Lembaran Baru

420 Kata
Bagaimana jika suatu pagi kamu terbangun dan mendapati bahwa hidupmu berubah drastis? Ketika tak lagi kau dapati pelukan hangat yang menemani malam-malam sepimu? Saat tak ada lagi wajah yang menatapmu dengan pandangan memuja. Berat! Mengetahui bahwa separuh jiwa mu pergi dan tak akan pernah kembali. Itulah yang sedang aku alami. Perpisahan karena kematian.  Suami yang begitu mencintaiku meninggalkanku dengan dua balita yang menjadi tanggung jawabku penuh. Kehilangan? Sudah pasti. Jangan tanya bagaimana rasanya. Terbayang akan beratnya hari-hari yang akan aku lewati bersama mereka. Entah bagaimana nanti jika mereka menanyakan Ayahnya padaku.  Alarm di ponselku berbunyi nyari, menandakan sekarang sudah jam 4 dini hari. Dengan mata masih terpejam aku meraba-raba mencarinya dan segera mematikannya. Sudah dua bulan berlalu, rasanya aneh. Biasanya dia yang akan membangunkan aku dan segera menyuruhku mengambil air wudhu. Sekarang. Aku harus melakukannya sendiri, bahkan alarm yang harus membantu membangunkanku.  Bergegas aku melangkah ke kamar mandi. Kukerjakan semua dengan cepat, dinginnya air yang menampar wajah segera membuat mataku membuka lebar. Selesai melaksanakan kewajibanku, aku berjalan ke dapur. Membuka kulkas dan melihat isinya. Kulihat satu pak kopi instan yang masih utuh. Ah, buru-buru ku tutup kembali kulkas sebelum air mataku mengenang.  "Kamu lapar nduk?" terdengar suara ibu memasuki dapur. Di tatapnya wajahku yang binggung di depan kompor. Aku hanya menganguk mencoba menghilangkan kecurigaannya padaku.  "Sebentar ibu hangatin dulu lauknya ya. Kayaknya nasi di magic com masih ada. " katanya lagi sambil tangannya terambil mengerjakan ini itu. Melihat ibu yang sepertinya tidak butuh bantuanku aku memilih duduk di kursi makan.  Lima belas menit berlalu, sepiring nasi yang masih mengepul lengkap dengan ayam goreng dan sambal lalapan terlihat sangat mengoda. Padahal ini masih pagi, tapi Ibu sudah memberiku makanan berat.  "Makan dulu, mumpung masih hangat. Enak."ucapnya seraya menyodorkan segelas air minum. Aku mulai menyendok nasi di piringku, saat ku rasakan ada yang mengeser kursi di sebelahku. Ayah. Masih memakai sarungnya beliau duduk dan meminta Ibu membuatkan teh untuknya. "Kemarin Pak Sholeh telepon Bapak, tanya apa boleh Adnan dibawa kesana? Mereka kesepian. Dan biar kamu juga gak repot katanya?" Pak Sholeh itu mertuaku, Ayah Bang Saif.  "Ayah jawab apa?"aku balik bertanya pada ayahku tanpa menatap wajahnya.  "Ya ayah bilang Ayah tanya kamu dulu." terdengar suara ayah menyeruput teh nya. Ku telan butiran nasi dengan sambal yang ternyata cukup pedas.  "Kalau kamu mengijinkan mereka sore ini mau kesini, jemput Adnan." lanjut Ayah lagi. "Iya yah, biar Mentari nanti telepon mereka." putusku kemudian. Aku berdiri dan membawa piring kotorku ke tempat cucian. Meninggalkan orang tua ku yang sedang berbincang dimeja makan dan memilih untuk masuk kamar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN