Rahmadi bergidik mendengar penjelasan Ki Wacito, sepertinya memang sangat berbahaya jika ia ikut-ikutan bertindak gegabah. Seketika Rahmadi merasa tidak enak hati karena sempat berburuk sangka pada Ki Wacito, padahal kakek itu hanya mengupayakan keselamatan Rahmadi.
“Aku rasa kau sudah tahu konsekuensinya, aku berharap hal ini menjadi pengingat bagimu agar tidak tergesa-gesa,” ujar Ki Wacito sambil menatap Rahmadi. Ki Wacito pernah memeiliki seorang putra, jika saja putranya masih hidup, mungkin anaknya itu akan seusia Rahmadi. Sayang sekali karena anak semata wayangnya itu adalah korban dari kerakusan Ki Wacito sendiri.
“Besok pergilah ke rumah salah seorang warga, minta mereka untuk membelikanmu bunga tujuh rupa dan kelapa gading.” Perintah Ki Wacito kemudian.
“Besok, Ki? Bukannya saya masih harus berlatih?” Rahmadi menyampaikan isi pikirannya.
“AKu hanya akan melakukan penyucian batin untukmu. Menurut perhitungan wetonmu, lusa adala hari yang paling baik untukmu.”
Sesuai dengan perintah Ki Wacito semalam, pagi ini Rahmadi menyusuri jalanan menurun menuju rumah salah satu penduduk. Tuan rumah mengenali Rahmadi sebagai pemuda yang sempat singgah beberapa hari lalu untuk meminta air, Rahmadi segera menyampaikan permintaannya yang disanggupi dengan mudah oleh warga. Selesai dengan urusannya, Rahmadi segera pamit. Masih ada beberapa persiapan yang harus ia lakukan. Salah satunya menggali lubang sedalam dua meter di belakang rumah Ki Wacito. Sejujurnya, menggali lubang buknalah hal yang sulit karena Rahmadi sudah sering melakukan pekerjaan itu, satu-satunya yang menyulitkan adalah fakta jika tanahnya lebih keras dari hari kemarin. Selama menggali beberapa kali cangkul Rahmadi menghantam batu yang cukup besar. Ia sudah berkali-kali berganti tempat menggali, namun cangkulnya tetap saja terkena batu. Sesuatu yang mengherankan, karena saat Rahmadi mencabut singkong kemarin tanahnya jelas tidak sekeras ini.
Peluh mengucur di tubuh Rahmadi, ia sudah menggali cukup lama namun lubangnya masih kurang dari 2 meter. Di saat lelah seperti ini, Rahmadi membayangkan Laila. Pemuda itu membayangkan kehidupan menyenangkan yang akan ia jalani bersama Laila, dengan demikian semangatnya pun terpacu kembali.
***
Malam datang dengan cepat, Rahmadi duduk bertelanjang d**a di halaman belakang rumah dengan dupa menyala di depannya. Pemuda itu duduk bersila sementara matanya fokus menatap asap dupa, di sampingnya tampak Ki Wacito tengah merapal jampi-jampi, sementara tangannya sibuk mengaduk air di dalam gentong tanah liat. Ki Wacito mengambil segengam bunga dari nampan lalu mencampurkannya ke dalam gentong sambil terus merapal doa. Malam ini Rahmadi akan memulai ritual untuk memikat bangsa jin. Keris Semar Mesem tidak bisa diciptakan di dunia manusia, sebuah fakta yang baru Rahmadi ketahui beberapa saat lalu. Keris Semar Mesem diberikan sebagai hadiah dari bangsa jin kepada pengikutnya. Karena itu, Rahmadi harus lebih dulu membuktikan kesetiannya.
Ki Wacito menaburkan bunga di sekitar lubang yang digali Rahmadi seharian tadi. Ki Wacito membelah sebuah kelapa gading lalu memercikan air kelapa ke dalam lubang. Angin dingin berhembus menyebarkan wangi kemenyan, Rahmadi menyadri bulu kuduknya berdiri. Dalam situasi normal, pemuda itu akan lari ketakutan, Tetapi, tidak kali ini. Rahmadi sudah meyakinkan niatnya untuk menjadi pengabdi bangsa jin.
“Kamu sungguh sudah yakin?” Tanya Ki Wacito sambil memegang gayung, dengan satu anggukan mantap Rahmadi menunjukkan kesungguhanya. Ki Wacito mulai menciduk air di gentong dan disiramkan ke seluruh tubuh Rahmadi dimulai dari bagian kepala. Rahmadi berjengit karena dingin tapi ia tetap dalam posisinya, ia merapatkan giginya yang bergemeletuk. Ki Wacito masih melanjutkan menngguyur tubuh Rahmadi, dukun itu memastikan setiap bagian tubuh rahmadi sudah terkena air bunga. Selesai dengan mandi, Ki Wacito membimbing Rahmadi untuk berbaring di dalam lubang. Ki Wacito mulai menimbun tubuh seluruh tubuh Rahmadi dengan tanah, hanya menyisakan bagian leher ke atas yang tidak tertimbun tanah.
“Kamu akan bertapa dalam posisi ini selama tiga hari tiga malam. Selama itu pastikan untuk tidak tidur, mungkin akan ada beberapa rintangan atau halangan. Hanya kesungguhan niatmu yang mampu menjadi penyelamat. Namun, ingatlah untuk tidak serakah dan mencoba mengambil sesuatu yang bukan milikmu.” Pesan Ki Wacito setelah selesai menutupi seluruh tubuh Rahmadi.
“Terima kasih bantuannya, Ki.”
“Cobalah untuk mengosongkan pikiranmu tapi jangan sampai engkau tertidur.”
Setelah berpesan demikian, Ki Wacito mulai membereskan gentong tanah liat dan nampan. Sementara dupa hanya dipindahkan menjadi lebih dekat dengan Rahmadi.
Sementara Rahmadi memulai ritualnya, di tempat lain Laila tengah merapikan kamar indekost yang akan ia tempati setahun ke depan. Setelah beberapa persiapan, Laila akhirnya berangkat ke kota Solo. Butuh enam jam perjalanan naik mobil dari Desa Sukatani, beruntung Bagus berbaik hati menjemput gaids itu. Bagus jugalah yang mencarikan indekost yang lokasinya strategis untuk Laila tempati, kehadiran Bagus yang akan selalu membantu Laila juga membuat Ayah Laila lebih tenang. Orang tua Bagus juga tampak sangat menyayangi Laila, ibu Bagus bahkan menawari Laila untuk tinggal di rumahnya daripada indekost. Bagus memang tinggal terpisah dengan orang tuanya karena lebih dekat ke tempat kerja, jadi mereka tidak perlu khawatir omongan tetangga karena Laila tinggal di sana. Laila tentu menolak ide itu, ia justru tengah berusaha membatalkan pernikahannya dan Bagus, Laila akan merasa semakin berdosa jika ia terus menerima kebaikan keluarga Bagus.
“Aman semua, Dik.” Bagus menyerahkan kunci indekost ke tangan Laila setelah memeriksa seluruh bagian indekost. Lelaki itu juga membawakan koper besar Laila ke dalam kamar, sementara Laila sendiri menunggu di teras.
Malam memang sudah cukup larut, Bagus tidak ingin ada omongan tidak baik tentang ia dan Laila karena dianggap berdua-duaan.
“Mas beli makan malam dulu. Kamu mau makan apa?”
“Sudah malam gini yakin masih ada yang jualan, Mas?” Tanya Laila saat menengok jam di tangan kanannya.
“Paling nasi goreng atau angkringan, Dik. Kamu mau apa?”Tanya Bagus sambil tersenyum manis. Senyum yang membuat kadar ketampanan Bagus meningkat beberapa kali lipat, meski hal itu tidak berlaku bagi Laila.
“Seketemunya yang paling dekat aja, Mas.”
Bagus menganguk lalu berlalu, sementara Laila memutuskan mengambil sapu untuk membersihkan indekostnya yang terdiri dari tiga ruangan. Ruangan depan, sudah berisi dua buah sofa, satu meja kecil, ldipan berukuran sedang dengan sebuah televisi di atasnya. Ruangan kedua akan Laila gunakan sebagai kamar tidur, ruangan itu sudah dilengkapi dengan sebuah ranjang berukuran sedang, lemari baju, lemari buku yang menyatu dengan meja belajar. Ruangan paling belakang adalah dapur yang sudah dilengkapi beberapa perabotan siap pakai. Semua itu disiapkan oleh ibunya Bagus, wanita itu memastikan Laila tinggal dengan nyaman selama di Kota Solo.
Laila memang sudah mengenal keluarga Bagus sejak dulu, ia sering membantu ibunya Bagus yang memiliki usaha kue sebagai tambahan uang jajan. Laila juga bisa bermain catur, hal ini yang membuat Laila mudah akrab dengan ayahnya Bagus. Orang tua Bagus sejak awal sudah menyukai Laila, tentu saja mereka sangat senang saat Bagus menjelaskan niatnya untuk meminang Laila sebagai istri.
Laila baru selesai menata sebagian pakaiannya saat terdengar deru mobil. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk.
“Dik, ini Mas.” Bagus memang berpesan untuk menutup pintu karena berbahaya bagi Laila yang sendirian.
“Loh?” Laila kebingungan saat keluar, selain Bagus juga ada seorang laki-laki dan dua wanita yang Laila tidak kenal.
“Ini adik tingkat Mas sewaktu kuliah dulu. Kebetulan ketemu pas beli nasi goreng tadi, mereka kost di dekat sini, loh, Dik. Mas sudah nitipin kamu ke mereka,” ujar Bagus menjelaskan. Laila tersenyum dan menyalami tiga orang itu.
“Saya Tia,” ujar gadis yang paling tinggi.
“Aku Dian, Mbak.” Laila menyalami gadis kedua yang menggunakan kaca mata.
“Aku Danang, Mbak.”
“Laila,” ujar Laila smabil menyalami ketiganya.
“Sudah kan kenalannya? Mas lapar banget ini,” gurau Bagus dan ditanggapi tawa ringan yang lainnya.
Kelimanya duduk lesehan di ruang depan, Laila memutuskan untuk mengelar tikar karena ubin terasa dingin. Mulanya mereka akan makan di depan saja tapi terlalu banyak nyamuk, akhirnya Laila mengusulkan mereka makan bersama di ruang depan. Selesai makan, mereka berbincang-bincang, Laila memutuskan menjadi pendengar cerita Danang yang menceritakan keluhannya sebagai pegawai magang. Hampir setengah 12 malam ketika mereka akhirnya pamit. Indekost ketiganya berada di dalam gang, Laila bahkan bis amelihat pintu depan kost Tia dari mulut gang yang tepat berada di samping indekostnya.
“Mas juga pulang ya, Dik. Besok sore baru bisa ke sini, nanti Mas minta ibu ke sini biar kamu nggak kesepian.” Laila menggeleng.
“Aku aja yang besok ke rumah, Mas. Nunggu selesai beres-beres dulu, aku juga kayaknya bakal bangun siang ini. Capek juga ya ternyata, padahal aku Cuma duduk.” Keluh Laila sementara Bagus tersenyum.
“Ya baiknya menurut kamu aja, Dik. Jangan lupa kunci pintu dan jendela.” Laila menganguk mengerti. Sepi terasa setelah mobil Bagus menghilang di ujung jalan. Laila tiba-tiba merindukan Rahmadi, entah apa yang tengah dilakukan kekasihnya itu.