Apakah Sama?

1508 Kata
Radit memarkirkan motornya di depan pintu gerbang sejak lima menit lalu menunggu Ana yang belum juga terlihat keluar dari pintu rumahnya. Padahal ia sudah mengiriminya pesan singkat melalui w******p bahwa dirinya sudah sampai di depan pintu gerbang. Baru saja Radit akan mengiriminya pesan untuk kedua kalinya, Ana sedikit berlari sambil menenteng map tebal berisi lembaran kertas yang dijilid lepas. "Sorry Dit, tadi masih pamitan sama kakak ku yang mau pulang" alasan Ana yang hanya diangguki oleh Radit. Segera setelah Ana memakai helm dan memposisikan duduk menghadap kedepan, motor Radit melaju. "Tumben baru order" Ujar Radit sembari menolehkan wajahnya kesamping agar suaranya dapat terdengar oleh Ana di belakangnya. Motor tengah berhenti karena sedang menunggu lampu merah berganti hijau sehingga suara Radit tidak perlu berteriak. "Yang di Bank kemaren udah selesai, sekarang balik ke kampus lagi" jawab Ana sedikit mendekat kearah telinga Radit. "Kirain udah boleh bawa motor lagi" Ana tampak menghela nafas. "Masih belum untuk sementara waktu. Tapi ntar aku coba izin sama Papa". "Gak usah aja" Ana mengernyit bingung dengan kalimat Radit yang mirip dengan sebuah larangan. "Nanti pelangganku hilang satu dan takutnya kamu kangen sama aku " lanjutnya kemudian terkekeh. "Ish ....." Desis Ana sambil menepuk pundak Radit sedikit kasar karena kesal. Setelah sampai di depan kampus, Ana segera mencari dosen pembimbingnya yang tengah berada di ruangan milik beliau. Sebelumnya Ana sudah membuat janji temu hari ini karena dosen pembimbing utamanya termasuk orang yang sibuk bepergian keluar kota entah mengenai seminar atapun pekerjaan lain. Ini kali pertama dirinya melakukan bimbingan setelah menyelesaikan penelitian. Baru pertama kali dan ia sudah pesimis jika lembaran kertas yang berisi hasil penelitianya selama ini akan bebas dari segala bentuk deretan kalimat penuh komentar yang menghiasi setiap paragraf. Untuk proposal bab satu dan tiga saja ia harus berbenah lebih dari tiga kali dan bab dua pun begitu, jadi bab empat ini ia hanya bisa berharap tidak terlalu banyak komentar. Bukan ia tidak sadar dengan segala kekuranganya atau ia sudah merasa benar dengan apa yang dikerjakanya, hanya saja bayangan ujian akhir bulan depan terus membayangi pikiranya. Ia ingin mengikuti ujian gelombang pertama bukan tanpa tujuan, semakin cepat ia menyelesaikan kewajibanya sebagai seorang mahasiswi maka semakin cepat ia akan menikmati kebebasanya. Ah itu hanya pikiran konyol yang sempat terlintas ketika rasa suntuk melanda. Rasa bosan dan terbebani yang kadang muncul sebagai seorang pelajar sejak pemerintah memutuskan wajib belajar mulai jenjang sekolah dasar yang sudah mulai dibebani dengan segala bentuk pekerjaan rumah yang bukanya menjadikanya cerdas namun malah terbebani bagi dirinya dan orang tuanya. Kadang tugas yang diberikan sedikit tidak wajar atau terlalu berat sehingga para orang tua yang melihat kesulitan anaknya akan ikut turun tangan membantu dan kadang mereka pun juga angkat tangan. "Perbaiki bagian yang saya tandai" ucap dosen pembimbing Ana sambil menyerahkan kembali lembaran kertas yang tadi ia sodorkan. Selama meneliti pekerjaanya, Ana sampai harus menahan nafas dan merapal doa semoga tidak banyak yang akan ia benahi. Namun apa daya, melihat coretan tinta yang ditorehkan di semua halaman meski tidak di setiap paragraf membuatnya lemas. Bayangan akhir minggu ini ia akan datang ke acara lamaran kakaknya kemudian bersantai di kampung halaman sambil melepas rindu pada Nenek dan teman-teman disana sirna sudah. Setelah memberikan masukan yang sempat dicatat oleh Ana, segera ia menuju kantin untuk mengembalikan tenaganya yang sempat terkuras karena begitu tegangnya. Secangkir teh ia pilih bersama sepiring kecil wadai dengan tiga macam pilihan yang terdiri dari untuk-untuk isi inti, lumpia dan cincin. Di rumah tadi ia sudah sarapan bersama keluarga lengkapnya. Dirinya, kedua orang tua dan juga kakaknya, Ani. Mengingat kembali Ani, ia semakin bersemangat segera membenahi kesalahanya. Dibukanya perlahan lembar demi lembar mencari letak kesalahan yang ditunjukan melalui goresan tinta di beberapa bagian. Dan begitu paham, ia keluarkan Toshiba hitam miliknya dari dalam tas. Membenahi sedikit demi sedikit dengan lebih bersemangat sambil memandang sebuh foto wallpaper sebagai penyemangat. Aku akan datang Mbak *********************** Reksa merapikan jaket kulit yang dikenakanya sedikit berantakan. Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri kemudian memandang gumpalan awan putih dengan hamparan warna biru langit dari kaca cendela disampingnya. Perjalanan jalur udara dari Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman menuju Bandar Udara Juanda sekitar satu jam setengah dan saat ini ia masih menempuh setengah jam perjalanan. Menikmati cerahnya langit siang ini ternyata belum mampu meredakan resah dalam batinya. Menerima tawaran kerjasama di kota yang menyimpan jutaan luka dan perih akan hatinya yang pergi kembali terbayang. Namun terus berada dibawah kekangan Monica dan juga kebencian dari gadis yang dianggap oleh Mamanya sebagai 'jelmaan masa lalu' tidak bisa membuat pikiranya tenang. Gadis itu, Ana ia sungguh-sungguh ingin meminta maaf dan menjelaskan bahwa ia tulus mengenalnya, berteman denganya juga mencintainya. Entah itu perasaan sepihak atau apapun, ia tak bisa menepisnya dengan mudah. Meski harus dipastikan benar-benar apakah itu cinta atau hanya perasaan sesaat yang membayang akan masa lalu dengan perempuan yang hampir sama. Namun ia bersumpah jika ketulusanya sanggup ia buktikan. Menghubunginya berkali-kali tak juga mendapat tanggapan. Bertanya pada Dini yang ia harap akan membantu juga tetap nihil. Datang ke rumah berkali-kali juga seakan meskipun memencet bel ataupun menggedor pintu gerbang, prnghuni rumah tidak terlihat ada. Entah karena waktu datangnya kesana yang tidak tepat atau memang penghuni rumah itu tidak berada di tempat. Semoga keputusanya untuk setuju bergabung dalam kegiatan kerjasamanya ini dapat sedikit mengurangi penatnya. ************************* Dini baru saja selesai menelpon sahabatnya yang beberapa hari tidak terlihat menemuinya di Rumah Sakit seperti biasa atau berkunjung ke rumah. Setelah tahu bahwa kesibukanya yang mengejar target akhir bulan dan rencana perjodohan sahabatnya, Dini merasa senang dengan kabar tersebut. Segera setelah menutup sambungan telepon pada sahabatnya, ia mengetikan sebuah informasi yang ia dapatkan barusan kepada Monica. Ternyata tidak jadi dengan Dokter Reksa, malah menggaet pria lain. Perjodohan? Bilang saja dia menjual diri pada pria kaya agar hidupnya lebih terjamin. Dasar munafik! Gumam sinis Dini. Disisi lain selesai Ana menjawab telepon dari Dini yang menanyakan kabar serta alasan tidak pernah datang berkunjung atau jalan berdua denganya akhir-akhir ini, ia menghampiri Radit yang tengah duduk di pos satpam dan terlihat asyik menikmati acara pertandingan bola di salah satu stasiun televisi swasta bersama seorang satpam yang berjaga malam ini. Malam, karena ia memang baru saja selesai memperbaiki hasil penelitianya seharian ini dari mulai pagi di kantin, siangnya di perpustakaan sembari mencari refrensi dan beberapa contoh dari skripsi-skripsi lain kemudian sore hingga sekarang ia mengerjakanya di basecamp Toni, temanya yang aktif di kegiatan alam. Berhubung UKM yang diikuti Toni tengah mengadakan persiapan acara seminar, alhasil banyak anggota yang berkumpul hingga malam menjelang. Ana sudah memberitahukan keterlambatan pulang kepada kedua orang tuanya juga mengatakan ia akan diantar Radit, yang dikenalkan Ana sebagai sopir ojek langgananya saat mengantar ke rumah dan langsung mendapat interogasi empat mata oleh Hendra. Namun setelah kejadian tersebut, Hendra dan Rima mulai percaya dengan Radit. "Dit" Panggil Ana agar Radit menoleh padanya. Begitu tahu Ana sudah ada didekatnya, ia langsung berpamitan pada satpam yang juga tersenyum ramah pada Ana. "Anak gadis pulang kuliah malem. Itu kuliah apa numpang berteduh?" Celoteh Radit sedikit berteriak. "Aku ngebut merevisi Dit, emang dikira aku ayam apa numpang berteduh" gerutu Ana. "Buat apa ngebut kalau bisa perlahan tapi pasti" ujar Radit mirip sebuah slogan. "Aku mau ikut ujian bulan depan. Dan besok aku sibuk mau ke Jawa, jadi ya lembur biar besok liburanku gak terganggu" "Owh" Radit menanggapi sekilas dan Sesampai di rumah ia disambut lega oleh orang tuanya karena anak gadisnya pulang dengan selamat. Hubungan mereka sudah mencair seperti biasa saat Ana mulai menerima sosok Wira sebagai calon pendampingnga meskipun masih tahap perkenalan. "Kamu istirahat sana, besok kita berangkat subuh karena pesawat dari Balikpapan jadwal yang paling awal" pesan Rima mengingatkan pada Ana. Seharian ini ia teramat lelah. Setelah mandi dan menikmati makan malamnya sendiri karena kedua orang tuanya sudah selesai sejak tadi, ia mulai mengemas beberapa barang yang akan dibawa besok. Tidak banyak karena soal pakaian ia bisa meminjam milik kakaknya karena ukuran mereka sama. Begitu selesai, ia segera membaringkan tubuhnya. Saat matanya akan terpejam, sebuah panggilan masuk membuatnya tersenyum kecil. Dari Wira, segera ia mengangkatnya. Suara Wira entah terlalu merdu atau Ana yang terlalu lelah akhirnya obrolan tentang kegiatan hari ini tidak lagi dapat diteruskan karena Ana ternyata sudah terlelap dengan telepon masih menempel di telinga sedangkan Wira diseberang sana hanya menghela nafas dan terkikik geli begitu mendengar suara Ana yang tadinya bercerita berganti dengan dengkuran. Wira tahu Ana tengah lelah saat ia selalu menguap disela-sela bercerita. Meski hanya suara dengkuran yang terdengar, Wira tetap tidak memutuskan sambunganya. Dan suara itulah yang ia rindukan, masih sama sperti saat dulu ia mendengarkanya secara langsung tepat di telinganya. Wira mengulum senyum membayangkan suara itu pernah membuat jantungnya berdetak ribuan kali lebih cepat saat merasakan helaan nafas serta dengkuran halus itu memenuhi indra penedengaran dan pikiranya. Wira tak bisa membayangkan jika suatu saat yang pasti, ia akan bertemu dengan gadisnya, gadis yang diklaim sebagai miliknya sejak perjanjian itu dibuat dan semenjak perasaanya semakin yakin saat menatap wajahnya yanh tertidur kala itu. Dan jika keduanya bertemu kembali dalam situasi yang berbeda, apakah masih sama keadaanya? Sanggupkah Ana menerima dirinya yang mungkin sudah sedikit membohonginya? Apakah masih sama jika Ana tahu dialah yang mencuri kecupan di keningnya saat ia terlelap? Apakah sama? Ia pun tak bisa memastikan hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja. ------------------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN