Bab - 11

1446 Kata
Seharusnya Anca tidak mengatakan sesuatu yang dapat memancing Mori melakukan tindakan k*******n seperti saat ini. Gadis mungil bertenaga badak itu baru saja menyundul perut Anca dengan gesit. "Aku bisa aja melaporkan kamu ke pihak berwajib dengan tuduhan percobaan pembunuhan, Mor!" desis Anca, menyorot Mori dengan ekspresi berapi-api. Mori yang sedang bersidekap d**a sambil bersandar di bibir pintu, kini terkekeh sinis mendengar ucapan Anca. "Cih, lemah!" Anca menggeram tanpa melepas tangannya di sekitar perutnya yang terasa linu. "Gini-gini aku juga manusia normal, Mor. Sama seperti manusia lainnya. Bisa merasakan sakit, juga kesal saat kamu menolak membantuku! Superman aja bisa merasakan sakit, apa lagi aku!" Hidung Mori berkedut-kedut mendengar penuturan Anca yang berlebihan dan dramatis itu. Rasanya ia mulai tidak sabar melihat kepergian lelaki ini hengkang dari rumahnya. Mori sungguh tidak sabar menunggu detik-detik membahagiakan itu. "Ini sudah kesekian kalinya kamu bikin aku sakit, Mor!" Salahkah jika Mori ingin meremas wajah tampan Anca hingga tidak berbentuk saking gemasnya? Ralat, ini gemas bukan karena lucu atau bagaimana, tapi Mori merasa ingin mengeluarkan emosinya dengan meremas wajah lelaki manja dan menyebalkan itu. "Kenapa diam? Baru sadar kalau kamu itu jahat?" kata Anca sambil menepuk-nepuk perutnya. Mori menjawab dengan gelengan, lalu berkata, "Aku cuman sedang berpikir, bagaimana bisa ada manusia sepertimu." ****** "APA LIHAT-LIHAT!" Mori berhenti sejenak, menoleh ke sumber suara bernada ketus yang ditujukan padanya. Pemilik suara tampak membuang muka saat Mori menatapnya dengan ekspresi aneh. "Kamu sengaja, kan, nggak masak?" todong Anca langsung. Mori mendesah samar. Ternyata kerena itu. "Bahan makanan habis. Ini baru mau pergi belanja." Jeda sejenak. "Mau ikut nggak?" tawar Mori dengan satu alis terangkat. Anca tak langsung menjawab, seperti menimbang sesuatu. Sedang Mori mulai bosan menunggu lelaki itu berpikir—entah apa itu, yang pastinya tidak jauh dari orang-orang yang dihindarinya itu. "Jalan kaki atau naik mobil?" selidik Anca, tangan kanannya naik ke sisi bibir, mengetuk-ngetuk bagian samping bibirnya dengan gerakan s*****l. "Vesva," jawab Mori seadanya. Tidak masalah, kan? Toh kemarin-kemarin Anca sempat memaksa Mori agar mengantarnya ke suatu tempat menggunakan vesva. Hening setelahnya. "Vesva?" ulang Anca, terdengar tidak yakin. Anggukan menjawab pertanyaannya. "Mau ikut, tidak?" tanya Mori sekali lagi dan bersiap untuk membuka pintu. "Tunggu! Aku ambil masker dan topiku dulu." Tidak berselang lama, Anca telah menyusul Mori di garasi yang tidak terlalu besar itu—tempat Mori menyimpan vesva peninggalan ayahnya. Helm vintage bergaya klasik sudah terpasang dengan cantik di kepala Mori. "Nih." Mori menyodorkan helm yang serupa ke arah Anca. "Cara makenya gimana?" tanya Anca dengan dahi mengerut—menatap bingung helm yang kini ada di tangannya. Kemudian, lelaki itu mengetuk tempurung helm itu, dan menarik-narik kancingnya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Anca berlaku aneh dan menggelikan. Namun kali ini Mori tidak dapat lagi memanipulasi kekesalannya dengan kesabaran. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Mori segera merampas helm di tangan Anca, lalu memasangkan di kepala lelaki itu dengan gerakan  kasar. "Mor, topi aku mau di ... Aw! Pelan-pelan dong!" Mori tidak memedulikan ringisan Anca dan tetap fokus pada aktivitasnya. "Nah, udah," kata Mori setelah mengancing helm Anca. "Terus topiku gimana?" tanya Anca, sambil memegangi helm yang sudah tersemat di kepalanya. "Pegang aja." Anca mengangguk, lalu berkata, "Sebenarnya, ini pertama kalinya aku naik motor, Mor. Sebelum-sebelumnya belum pernah. Maklum, aku selalu pakai mobil atau pesawat, kalau nggak pesawat, ya kapal." Ada nada sombong yang terselip di ucapan Anca. Sudut bibir lelaki itu tertarik ke atas membentuk senyum kecil, seolah menunjukkan pada Mori jika ia sangat kaya. "Oh, belum pernah, ya?" gumam Mori, matanya menyipit saat memikirkan sesuatu yang menarik. Tanpa aba-aba, Mori tersenyum lebar dan tampak bersemangat. "Oh, santai aja. Naik motor nggak kalah seru kok sama naik pesawat atau kapal. Nanti, kamu bisa teriak-teriak di jalan sambil meluapkan emosi," kata Mori meyakinkan. Anca memajukan bibirnya dengan kedua alis terangkat. Tampak mempertimbangkan kebenaran ucapan Mori. Tidak lama kemudian, lelaki itu mengangguk dan berkata, "Di Mobil, di pesawat, atau di kapal, aku juga bisa teriak-teriak, sih, kalau mau. Tapi berhubung aku tidak lebay dan norak, jadi biasanya aku cuman bersandar sambil dengerin lagu. Dan sekarang, berhubung ini pertama kalinya aku naik motor, jadi aku akan pertimbangkan ucapanmu, Mor." Mori  yang sudah duduk manis di atas motor, tak urung mengencangkan pegangan tangannya di stir motor karena mendengar penuturan Anca yang penuh dengan kesombongan. Menyebalkan, manja, sombong, dan narsis. Besok-besok apa lagi? --------- Mori memang merencanakan untuk mengerjai lelaki yang kini misuh-misuh di sampingnya sembari merapikan rambutnya yang kusut. Jika ditanya apakah Mori cukup puas? Maka jawabannya iya.  Mori cukup puas mengingat bagaimana histerisnya Anca saat ia memacu motor di tengah hiruk-pikuk jalanan. Anca tidak hanya berteriak, tapi lelaki itu juga memeluk pinggang Mori erat dan terus meneriakkan kalimat-kalimat u*****n dan permintaan maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan semasa hidup, seolah-olah hidupnya akan berakhir saat itu. Akan tetapi, di antara rasa puas yang Mori rasakan, ada penyesalan yang terselip di sana. Mengingat bagaimana repot dan malunya ia saat suara klakson kendaraan bersahutan di belakang dan lilitan kedua tangan Anca di perutnya yang terasa geli dan sakit. "Gimana rasanya naik motor?" Anca menoleh, menatap Mori dengan raut datar, lalu memasang kacamata hitamnya dengan gerakan elegan. "Cukup menarik," jawab Anca kikuk sambil meraup tangan Mori, menariknya masuk ke supermarket dengan langkah lebar. Diam-diam Mori tersenyum puas. Bukan karena tangannya digenggam oleh Anca, melainkan karena wajah pucat lelaki itu serta tingkahnya yang terlihat canggung dan malu. Rasain. Emang enak aku kerjain! Mori tertawa dalam hati. Mori tidak mau menyebut ini kebetulan atau tidak, yang jelas ia cukup terkejut melihat keberadaan Cece di dalam supermarket. Perempuan itu tampak sedang memilih roti, lalu secepat Mori ingin menghindari Cece, secepat itu pula netranya menangkap keberadaan Mori. Jika tidak sedang bersama Anca, Mori tidak akan masalah, malah ia akan senang berbelanja bersama sang sahabat. Tapi, ah sudahlah. "Kamu duluan aja," kata Mori ke arah Anca. "Aku ada urusan sebentar sama sahabatku." Anca menggembungkan pipinya, menatap Cece  malas—yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu, berpaling ke arah Mori dan berkata, "Oke. Kamu mau beli apa? Biar aku pilihkan, sekalian aku bayarin. Hitung-hitung sebagai bayaran atas jasamu menjadi tukang ojekku yang pertama." Ada nada kesal yang terselip di ucapan Anca. Tapi Mori tidak peduli, bahkan ia menahan dengkusannya mendengar penuturan lelaki ini. "Terserah," jawab Mori cepat dan berlalu dari sana. Anca mengedikkan bahu tidak peduli, lalu mengambil troli dan mendorongnya di lorong bagian rak skincare. Anca terus menyusuri bagian kebutuhan tubuh dan kulit itu sambil menggumamkan ucapan  Mori. "Hm, terserah, ya," gumam Anca. Lalu matanya berhenti di rak bagian pembalut. Lelaki itu menatap sekelilingnya sejenak, memastikan jika tidak ada yang mengenalinya. Sejenak, Anca menatap berbagai macam pilihan pembalut. "Pasti Mori membutuhkan pembalut ini. Sekalian aja deh aku beliin," gumam Anca di balik masker biru lautnya dan mengambil dua macam pembalut. "Bersayap dan tidak bersayap." Alis tebal lelaki itu mengernyit membaca tulisan di kemasan pembalut yang ia pegang. "Apa bedanya?" tanya Anca pada dirinya sendiri. Anca meninggalkan trolinya sembari membawa dua bungkus pembalut ke arah Mori dan Cece yang tampak menyusuri rak bagian kudapan. "Mori." Mendengar ada yang memanggil namanya, Mori sontak menoleh diikuti oleh Cece dengan satu alis terangkat. Anca menatap rambut  Cece yang kini berwarna merah kecokelat-cokelatan, sama sekali tidak menarik di matanya. Kemudian, menyodorkan pembalut yang membuatnya kebingungan ke arah Mori. "Tadi aku iseng lewat di rak bagian pembalut, Mor. Terus aku mengingat kamu, jadi aku beliin aja. Tapi aku bingung, di sini ada pilihan yang bersayap dan tidak bersayap," kata Anca dengan kerutan di dahinya. "Kamu suka yang mana, Mor? Yang bersayap atau tidak?" Mori kelu. Bibir bawah yang sempat ia gigit tanpa sadar, kini terasa perih. Apakah lelaki ini ingin membalas dendam? Dengan membuat Mori menahan malu? "Yakin cuman teman?" ucapan bernada sinis Cece tertangkap di pendengaran Anca. Membuat lelaki itu mengalihkan fokusnya ke arah perempuan itu. "Kenapa?" tanya Anca datar. Raut wajahnya mengeras melihat raut sinis Cece. "Aku nanya Mori. Bukan situ," balas Cece seraya menyelipkan sejumput rambutnya ke belakang telinga. "Cemburu?" sinis Anca tak mau kalah. Bibirnya tertarik membentuk senyum remeh saat melihat mata Cece membola. Sedangkan Mori? Entahlah, Anca tidak mood melihat wajah perempuan itu. "Cemburu?" ulang Cece dengan nada mengejek. Anca mengangguk. "Iya. Cemburu karena tidak ada yang memperhatikanmu seperti aku yang memperhatikan Mori sampai ke pembalut-pembalutnya." Oke. Ini sudah berlebihan. Pasti saat ini wajah Mori sudah semerah tomat busuk. Sedangkan Cece, perempuan itu hanya mendengkus dan beranjak dari sana setelah menatap Mori dan Anca penuh peringatan. "Mor ...." "Stop! Tujuan kita ke sini cuman belanja. Jadi urus belanjaanmu, begitu pun dengan aku, tanpa ikut campur!" Setelah mengatakan itu, Mori segera menuntaskan list belanjaan yang ingin ia beli dan meninggalkan Anca yang mengerjap polos. "Perempuan memang ribet," gumam Anca, lalu kembali ke tempat trolinya dan memasukkan berbagai macam pembalut ke dalam trolinya yang masih kosong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN