Malam ini puncaknya. Kesedihan itu ... kerinduan itu ... begitu menyiksanya. Keanehan Garlanda juga membuat rasa sakit di hati Natasha semakin hebat saja rasanya. Biasanya ia masih bisa kuat. Tapi malam ini ia menangis tersedu-sedu di atas tempat tidurnya. Temaram Lampu tidur menjadi saksi atas tangis dalam kesendirian itu. Ia lihat kembali aplikasi chat yang sama sekali tak ia tutup. Sudah ia kirim betapa serunya berenang di sungai Aare. Susah ia kirim betapa indahnya hamparan kebun tulip. Sudah ia kirim betapa menakjubkan kincir air raksasa di Belanda. Menata Eiffel, menara condong, kerajaan Inggris. Tapi sama sekali belum ada balasan dari Garlanda. Natasha sudah coba meneleponnya. Bukan saat jam tidur malam lagi seperti waktu itu. Tapi di siang hari bolong waktu Indonesia. Tapi

