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada istri yang kini amat dicintainya itu. Direngkuhnya pinggang Hera dengan kedua tangan. “Kau benar. Mungkin aku adalah pencuri paling egois dan serakah. Karena sudah merampas semua kepercayaan dan cinta istriku yang cantik.” Apa yang Gama katakan, membuat senyum manis terukir di bibir Hera yang dapat terlihat di antara keremangan cahaya. “Oh, ya! I have something for you.” Gama memberitahu. Hingga membuat Hera menaikan sebelah alisnya yang tipis. Lalu bertanya. “Apa?” Gama mengedipkan matanya. Lalu sebelah tangannya di arahkan ke belakang tubuh kekarnya. Hera memerhatikan hal itu. Ia penasaran. Sesuatu apa yang ingin diberikan oleh Gama untuknya. Tak berselang lama. “Tara!” Sebuah bunga mawar segar dengan cincin putih cantik yang melingkar di tangkainya, teracung di depan wajah Hera. Hingga membuat Hera terkejut dengan apa yang ia lihat. “Bunga mawar,” gumam Hera pelan. Gama yang wajahnya antusias memberi kejutan pada sang istri. Kini berbalik mengerutkan dahinya. Manakala ia melihat tatapan kosong Hera yang terus menatap pada setangkai bunga mawar merah yang Gama tunjukan. “Iya. Mawar merah! Kenapa, Hera? Apa kau tidak suka? Maaf. Ku pikir tadinya semua perempuan akan menyukai mawar merah.” Gama menurunkan bunga yang ia pegang. Hera mengarahkan tatapannya pada Gama. Wanita itu memilin jemari. Sebenarnya ia senang dengan kejutan manis dari suaminya. Tapi, bunga itu membuat Hera terpikir akan sesuatu. “Bunga mawar merah itu, kesukaan Karin. Dia yang sangat menyukainya.” Hera menundukan lagi pandangan. Ia bergumam pelan. Sementara Gama yang mendengar perkataan dari bibir istrinya, langsung melebarkan terbungkam dan tersadarkan akan sesuatu. “Maaf, Hera! Aku lupa tentang itu. Aku memang bodoh. Tidak seharusnya membeli bunga ini dari anak jalanan yang menawariku saat lampu merah sedang menyala. Kalau begitu, aku akan membuangnya.” Gama mengeluarkan cincin yang melingkar di batang bunga itu. Kemudian, ia hendak melemparkan bunga yang ia genggam ke tempat sampah. Tapi, tangan Hera lebih dulu menahanya. “Tidak perlu, Gama. Bunganya tidak perlu dibuang,” kata Hera pelan. Gama berbalik menatap pada istrinya. “Kenapa? Aku takut kalau perasaanmu tidak nyaman.” Gama menyentuh sebelah pipi Hera yang putih dan halus. Wanita itu tersenyum tipis, digenggamnya tangan Gama yang hinggap di pipinya. Lantas ia menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Sungguh. Hanya saja.. saat melihat bunga mawar merah itu, aku langsung teringat pada Karin.” Gama berusaha untuk menutupi ketegangannya. Ditaruhnya bunga yang sedang ia pegang itu di samping ponselnya yang masih setia menyalakan senter. Lalu diraihnya kedua lengan atas Hera agar ia bisa menatap intens pada bola mata istrinya yang cokelat muda. “Maafkan aku. Lain kali aku akan belikan bunga mawar putih atau yang lainnya untukmu,” kata Gama sambil meraih kedua tangan Hera lalu menggenggamnya. Hera membalasnya dengan senyum manis dan anggukan kepala. Sebelum kemudian menenggelamkan dirinya ke pelukan Gama. Sampai mereka pun tidak sadar ketika lampu kembali menyala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN