Beep..
Autoprotection Status: ON
Entah bagaimana sistem kerjanya, yang jelas aku merasa beruntung dan terselamatkan kali ini. Sebuah helm tiba-tiba muncul begitu saja, helm itu tidak sepenuhnya menutupi wajahku. Hanya nampak sebuah padatan tembus pandang yang melengkung melindungi keningku, panjangnya hampir bersentuhan dengan ujung hidungku. Aku bisa melihat sedikit asap keluar dari permukaan luarnya, tempat dimana peluru yang ditembakkan oleh Rayhan satu detik yang lalu kini bersarang, tidak sampai menembus otakku. Bahkan kulitku pun tidak tersentuh.
Nyaris saja.
Rayhan tampaknya terkejut dengan kemunculan pelindung kepalaku yang tiba-tiba. Tampak wajahnya sedikit kecewa. Untungnya dia tidak bisa membaca pikiranku maupun mengintip yang tertulis dalam layar mini itu. Aku tahu, aku pun mengakui kalau sistem perlindungan otomatis yang terlalu peka dari tubuhku itu adalah tindakan yang curang. Meskipun begitu, saat ku lihat papan skor itu lagi, ada perubahan skor yang tidak ku mengerti bagaimana penghitungannya.
VERLEZ | RAYHAN
SCORE
010 | 060
Rayhan tetap mendapatkan skor dan kali ini bertambah lima puluh angka. Apa skor yang bertambah tergantung dari tingkat fatal tidaknya serangan yang diberikan? Meskipun tidak berhasil melukaiku sedikit pun? Sial- harusnya Amel memberitahu cara mainnya lebih dulu.
Aku tahu kalau ini kesannya mengada-ada, tapi aku yakin, skor yang kudapatkan itu dari melakukan upaya perlindungan. Sepertinya dalam arena duel yang berlandaskan sistem poin itu, tidak hanya serangan saja yang dinilai, namun juga kemampuan untuk bertahan. Meskipun aku bisa saja mendapatkan skor dari bertahan, ku rasa nilainya akan tetap tertinggal dibandingkan dengan menyerang lawan.
“Darimana kau dapatkan skor itu? Kau bahkan tidak menyerang, apa kau curang?” teriak Rayhan dari sebrang sana. Jelas sekali, sepertinya ia hanya mengandalkan ototnya dan tidak memiliki kemampuan berpikir yang bisa dibanggakan dari otaknya. Melihat hal itu, aku sangat ingin mengerjainya.
“Tentu, bukankah itu keahlianku? Curang?” balasku berteriak, memancing emosi laki-laki yang bersumbu pendek itu.
Rayhan tampak kesal, kedua alis tebalnya saling beradu. Namun gerakan berikutnya membuatku lagi-lagi kehilangan fokus.
Rayhan mengangkat senjatanya tinggi-tingi ke atas udara, menggunakan kedua tangannya dan entah apa yang terjadi, seakan-akan mampu membelahnya, senapan itu tiba-tiba terpisah menjadi dua dan kini kedua tangannya menggenggam senapan api yang identik. Sebelum terlambat, aku tahu apa yang harus ku lakukan.
Rayhan menembak ke arahku menggunakan kedua senjata api di tangannya dengan membabi buta. Ia sudah tidak peduli lagi dengan akurasi tembakannya, karena ia hanya sibuk mengarahkan senjatanya ke tempatku berdiri. Rayhan terus menguras pelurunya yang entah bisa habis atau tidak, aku sungguh menantikannya.
Seperti sedang menari-nari di udara, mungkin itulah pemandangan yang berhasil ku ciptakan di mata para penonton duel itu. Aku terus melompat dan berpindah tempat, menghindari titik yang berhasil ku prediksi akan menjadi arah tembakan Rayhan. Layar mini di mata kiriku terus di sana, ia tidak meninggalkanku. Aku bisa melihat prediksi arah tembakan Rayhan dari layar itu sehingga membuatku dapat menghindarinya dengan mudah. Aku tidak tahu, apakah kemampuan layar mini yang tertanam di dalam tubuh masing-masing humanbot memiliki fungsi yang sama, karena kalau sampai Rayhan juga memilikinya, mungkin aku akan kesulitan melawannya.
Tindakanku berhasil, ku lirik papan skor dan tidak ada yang berubah. Skor masih sama dengan yang terakhir kali ku lihat. Asalkan tidak ada peluru Rayhan yang mengenaiku, sepertinya skornya tidak akan bertambah. Meskipun begitu, peluru pertama Rayhan yang masih bersarang di lenganku membuat gerakanku lebih lambat dari biasanya. Sial- Andai saja aku bisa mengeluarkan peluru itu sekarang.
Beep..
Initiate Body Repair System!
Rayhan berhenti menembak, aku rasa bukan karena peluru yang habis. Tapi energinya yang terkuras. Nafasnya terdengar pendek. Bagus-
Aku pun masih mencoba memahami informasi yang baru saja ku terima dari layar mini itu. Sampai, aku merasa ada sesuatu yang bergerak di bagian bahuku. Dari dalam sana, rasanya seperti menggelitikku, rasa yang tidak nyaman.
Klinggg…
Aku melihat ke arah lantai tempat sesuatu dilemparkan keluar dari bahuku.
Beep..
7.62 mm ammo has been removed
Predicted source: MK14
Masih tercengang dengan kemampuan robot dalam tubuhku, aku masih berusaha mencerna informasi baru itu. Sepertinya, selain bisa mengeluarkan peluru yang bersarang dalam bahuku, sistem repair otomatis itu juga bahkan bisa mengetahui detail peluru itu sekaligus melakukan prediksi untuk nama senjata yang digunakan. Aku tidak tahu, semua ini membuatku merasa semakin luar biasa.
Sementara Rayhan masih sibuk mengatur nafasnya, aku mulai bersiap-siap untuk melakukan serangan balik. Sepertinya sejak tadi ku amati senjata Rayhan bertipe range damage atau lebih efektif apabila digunakan untuk serangan jarak jauh, itu artinya dia pasti akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu dekat denganku. Dengan informasi seperti itu, aku yakin sebaiknya aku mendekatinya, setidaknya meskipun tanganku kosong, aku bisa menggunakan tinjuku untuk mendapatkan skor.
Aku melompat tinggi-tinggi, lompatan yang tentunya tidak bisa dilakukan oleh seorang manusia biasa. Alih-alih berlari yang membutuhkan waktu lebih, aku memilih untuk melompat dengan jarak yang jauh sekalian. Aku bisa meraih posisi Rayhan dalam empat kali lompatan jauh. Saat aku melakukannya, tampak sebersit tertangkap olehku, ekspresi cemas di wajah Rayhan. Sesuai prediksiku, ia akan berusaha membuat jarak dengan cara melangkah mundur.
Aku tersenyum miring saat Rayhan perlahan mundur sekaligus mulai mengangkat kedua senjatanya ke atas udara. Dasar bodoh.
Saat Rayhan berhasil mengangkat senjatanya dan mulai menembakkan pelurunya ke udara. Aku membatalkan lompatanku meskipun kuda-kudaku sudah sempurna untuk mengelabuhinya. Tanpa memberikan waktu jeda, aku pun melakukan sliding dengan kedua kakiku seakan-akan sedang berseluncur di atas lantai. Rayhan yang tidak menduganya pun membutuhkan waktu untuk menurunkan posisi kedua senjatanya-
Brukkk…
Tangggg…
VERLEZ | RAYHAN
SCORE
030 | 060
Sial-
Hanya bertambah dua puluh poin. Aku memukulkan tinju kosongku di atas lantai. Sementara itu, Rayhan yang terlempar dan ambruk sedang mengeluarkan bunyi erangan yang terdengar seperti sebuah rengekan manja dalam telingaku. Special weapon milik Rayhan, keduanya masih berada di genggaman tangannya seakan-akan ada kunci yang menahannya untuk tidak terpisahkan dari tuannya.
Aku bangkit berdiri dan tidak segera memberikan serangan lanjutan pada Rayhan. Memberinya waktu untuk bangkit justru membuatku merasa lebih professional dalam melakukan pertandingan satu lawan satu.
Meskipun sambil mengerang, Rayhan berhasil berdiri dan entah apa yang ada di dalam pikirannya, tiba-tiba ia melenyapkan keberadaan kedua senjatanya, menguatkan prediksiku tentang range damage.
“Sepertinya kau tidak tahu cara menggunakan senjatamu, majulah! Aku akan melawanmu dengan tangan kosong!” ucapnya dingin. Setidaknya, keputusannya itu membuat pertandingan duel satu lawan satu ini menjadi lebih seimbang karena memang benar, aku masih belum tahu pasti cara mendapatkan senjataku.
Memang sekilas terdengar seperti seimbang, tapi duel menggunakan tangan kosong sepertinya tidak juga menguntungkanku, melihat ukuran tubuh Rayhan yang lebih besar dariku. Aku berusaha memikirkan cara untuk mengakalinya, aku tidak mau kalah saat ini.
Rayhan berjalan menghampiriku dengan langkah kaki yang aneh. Sepertinya aku membentur kakinya terlalu keras tadi saat melakukan tackle tiba-tiba. Meskipun begitu, ia tetap terlihat membusungkan dadanya, tidak mau terlihat lemah sedikitpun meskipun terluka. Melihat hal itu ternyata bisa membuatku sedikit iba padanya, aku pun berdiam diri di posisi tetap.
Ku balas tatapan mata tajam menusuk Rayhan tanpa berkedip. Dan-
Bukkkk..
Alih-alih memukulku dengan tinjunya, Rayhan tiba-tiba menendang perutku menggunakan lututnya. Aku terhuyung ke belakang, tidak roboh, aku bisa merasakan isi perutku tiba-tiba terangkat hingga tertahan di mulutku yang sengaja ku tutup rapat. Sial-
“Kau pikir akan bisa menang melawangku, hah?”
Bukkk—
"Arghh..."
Rayhan menghantamkan kepalan tangannya yang besar dari arah bawah rahangku dan membuatku terjerembab di atas lantai karena uppercut itu.
“Kau humanbot paling menyedihkan!”
Bukkk..
Bukk…
Rayhan menginjak tubuhku tanpa ampun. Rasanya sangat menyakitkan, aku mengerang dan mencari celah untuk bisa kabur. Namun, sekali lagi duel tangan kosong terlalu menguntungkan bagi Rayhan. Laki-laki itu menginjak buku-buku jariku saat aku hendak merangkak melarikan diri.
Sial-
Bukkk…
“Kau sangat lemah! Sampai kapanpun, kau bukan kaptenku!” Rayhan tidak berhenti mengoceh.
Bukkk..
Tendangan kaki Rayhan yang terluka saja membuatku bisa merasakan ada tulang yang patah di bagian rusukku saat tubuhku sekali lagi terlempar ke udara lalu mencium lantai. Tubuhku terpelanting dan sempat terputar setelah kaki besar itu menendangku.
Sial-
Cuuhh..
Aku memuntahkan darah kental yang terasa amis beserta sebagian isi perutku. Kalau begini terus, aku bisa kalah telak.
Ku sempatkan diri untuk melirik papan skor saat Rayhan mulai mengangkat kakinya menghampiriku,
VERLEZ | RAYHAN
SCORE
030 | 120
Sial-
Skornya naik dua kali lipat.
Harusnya aku tidak meremehkannya. Aku menyesal dengan perbuatan yang telah ku lakukan.
“T-tunggu,” erangku sembari bergelayut di kaki besar Rayhan. Aku berharap laki-laki itu akan memberiku waktu untuk berdiri seperti yang ku lakukan tadi padanya. Dan sepertinya permintaanku kali ini mendapat persetujuan darinya.
Aku bisa mendengar Rayhan mendengus, namun ia tidak menggerakkan tubuhnya. Aku pun berhasil dengan perlahan mengangkat kembali tubuhku yang terasa setengah hancur.
Beep..
System Check…
..
..
Total Fatal Damage: 55 %
System Stability: Poor
Slashhh..
Pelindung kepala kembali muncul, namun kali ini tidak cukup kuat untuk menahan serangan fatal Rayhan yang terlalu kuat.
“AAAAAAAAAAAHHHHH!”
Aku meraung sambil meronta di atas lantai. Kedua tanganku menutup wajahku, berusaha menghentikan pendarahan yang sedang terjadi di sana.
Hidungku hanya mencium aroma amis yang dominan. Kulit wajahku terasa seperti terbakar. Rayhan, entah sejak kapan ia menyiapkannya. Mungkin karena bentuknya yang terlampau kecil, mataku tidak menangkap bayangannya saat Rayhan mengeluarkan special weapon cadangannya.
“Kau kira aku hanya punya tipe jarak jauh? Dasar bodoh!” Rayhan tergelak.
Aku benar-benar bodoh.
Aku tidak bisa berhenti mengutuk diriku sendiri sambil menekan sayatan lebar yang merobek pipi hingga batang hidungku. SIAL-
Peluangku untuk memenangkan duel kali ini semakin tipis. Aku tidak bisa diam saja, tapi rasa sakit luar biasa yang ku alami benar-benar tak tertahankan. Berpikirlah otakku!
“Berhentilah merengek dan tunjukan kekuatan KAPTEN yang kau miliki, Aku tidak terima omong kosong!” Rayhan terus mengeluarkan kalimat pedasnya yang tidak berhasil membuatku semangat sedikit pun. Mudah saja baginya, ia bisa mengakses semua senjata yang ia punya. Sementara aku? Aku bahkan tak yakin kalau sekarang aku sedang membawanya, karena daritadi aku tidak melihatnya muncul.
Bukkk…
Alih-alih memberikan waktu padaku yang sudah cukup menderita ini, Rayhan masih menendang-nendang tubuhku seakan-akan aku ini bukanlah makhluk hidup yang bisa merasakan rasa sakit. Sialan-
Pendarahan di wajahku tak kunjung berhenti meskipun aku sudah menekannya dengan kuat-kuat. Sekilas, ku lihat papan skor dan skor Rayhan tentu saja meroket jauh di atas skorku. Tiga ratus? Yang benar saja, bagaimana aku bisa mengejar skor yang sepuluh kali lipat lebih jauh di atasku? Sial- pertandingan ini benar-benar tidak adil.
“Sepertinya kau sangat menderita, apa kau baru saja memintaku untuk membunuhmu?” Rayhan mendesis. Ancamannya membuatku bergidik.
“Persetan dengan peraturan, dunia tanpamu akan jauh lebih baik,” suaranya sudah seperti orang yang berbeda dari Rayhan yang ku tahu.
Sial-
Aku benar-benar mengakui ketidakberdayaanku. Aku benar-benar tidak layak menjadi seorang kapten apabila melawan Rayhan saja tidak bisa. Sial- Apa aku benar-benar se-lemah itu? Aku benci dengan keadaanku sekarang. Aku ingin sekali bisa melakukan serangan balik dan mencetak skor yang jauh lebih tinggi darinya. Tapi, aku bisa apa?
Ku abaikan robekan di wajahku dan darah yang sudah mengalir hingga leherku tertutupi olehnya. Aku menggunakan sisa kekuatanku untuk berdiri, menopang tubuhku sendiri yang tiba-tiba terasa sangat berat, lebih berat dibandingkan apa yang ku ingat. Sial-
Aku terus mengutuk diriku sendiri sampai aku berhasil berdiri di hadapan laki-laki tidak tahu diri itu. Bagaimanapun juga aku terlalu lugu karena percaya padanya yang mengucapkan duel tangan kosong. Sial- harusnya aku lebih berhati-hati dan membaca kelicikannya lebih awal.
Rayhan tersenyum miring saat aku menatapnya dengan pandanganku yang sudah mulai kabur. Sepertinya robekan di atas pipiku berhasil memotong saraf-saraf yang berhubungan dengan indra penglihatanku. Membuatku sudah nyaris buta dibuatnya. Kalau aku tidak bisa mengalahkannya, aku tidak pantas dipilih sebagai Kapten. Persetan dengan sebutan itu. Hanya membuatku terlihat semakin tidak berguna.
Aku layangkan tinjuku ke wajah Rayhan namun ia dengan mudah menghindarinya. Aku tahu, kecepatanku melambat karena kondisiku saat ini. Meskipun begitu, aku tetap berusaha meninjunya dengan keras sampai membuatku terhuyung beberapa kali di hadapannya. Laki-laki itu tergelak, tawanya nyaring dan terdengar sangat puas. Sial- Dia benar-benar membuatku frustasi.
“Sepertinya kau sudah berubah menjadi robot rongsokan,” cibir Rayhan dalam sela tawanya yang membuat telingaku berdengung.
Sial-
“Kau benar-benar menyedihkan!”
Sial-
Sial-
Sial-
Andai aku bisa mendapatkan kembali Lightbringer di tanganku, aku akan menebasnya dan membakarnya hidup-hidup. Memusnahkannya dari muka bumi sepertinya akan membuat hidupku tenang.
Sial-
Kalau saja-
Glitch…
Transform Special Weapon:
Lightbringer
Hanya aku yang bisa melihat rangkaian tembus pandang pedang yang belum muncul sempurna di tanganku. Rayhan, ku perhatikan ekspresi mencemoohnya tidak berubah sedikitpun. Sepertinya ia tidak menyadari kalau nyawanya terancam di tanganku.
Saat aku bisa merasakan sesuatu yang padat di genggaman tanganku, aku sangat yakin kalau Lightbringer sudah bisa digunakan meskipun bentuknya belum sempurna. Dan-
Zeshhhhhhhh…
Blarrrr…
Dengan segenap tenagaku yang tersisa, ku ayunkan pedang yang masih tembus pandang itu ke arah d**a Rayhan secara horizontal dengan kuat dan aku berhasil menebasnya. Cukup jeda satu detik, api mulai berkobar membakar tubuh Rayhan yang terbelah menjadi dua.
Dan saat ku lihat ke arah tanganku,
Mataku berbinar memantulkan kobaran api yang masih membekas di bilah Lightbringer.
Zingggg…
Zingggg…
VERLEZ | RAYHAN
SCORE
-∞- | 400
Yang benar saja, tak terhingga?
“Kau tahu? Bahkan mesin papan penghitung skor pun tak mampu menghitung kekuatanku,” desisku ke arah tubuh yang terbakar menyedihakn di atas lantai itu. Aku tersenyum, memang seharusnya seperti itu.