Radit bingung dengan kedatangan Ana yang tiba-tiba saja sudah didepan rumahnya sore ini. Tadi setelah seharian menemani kakaknya membeli kerudung dan baju untuk suaminya, ia dikejutkan dengan kedatangan gadis itu yang tengah menunggu di teras depan bersama Lili dan Iko. Memang selama bepergian tadi kedua keponakanya di rumah bersama Ayahnya yang tengah libur hari itu. Dan karena tidak ingin mengganggu hari libur suaminya, Radit menawarkan menemani belanja kakaknya.
"Ada apa?" Tanya Radit begitu ia ikut bergabung bersama Ana dan kedua keponakanya.
"Gak apa-apa cuma kangen sama mereka" tunjuk Ana dengan pada Lili dan Iko yang tengah berebut bola-bola coklat yang dibawa Ana.
"Ayo masuk" Radit mengajak masuk namun ditolak karena hari sudah sore dan ia ingin segera berpamitan pulang.
"Sudahlah tidak apa-apa nanti biar diantar Radit pulangnya, ayo masuk" Mira meraih pergelangan tangan Ana mengajaknya masuk. Tidak kuasa menolak rasanya jika Mira sudah merangkul pundaknya berjalan masuk kemudian duduk di lantai.
Tanpa disadari, Radit muncul dari belakang sambil membawa dua cangkir teh saat Mira menemani Ana mengobrol. Menyuguhkan di hadapan Ana dan mempersilahkan minum sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Mira.
Hanya obrolan ringan menanyakan bagaimana skripsinya, kabar orang tuanya dan ucapan terima kasih sudah membawakan coklat untuk anaknya. Hanya itu karena Mira segera beranjak masuk karena mendapat panggilan suaminya membuat kakak Radit tersebut berpamitan. Tinggalah Radit dan Ana tengah duduk bersila saling berhadapan.
"Jadi? Apa tadi sedang ada angin topan, tsunami atau badai tornado sampai-sampai kamu nyangkut disnini?"
"Enak aja nyangkut. Udah bagus nih silaturahmi malah diledekin" sungut Ana kesal yang membuat Radit terkekeh geli.
"Ya aneh aja kamu datang, biasanya juga aku disuruh jemput"
"Tadi aku bawa motor sendiri" tunjuk Ana pada motor yang terparkir tak jauh dari teras.
"Kok tahu rumahku? Kirain waktu nangis kemaren gak inget jalan rumahku"
"Sebenarnya sih gak inget tapi tanya kan bisa, kayak meragukan bakat komunikasiku aja deh"
"Ya ya boleh deh. Makasih udah dateng sama bawain mereka coklat"
"Santai aja. Sebenarnya itu sogokan" aku Ana. Radit mengernyit dengan maksud Ana barusan.
"Sogokan biar mau nemenin aku main di depan. Nunggu kamu lama amat sih mana Kakak Ipar mu nyeremin, aku agak takut tadi waktu diajak ngobrol" Dari kernyitan kini berubah mengangkat alis dan detik kemudian Radit tertawa.
"Aku pulang aja kalo cuma diledekin disini" Ana memberengut dan bersiap berdiri hendak berjalan keluar namun tanganya dicekal oleh Radit.
"Gitu aja marah Na, sorry deh. Sini duduk lagi" Ditepisnya tangan Radit dan ia tetap melangkah keluar. Memakai sandalnya kembali dan berjalan menuju motornya yang diparkir.
"Na..." lirih Radit yang hanya dicuekin Ana. Saat sudah duduk diatas motor dan hendak memasukan kunci ke lubangnya, dengan gesit Radit merampasnya.
"Setidaknya pamit dulu kalau mau pulang" Ana tampak berpikir, sikap sopan santun yang diajarkan orang tuanya tidak mungkin ia abaikan. Datang disambut baik dan pulang juga harusnya ia berpamitan terlebih dulu. Dengan menghela nafas kesal karena kuncinya disandera Radit, ia pun turun dari motor dan mengikuti langkah Radit berjalan masuk.
Begitu masuk kedalam,sudah ada Mira yang menyambutnya. "Mau kemana kok pakai helm?" Ana langsung memegang kepalanya yang ternyata sudah memakai helm. Dengan tersenyum ramah ia menjawab ingin berpamitan pulang.
"Makan dulu Na, Dit ajak temenya makan didalam" perintah Mira pada Radit yang segera mengangguk. Ana ingin menolak tapi begitu Radit mengisyaratkan dengan gelengan kepala sambil menaik turunkan alis, dengan pasrah Ana menurut.
Di meja makan sudah terhidang nasi, tumis sawi dengan campuran tahu kemudian ikan haruan goreng dan sambal. Makanan rumahan yang penuh kehangatan.
Keduanya makan dengan diam karena suami Mira juga ikut bergabung untuk makan bersama sedangkan Mira sendiri tengah menuntun anak-anaknya untuk mandi di belakang.
Kesibukan inilah yang ia rindukan. Menjadi anak tunggal di rumah membuatnya merasa sendiri. Apalagi di usianya yang dewasa tentu teriakan menyuruhnya mandi dari Mama tidak akan terdengar. Keributan seperti inilah yang Ana rindukan saat dulu masih bersama Ani dan Neneknya. Mendadak dalam suapan kesekianya ia begitu merindukan kehangatan berkumpul dengan keluarga lengkapnya.
Radit menyadari Ana yang duduk disampingnya sedang melamun segera ditepuknya perlahan pundaknya dan Ana langsung tersadar. Selesai makan, barulah Ana berpamitan pada keluarga tersebut.
Hari sudah senja dan sebentar lagi akan gelap. Karena tidak tega, Mira menyuruh adiknya untuk mengantar Ana dengan mengikuti motornya dari belakang.
Jalanan sangat macet ditambah banyaknya lampu merah yang dilalui. Ana memacukan motornya perlahan di depan dan Radit mengikutinya di belakang dengan motornya sendiri.
Di tengah jalan Ana merasa ada yang aneh dengan motornya. Tiba-tiba saja motornya berhenti seketika. Setelah di cek ternyata ada masalah dengan accu, secara motor Ana tidak dipakainya sejak insiden kecelakaan sebulan yang lalu dan kondisi motornya tidak diperhatikan lagi apalagi hari ini pertama kalinya ia mengendarai motornya.
Radit memutuskan membawa ke sebuah bengkel dan meninggalkanya untuk diambil besok sedangkan Ana dengan pasrah menjadi penumpang Radit seperti biasanya.
"Na, diem aja dari tadi. Masih marah?" Ana menggeleng perlahan sambik berkata 'gak' dengan lirih. Dari pantulan kaca spion ia dapat melihat gelengan kepala Ana.
"Biasanya kamu cerewet, aneh aja kalau tiba-tiba diem kayak gini"
"Dit, turun dulu bentar di situ ya?" Izin Ana seraya menunjuk sebuah minimarket. Entah apa yang diinginkan Ana, Radit hanya mengangguk dan menuruti permintaan gadis di belakangnya.
Begitu turun, bukanya ia masuk untuk membeli sesuatu tetapi malah duduk di sebuah kursi panjang yang disediakan di depan minimarket tersebut.
Dengan bingung Radit mengikuti duduk disamping gadis yang terlihat sedikit gelisah.
"Ada apa?" Tanya Radit akhirnya.
"Dit sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu mengenai sesuatu. Hanya memastikan saja" Mimik wajah Ana terlihat serius memandang kearah laki-laki disampingnya.
"Tanya saja ada apa"
"Kamu kenal kakak kandungku, Ariani?" Selidik Ana memulai pertanyaanya. Radit menatap manik mata gadis itu sejenak kemudian mengangguk.
"Bagaimana bisa?" Lanjutnya. Radit menghela nafas berat kemudian mendongakan kepala sejenak.
"Kami dulu satu sekolah saat di Surabaya. Kami berteman meskipun saat kelas tiga kami mengambil jurusan berbeda" jelasnya menatap lurus kearah jalanan didepan sana.
"Hubungam kalian?" Penasaran Ana begitu mengingat raut bahagia seperti layaknya sepasang kekasih yang saling merengkuh mesra.
"Jawaban apa yang kamu harapkan?" Digenggamnya tangan Ana. Meremasnya lembut sambil menatap manik matanya.
"Kami berteman, hanya itu Na. Kenapa bertanya seperti itu? Lagian darimana kamu bisa bertanya soal ini?"
"Aku melihat fotomu bersama Mbak Ani. Terbersit dalam benaku jika kamu adalah orang yang ehm..." ragu Ana melanjutkan masalah pribadi kakaknya yang mungkin saja disembunyikan dari semua temanya.
"Dia sudah pergi bersama keegoisanya. Pergi tanpa ingin tahu betapa hancurnya Ani. Aku tahu kejadian itu jika kamu ragu mengatakanya"
"Kamu tahu?" Radit mengangguk.
"Kami berteman akrab Na, hal itu pula yang membuat orang tuamu mengizinkan mengantar jemputmu selama ini" Ana mengingat kembali bagaimana respon Hendra dan Rima yang tidak masalah saat pulang diantar Radit meski hari saat itu sudah malam.
"Siapa dia Dit? Rasanya aku ingin mematahkan tulangnya jika bertemu denganya" geram tertahan Ana. Radit semakin mengeratkan genggamanya.
"Kamu tidak perlu tahu siapa dia. Karena balas dendam tidak menyelesaikan apapun. Ani hanya ingin membuktikan padanya jika dirinya mampu bangkit dari keterpurukan yang diakibatkan mulut manis laki-laki itu" jelas Radit dengan tenang.
"Lagipula Faby sudah menjadi penawar lukanya. Aku yakin Faby adalah orang yang tepat untuknya" harap Radit mengingat Ani bercerita dengan menggebu-gebu ketika merasakan hatinya mulai terbuka.
"Faby? Kamu juga tahu pertunangan mereka?"
"Ya, Ani mengabariku saat akan pulang kemaren. Kami bertemu di depan rumah kalian" Dan kenapa Ana tiba-tiba merasa sedang dibohongi oleh dua orang yang yang dekat denganya ternyata saling mengenal sejak lama.
"Jangan-jangan kamu ada maksud tertentu ya menawariku jadi pelanggan ojekmu?" Tuduh Ana tiba-tiba.
"Ya begitulah. Aku cuma ingin dekat dengan keluarga sahabatku. Lagipula aku juga ingin dekat denganmu" kerlingnya jahil membuat bulu kuduk Ana meremang begitu saja.
"Maksudnya.. kamu...."
"Aku menyukaimu Na" lirih Radit yang kini kedua tanganya menggenggam erat tangan Ana. Keduanya saling berhadapan. Diatatap dengan begitu tajamnya oleh manik mata Radit seketika membuat jantung Ana berdebar amat keras terlebih saat pernyataan dari mulut Radit barusan amat membuat lidahnya kelu untuk membalas kalimat apapun, ludahnya begitu susah untuk ditelan dan matanya masih membelalak kaget.
Meskipun bukan pertama kali mendengar pernyataan cinta bahkan lebih romantis dari ini, dan ia selalu berhasil menolak secara halus dan langsung seketika. Dan saat ini entah sihir apa yang digunakan laki-laki ini sampai-sampai Ana dibuat tak berkutik sama sekali.
"Aku tidak berharap apapun Na, hanya ingin meminta maaf jika selama kita dekat, ada perasaan yang tumbuh dengan begitu cepat menjalar tanpa tahu kapan akan berhenti. Sekali lagi maaf jika aku .... jatuh cinta ... padamu"
Bolehkan ia merasa ingin pingsan saat itu juga?
Kata cinta dari seorang Radit barusan semakin membuat jantungnya bertalu-talu. Nafasnya tercekat namun hatinya menghangat.
Dan anehnya kenapa Radit harus meminta maaf dulu sebelum menyatakan perasaanya? Apakah ia merasa takut jika Ana menolak atau kelancangan hatinya nenyukai adik sahabatnya?
Ana melepasakan genggaman tangan Radit dan segera menarik diri. Berjalan kearah motor menunggu Radit yang berjalan dibelakangnya sambil menunduk.
"Naiklah, kita pulang" Tanpa menunggu lama Ana duduk dibelakanh Radit. Motor melaju dengan kebisuan keduanya yang sama-sama merasa canggung.
Dalam diamnya Ana menahan laju jantungnya yang menggila. Diakuinya Radit membawa pengaruh emosi padanya. Ketika melihat Radit tertawa bersama kakaknya saja ia merasa sedikit tak rela apalagi Radit mencium kening dan merangkul pundak Mira.
Namun disisi lain ia punya Wira yang tengah ia beri harapan untuk saling mengenal karena perjodohan yang tidak bisa diganggu gugat. Kenapa saat ia mulai membuka hati pada Wira, ia harus menerima pengakuan hati dari Radit?
----------------------------------------