2. Mimpi Aneh

2104 Kata
 Semalaman Rien menggigil berkelung selimut hingga pagi. Dia pulang pukul delapan malam saat hujan tinggal gerimis. Hidungnya tersumbat, selalu bersin dan rambutnya berantakan. Tidak mau masuk kuliah hari ini. Dia ingin istirahat. Rien menyebutnya dengan penderitaan kecil. Setidaknya untuk melemaskan otot jari setelah melukis.   "Hachiimm!!"   Rien menggosok hidungnya gatal. Sangat mengganggu pernapasan membuatnya kesal. Mengambil handphone dan mengirim pesan pada Alie. Sebelum dia melakukannya, Alie sudah menelepon duluan. Rien mengangkat panggilannya setelah bersin lagi.  "Halo?" sapa Rien dengan suara serak. Rien bisa membayangkan ekspresi khawatir Alie di seberang sana.   "Rien? Kau tidak apa-apa? Kenapa tidak masuk kuliah? Jangan bilang kalau tugasmu ditolak?! Bagaimana dengan nilai tugasku? Ha! Jangan-jangan buruk!" pekik Alie panik.  Rien mengusap matanya yang sedikit gatal. "Ini masih pagi, jangan berisik! Hachiimm!"   "Rien? Kau sakit?" tanya Alie berubah menjadi tenang.   Rien mengangguk, lalu menepuk dahinya merasa bodoh karena Alie tidak bisa melihat anggukannya.  "Eee, aku sedang tidak enak badan. Semalam kehujanan di kampus. Aku tidak kuliah hari ini. Kau jangan pusing soal tugasmu, aku tidak bertanya sama dosen," jawab Rien.   "Lupakan tugasku! Aku akan ke rumahmu sekarang!" suara langkah Alie bisa di dengar Rien.  "Eh, tidak perlu! Kau kuliah saja, nanti buat catatan yang banyak biar aku pinjam, hehe. Sungguh, Alie, aku mau istirahat. Aku baik-baik saja, tenanglah!" Rien menghentikan Alie dan segera mematikan panggilannya.   Dia rasa Alie pasti menggerutu di sana. Rien membanting handphone-nya di ranjang, kembali meringkuk di balik selimut. Seketika terlonjak kaget mengingat pasar lukis yang akan terjadi dalam tiga hari.   "Ini hari pertama. Berarti tinggal besok sampai lusa setelah itu aku ikut serta. Apa pak panitia memang mendaftarkanku? Aku harus ke taman kota sekarang."   Ingin turun dari ranjang. "Sshh, pusing!" keluhnya memegangi kepala kesal.  Tetap berusaha untuk melakukan sesuatu meskipun flu melanda. Mandi air hangat, keramas, dan flu makin parah. Mengisi perutnya dengan sedikit makanan agar bisa minum obat. Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.   "Penderitaan murni! Ini bukan kecil, tapi besar! Bukannya membaik justru mengantuk. Hoaamm, aku mengantuk sekali!" gumam Rien yang sudah bersiap akan pergi. Menguap sekali lagi dan ambruk ke ranjang. Tas kecilnya juga masih melekat. Rien tidur karena efek obat.   Kabut kelabu membawanya menuju pusaran mimpi. Wajah berseri, bibir merah muda alami. Berdiri dengan anggunnya di tempat tertinggi dikelilingi penghuni satu kota. Semua orang berseru merayakan kemenangan. Berkali-kali namanya dipanggil dengan gelar yang asing di telinga.   Dalam tidurnya Rien merasa pusing. Seketika dia terjingkat bangun. Mimpi singkat dalam tidur yang panjang. Napasnya terengah, wajahnya sedikit berkeringat. Rien mengipasi wajahnya. Mimpi itu terasa nyata. Perempuan yang dibanggakan itu sangat mirip dengan dirinya. Bahkan Rien merasa itu memang dia.   "Astaga, apa itu tadi? Tempat yang aneh! Seperti di zaman kuno!" Rien bernapas menggunakan mulut.   Menatap kamarnya dan mendesah lega. "Syukurlah hanya mimpi. Kenapa kepalaku masih pusing?"   Berdecak lalu pergi membasahi wajahnya agar sedikit segar. Pengaruh obat sedikit meredakan sakitnya walaupun pusing di kepala masih sama. Setidaknya Rien bisa menahan diri.   "Huft, aku tidak bisa berdiam diri. Jika mau berhasil maka butuh kerja keras! Ayo Rien, kita temui pak panitia di taman kota!" serunya di depan cermin kamar mandi.   Mengirimkan pesan pada pak panitia untuk bertemu dan pak panitia setuju. Rien segera menuju taman kota. Di ana masih kosong belum ada persiapan apapun. Spanduk dan poster juga tidak ada. Rien menjadi ragu jika akan ada pasar lukis.   Rambut dikuncir satu, baju merah dan memakai celana jeans. Tas kecilnya selalu menemani. Sedang menunggu kedatangan seseorang yang sangat mempercayainya. Ini sudah hampir tengah siang, Rien menunggu setengah jam.   'Kurasa dia tidak akan datang. Apa pak panitia hanya mempermainkanku?' batin Rien.   Memilih pergi karena lelah menunggu. Namun, seseorang menghentikannya. Rien segera berbalik dan tersenyum senang.   "Pak panitia, akhirnya kau datang juga. Ini sangat terlambat sekali!" kata Rien.   Pak panitia mengatur napas yang tersenggal. "Aku... Aku ada urusan sedikit, sekarang sudah selesai. Ada apa?" tanyanya sambil mempersilahkan Rien duduk di salah satu kursi taman.  Tanpa menunggu lagi, Rien mengutarakan maksudnya. Pak panitia justru memperhatikan ekspresi Rien.   "Rien, kau sakit?" tanya pak panitia memotong ucapan Rien.   "Apa? Ah, ini hanya flu. Kemarin kehujanan di kampus, agak sedikit kedinginan. Pak, kau bilang tiga hari lagi ada pasar lukis, tapi di sini tidak ada persiapan apapun." Rien menunjuk sekeliling.  "Ini baru hari pertama, masih ada dua dua hari lagi, Rien. Panitia penyelenggara bisa mengaturnya dengan mudah, mereka profesional. Ngomong-ngomong, kau jagalah kesehatanmu. Kalau kau sakit akan berdampak pada lukisanmu," melipat tangannya memandang Rien khawatir.   Rien merasa sungkan, "Flu ini tidak menggangguku. Sebentar lagi pasti sembuh kalau aku minum obat lagi. Hachiimm..., Pak, kau sungguh peduli denganku. Aku jadi tidak enak hati." menunjukkan deretan giginya.   "Lihat, kau bersin lagi. Sudah tujuh kali aku hitung kau bersin. Ini, minumlah!" Pak panitia memberikan sebotol air mineral kecil. Rien menerimanya ragu. "Bagaimana mungkin aku tidak peduli denganmu? Kau itu berbakat! Orang-orang saja yang kurang melihat potensimu. Mereka pikir lukisan hanya bisa hidup dengan warna. Cat memang indah, tapi tinta juga tidak kalah menarik. Zaman dulu orang juga melukis menggunakan tinta. Iya, 'kan? Lagipula dengan tinta bisa membuat banyak lukisan yang tidak biasa dan kau punya kemampuan itu. Aku ingin lukisanmu dikenal, Rien. Untuk itu kau harus bekerja keras. Kalau sakit begini mau bagaimana?" menuturi sesekali menunjuk Rien.   Rien melongo. "Eee, kau cerewet sekali, haha!"   Pak panitia mendelik. "Dasar gadis konyol! Berani mengejekku?"   Rien berdecak. "Hah, tentu saja berani! Kenapa tidak berani? Aku bicara sesuai fakta. Lagipula cerewet itu baik. Tanda perhatian, haha. Aku juga suka bicara banyak, karena sendirian semuanya terasa sunyi. Aku tidak suka sunyi. Hachiimm... Ah, ini menyebalkan!" Rien gemas mengusap hidungnya yang memerah.  Pak panitia terkekeh, "Aku rasa sebentar lagi kau tidak akan sendirian."   Rien mengernyit, "Maksudnya?"  Pak panitia menunjukkan sesuatu di handphone, " Ini adalah daftar tempat peserta pasar lukis nanti. Namamu sudah tercantum. Buatkan sebagai mungkin sampai memikat hati semua orang. Kalau perlu kau bisa jual banyak lukisan. Jika itu terjadi, satu jalan menuju kesuksesan telah terbuka!" Rien melihatnya teliti. "Wah, ternyata banyak yang ikut serta. Tidak kusangka peminat lukisan sebanyak ini!" Rien terpikat. "Oh, ya, siapa namamu, Pak? Aku tidak mungkin memanggilmu pak panitia terus, 'kan?" canda Rien.   Pak panitia terkekeh. "Suatu saat nanti kau akan tau siapa aku dengan sendirinya. Sementara panggil saja pak panitia. Jika keraguanmu sudah hilang, aku permisi dulu. Masih ada pekerjaan yang harus kulakukan." mengedipkan sebelah matanya dan pergi tidak memberi kesempatan Rien bicara.  Rien semakin penasaran. Dia tertawa kecil, "Ada yang unik dengan pak panitia."  Bersin kembali lagi meskipun sudah tidak seorang tadi pagi. "Huft, Rien, untuk apa keluar rumah hanya menemui pak panitia? Sekalian saja kuliah! Sudah tau flu, tapi tetap keluar. Dasar payah!" memaki dirinya sendiri sambil melihat jam digital di layar handphone.   Sudah memasuki pertengahan siang. Rien ragu untuk kuliah. Dia meminta Alie untuk menemuinya di toko tempat Alie bekerja. Kali ini Rien makan cukup lahap. Sebelum pergi, ada pedagang kaki lima yang menjual nasi melintas didepannya. Rien tidak peduli meskipun semua orang melihatnya makan sendirian di tepi taman kota. Dia hanya ingin cepat sembuh. Setelah makan, meminum obat yang dia bawa, kemudian mendesah panjang.   'Pak panitia penuh teka-teki. Dia tidak mungkin melakukan semua ini tanpa alasan,' batin Rien masih penasaran.   Alie memberi kabar jika masuk kerja lebih awal. Rien segera datang. Pengaruh obat itu bekerja lagi. Rien menahan kantuk di jalan raya dan langsung ambruk di pelukan Alie setelah tiba.   "Astaga! Rien, kau kenapa?!" pekik Alie sembari mencoba menududukkan Rien di kursi teras toko.   "Alie, aku mengantuk sekali. Nanti setelah tidur aku akan lebih baik, hehe." gumam Rien melihat Alie dengan lemas, kemudian tidur begitu cepat.  "Heh? Sudah tidur?" Alie bingung menggaruk kepalanya dan mengecek suhu tubuh Rien.   Sebuah pusaran kelabu kembali hadir membawa Rien masuk ke alam mimpi. Rien bermimpi berada di tempat yang sama. Rumah-rumah terbuat dari kayu dan nampak aneh. Udara sejuk, tidak ada kendaraan apalagi polusi. Orang-orang lucu berpenampilan unik. Sangat jauh berbeda dengan kehidupan di kotanya. Mereka kembali menyerukan julukan aneh untuk Rien. Seketika sebuah benda cari berwarna putih melayang di udara tepat di hadapan Rien. Bahunya sangat menyengat. Rien tidak kuat menahannya hingga tersadar bangun.   Napas Rien tiba-tiba tersenggal sama seperti sebelumnya. Jalan raya dan bisingnya kendaraan membuat Rien bernapas lega. Dia memukul pipinya gemas, lalu mengipasi wajahnya.   "Astaga, mimpi itu lagi. Untunglah aku sudah kembali. Tempat itu aneh! Halusinasiku bertambah parah dibandingkan kemarin. Aku harus periksa kesehatan mental!" gumam Rien sembari mengerjap beberapa kali memandang sekitar toko.  Sadar berada di tempat kerja Alie, Rien masuk menemui Alie. Sontak Alie merundung Rien dengan berbagai pertanyaan khawatir. Namun, Rien jauh lebih baik setelah bermimpi. Dia tidak bersin atau pusing lagi.   Pandangan Rien tertuju pada deretan rak yang penuh cat dan tinta.   'Wah, sudah banyak tinta. Lebih baik aku beli banyak buat cadangan,' batin Rien senang.  Tersenyum lebar mengambil beberapa tinta. Alie sampai menepuk dahinya karena Rien tetap tidak mau menggunakan cat   "Tinta sebanyak ini buat apa? Buat lauk makan?" Alie frustasi.   "Hehe, cepat bungkus saja!" Rien tergelak sambil mengambil uang.  "Kapan kau belajar lagi memakai cat, Rien? Fakultas tidak sebebas itu sampai kau terus melanggarnya. Berhenti saja pakai tinta dan ganti dengan cat. Jujur, ya, lukisanmu buruk memakai cat!" Alie menggerutu mengemas semua tinta Rien.   "Itu sebabnya aku tidak mau pakai cat lagi. Nanti bisa jelek, haha. Aku akan bicara dengan pihak fakultas soal nilai seniku. Di lain itu aku juga berusaha keras Alie. Nyatanya tetap saja tidak bisa. Sepertinya tanganku dilarang memegang cat," ucap Rien santai.  "Kalau begitu terserah kau saja. Siapa aku sampai bisa menasehatimu?" Alie menyerahkan sekantung keresek penuh tinta cuek.   Rien tergelak lagi, menyenggol lengan Alie yang merajuk. "Ayolah, kita, 'kan teman. Kalau bukan kau siapa lagi yang bisa mengerti aku?" menaik-turunkan alisnya.   Alie berdecak walaupun tersenyum. "Hentikan rayuanmu itu! Eh, kenapa bisa terjebak hujan di kampus? Kau sendirian di sana?" tanya Alie sedikit mendekat.  Rien menghela napas panjang. "Apalagi kalau bukan gara-gara menyerahkan tugas? Nasib baik dosennya pengertian. Tapi di balik semua itu aku dapat suasana syahdu. Gerimis pukul delapan malam setelah puas menggigil di gasebo kampus," Rien membayangkan kemarin malam sambil tersenyum-senyum.  "Iya, begitu syahdunya sampai kau sakit," sindir Alie.  "Hahaha, itu lucu!" Rien mengerling.  "Dasar gila! Mana ada sakit dibilang lucu?! Kalau begitu terus saja sakit! Aku tidak peduli denganmu!" Alie melengos melipat tangannya di d**a.   "Aww, manisnya! Kau baik sekali!" Rien mencubit pipi Alie.   "Ih, lepaskan aku! Jijik tau! Kalau kau laki-laki tidak apa-apa mencubitku." Alie menepis tangan Rien.  Rien ternganga. "Apa?! Oh, kau mendambakan laki-laki? Mana ada orang yang mau denganmu? Sudah cerewet, gila nilai, yang pasti... Sangat pengertian! Aku baik masih memujimu. Siapa lagi yang mau memujimu kalau bukan aku?" Rien melenggang duduk di kursi dekat pintu.   Alie berdecih. "Oh, ya? Kau sendiri? Sangat menyedihkan! Tidak ada satu pun laki-laki yang dekat denganmu. Huuu, kasihan!" Alie membalas mengejek.   Rien menganga. "Alie, masih terlalu dini untuk memikirkan laki-laki. Karir lebih penting," menekuk kakinya santai.  "Umur sudah tua, waktunya memikirkan masa depan. Tidak mungkin selamanya hidup sendirian," bantah Alie.  "Ck, baru dua puluh tahun apanya yang tua? Menikmati masa muda itu menyenangkan! Alie, kau terlalu sibuk di dalam toko, jadi tidak tahu betapa nikmatnya kehidupan di luar sana!" Rien menunjukkan deretan giginya.  "Memangnya bagaimana kehidupan di luar? Kau sendiri juga tidak tau, 'kan? Selalu mengurung diri dengan lukisan dengan bau tinta yang menyengat!"   Rien menepuk tangannya sekali dan mengangkatnya mulai bersyair, "Hidup itu bagaikan angin tanpa arah. Laksana tinta mengukir tak beraturan. Seperti Mezira Rien yang membutuhkan kasih sayang."  Sontak Alie tertawa sampai memukul meja mendengar ungkapan terakhir Rien. Apalagi Rien memasang ekspresi sedih. "Merindukan kasih sayang ternyata, hahaha. Sudah kubilang ini saatnya mengenal cinta! Kau menyadarinya sendiri," kata Alie.  Rien menurunkan tangannya lesu. "Hah, apa-apaan ini? Cinta, kasih sayang, dan...," ucapan Rien menggantung.   "Apa?" tanya Alie.  "Juga saling perhatian. Semua itu akan selaras kalau dua orang punya pemikiran yang sama. Kita tidak bisa memiliki pasangan hanya berdasarkan rasa ingin. Aku benar, 'kan?" lanjut Rien.  Alie terkesiap, "Eh, kayaknya iya." menggaruk tengkuknya.   "Jadi... Cinta itu masalah rumit. Bagaimana bisa kita menemukan orang yang satu jalan dengan kita? Jujur saja, sebetulnya aku juga ingin merasakan cinta. Sudahlah, bicara ini membuatku marah. Kenapa semesta tidak adil sekali? Aku bahkan tidak pernah merasakan apapun dengan lawan jenis. Apa artinya aku tidak normal?" Rien menatap Alie polos.   Geram Alie melempar permen lolipop di meja kasir pada Rien membuat Rien terkekeh. "Kenapa aku bisa berteman denganmu?! Aku tidak mengenalmu! Kau sendiri yang bilang cinta itu rumit dan mau meniti karir, tapi juga ingin merasakan indahnya jatuh cinta? Sekarang bertanya normal atau tidak? Biar aku katakan, kau itu gila! Rien payah!" Alie melengos setelah mengomel.   Rien tertawa terus, sejak tidur dan bermimpi dua kali. Dia sendiri heran kenapa mendapat mimpi yang aneh. Rien rasa flu kecil membuatnya berhalusinasi lagi. Karena itu dia bercanda dengan Alie untuk mengusir kegelisahan hatinya. Sakitnya mereda dengan cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN