"Kamu tenang ya. Perlahan-lahan, kamu pasti bisa mengingat semuanya. Siapa nama kamu, siapa nama keluarga kamu, di mana kamu tinggal. Kamu jalani saja dulu segala perawatan di sini. Kami nggak akan menyakiti kamu. Kamu bisa kembali, dan hidup normal lagi seperti semula." Sang suster terus berusaha membuat Cameron tenang. Tapi bagaimana Cameron bisa tenang. Mana ada orang yang waras, bermental sehat, tapi justru dianggap orang gila seperti ini. Bahkan sudah dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Harusnya pihak rumah sakit melakukan observasi dulu sebelum menerima pasien baru. Jangan hanya karena berantakan dan kotor, mereka langsung saja percaya bahwa Cameron adalah seseorang dalam gangguan jiwa. "Sus, aku ini nggak gila. Aku nggak seperti yang suster katakan. Aku ingat kok siapa namaku.

