Mencoba

1526 Kata
Dua hari setelah Rima dan Hendra memberitahukan perihal perjanjian masa lalunya dengan sahabat dekat mereka, Ana masih saja mengurung diri didalam kamar. Keluar hanya untuk mengambil makan yang dinikmati didalam kamar ataupun ke kamar mandi yang memang hanya tersedia satu di lantai bawah. Dering telepon rumah menyadarkan lamunanya pada perkataan kedua orang tuanya tempo hari. Hatinya begitu kesal dengan keputusan sepihak dalam mengatur laju masa depanya. Seolah-olah dirinya tidak diperkenankan memilih sendiri jalan hidup terlebih soal pasangan hatinya. Dering telepon yang sedari tadi tak kunjung diangkat membuat Ana semakin kesal dan memutuskan turun kebawah untuk segera mengangkatnya. Terang saja telepon tersebut berbunyi tanpa ada yang mengangkatnya karena kedua orang tuanya sedang keluar entah kemana. Ana hanya mendengar Mama nya berpamitan pergi tanpa memberitahu tujuanya. "Hallo..." "..............." "Apa!" Pekik Ana kaget mendengar suara diseberang sana. ".............." "Baiklah, tunggu disitu" Ana menutup teleponya tergesa kemudian berlari membuka pintu rumah dilanjut dengan pintu gerbang. "Lama amat sih! Tidur ya?" Kesal perempuan yang tengah berdiri sambil memegang penarik kopernya. Ana tak menghiraukan oceh kesal perempuan itu karena yang ia inginkan adalah memeluknya erat melepas rindu. " Aku kangen Mbak" lirih Ana yang kini pelukanya semakin erat membuat Ani terkekeh menikmati pelukan adiknya. Adik satu-satunya yang tinggal jauh di kota ini meninggalkan dirinya bersama seorang Nenek di kota kecil di pulau Jawa. "Ayo masuk!" Ajak Ana sambil membantu membawakan koper milik kakaknya berjalan masuk beriringan. "Kamarnya masih belum dibersihin, taruh di kamarku aja Mbak" Ucap Ana begitu menyadari bahwa kamar kosong yang memang sering digunakan Ani ketika berkunjung ke rumah ini masih belum dibersihkan. Kedatanganya yang tiba'tiba dan tanpa diduga-duga membuat semua penghuni rumah ini tidak mempersiapkan apapun. Ana mengajak kakaknya menuju kamar miliknya. Selagi Ani mandi , Ana mulai membersihkan kemudian menata kamar yang terletak persis disebelah kamar miliknya di lantai atas. Ani memang jarang datang berkunjung ke rumah orang tuanya saat ini apalagi sejak usaha catering yang dikelolanya bersama sang  Nenek semakin ramai. Usaha yang dibuka sejak tiga tahun terakhir memang berkembnag cukup pesat mengingat keahlian memasak Nenek menurun pada Ani. "Mbak istirahat dulu aja, kamarnya udah aku bersihin tuh!" ujar Ana masih membawa kemoceng yang berpapasan dengan kakaknya di dapur. "Makasih Dek" Ana tersenyum membalas ucapan tulus kakaknya. Kakak yang terpisah jauh darinya sejak kepindahan kedua orang tua ke pulau ini. Entah alasan apa yang membuat dirinya harus berpisah dengan kakak satu-satunya. Sejak kecil mereka selalu bersama, meski perbedaan usia mereka tiga tahun lebih beberapa bulan, keakraban mereka jangan diragukan lagi. Ani sosok kakak yang amat menyayangi adiknya bahkan keduanya tidak pernah bertengkar seperti beberapa pasangan saudara yang kadang sering bertengkar memperebutkan sesuatu. Meski saat memasuki SMA, Ani harus tinggal berjauhan dengan adiknya karena ia memilih sekolah di Kota Pahlawan dan tinggal bersama Bibinya,tak jarang Ana diam-diam menangis saat malam sambil menelpon kakaknya.             ************************** "Ganggu gak?" Kepala Ani tiba-tiba sudah melongok mengintip adiknya yang tengah duduk selonjoran di kasurnya sambil bersender pada tumpukan bantal. "Masuk aja Mbak, aku cuma lagi lihat Ipin Upin nih" Ani tersenyum mendengar penuturan adiknya. Usia Ana boleh dewasa tapi pilihan filmnya masih anak-anak. "Sini" Ana menepuk-nepuk tempat kosong disebelahnya agar kakaknya duduk disana. " Gimana kelanjutan kisah kemaren?" Goda Ani sambil mengerling pada adiknta yang terlihat cemberut. Tempo hari saat pikiranya dipenuhi emosi karena keputusan orang tuanya yang mendadak perihal perjanjian untuk masa depanya, ia langsung menghubungi kakaknya. "Gak ada lanjutanya Mbak, aku menolak" Ani membelai rambut adiknya yang kini tiduran disampingnya. "Kenapa menolak? Kamu hanya perlu mencoba berkenalan dulu dengannya" "Kenapa bukan kakak saja yang dijodohkan denganya?" Ana begitu tidak terima jika perjanjian itu jatuh padanya. "Yang dapat wasiat itu kan kamu, anak kedua sama anak kedua. Kalau Mbak mau dijodohkan dengan sesama anak pertama nanti jadi pernikahan sesama jenis dong" Ana mengernyit bingung dengan maksud kakaknya. "Dia perempuan juga?" Ana memastikan dan Ani mengangguk. "Perjanjian itu dibuat setelah kamu lahir. Orang tua kita adalah sahabat mereka. Anak pertama mereka juga perempuan yang usianya sepantaran Mbak sedangkan adiknya seorang laki-laki. Maka dari itu perjodohan ini berlaku untuk anak kedua yang ternyata memang sudah sepasang". "Tapi aku gak mau menghabiskan seumur hidupku dengan orang asing" keluh Ana. "Makanya kenalan dulu siapa tahu cocok. Biar kita bisa barengan nikahnya" ucap Ani sedikit berbisik di kalimat terakhirnya.Ana yang tiduran sontak bangun dan menatap tak percaya pada sosok kakaknya. Kakak bicara mau nikah bareng? Apa itu bisa diartikan kode kalau kakaknya sudah menemukan tambatan hati karena selama diketahui Ana bahwa kakaknya tidak pernah memiliki kekasih sepanjang sepak terjangnya di usia remaja hingga kini. "Mbak juga korban perjodohan?" Tebak Ana yang langsung dijitak kepalanya oleh Ani. "Enak aja. Ini asli hasil dari perburuan" keduanya tertawa.                  ***************** Pagi ini tampak berbeda di ruang makan. Jika biasanya hanya ada Hendra, Rima dan Ana, kini sudah lengkap bersama Ani. Meskipun Ana masih tampak enggan membuka mulut pada kedua orang tuanya yang mencoba bertanya tentang skripsinya, namun tak menutup kemungkinan tindakan Ana untuk ikut sarapan bersama sudah tampak usaha Ani sedikit meredam emosi gadis itu. Apalagi jika mengingat beberapa hari lalu ia sempat mengurung diri di kamar. Selesai sarapan, seperti biasa Hendra akan berangkat kerja diantar istrinya. Setelah kepergian suaminya, Rima bergegas ke dapur. "Mama ke rumah Bu Ina dulu, kalian jaga rumah ya" Ani menjawab sedangkan Ana melengos pergi. Di rumah Bu Ina yang hanya berjarak satu rumah dari rumah mereka, tengah mengadakan persiapan acara Tasmiyah cucu pertamanya. Selain membantu persiapan, Rima juga ingin melihat bayi mungil nan cantik yang baru seminggi lalu dilahirkan. "Mbak..." Panggil Ana yang sedari tadi setelah orang tuanya berangkat dan ia pergi mandi, tak didapati keberadaan kakaknya. Setelah berjalan dari lantai atas ke lantai bawah sambil memanggil-manggil kakaknya, ternyata Ani tengah mengobrol di kursi teras rumah. Obrolan yang tampak mesra, Ana menebak mungkin itu dari kekasih kakaknya. Ani melihat adiknya yang berdiri disampingnya segera mengakhiri telepon dengan seseorang di seberang. "Pantesan dipanggilin gak denger ternyata lagi asyik pacaran sama Mas ipar" goda Ana yang dibalas kuluman senyum dan rona merah yang kentara di pipi Ani. Ana mendekati kakaknya untuk ikut duduk disampingnya. "Siapa namanya Mbak?" Tanya Ana penasaran pada calon kakak iparnya. " Faby, namanya Fabyan" "Pasti Mbak cinta banget ya sama dia?" Tebak Ana begitu mendengar sedikit percakapan Ani meskipun hanya kalimat terakhir dan itu sudah cukup membuktikan jika keduanya memang dipenuhi perasaan saling menyayangi. "Awalnya tidak, maksudnya Mbak sangat membencinya karena kami selalu berseteru" Ani menerawang pada kisah pertemuanya dengan Faby, pegawai bank yang waktu itu memesan nasi kotak untuk acara di tempatnya bekerja. Berawal dari kesalahan paket makanan yang tidak sesuai dengan saat memesan , membuat Faby marah-marah langsung kepadanya sebagai pemilik. Meskipun dirinya sudah meminta maaf dan akan mengganti kesalahan paket tersebut dan pegawai lain juga terima saja dengan kesalahan pihak catering mengingat tempat milik Ani sudah menjadi langganan setiap bank tersebut mengadakan acara dan letaknya juga dekat dengan bank, namun tetap saja Faby merasa kesal sehingga setiap dia kebagian memesan di tempatnya, ia akan sangat rewel menjelaskan detail pesanan dan selalu mengungkit kesalahan terdahulu. Dan suatu siang entah kenapa Faby datang mengambil pesanan nasi kotak dengan wajah penuh kekecewaan bahkan suaranya yang selalu pedas mengkritik tidak terdengar sama sekali. Belakangan baru diketahui jika pesanan nasi kotak tersebut digunakan kepala bank untuk mengundang para karyawan pada pernikahan beliau. Dan yang mengenaskan adalah calon istri bosnya itu adalah kekasih Faby. Terang saja dia kecewa pada kekasihnya yang lebih memilih menjadi istri kedua bosnya yang kelebihan harta dibanding dirinya yang tengah bekerja keras mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk mempersiapkan melamar kekasihnya. "Dan sejak patah hatinya itulah kami dekat hingga sekarang. Bulan depan Mbak akan dilamar" Ana begitu tersentuh dengan kisah kakaknya. Dan kabar akan dilamar itu membuat Ana merasa senang akhirnya kakak kesanyanganya akan segera melepas masa lajangnya. Bagaimana dengan kisahnya? Ana belum bisa berharap apapun. Semanis kisah kakaknya ataukah seburuk penghinaan yang diterimanya di rumah Reksa. " Mbak beruntung punya kisah cinta yang manis. Tidak seperti diriku yang hambar. Bahkan saat akan dimulai saja sudah dapat dibayangkan betapa suramnya" keluh Ana membayangkan dirinya akan menghabiskan hari-hari bersama orang asing dalam ikatan pernikahan. "Tidak Dek, kamu hanya tidak tahu bagaimana hancurnya Mbak dulu saat pertama kali mengenal perasaan itu. Dan kamu juga tidak bisa memastikan kehidupan yang akan datang sebelum benar-benar mengenal calon adik ipar" kekeh Ani menyebut calon adik ipar sambil mengedipkan kelopak matanya kearah Ana. "Kakak terlalu yakin sekali dengan orang itu" "Yakin, karena pilihan Mama untuk menerima perjanjian itu sudah dipikirkan matang-matang. Meskipun perjanjian itu dibuat saat  Mbak dan kamu masih kecil, namun Mama dan Papa baru menyetujuinya tujuh tahun lalu" Ana tampak kaget kenapa ada jeda waktu yang cukup lama untuk orang tuanya memberi keputusan. "Kenapa baru diterima setelah cukup lama perjanjian itu dibuat?" "Karena tujuh tahun lalu Mbak mengalami sebuah kejadian teramat tragis dalam hidup Mbak" ucapnya sambil menerawang dengan tatapan penuh luka. "Kejadian?" Ulang Ana. "Kejadian yang pada akhirnya membuat kita tinggal terpisah. Kejadian yang membuat Mama dan Papa menerima perjanjian tersebut untuk melindungimu agar tidak mengalami kisah tragis seperti Mbak" jelas Ani pilu. Matanya kini mulai basah. Dengan sigap Ana memeluknya. Entah apa yang terjadi tujuh tahun lalu hingga membuat kakaknya saja menangis dan tampak sangat terluka jika mengatakanya dan membuat orang tuanya melindunginya dengan jalan menyerahkan masa depanya pada orang lain? Pasti ada hal yang amat penting mengingat Hendra, Papanya adalah orang yang sangat disiplin, memperhitungkan segala hal dengan cermat. Baiklah jika untuk tahap perkenalan saja ia sanggup melaksanakan. Ia akan mencoba berkenalan dengan masa depanya. ----------------------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN