12. Sungai Batu Kuning

2232 Kata
 Pagi sekitar pukul delapan Rien terbangun karena mencium aroma tinta yang begitu menyengat. Kepalanya sangat pusing, seluruh badannya pegal. Pandangannya sedikit memburam mencari keberadaan Darmuroi. Dia ingat semuanya tentang semalam. Tatapan mata Zaro yang menelisik nan tajam tidak pernah Rien lupakan. Lain waktu akan mencari Zaro dengan mengandalkan ingatannya. Di ruang tinta, Darmuroi tengah mempersiapkan sesuatu. Rien berteriak memanggilnya untuk minta bantuan. Rien butuh air hangat untuk mandi. Setelah berganti pakaian tiba-tiba Rien teringat pada orang yang membantunya semalam. Dia lupa untuk menanyakan namanya. Di depan cermin Rien menggerakkan kaki dan tangannya agar lebih ringan. Setidaknya rasa sakit sedikit berkurang. Darmuroi sudah memberinya ramuan yang bisa menyegarkan dan memulihkan tenaga lebih cepat. Namun, bayangan orang itu masih terlintas jelas.  "Mata yang tajam dan tatapan mendalam. Coba saja bisa sedikit hangat, pasti menyenangkan. Bicaranya juga tidak terlalu banyak. Dia itu pahlawan super atau gimana?" gumam Rien sambil terus olahraga ringan.   "Siapa yang pahlawan?"  Rien terjingkat mendengar suara Darmuroi. "Hahh, mengagetkanku saja," menghela napas malas.  Darmuroi menatap Rien penuh selidik, "Katakan darimana kau belajar bela diri semalam? Siapa yang mengajarimu? Tidak tau aku panik?"  Rien mengerjap dituntut seperti itu, "Aku hanya mencari angin malam. Tiba-tiba tidur di jalan lalu ada orang misterius yang membawaku ke penginapan. Dia sangat hebat! Memakai jubah hitam dan membawa pedang. Bahkan penutup wajahnya juga hitam. Hanya matanya saja yang bisa kulihat." mengendikkan bahu menyayangkan hal itu.  Darmuroi semakin curiga, "Tidak terjadi sesuatu padamu, 'kan? Semalaman dengan orang asing!"  "Jangan emosi, Tuan. Dia bukan orang jahat. Semua orang di penginapan mengenalnya." Rien mengibaskan tangannya.  "Oh, ya? Siapa namanya? Dari mana asalnya?" tuntut Darmuroi lagi. Rien memandang langit-langit kamar seakan berpikir lalu menggeleng, "Itulah masalahnya. Dia misterius."  Darmuroi berdecak, menghela napas panjang, memukul dahi Rien pelan membuat Rien melotot mengusap dahinya. "Pak panitia tidak pernah memukulku. Jangan memukulku!" kesal Rien.  "Aku bukan pak panitia," Darmuroi membalas melotot.  Rien mencebikkan bibirnya, "Dasar tidak seru! Eh, kemarin aku mendengar suara serulingnya mirip seperti saat Hunara memainkannya. Tapi kali ini cukup ceria. Tidak ada kesedihan sama sekali seperti sebelumnya."  Darmuroi sedikit terkejut. Seketika dia mengerti. 'Kalau ada Hunara, pasti ada pangeran Zaro. Huft, syukurlah kalau semalam yang bersama Rien itu pangeran Zaro. Berarti mereka sudah bertemu dan pangeran menyembunyikan identitasnya. Tapi kenapa dia menolong Rien? Apa ingin mengenal Rien?' batin Darmuroi.  "Rien, Hunara tidak bisa datang hari ini. Ada tugas yang harus dia selesaikan di perbatasan timur," kata Darmuroi setelah mendesah.  Rien bingung, "Hunara sepertinya sangat penting."  "Iya, kau tidak menemuinya semalam?"  "Tidak. Aku sibuk bermain dengan orang misterius itu." Rien menggeleng.  Darmuroi mendesah lagi, "Bagaimana dengan tubuhmu? Sudah lebih baik? Mungkin terlalu singkat jadi reaksinya kaget. Semua terasa kaku."   "Haha, biarkan saja. Nanti juga membaik sendiri. Ramuanmu sangat mujarab!" Rien memutar-mutarkan tangannya semangat.  Darmuroi tersenyum, "Semuanya tergantung padamu."  Rien tergelak, "Tuan, ini hanya pegal kecil. Hunara tidak ada biarkan saja. Aku tidak mau dia terlibat pertikaian seperti kemarin apalagi karena aku."  Darmuroi mengangguk mengerti keadaan. Perang kecil itu dapat ditangani dengan mudah, tetapi tidak tahu apakah ada konspirasi lain di dalamnya.  ~~~  Ting! Ting! Ting!  Bunyi lonceng besar itu bukanlah pertanda dibukanya babak ke tiga, melainkan pengumuman untuk mengulur waktu lomba sampai besok pagi. Rien sangat terkejut walaupun dalam hati senang bisa menggunakan waktu seharian oenuh untuk istirahat dan berlatih sedikit. Alasan mereka hanya karena Darmuroi tidak datang.  'Aneh! Tadi pagi kami mengobrol baik, kenapa sekarang tidak ada?' batin Rien.  Dahi yang berkerut itu menimbulkan penasaran bagi peserta lainnya. Merek langsung mengurung Rien di tempat. Rien mengerjap polos.  "Kalian kenapa?" seolah tanpa dosa Rien tidak terpengaruh tatapan menuntut mereka.  "Katakan dimana tuan Darmuroi. Kau tinggal dengannya, 'kan?" tanya salah satu peserta laki-laki.  Rien tersenyum lebar, "Oh, itu. Aku tidak tau." menggeleng jujur.  "Ck, jangan seperti anak kecil. Kami tau kau itu licik. Ilmu apa yang kau punya sampai Tuan Darmuroi mau menampungmu dirumahnya? Lalu, perbuatan Nona Nisawa kau bisa melihatnya. Kau punya sihir hitam, ya?" tuduh salah satu peserta perempuan.  Rien menganga tidak terima, "Jangan asal tuduh. Aku ini orang yang berwawasan tinggi. Kalau kalian tidak mau mengakui kekalahan jangan menindasku seperti ini. Hahh, sudahlah. Percuma berdebat dengan kalian. Aku pergi dulu." melenggang begitu saja setelah mengibaskan tangannya.  "Hehh, dia pergi. Awas saja besok, aku akan membuatmu patah tulang satu minggu!" ancam perempuan tadi.  Rien justru mengayunkan tangannya bergantian saat berjalan seakan tidak mendengarkan ancaman mereka.  "Lihat dia! Sangat menyebalkan! Padahal aku sudah bersiap dari semalam," kesal perempuan itu merajuk.   "Iya, aku belajar bela diri sampai tidak tidur semalam. Sayang sekali sekarang ditunda," sambung yang laki-laki.  Rien masih bisa mendengar keluhan mereka. Sepanjang jalan menunduk memikirkan sesuatu yang mengganjal.  'Pak tua itu tidak akan menghilang tanpa sebab. Aku harus cari tau,' batin Rien.  Semakin cepat melangkahkan kakinya hinga keluar lapangan dan pasar. Rien berlari mencari petunjuk perginya Darmuroi. Terlintas di otaknya jika Darmuroi datang ke tempat perang. Perbatasan timur kerajaan Rurua cukup jauh. Rien tidak punya uang untuk menyewa kereta kuda. Akhirnya dia menyerah dan membiarkan Darmuroi.  "Cukup! Kakiku selemas agar-agar." gumam Rien yang berhenti di tengah jalan, napasnya memburu, langsung luruh meluruskan kakinya.  Jalanan sangat panas sampai menyalur ke p****t Rien. Perlahan menikmati panas yang menjulur ke semua bagian tubuhnya. Rien tersenyum sambil menutup mata. Tidak sadar banyak orang yang berhenti bekerja hanya karena melihatnya.  "Hahh, nikmatnya! Rasanya pegal-pegalku hilang sebentar," keluh Rien merasa lega. Mendengar bisik-bisik yang sangat jelas membuat Rien membuka mata mendadak. Mereka takut memundurkan kepalanya.  "Kalian sedang apa? Aku bukan tontonan." sedikit menaikkan nada bicaranya. Rien hendak berdiri, tetapi salah satu orang menyalahkannya.  "Kau itu pekukis aneh, 'kan? Kenapa bisa ada di sini? Terlantar, ya? Aku dengar lomba hari ditiadakan. Itu pasti ulah licikmu."  Rien mendelik, "Ulah licikku? Maksud kalian apa?" agak menantang.  "Semua orang juga tau kalau kau tinggal bersama Tuan Darmuroi. Sekarang dia tidak ada, pasti kau melakukan rencana agar tinta putih jadi milikku tanpa bersusah payah. Rumor yang beredar begitu. Jangan mengelak lagi, pelukis aneh!" jawab orang itu.  Rien ternganga kesal, "Apa? Rumor? Sepanjang jalan tadi aku tidak mendengar rumor apapun. Kau jangan mengada-ada. Sekarang aku sedang mencari Tuan Darmuroi. Dasar bisanya hanya bergosip. Jangan merusak nama baikku! Minggir!"  Rien menyibak kerumunan orang-orang dan berjalan agak cepat. "Seenaknya saja menyalahkanku. Mereka pikir aku penjahat licik?" gerutu Rien.  Kakinya tersandung, Rien tidak melihat ada batu agak besar di depannya. Rien sedikit memekik kesakitan. Lututnya terluka, Rien harus segera mengoleskan obat. Dia berjalan tertatih sekarang. Berdecak kesal berpikir sekarang hari sialnya. Setelah puas cemberut akhirnya tersenyum lebar setelah melihat sungai berbatu kuning. Tidak tahu Rien lewat jalan mana, dia selalu menunduk sampai tidak sadar keluar dari pemukiman.  "Woah! Cantik sekali! Semua batunya berwarna kuning. Airnya juga jernih. Aku mau mandi!" pekik Rien semangat. Tiba-tiba meringis merasakan lututnya yang sakit. "Ck, percuma saja. Kalau ada yang lihat bagaimana? Nanti aku seperti bidadari yang sedang mandi di sungai. Mendingan bersihkan lututku dulu."  Cemberut lagi memilih duduk di batu yang agak datar dan tidak terlalu kecil. Rien menyibak pakaiannya sampai ke lutut. Air yang begitu menyegarkan membuat Rien merinding. Dia terkikik sendiri. Sakit di sekujur tubuhnya sedikit terobati saat dia senang. Air sungai mengalir lumayan deras sampai menimbulkan suara. Sungguh banyak batu dan pepohonan.  "Ini daerah mana? Apa jauh dari rumah pak tua?" gumam Rien seraya masih membasahi lututnya yang terluka.  Matanya tidak sengaja menangkap kilapan silau dari sebuah besi tipis yang tertancap di seberang sungai. Rien penasaran sedikit mendekat agar lebih jelas. Sudah terlanjur basah sekalinya berenang ke seberang. Walaupun harus menahan dingin, Rien berhasil mendapatkan benda itu. Dia terkejut ternyata sebuah pedang yang tertancap. Sangat mudah bagi Rien mencabutnya, tetapi sulit untuknya mengangkat pedang. Baginya itu terasa berat.  "Pedang ini... Aku seperti pernah melihatnya. Dimana, ya?"  Meneleng berpikir keras sambil mengayunkan pedang susah payah. Seketika dia ingat. "Aku tau! Ini pedang orang misterius itu. Tidak salah lagi, ini milik guru mendadakku. Kenapa bisa tertancap di sini? Apa orangnya juga ada di sini?"   Celingukan mencari Zaro. Rien menyusuri sungai mencari sarung pedang dan meneriaki Zaro dengan sebutan orang misterius. Namun, tidak ada lagi yang dia temukan. Satu orang pun juga tidak ada.  Rien mendesah dan duduk pasrah, "Nasibku selalu berkeliaran tidak jelas. Sekarang tersesat di sungai batu kuning memegang pedang. Aku tidak takut ada bahaya, justru memikirkan orang misterius itu. Apa dia terkena masalah? Pedang ini mungkin terbuang di sini, tidak mungkin sengaja ditinggalkan."  Memandang pedang itu sangat teliti. Angin menerpanya cukup lama. Hampir pertengahan siang Rien masih asa di tepi sungai. Pakaiannya sampai kering. Sekarang Rien lapar. Perutnya berbunyi tanpa malu.  "Makanlah."  Rien terkejut ada seseorang yang memberinya sebungkus makanan dari belakang. Awalnya orang itu tersenyum manis, kemudian membekap Rien dengan cepat sampai Rien meronta dan pingsan. Orang itu membawa Rien ke sebuah gubuk tidak jauh dari tempat itu. Tidak lupa menyita pedang yang dibawa Rien.  Penyekapan Rien tidak dilakukan satu orang melainkan dua. Dia adalah laki-laki dan perempuan yang berdebat dengan Rien tadi pagi. Peserta lomba yabg ingin Rien di diskualifikasi. Mereka menganggap Rien saingan berat karena memenangkan dua babak sebelumnya. Melihat Rien membawa pedang membuat mereka semakin yakin dan takut kalah.  "Pedang ini bagus. Rien sangat hebat!" Kagum peserta laki-laki itu yang terus memperhatikan pedang Zaro.  "Diam! Dia itu musibah, jangan dipuji!" Perempuan itu tidak suka.  "Ck, sekarang kita apakan dia?" tanya yang laki-laki.  "Biarkan saja di sini sampai besok lomba dimulai. Kalau dia tidak muncul otomatis keluar lomba. Haha, kita bisa sedikit aman "  "Benar! Kalau dia bangun?" Laki-laki itu pura-pura senang. Mengejek kebodohan temannya.  "Kau yang bodoh! Kita ikat dia!" desis perempuan itu.  Laki-laki itu mengangguk dan mulai mengikat Rien di keempat sisi ranjang kayu. Mereka meninggalkan Rien dan lupa membawa pedang Rien. Tidak lama setelah mereka pergi Rien sadar. Dia terkejut lagi sudah berpindah tempat. Meronta dan menjerit tidak bisa. Mulutnya tersumpal kain.  'Siapa yang berani memperlakukanku seperti ini?! Akan kucoret wajahnya jadi hantu! Huaaaa, seseorang lepaskan aku, tolong aku!' teriak Rien dalam hati.  Di sisi lain sungai batu kuning mengalirkan darah orang-orang yang gugur di medan perang. Perbatasan timur ternyata tidak jauh dari sungai batu kuning. Mulanya segar menjadi berbau anyir. Berhasil mempertahankan perbatasan tanpa luka sedikitpun, Zaro ingin mencari pedangnya yang tertinggal semalam setelah bertarung dengan musuhnya sang pangeran dari kerajaan Aru. Luka Rezain yang disebabkan Hunara sudah membaik sempurna. Namun, Zaro berhasil membungkam Rezain dan memintanya untuk mengembalikan Raja Karfa.  Rezain lari dengan meniupkan asap tebal pada Zaro. Sisi pengecut Rezain yang membuat Zaro muak. Dia masih ingin melawan secara pribadi padahal keesokan harinya menyerang perbatasan.  Pedangnya tidak ada, tetapi menemukan jejak kaki yang menginjak rumput. Zaro menyusurinya dan mengikuti insting setelah jejak itu hilang. Zaro mengernyit menemukan gubuk. Bukan penasaran, hanya bisa ingin memeriksa. Dia mengetuk pintu sopan mengira ada orang yang tinggal. Seketika mendengar jeritan tertahan seorang gadis. Zaro langsung mendobrak pintu dan terkejut.  "Kau?!"  Rien masih meronta tak karuan. Dalam hati juga bingung kenapa yang datang orang berpakaian zirah. Zaro segera memalingkan wajahnya karena tidak memakai penutup wajah.  'Sial! Dia melihat wajahku. Bagaimana kalau mengenaliku?' batin Zaro.  'Hehh? Sepertinya aku pernah melihatnya. Postur tubuh itu tidak asing. Kenapa dia kemari? Mau perang sama siapa?!' batin Rien.  Zaro mendapati pedangnya di atas meja. Langsung mengambilnya tanpa melepaskan Rien dia keluar gubuk. Rien melotot, meronta lebih parah sampai kaki dan tangannya sakit. Zaro akan pergi, tetapi tidak tega. Masih diam di depan pintu.  "Ck, kenapa dia disekap? Harusnya lomba sekarang," gumam Zaro gelisah.   Memegang dadanya merasakan perasaan aneh seperti saat bertemu Rien. Suara Rien memekakkan telinga. Zaro berdecak frustasi akhirnya kembali masuk.  "Diam! Kau tau siapa aku?" bentak Zaro.  'Ih, kejam sekali!' batin Rien.  Rien menggeleng kuat.  "Bohong!" Zaro membentak lagi.  Rien semakin menggeleng. 'Dasar pemarah!' hanya bisa bicara dalam hati.  Sungguh tidak tega walau Zaro sudah membuang muka. Terpaksa menebas tali yang mengikat Rien membuat Rien menjerit takut mengira Zaro akan membunuhnya. Rien segera bangkit dan membuang penyumpal mulutnya. Mendadak marah mendorong Zaro dan terus membuat Zaro mundur.  "Kau itu si hitam-hitam di malam hari, 'kan?! Dari tingkahmu saja sudah kelihatan. Oh, sekarang aku tau manis wajahmu, apalagi mata tajammu itu! Mata yang selalu ingin kucongkel kemarin malam. Kau mengajariku bela diri dan matamu memarahiku terus. Tapi... Kenapa sekarang pakai baju perang? Aku tidak mungkin salah menilai orang." melotot menunjuk tepat di tengah mata Zaro di saat Zaro menabrak dinding.  Keduanya saling melotot. Zaro terkejut hebat tidak mengira diperlakukan seperti ini, "Dasar bermuka dua! Tadi bilang tidak mengenaliku. Sekarang ingat semuanya. Kau..."  "Apa?!" tantang Rien semakin marah.  Zaro menganga ucapannya dipotong, "Kau akan dihukum! Lancang sekali!"  'Tidak tau diri! Aku pangeran dan dia marah padaku?' batin Zaro.  "Ck, dihukum? Memangnya siapa kau bisa menghukumku? Bukan karena kau ahli bermain pedang bisa melakukan hal seenaknya. Kau pasti komplotan orang yang membiusku, 'kan?" Rien masih berprinsip membongkar kedok guru mendadaknya.  Zaro geram mendorong dahi Rien sampai Rien mundur menabrak dinding yang lain.  "Aaaa, lepaskan aku!" kepala Rien terantuk cukup keras.  "Banyak bicara, sembarangan menuduh, ceroboh dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa kau menyebut dirimu pelukis legendaris? Mimpi!" desis Zaro setelah menarik tangannya.  Rien ingin membalas, tetapi menyadari sesuatu, "Tunggu dulu, kalau kau berniat jahat padaku kenapa melepaskan ikatannya?" mengerjap berkali-kali lalu menatap Zaro sambil meringis, "Hehehe, kurasa kita salah paham. Kau jangan marah, ya." mendorong d**a Zaro pelan agar menjauh.  Zaro hanya menghela napas dan duduk memangku pedangnya. Suara baju zirah Zaro begitu menggetarkan Rien. Dia tahu sudah salah jadi sedikit malu untuk ikut duduk. Akan bicara, tetapi Zaro menyelanya.  "Kenapa tidak ikut lomba?" tanya Zaro mulai tenang. Itupun tanpa melihat Rien.  Rien tersentak kecil mengingat dia sedang mencari Darmuroi. Dia menceritakan semuanya dan meminta bantuan Zaro untuk menemukan Darmuroi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN