Seberapa lama kamu mengenal seseorang ternyata tidak cukup menjawab pertanyaan 'bagaimana perasaanmu' dengan mudah.
Pertemuan singkat diiringi perasaan tak lazim yang terasa getir membuat Reksa mengepalkan tanganya sedari tadi diatas setir mobil ketika melihat gadis itu, gadis yang mengusik harinya yang teramat membosankan dengan rutinitas pekerjaan pun hatinya yang teramat sepi.
Memangnya kenapa jika dia tertawa bersama orang lain? Bukankah dia juga memiliki kehidupan pribadi?
Reksa menepis kemungkinan lain yang memaksa batinya memberontak. Menatap lagi gadis yang masih duduk disana, bersama teman atau mungkin kekasihnya, dengan perasaan pilu. Seperti ada jurang perbedaan yang kentara dilihat, bagaimana ia tertawa, bagaimana ia bersenda gurau dengan seseorang yang duduk disampingnya dengan piring yang hampir habis di tangan masing-masing.
Reksa menutup matanya sejenak kemudian kembali menatap jalan raya dihadapanya yang terlihat ramai. Dengan gerakan pasti, ia menyalakan mobilnya segera beranjak dari tempatnya berhenti saat ini.
Hari mulai gelap, jalanan pun masih ramai dipenuhi kendaraan yang lalu lalang. Jam pulang kerja seperti saat ini memang selalu dipenuhi dengan kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, taksi maupun bus yang mengangkut para pekerja tambang.
Tak berapa lama kemudian ia sampai di rumah orang tuanya. Dengan dua kali tekan pada klakson mobilnya, seorang satpam tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang. Begitu terbuka, Reksa segera memasuki halaman rumahnya perlahan dan memarkirkanya didalam garasi.
Garasi tersebut cukup besar karena sanggup ditempati empat buah mobil, miliknya hanya satu sedangkan tiga lainya milik orang tuanya. Terlalu berlebihan bukan mengingat di keluarganya hanya beranggotakan tiga orang.
Dengan langkah lelah Reksa mengetuk pintu beberapa kali hingga terbuka oleh tangan asisten rumah tangga yang mulai renta.
"Papa sudah pulang Bi?" Tanya Reksa begitu Bi Asih menyambutnya dan dengan sigap membawakan tas kerjanya.
"Belum" jawabnya ramah yang kini berjalan dibelakang Reksa.
Diliriknya sekilas kemudian berlalu melewatinya tanpa berlama-lama memandang wanita yang tengah duduk di sofa sambil menyesap green tea dari cangkir bening. Tidak perlu bertanya apa yang tengah disesapnya penuh hati-hati tersebut karena siapapun di rumah ini sudah hafal diluar kepala minuman apa yang wajib disajikan kepada Nyonya rumah ini.
"Tidak seperti biasanya" gumam Monica tanpa melirik sedikitpun pada putra tunggalnya yang menghentikan langkah melirik lewat ekor matanya.
"Memangnya apa yang Mama harapkan? Semua yang aku lakukan bukankah selalu salah di mata Mama?" balas Reksa dingin.
Ia lelah pada sikap otoriter Mamanya. Bahkan Papa, seorang kepala keluarga yang harusnya memegang kendali tidak sanggup mengurangi sikap otoriter serta arogansi istrinya. Mungkin jika Papa berasal dari keluarga berada akan lain ceritanya. Namun sayangnya, keluarga Mama yang tersohor dengan bisnis property yang merajai hampir sebagaian wilayah Indonesia membuat sifat Mama mendominasi dalam segala hal di keluarganya saat ini.
"Jaga sikapmu sebagai keturunan Prakarsa" Reksa tak menggubris dan memutuskan melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Lantai atas memang dikhususkan untuk jejeran kamar serta ruang kerja miliknya dan milik Papa.
Dihempaskan tubuh lelahnya diatas ranjang bersprei navy polos miliknya. Perasaan geram tadi belum juga reda ia sudah dihadapkan pada sikap bossy sang Mama yang membuatnya semakin ingin meluapkan emosinya seketika.
Ariana
Ia menyebut nama perempuan yang mencoba memasuki gerbang hatinya. Masih diambang namun rasanya seperti sudah jauh kedalam, menetap lama.
Apakah ia cemburu melihat kedekatan Ana dengan lelaki lain?
Apakah perasaan tidak rela, memanas dan menyulut emosi dapat dikategorikan dalam definisi cemburu?
Jika iya, lalu apa haknya cemburu pada seorang kenalan kemudian menjadi teman yang satu bulan saja belum genap masa perkenalanya?
Memikirkan terlalu dalam membuat matanya terpejam dengan sendirinya.
***
"Maaf Dok, apakah disini kosong?" Tunjuk Dini dengan bola mata serta gerakan dagunya pada kursi kosong disebelah Reksa. Mendongak sejenak ia tersenyum basa-basi dan mengangguk sehingga Dini segera mendudukan dirinya di bangku kosong tepat berhadapan dengan Reksa. Dini girang bukan main sedangkam Reksa hanya mengangkat bahunya acuh.
Reksa mengedarkan pandangan melihat apakah memang kursi lain sufah penuh sehingga perawat itu memilih duduk dihadapanya, dan benar saja. Seluruh kursi terlihat penuh, maklum saja karena saat ini adalah jam istirahat makan siang.
Keduanya menikmati makanan yang tersaji masih dengan diam hingga Dini memulai percakapan dengan pertanyaan umum.
"Dokter apa kabar?" Tanya Dini ragu pasalnya Reksa sedari tadi hanya diam saja menikmati makananya.
"Baik, seperti yang kamu lihat" jawab Reksa acuh.
"Ehm, Dokter ..." belum sempat Dini menyelesaikan kalimatnya, Reksa menatapnya risih membuat Dini seketika menghentikan ucapanya, takut Reksa tidak nyaman.
"Habiskan makanmu baru bicara" sela Reksa yang kemudian diangguki Dini sedikit takut dengan reaksi Reksa barusan.
Baru sekarang Dini berani menyapa seorang Dokter Reksa yang dikenal antipati terhadap perempuan. Mau bagaimana cantiknya atau cerdasnya perempuan yang mendekati atau sekedar disarankan untuk mengenal lebih jauh sosoknya, tidak pernah ditanggapi serius, meskipun ia selalu ramah karena pada mereka karena Reksa bukan orang yang dingin dan arogant.
Seperti angin lalu, sewajarnya berkenalan, bercakap atau bertukar pengalaman, itulah yang dilakukan Reksa ketika menghadapi setiap perempuan yang berusahan mendekatinya. Pun pada perempuan-perempuan yang ditawarkan padanya oleh orang tua kolega bisnisnya.
Tidak menerima ataupun menolak tapi melihat keramahan Reksa yang terkesan hanya sekedar bentuk rasa profesionalitas saat berkenalan sudah memberikan jawaban bahwa, perempuan-perempuan itu belum memenuhi standarnya sehingga selalu ditolak. Dan entah seperti apa standar dan kriteria perempuan yang diinginkan Reksa, belum ada satupun yang tahu.
"Oh ya, bukanya kamu temanya Ana?" Tanya Reksa begitu ia selesai dengan suapan terakhir dan hendak meneguk minumanya.
"Eh iya Dok, Ana teman saya"
"Apa dia sudah punya kekasih?" Tanya Reksa langsung mengingat rasa penasaran pada laki-laki yang dilihatnya kemaren begitu mengganggu pikiran.
"Belum, sepertinya memang dia tidak berniat memiliki kekasih dalam waktu dekat" jawaban Dini entah mengapa membuat hatinya lega.
"Kenapa?" Reksa seakan ingin tahu lebih jauh.
"Mungkin karena dia sedang fokus dengan semester akhirnya" Reksa ingat jika Ana memang tengah mengerjakan tugas skripsinya dengan meneliti sebuah Bank swasta.
"Owh" Gumam Reksa dengan alasan Dini barusan.
Jadi belum tentu juga laki-laki itu kekasihnya, bisa jadi hanya teman saja.
Reksa mulai berpikir positif pada dugaanya. Ana belum memiliki kekasih saja ia girang dan lega luar biasa. Jangan sampai ia berprasangka yang bukan-bukan sebelum bertanya langsung pada orangnya.
"Dokter kok melamun?" Suara Dini menyadarkannya dari lamunan.
"Ehm, sepertinya aku harus kembali. Sampaikan salamku buat Ana ya" Reksa melirik jam di pergelangan tangan kirinya kemudian berdiri.
Dini yang melihat Reksa hendak berdiri seketika menyahut " Dokter sudah selesai?" Reksa mengangguk sambil tersenyum ramah seperti biasa penuh basa-basi.
"Iya, dan jangan sampi lupa pesanku" selesai dengan kalimat terakhirnya, Reksa bangkit dan berjalan meninggalkan Dini yang merasa kesal.
Ana
Dini merasakan aura panas mulai menyelimutinya saat ini, kuah bakso yang pedas terasa lebih panas saat mulut Dokter incaranya dan seluruh kaum hawa penghuni Rumah Sakit ini, tengah menitip salam untuk seorang perempuan.
Dan dengan mata berbinar-binar pula saat mengucapkan nama perempuan yang menjadi sahabatnya itu sedikit membuat Dini merasa tidak rela. Dini sedikit membanting garpunya kesal. Susah payah ia datang sedikit terlambat ke kantin agar kursi penuh hingga ia dapat memberikan alasan duduk berdekatan dengan Reksa, dan susah payah pula ia merapikan make up untuk melirik Reksa tapi kenyataanya dia, Dokter Reksa malah menitipkan salam untuk perempuan lain.
***
"Ada angin apa kamu datang kesini?" Heran Ana begitu keluar dari Bank sore itu didapatinya Reksa tengah berdiri bersandar di mobilnya.
"Ingin menjemputmu, sesekali" jawab Reksa melihat raut keheranan di wajah Ana.
"Menjemputku? Tumben seorang Dokter Reksa bersedia menjemputku" goda Ana yang tidak ditanggapi Reksa, justru Reksa langsung menarik lengan Ana untuk masuk kedalam mobil.
"Loh beneran ini" Ana masih belum percaya jika Reksa memang benar-benar menjemputnya. Dia pikir tadi Reksa hanya mampir.
"Pasang sabuknya Na!" Tegur Reksa yang membuat Ana segera memasangkan pada tubuhnya.
"Mau langsung pulang atau...."
"Ke tempat Dini mau ambil flashdisk, gimana?" Sahut Ana menatap Reksa disampingnya.
"Oke, bisa diatur" Jawab Reksa sembari tersenyum dalam batin.
"Emang gak papa kalau mampir dulu? Maksudnya kamu gak lagi sibuk di Rumah Sakit gitu"
"Dokter di Rumah Sakit itu bukan hanya satu, lagipula jam kerjaku memang sampai sore. Siang hingga sore ada Dokter lain yang bergantian denganku" jelas Reksa ditanggapi Ana manggut-manggut.
"Aduh lupa!" Pekik Ana tiba-tiba membuat Reksa ikutan panik.
"Kenapa Na?"
"Eh gak papa kok cuma ini loh lupa kasih tahu Radit kalau aku sudah ada yang jemput" Ana menjawabnya sambil mengetikan sebuah pesan di ponselnya.
"Radit?"
"Sopir ojek langgananku"
Reksa menyimpulkan jika yang dilihatnya kemarena adalah sopir ojek yang bernama Radit itu. Jelas ia merasa lega ternyata memang Ana belum menjalin hubungan serius dengan laki-laki manapun.
"Kenapa pakai ojek, bukanya kamu bisa naik motor?"
"Sejak kecelakaan kemaren Papa melarangku mengendarai motor dulu" ada raut sedih dan kecewa membuat Reksa merasa bersalah. Bagaimanapun juga salah satu penyebab Ana belum diperbolehkan mengendarai motor adalah karenanya.
"Sorry ya Na, gara-gara aku jadi begini" Reksa merasa at bersalah.
"It's ok gak masalah juga. Santai saja aku juga senang gak naik motor ke Bank. Capek tahu gak sih tiap hari datang pagi pulang sore. Aku kuliah aja jarang ambil kelas pagi, macetnya itu loh ampun!" Reksa tertawa melihat ekapresi Ana yang memegang kepalanya dengan mengepalkan kedua tangan kemudian ditempelkan pada pelipis. Benar-benar menggemaskan.
"Ini jalanya kemana lagi?" Ana kembali fokus pada jalan menuju kontrakan Dini. Terang saja Reksa bertanya, dia belum pernah kesana.
"Eh udah Suryanat ternya ni, tuh tuh gang depan belok" tunjuk Ana pada sebuah gang yang ada didepanya.
Begitu sampai didepan rumah Dini, Ana segera membuka pintu mobil Reksa " Aku bentar aja" kemudian ia sedikit berlari.
Ana mengetuk-ngetuk pintu rumah kontrakan Dini sampai wajah sahabatnya menyembul dengan muka bantalnya.
"Eh kamu Na, masuk!" Masih dengan suara paraunya karena ia memang sedang tidur.
"Flasdisk ku ketinggalan disini gak? Itu loh yang isinya film " Dini tampak berpikir sejenak kemudian ia mengangguk.
"Ada tuh di kamar, masuk ambil sendiri" Ana menoleh pada mobil Reksa. Dilihatnya si pemilik tengah meneguk air mineral sambil berdiri sedikit bersandar di mobil. Melihat Reksa masih disana ia akhirnya masuk.
"Kamu sama siapa kesini?" Tanya Dini begitu melihat ada mobil di depan kontrakanya tapi tidaj memperhatikan lebih jauh.
"Sama Dokter Reksa, tadi dia jemput aku di Bank" jawab Ana santai sedangkan Dini langsung kaget bukan main.
Seorang Dokter Reksa menjemput sahabatnya?
"Ah ini ketemu" pekik Ana girang saat menemukan benda kecil yang dicarinya.
"Aku langsung pulang Din, silahkan dilanjut boboknya" kekeh Ana yang tidak ditanggapi sama sekali oleh Dini. Ia begitu kaget mendengar Dokter Reksa menjemput Ana.
Ana keluar kamar diikuti Dini. Ia ingin memastikan apakag Reksa yang dimaksud Ana adalah Dokter Reksa yang dikenalnya apa bukan. Sesampai didepan rumah, Ana melambai kemudian sedikit berlari menuju mobil yang terparkir. Seorang laki-laki masih dengan jas putihnya membuka pintu untuk Ana masuk seraya tersenyum.
Benar, laki-laki itu memang Dokter Reksa.
Seketika tangan Dini mengepal, sudut hatinya terasa terbakar. Matanya memandang sinis pada mobil yang kini melesat pergi, terutama pada orang yang duduk didalam mobil tersebut.
-----------------------------------------