14. Babak ke Dua

2122 Kata
 Terpesona yang terlambat bukanlah penyesalan. Rien masih melongo seolah-olah orang yang dia pikirkan ada didepannya memberikan tatapan setajam pedang. Rien merinding lalu sadar karena angin menerpanya lebih kuat dari sebelumnya. Menatap sekeliling sadar jika masih di tempat yang sama. Dia berdiri dengan perasaan campur aduk.  "Bukan, pasti bukan sembarang orang. Dua hari berpakaian berbeda, sekarang aku tau wajahnya. Sangat tampan," lirih Rien sepelan angin.  Perlahan senyumnya terukir. Sekarang Rien ingin mencari Zaro tanpa tahu alasannya. Namun, bougenville menghalangi pandangan dan jalan. Hamparan bunga itu mengalihkan perhatian Rien. Memetik satu di antara mereka dan mulai berimajinasi. Andai ada kuas, kanvas, dan tinta, Rien akan melukisnya semalaman.  "Apa ada orang?! Seseorang tolong aku!"  Teriakan Rien bergema lagi. Rien tertawa renyah mengelilingi beberapa pohon bunga bougenville.  "Huuu, indahnya! Lebih indah tampang orang misterius itu yang kubuat kesal, haha! Hmm, di zamanku belum pernah bertemu yang setampan itu. Alie pasti pingsan kalau melihatnya!" terkikik kemudian duduk di bawah salah satu bougenville yang sangat rimbun sampai tidak terlihat batang utamanya.  Tidak ada bintang ataupun bulan. Langit malam yang mendung melunturkan senyum Rien.  "Tuan Darmuroi, kau akan kembali mencariku, 'kan? Aku tersesat sungguhan sekarang," gumam Rien merasa lemas.  Dinginnya angin malam memberikan sugesti agar Rien terlelap. Bunga yang dia petik masih ada di telapak tangan walaupun dia sudah terbawa alam mimpi. Langkah kaki seseorang berhenti dan duduk di samping Rien. Dia menghela napas panjang dan menyimpan pedangnya. Sudah berganti pakaian menjadi serba hitam tanpa cadar. Paras sang pangeran jauh lebih baik dari sebelumnya.  Matanya cukup dalam memandangi Rien seperti ada sesuatu di mata Rien. Hanya saja yang dia dapat hanyalah kepolosan seorang gadis saat tidur. Zaro mengerjap dua kali dan berdeham kecil. Melepas jubahnya untuk menyelimuti Rien.   "Gadis ceroboh. Semua pergi kau masih diam di sini," maki Zaro mirip berbisik.    Napas yang dia keluarkan terasa hangat karena berdekatan dengan Rien. Memegang dadanya lagi merasakan gelisah yang sama.  Zaro mendesah, "Harusnya aku tidak datang lagi."  Melirik Rien sampai tidak bisa melepaskannya. Begitu menarik dan tenang, jauh berbeda dibanding saat terjaga, suka memaki dan marah. Niat ingin tidak tidur dan menemui Rien lagi, tetapi matanya sudah terpejam begitu saja. Membiarkan dirinya tidur dalam keadaan duduk bersebelahan dengan Rien.  ~~~  Burung kenari berkicauan kesana-kemari. Dua manusia berbeda zaman itu terusik. Bangun bersamaan menyesuaikan keadaan dan masih sangat malas. Mereka saling pandang, beberapa detik kemudian teriak dan menjauh bersamaan.  "Aaa, pagi hari pun melihatmu. Mengagetkanku saja!" omel Rien seraya menyebalkan detak jantungnya.  'Apa ini? Rien, alarm bahaya! Jantungmu berdegup kencang!' kata Rien dalam hati.  Zaro mengusap wajahnya lalu mengambil jubahnya kasar. "Bangun dan berlatih sebentar. Setidaknya tidak terlalu memalukan kalau kalah," ucap Zaro terdengar jahat.  "Ha? Kau ini orang aneh yang pernah ada! Baru semalam aku memujimu sekarang menyiksaku lagi?" sewot Rien berdiri menunjuk Zaro.  Zaro mengernyit, "Memujiku?"  Rien mengerlingkan matanya. "Ih, aku hanya meracau. Ini masih pagi, jangan dibuat serius. Ngomong-ngomong antarkan aku pulang. Aku mau ke rumah Tuan Darmuroi," kata Rien tanpa sungkan.  Zaro menunda jawabannya cukup lama membuat Rien terus meminta bantuan. Akhirnya Zaro menunjukkan jalan dan dia pergi begitu saja lewat jalan lain. Rien mengejarnya juga percuma, hanya mendapat lelah berlari dan berteriak, sekarang napasnya tersengal. Untungnya sudah sampai di tepian sungai berbatu kuning. Dia menyeberangi sungai dengan gembira. Hitung-hitung sekalian mandi.   Menemukan desa sebelumnya dengan kondisi basah kuyup. Beruntung bertemu orang baik yang siap mengantar Rien ke rumah Darmuroi. Orang itu hanya bersimpati dengan keadaan Rien. Rien tidak punya banyak waktu. Setelah berterima kasih dia bergegas berbenah. Masih ada satu jam untuknya pergi ke tempat lomba.  "Rien, kenapa mengikat rambutmu?" Darmuroi heran.  Di depan cermin Rien masih mengikat rambut menjadi satu.  "Apa aku harus tampil cantik kalau mau disiksa?" sarkas Rien.  Darmuroi menggeleng, "Terserah kau saja. Hari ini kuserahkan kepercayaanku padamu!"  Rien berhenti menata rambutnya. Menatap Darmuroi dari cermin, "Pasti!" mengangguk penuh senyuman.  Penduduk sekitar seakan berputar seperti kincir angin yang siap melihat babak terakhir lomba. Tinta putih kembali dipamerkan dengan penjagaan ketat. Rien berdiri di tengah-tengah penonton dengan bisingnya bisikan mereka. Telinganya memanas, meremas pakaian putih polos yang sangat panjang demi mengusir rasa takut yang disembunyikan. Matanya mengarah pada tinta putih yang nampak bersinar seperti sebelumnya. Raut wajah Rien terlihat jelas sangat gelisah.  'Selama hidupku tidak pernah berkelahi kecuali memarahi orang. Perlombaan konyol! Membuktikan diri sebagai pemilik tinta putih kenapa harus ada bela diri? Tidak-tidak, tidak boleh putus asa, Rien. Terus maju!' meyakinkan diri sendiri dalam hati sambil mengatur napas.  Seseorang menepuk bahunya. Rien terjingkat dan orang itu tertawa kecil.  "Maaf, aku menghilang semalam. Kenapa? Kau gugup, ya?" goda Hunara yang menyenderkan tangan ke pundak Rien.  "Ck, lepaskan tanganmu yang banyak memukul orang!" kesal Rien menurunkan tangan Hunara kasar.  "Hahaha, dasar pak tua bermulut besar."  Rien berdecak malas meladeni hunara, memilih pergi menuju panggung. Sayangnya Hunara menahan tangannya.  "Kau yakin mau lanjut?" Hunara menjadi prihatin.  Rien tersenyum miring, "Mainkan saja serulingmu dan lihat aku." mengedipkan mata percaya diri membuat Hunara terkekeh.    Rien segera berbaris bersama peserta yang tersisa. Nisawa baru datang dan menghampirinya dengan wajah pucat. Namun, tetap saja memasang senyum percaya diri.  Rien menyapa, "Kau sakit, ya?"  Nisawa tidak menjawab ataupun menoleh. Rien melengos kesal, "Sombong!" gerutunya dapat didengar Nisawa.  Gong sudah ditabuh. Suaranya sangat menggema. Gugup tak bisa dihindari. Pembawa acara selesai membacakan babak selanjutnya yaitu adu bela diri. Masyarakat yang tidak tahu sangat terkejut dan bertanya-tanya kenapa diadakan babak tersebut. Selain pengetahuan dan keterampilan melukis, pemilik tinta putih harusnya bukan orang sembarangan yang bisa melakukan tindakan semena-mena. Oleh karena itu Darmuroi mengumumkan jika pelukis legendaris yang mereka cari harus benar-benar bisa mengenal diri dan dunia dengan baik.  "Kata-kata apa itu? Nisawa, kau mengerti apa yang dimaksud tuan Darmuroi?" Rien menyenggol lengan Nisawa.  Nisawa hanya berdecak tidak suka Rien menyentuhnya.  "Hehh, ditanya kok diam saja." Rien melengos kesal.  Gong ke dua berbunyi lebih lantang. Sebuah papan muncul bertuliskan tiga tahap yang akan diuji. Tahap pertama adalah tahap penyisihan. Papan itu menunjukkan nama-nama yang saling beradu. Hanya dengan tangan kosong mereka harus menyingkirkan lawan untuk masuk ke tahan ke dua.  Rien meneguk ludahnya susah payah. Dia ada di urutan ke tiga melawan perempuan yang mencelakainya kemarin. Matanya sesekali melebar saat gerakan para peserta begitu lincah seolah mematahkan tulang lawan itu menyenangkan. Serius memperhatikan gerak-gerik peserta saat beradu fisik. Pukulan dan tendangan yang kuat, tangkisan yang kerap kali salah. Rien tersenyum miring saat ada peserta yang tidak bisa bela diri seperti dirinya.  'Haha, harusnya aku melawan dia saja. Jadi aku bis menang. Dia lembek seperti lumut,' batin Rien meremehkan.  "Selanjutnya peserta di urutan ke tiga silahkan memasuki arena," tiba-tiba peringatan itu sudah berlaku.  Rien terjingkat, memukul dahinya pelan menyalahkan diri sendiri karena menghina orang. Sekarang dia yang akan dihina orang. Kakinya berjalan sangat pelan membuat semua orang tidak sabar. Darmuroi dan Hunara gemas ingin menarik Rien. Sorakan demi sorakan justru membuat Rien berbangga diri, padahal dalam hati juga takut.  "Tunggu sebentar!" Rien memberikan pengajuan. "Hehehe, bagaimana kalau kita buat lebih asik?"  Lawan yang sudah ingin menyerang itu menjadi heran. "Jangan bertele-tele!"  "Cih! Pemarah! Kalau diizinkan aku ingin bertanya. Tuan Darmuroi bilang pemilik tinta putih bukanlah hanya harus pintar, tetapi mengenal diri dengan baik. Sshh, aku tidak dikenal siapapun. Aku juga tidak kenal diri sendiri. Bagaimana bisa aku ikut babak ini?"  Pertanyaan yang sangat mencerminkan Rien mengulur waktu membuat semua orang bingung.  "Nak, apa yang kau bicarakan? Kau takut sakit, ya? Hahaha!" canda salah satu penonton diikuti tawa beberapa orang.  "Siapa yang takut sakit? Aku hanya bertanya pada semua panitia. Bagaimana? Mau mencarikan solusi untukku?" Rien menaik-turunkan alisnya.  Para panitia berbisik jika perkataan Rien ada benarnya. Namun, mereka belum memutuskan apapun. Perempuan di depan Rien sudah tidak sabar. Apalagi Rien tersenyum miring meminta keringanan.  "Dasar payah! Pagi bisa berubah petang kalau kau terus mengulur waktu!" perempuan itu berseru dan berteriak ingin menghajar Rien. Tanpa izin panitia dia memulai lombanya.  "Aaaa, jangan mendekat!"  Rien terbelalak lari memutari arena dan terus berusaha menghindar dari serangan lawan. Setiap pukulan yang dilayangkan, Rien akan memekik dan lari seperti anak kecil. Dia mendapat banyak tawaan dan hinaan. Sampai akhirnya pukulan keras mendarat di pipinya. Rien terpaku sejenak. Perlahan menoleh sambil memegang pipinya.  "Beraninya kau memukulku! Rasakan ini!"  Rien marah membalas pukulan perempuan itu tepat di dahi sampai perempuan itu terjungkal dan mundur beberapa langkah. Rien bekum puas, dia menyerang balik sebelum lawannya bangkit. Menambah rasa sakit sampai wajah perempuan itu penuh lebam.  "Jangan meninjuku kalau tidak mau kutinju!" Rien masih bersemangat untuk marah. Memukul bibir lawannya sampai sang lawan mengerang kesakitan. Semua yang melihat meringis merasa ngilu. Gigi perempuan itu lepas dua tepat di depan.  "Huaaaa, kau monster pemarah! Gigiku! Gigi cantikku! Huaaaa!" perempuan itu menangis sejadi-jadinya dan lari keluar lapangan.  Rien masih melongo. Tangannya masih mengepal, dia dibuat bingung dengan keberaniannya sendiri.  "Wah! Giginya sampai copot. Dia berdarah!" gumam Rien sembari mengerjap. Melihat kepalan tangannya sendiri ada rasa ngilu, sakit, bercampur senang. Dia terjingkat sampai melompat-lompat senang. Dia berhasil masuk ke tahap dua.  Hunara terkikik karena Rien menang dengan caranya sendiri. Darmuroi menggeleng menahan tawa beserta panitia dan juri yang lain.  'Anak itu. Siapa yang sangka bisa menang dengan merontokkan gigi? Dia mendadak kuat saat marah,' batin Darmuroi.  Banyak yang tersisih dan sepuluh orang yang tersisa. Tahap ke dua adalah beradu senjata. Ini yang dihindari Rien. Dia hanya tau pedng itu berat. Senjata yang disediakan hanyalah pedang dan tongkat. Rien langsung lemas tidak sanggup mengangkat tangan. Semua sudah mengambil senjata, Rien hanya diam. Akhirnya panitia memberinya senjata pedang. Rien menerimanya malas.  "Apa yang harus kulakukan dengan pedang setajam ini? Memotong ayam?" gumam Rien.  Nisawa meliriknya meremehkan. Gong selanjutnya dipukul. Mereka yang memegang senjata sama saling berhadapan. Sialnya Rien mendapat lawan laki-laki. Dia protes, tetapi lomba tidak membedakan apapun dalam perlawanan.  'Matilah aku!' pekik Rien dalam hati.  Tinggi tegap memegang pedang dengan benar membuat Rien berkeringat dingin. Dirinya sendiri sampai gemetar memegang pedang. Satu per-satu peserta beradu. Suara senjata yang beradu membuat semua orang tercengang. Mereka yang kalah menerimanya cukup lelah. Tidak sedikit yang mendapatkan luka. Rien semakin dibuat takut keadaan.  Sekarang dia kembali berada di arena. Semua pasang mata menatapnya.  'Tidak mudah melawan laki-laki. Jangankan laki-laki, perempuan saja aku takut,' batin Rien menciut.  Tanda memulai pertarungan sudah dibunyikan. Rien terbelalak kala laki-laki itu menyerangnya mendadak dan sangat cepat. Rien hanya bisa menjerit dan lari lagi seperti sebelumnya. Kali ini sedikit tawa yang menghina Rien, selebihnya khawatir jika Rien tidak bisa melawan atau hanya bertahan.  'Gadis bodoh! Kenapa tidak menangkisnya? Beri dia serangan balasan!' Hunara geram di bawah sana.  Rien kelelahan terus melarikan diri. Pedang lawan siap membelahnya tanpa menunggunya siap. Rien menjerit sambil menangkis pedang itu. Tentu saja Rien kalah kuat mempertahankan tangkisannya. Akhirnya pedang Rien jatuh dan dia ditodong pedang. Matanya menjuling melihat ujung pedang tepat di depan wajah.  "Ini pelukis aneh? Hanya mahir melukis dan bicara. Sekarang kau kalah," desis laki-laki itu.  Rien tidak terima. Dia bangkit dengan tertatih, napas memburu, kaki melemas. "Aku belum kalah. Aku tidak akan menyerah," kata Rien mirip berbisik.  Mengambil pedangnya kembali, mendapatkan tepuk tangan semangat agar Rien berusaha lebih keras. Laki-laki itu mengerutkan dahinya. "Menyerahlah!"  "Tidak akan!" seru Rien mengayunkan pedang yang dipegang dengan dua tangan. Lawannya menangkisnya meski Rien menyerang bertubi-tubi. Semua gerakan Rien tidak beraturan. Dia hanya tahu mengamuk dan memenangkan lomba.  "Mezira Rien, aku tidak akan melupakan namamu yang mempermalukanku seperti ini dalam adu pedang!" laki-laki itu merasa diremehkan karena keahliannya bermain justru melawan Rien yang buta bela diri.  Dia membalas mendorong Rien sampai pedang Rien jatuh lagi. Berkali-kali seperti itu dan Rien terus bangkit. Dia mendapat luka goresan cukup dalam di lengan dan kaki karena lawannya jengah. Darah tidak bisa dihentikan merembes ke pakaian. Tidak ada yang bisa menolong Rien meskipun kasihan. Rien terlihat seperti binatang yang dipermainkan. Dia terhempas sampai ke pohong arwna. Tubuhnya sampai memantul. Rien mendesis menahan sakit luar biasa. Menatap tanah yang basah karena keringatnya. Pandangan Rien memburam.  "Aku... Masih belum kalah," kata Rien menggetarkan semua orang.  Lawannya tidak mmeberi ampun. Ekspresinya menakutkan bagi Rien yang tidak berdaya. Pedang yang terhempas di sisi lain, Rien merangkak untuk mengambilnya. Semua orang kasihan melihat Rien dan menghina lawan Rien yang tidak berperasaan. Bahkan menyiksa perempuan yang lemah.  "Aku tidak lemah. Jangan memandang rendah perempuan sepertiku!"  Tiba-tiba Rien berteriak membuat semua orang kaget. Rien bangun walau sering jatuh demi menggapai pedang.  "Gadis itu kuat sekali!"   "Lihatlah, kaki dan tangannya tergores dalam. Pasti sangat sakit. Wajahnya saja lebam terkena pukulan laki-laki itu. Apa masih bisa ditoleransi? Dasar tidak punya hati. Beraninya melawan gadis kecil."  "Nona Rien sangat ingin mendapatkan tinta putih. Meskipun tidak memiliki keahlian bela diri dia tetap nekat. Aku kagum padanya."  "Nona Rien, teruslah berjuang!"  Hunara yang mendengar desas-desus itu juga ikut berteriak, "Rien, semangat! Pukul laki-laki kejam itu!"  Mendengar seruan orang-orang memberinya dukungan, Rien tersenyum miring. "Tidak ada yang bisa menghalangiku mendapatkan tinta putih! Hiyaaa!"  Rien berhasil memegang pedangnya dan langsung berlari sekuat tenaga menyerang lawannya lagi. Suara pedang beradu sangat nyaring sampai telinga Rien berdengung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN