Sisi Lain

1633 Kata
"Hai" sapa Ana sambil melambaikan tangan begitu ia sudah sampai dihadapan Reksa. "Sorry tadi macet parah" Ucap Reksa merasa tak enak hati karena keterlambatanya. "It's oke, aku juga ketemu teman tadi di dalam" "Kita mau ke mana?" Tanya Ana hampir lupa. Karena saat Reksa mengajaknya bertemu tadi memang tidak menjelaskan tujuan datang ke pusat perbelanjaan. Mengingat usia mereka yang jauh dari kata remaja, kemungkinan jika datang ke tempat ini adalah untuk hangout adalah kecil. "Temani aku mencari buku. Ayo!" Ana mengangguk dan mengekori langkah Reksa dibelakangnya. "Eh ngomong-ngomong, Dokter dapat nomorku dari mana?" Tanya Ana menyadari tadi Reksa menelponya padahal ia tidak pernah memberikan nomor padanya. "Dari data pasien" Ana hanya berdehem panjang mendengar jawaban Reksa. "Jangan berjalan dibelakangku Na, kamu mirip suster di rumah sakit saja. Sini!" Ditariknya pergelangan tangan Ana agar mendekat dan sejajar. Ana merasa canggung dengan perlakuan Reksa. Terang saja karena menurut desas-desus yang disampaikan Dini tentang sosok Dokter Reksa yang begitu dikagumi di seantero Rumah Sakit adalah laki-laki yang tenang, tegas, tidak terlihat dekat dengan lawan jenis selain kepada perawat yang bertugas, pasien ataupun sesama Dokter di tempatnya bekerja. Selebihnya untuk urusan asmara, Dokter tersebut tidak pernah sekalipun memiliki riwayat hubungan dekat. Semua karena apa? Kemungkinan besar karena wibawa serta kharismanya membuat setiap perempuan kadang berpikir seribu kali untuk bisa sejajar dengan sosoknya atau mungkin karena memang Dokter rupawan itu penyuka sesama jenis. Dan Ana merasa bingung mengingat perlakuan padanya terlihat sangat ramah dan bersahabat. Diakui Ana jika berada dalam radius dekat berduan dengan Dokter di sampingnya ini, ia dapat merasakan pesona menawan yang menguar tanpa henti membuat Ana semakin dekat semakin canggung ingin memperlakukanya seperti apa. Meskipun setelah perkenalan malam itu keduanya sepakat menjadi teman namun tetap saja status itu tidak begitu saja menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba menderanya. "Ingin mencari buku apa memangnya Dok?" "Entomologi" jawab Reksa tanpa menoleh pada Ana yang tengah menatapnya dari samping dengan memiringkan kepala serta mendongak karena tinggi badan mereka yang tidak seimbang. Reksa yang tinggi sedangkan Ana hanya sebatas dibawah pundaknya. "Tentang apa itu? " Ana penasaran karena ia tidak mengecap pelajaran dunia kesehatan, itu disebabkan jurusan yang diambil melulu membahas tentang uang. "Entomologi itu tentang vektor, kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh hewan artropoda" jelas Reksa yang kini menatap Ana yang tengah mengernyitkan kening karena berusaha mencerna istilah kedokteran yang diucapkan Reksa baru saja. "Anthropoda?" Ulangnya karena ia menangkap kata tersebut sebagai inti pembahasan. "Ya, Arthropoda binatang invertebrata, bersel banyak, bersegmen-segmen, bentuknya simetris bilateral, memiliki exoskeleton (rangka luar) yang terbuat dari chitin, dan mempunyai beberapa pasang kaki dengan banyak sendi." "Hah, aku tidak begitu paham dengan hal seperti itu. Itulah kenapa aku memilih jurusan sosial saat SMA" mendengar Ana yang mengeluh dengan penjelasanya membuat Reksa tersenyum. "Setiap orang punya hal yang disukai dan yang dibenci. Nah sekarang aku kesana dan kamu terserah mau ambil buku apa" Reksa menunjuk dengan telunjuknya pada deretan buku yang tersusun rapi dalan rak dengan tulisan KESEHATAN yang besar berwarna putih dibagian atasnya. Ana mengangguk kemudian keduanya berpencar. Ana menghambur kearah tumpukan komik dengan tulisan SALE yang digantung diatas. Melihat itu mata Ana begitu berbinar mengingat ia amat menyukai manga buatan jepang dengan genre roman. Sedangkan Reksa sibuk memilih buku yang tengah dicarinya. Sebenarnya bukan buku untuknya sendiri melainkan buku tersebut milik adik temanya seprofesi di Rumah Sakit yang tanpa sengaja ia hilangkan karena teledor menjatuhkan buku tersebut yang terbungkus tas plastik yang dibawanya saat pulang mengendarai motor milik keluarga pasien. Dan sekarang ia harus mendapatkan buku tersebut dengan bantuan Ana. Mengingat tentang Ana tanpa sadar ia menyapukan pandanganya mencari keberadaan teman baru sekligus mantan korban kecelakaan yang disebabkanya tempo hari. Digerak-gerakkan bola matanya sambil menoleh kearah kanan dan kiri hingga ditemukan sosok yang dicarinya sedang duduk bersila sambil membaca sebuah komik, ah lebih tepatnya sinopsis yang tertera di bagian belakang buku tersebut. Pandangan gadis itu menunduk menatap deretan tulisan dengan amat serius. Seulas senyum tersungging dari bibirnya. Ia mengamati gadis itu, entah mengapa ia merasa terbuka pada seorang lawan jenis. Selama ini ia begitu tertutup jika menyinggung masalah lawan jenis. Bukan karena ia tidak tertarik hanya saja ia bukan orang yang mudah bergaul dengan kaum hawa. Mungkin karena ia anak tunggal dan interaksi dengan perempuan selain orang tuanya dan asisten runah tangga kurang ia dapatkan sehingga membuatnya belum cukup terbiasa menghadirkan sisi feminim perempuan menelusupi pribadinya, lagi. Gadis itu memang berbeda menurut Reksa, terlihat dari pertama kali ia bertemu. Dan takdir apa yang membuatnya kembali bertemu meski dalam keadaan yang sedikit cemas, panik dan menghawatirkan. Dia memang berbeda, bahkan saat ia tahu profesi Reksa, ia tetap bersikap apa adanya, menganggap Reksa layaknya seorang teman. Bukan sikap menggoda seperti kebanyakan perempuan di tempatnya bekerja yang tidak sedikit mencari perhatianya. Memang jabatanya tidak sepadan Direktur ataupun Manager, namun profesi dan sepak terjangnya dalam dunia kesehatan cukup menjanjikan masa depan yang diincar kaum hawa. Disapukan pandanganya kembali menekuri deretan buku dihadapanya. Memang tidak satu buku yang memiliki juduk seoerti yang ia cari. Namun buku tersebut bukan miliknya pribadi yang mana kriteria berupa pengarang, penerbit bukan jadi soal. Masalahnya adalah buku tersebut adalah pinjaman yang otomatis ia harus mengembalikan dalam bentuk yang sama. Setelah menyusuri satu persatu sambil mengingat semua hal yang terdapat dari buku yang dihilangkan, akhirnya apa yang dicari ia temukan. Meneliti sejenak kemudian menghembuskan nafas lega. Dilangkahkan kakinya menuju Ana yang masih duduk bersila dengan tumpukan buku di depanya. Tumpukan itu terlihat berbeda karena sengaja dipisahkan dari tumpukan lain yang berjejeran. "Kamu suka komik?" Mendengar pertanyaan dari suara yang ia kenal membuatnya mendongakan wajah. Pandanganya bersitatap dengan Reksa yang menunduk kearahnya. "Iya, ada lima nih" Sambil menunjuk tumpukan komik yang sudah ia pisahkan dibagian pinggir "Dokter sudah ketemu juga bukunya?" Reksa mengangguk. "Kalau sudah, ayo ke kasir!" Ajak Reksa. Ana segera berdiri kemudian menepuk celana, meraih tas selempang yang diketakan begitu saja di lantai. Reksa berjalan menuju kasir dengan Ana yang mengekori dibelakangnya. Sesampai di kasir keduanya mengumpulkan buku menjadi satu. "Biar aku saja" cegah Reksa melihat Ana membuka tas hendak mencari dompetnya. "Tapi kan... " belum sempat Ana melanjutkan kalimatnya, Reksa sudah menyela dengan berbicara pada kasir untuk menjadikan satu total belanjaan membuat Ana yang ingin menolak seakan sudah ditolak terlebih dulu. Reksa mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar. Ana hanya memperhatikan tanpa berkata apapun. Selesai mengucapkan terima kasih, keduanya berjalan keluar. "Mau makan?" Reksa menawari dan dijawab gelengan oleh Ana. "Aku sudah makan tadi dengan temanku" "Ehm, aku belum makan sejak pagi tadi. Apa kamu tidak keberatan jika menungguku makan sebentar saja?" Reksa tampak memohon agar Ana mau mengabulkan permintaanya. Ana mencoba berpikir sejenak, ia memang masih kenyang saat makan dengan Radit tadi dan pilihan menu kwitew termasuk makanan berat yang membuatnya masih kenyang. "Kamu tega melihat temanmu ini kelaparan?" Rajuk Reksa membuat Ana sedikit geli lalu ia pun mengangguk. Dipilihnya gerai makanan tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Gerai makanan ini memang cukup memiliki nama, terlihat banyaknya cabang di setiap pusat perbelanjaan daerah Samarinda pun jumlah pengunjung yang ramai. Reksa dan Ana duduk di meja yang terletak di sudut ruangan karena meja itu adalah salah satu yang memiliki kursi lebih panjang sehingga terasa lebih nyaman ditambah bantalan yang dapat dijadikan sandaran ketika menunggu pesanan. "Kenapa kamu melihatku sambil tersenyum begitu?" Tanya Ana yang kedapatan memperhatikan Reksa sambil cekikikan. "Hanya tidak menyangka saja Dok" Reksa mengernyit bingung dengan maksud kalimat Ana. "Jangan panggil aku Dok. Bukankah saat pertama kita kenalan kamu hanya memanggilku Reksa?" "Sebenarnya kita sudah pernah bertemu di Rumah Sakit sebelum kejadian malam itu" Reksa sedikit terkejut pasalnya ia merasa baru berkenalam dengan Ana saat dirinya terjebak hujan kemudian tiba-tiba saja ada gadis yang menggigil kedinginan tengah mencari kursi kosong hingga keduanya mulai berbincang. " Bukankah kita baru bertemu saat di warung nasi goreng itu?" Ana menggeleng. Reksa semakin bingung. "Aku pernah melihat Dokter sekilas saat di Rumah Sakit menunggu temanku Dini, yang bekerja disana" "Dan malam itu?" Reksa penasaran jika ia sudah pernah kenal dirinya berarti malam itu, pertemuan yang berujung perkenalan singkat adalah kesengajaan semata? "Itu sih memang gak sengaja Dok. Aku gak menyangka juga bisa bertemu kembali dan lebih tidak menyangka lagi adalah Dokter juga yang menabrak ku" Kekeh Ana yang membuat Reksa sedikit lega. "Mungkin kita berjodoh" Mendengar hal itu entah kenapa Ana langsung tertawa geli. Tidak menyangka kalimat gurauan itu keluar dari Dokter Reksa. "Kok malah tertawa Na?" Bingung Reksa dengan kalimat spontanya. Reksa pun seakan kurang menyadari arti kalimatnya barusan. Selama ini dia tidak selepas bersama gadis yang baru tiga kali ditemuinya. " Aku tidak menyangka ternyata Dokter bisa melawak juga. Ternyata tidak seperti yang dibicarakan Dini" "Dini? Maksudnya tidak sesuai?" Tanya Reksa tak sabaran. "Iya, Dini itu temanku yang kerja di Rumah Sakit tempat Dokter bekerja. Saat Dokter menabrakku kemaren, aku memneritahu kalau Dokter lah pelakunya" "Lalu yang tidak sesuai itu maksudnya apa?" "Dari cerita Dini, Dokter itu orangnya dingin, jarang bergaul dengan cewek padahal banyak loh yang naksir Dokter di Rumah Sakit situ" "Dan?" "Ya beda aja sama yang diceritakan Dini dengan apa yang ada dihadapanku. Dokter tidak dingin, ramah juga apalagi mau bayarin komik diskonan ku tadi" Reksa mengulum senyum dengan ucapan Ana barusan. Diakui Reksa selama ini ia memang tidak pernah menanggapi perasaan perempuan-perempuan yang terang-terangan menaruh hati padanya. Dia juga tidak pernah menghabiskan waktu berdua lagi, dengan perempuan. Dan entah kenapa semenjak bertemu dengan Ana ia merasa ia berbeda. Ia merasa Ana adalah teman yang benar-benar tulus atau mungkin ia akan berharap jika yang duduk dihadapanya kini merupakan perempuan yang berhasil menarik hati seorang Reksa yang telah lama tertutup. "Kadang, setiap orang memiliki sisi lain dalam dirinya yang tidak semua orang perlu tahu." gumam Reksa namun masih terdengar oleh telinga Ana. Tidak begitu diperdulikan pula oleh Ana karena pelayan sudah datang membawakan minuman pesanan mereka. "Jangan memanggilku Dokter Na, panggil nama atau 'kamu' seperti saat di Rumah Sakit kemaren. Kamu temanku, bukan pasienku" ada nada sedikit memaksa daru Reksa. "Tapi gak sopan kalo begitu" sergah Ana tidak terima pasalnya ia juga merasa tidak sopan terlebih Dini, juga memberitahu bahwa Reksa amat dihormati se agai Dokter kebanggan Rumah Sakit tempatnya bekerja. Reksa hanya diam membuat Ana terpaksa menyetujui "Iya deh aku biasakan panggil Reksa saja". -------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN