Sabrina datang sambil menggandeng bocah lelaki yang tingginya kira-kira hampir sama dengan pinggangku. Rambutnya lurus dan cepak, kulitnya sawo matang seperti suamiku, dan aku terkejut saat anak itu sudah masuk ke dalam, dari bentuk wajahnya ia begitu mirip dengan Mas Lutfi. Mataku sampai tak berkedip menatapnya, bocah itu berdiri ketakutan melihat kami yang masih asing baginya. "Rafka, itu Papa asli kamu." Sabrina menunjuk suamiku. "Sini, Nak. Ini Papa." Mas Lutfi merentangkan tangan ingin memeluk anak itu. Namun, Rafka seperti ketakutan ia masih diam tak bergerak satu Senti pun, malah menggenggam erat tangan Sabrina. Mas Lutfi berdiri lalu maju beberapa langkah, jongkok menyeimbangkan tubuh di hadapan anaknya itu. sambil menangis Mas Lutfi memeluk Rafka. Namun, anak itu justru ber

