Rumah Baru

1013 Kata
Setelah beberapa hari menginap di hotel, Leonard pun memutuskan untuk pulang ke rumah dengan membawa Laura bersama dengannya. Rencananya mereka akan melakukan perjalanan bulan madu keluar negeri untuk merayakan pernikahan mereka. Akan tetapi, leonard tidak mau pergi kemana-mana, ia sempat berkata jika perasaannya sedang tidak enak, ia takut jika pesawat yang ditumpanginya tiba-tiba jatuh dan ia menjadi duda. Begitu juga dengan Laura, suasana hatinya sedang sangat buruk sejak menikah. Mana bisa ia bersenang-senang saat Adrian terluka dan patah hati karena Laura telah mengkhianatinya. Mulanya Laura menduga jika setelah menikah mereka akan tinggal di rumah mertuanya, mengingat jika ia adalah seorang anak tunggal di keluarganya, juga sikapnya yang mirip bayi gorila pastinya ia tidak akan mau jauh dari kedua orang tuanya. Pada mulanya Bastian, Papanya juga mengira jika mereka akan tinggal di kediaman mewahnya. Namun, Leonard sendiri tidak mau pulang ke rumahnya bersama dengan Laura. Dan memilih untuk tinggal di rumah barunya yang telah disiapkannya sebelum ia menikah. Rumah yang telah dibelinya entah kapan. Hal ini justru membuat kedua orang tua Leonard terkejut karena mereka tidak akan tinggal bersama di rumah itu, tadinya jika Laura dan Leo tinggal di rumah itu akan memudahkan mereka untuk mengawasi sikap Leonard. Mengingat jika putra mereka adalah seorang yang berbeda. Berbeda dalam arti lain tentunya, yang terkadang jalan pikiran dan tindakannya tak pernah bisa ditebak. "Kenapa aku tidak tahu kalau anak itu membeli sebuah rumah?" Bastian terkejut saat mendapat kabar jika hari ini Leo pulang ke rumah barunya. Padahal ia sudah merancang kehidupan Leon selanjutnya, tapi putranya itu malah melakukan hal yang berada diluar rencana. Jika begini sia-sia semua rencana yang sudah dirancangnya sedemikian rupa. Jika ia tahu sebelumnya mungkin ia akan mencegah Leo melakukannya. Pria dihadapannya menundukkan kepala lalu meminta maaf pada Bastian, "Maaf Tuan kami benar-benar melewatkan hal penting ini." ternyata Leonard benar-benar menutup aksesnya agar tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang saja yang ia rencanakan. Leo tidak ingin kehidupannya disetir oleh orang lain, dan ingin melakukan apapun yang ia inginkan tanpa pengawasan. Bastian mengibaskan tangannya lalu meminta pria itu untuk pergi. "Pergilah dan cari hal apalagi yang disembunyikannya." pria itu mengepalkan tangan mencoba menahan diri untuk tidak melempar apa saja yang ada di depannya pada anak buahnya itu. "Rupanya dia satu langkah lebih maju darimu." pria yang sejak tadi mendengarkan percakapan Bastian itu turut berkomentar tentang keputusan yang diambil Leonard. Bastian tidak menjawab, ia mengambil secangkir kopi lalu meminumnya sedikit. "Sepertinya selama ini aku telah salah menduga, dia tidak seperti yang aku bayangkan." pria itu menyandarkan punggungnya menatap kosong kedepan. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Pria tadi yang bersama dengannya hanya mengangkat bahunya acuh, "Entahlah, bukankah selama ini aku sudah mengingatkanmu kalau Leonard adalah orang yang sulit ditebak. Dia tampak baik, ramah dan menjadi orang yang sangat menyenangkan. Tapi ... dia punya sisi lain yang tidak kau tahu." "Dari mana kau bisa tahu jika Leonard bukanlah anak baik yang selama ini aku pikirkan?" tiba-tiba saja Bastian bertanya pada kolega sekaligus sahabatnya itu. Pria bernama Roy menatap balik sahabatnya, "Aku melihatnya ..." "Melihat apa?" "Tatapan matanya selalu tampak aneh, dan jika ia bersikap ramah pada orang setelahnya ia selalu membuang muka dan tampak kesal. Tidak ada yang menyadarinya hanya menurutku dia aneh." jawab Roy. "Jangan katakan anakku aneh, aku tidak suka." Roy mengangkat kedua tangannya sambil tertawa, "Maafkan aku." Bastian hanya mendelik dan tidak bicara lagi, pikirannya sedang tertuju pada putranya, Leonard. Berharap jika ia memperlakukan istrinya dengan sangat baik dan tidak pernah menyakitinya. Harapannya hanya Laura, semoga ia bisa menjadi orang yang bisa mengendalikan Leonard. Dan mampu mengubahnya menjadi lebih baik dan bisa berubah. - - Rumah yang dibeli oleh Leonard cukup besar, juga mewah. Semua ornamennya baru dan bahkan rumah ini juga memiliki banyak pelayan. Laura saja tak punya pelayan sebanyak itu di rumahnya, dan Leonard ... astaga, pria ini sungguh mengagumkan. Laura baru tahu jika suaminya ini adalah orang yang sangat kaya dan kekayaannya melebihi apa yang dimiliki oleh papanya. Pantaslah papanya meminta ia putus dengan Adrian dan menikah dengan Leonard yang memiliki kekayaan yang sangat luar biasa. Papanya sangat mata duitan, ia tidak peduli putrinya menikah dengan orang seperti apa. Karena baginya, uang dan kehormatan adalah segalanya. Astaga mengingat apa yang dilakukan oleh papanya membuat Laura berpikir untuk menjadi anak durhaka. Ia akan meraup semua kekayaan Leonard tanpa membagi kedua orang tuanya. Kenapa cintanya harus kandas karena sebuah perjodohan konyolnya dengan orang aneh. Sedang apa Adrian di sana, sedang apa ia sekarang? Apa ia juga memikirkan hal yang sama dengannya, yaitu mengingat kisah mereka yang sangat indah di masa lalu. Rasa bersalah semakin menyakiti hati Laura, karena telah meninggalkannya disaat mereka berencana akan melanjutkan hubungannya ke pernikahan. Adrian pasti sangat kecewa dan juga terluka sekarang. Laura ingin sekali menghubunginya, lalu minta maaf karena telah mengkhianati cinta mereka yang sudah tumbuh sejak lama. "Apa yang sedang kau pikirkan?" pria berwajah tampan dan manis itu bertanya padanya. "Banyak." jawab Laura, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah. "Aku tidak mencicil rumah ini, jadi kau tidak usah takut jika akan ada orang yang menagihnya." tangannya terulur berharap disambut oleh Laura. Tapi ia tahu jika istrinya itu tidak akan melakukan apa yang ia inginkan, untuk itulah ia berkata, "Pegang tanganku, atau aku tidak akan membuka celanaku." sambil memalingkan wajah dan mulut komat-kamit andalannya ia bicara. "Aku bisa membukanya sendiri kalau aku mau." jawab Laura, lalu ia maju dan mendekat. "Aaargghh ... jangan buka sekarang, masih banyak pelayan. Kalau mereka melihat burungku yang gagah perkasa bagaimana? Memangnya kau tidak cemburu, heeemmm ...?" si manis sedang menggoda si galak rupanya. "Tidak akan ada yang mau melihatnya." jawab Laura, "Dimana kamarku." "Kamar kita," ketusnya. "Ya ... ya dimana kamar kita?" tanya Laura. "Pegang tanganku dulu." pria ini kembali mengulurkan tangannya pada Laura. "Jadi istri berbakti sama aku, cepet ih!" Dengan terpaksa Laura pun menyambut tangan panjang Leonard, "Cepat antar aku ke kamar, aku ..." "Sudah tidak sabar ya mau menyentuhku? Jangan besar kepala sama d**a ya, aku memang muu pegang tanganmu supaya semua orang bisa melihat kalau kau adalah orang yang sangat beruntung karena menikah denganku, jiaahhh ..." "Rumah sakit jiwa dimana? Ayo aku antar." "Husshhh ..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN