Bab-13

1169 Kata
"Jangan-jangan itu mereka, Mor!" "Maksud kamu?" "Mereka yang mencariku itu, Mor!" kata Anca sedikit gemetar. Peluh kian menetes di dahinya seiring dengan tangannya yang semakin dingin. Astaga. Mori benar-benar tidak menyangka jika lelaki yang bersamanya ini sungguh lembek. Mori kembali menoleh, memastikan jika dua orang lelaki itu tak lagi mengikutinya. Bagaimana pun juga mereka sedang berada di kawasan yang sepi akan penduduk. Bahkan kendaraan yang lewat pun bisa dihitung dengan jari. "Bagaimana, Mor?" tanya Anca memastikan tanpa mau repot-repot menoleh ke belakang. Prioritasnya saat ini ialah bagaimana cara agar ia segera sampai ke rumah. Mungkin jika ia memiliki kekuatan untuk terbang, mungkin sedari tadi Anca sudah membawa vesva ini mengarungi angkasa. "Udah nggak ada," kata Mori, kembali menatap lurus ke depan. Helaan napas lega meluncur di bibir Anca, sebelum dua motor tiba-tiba berhenti dan menghalangi jalan mereka. "Itu mereka mau ngapain, Mor?" Anca bertanya sambil melirik Mori was-was. Gelengan menjawab pertanyaannya. Tentu saja Mori tidak tahu, yang pasti bukan pertanda baik. Tapi sebisa mungkin perempuan itu berlagak santai, seperti tokoh super yang sering ia tonton. Masing-masing pengendara motor itu turun dari kendaraan mereka dan berjalan menghampiri Mori dan Anca. Satu di antaranya sedang menelpon, lalu menyeringai saat matanya menangkap lirikan Mori. "Butuh bantuan?" tanya lelaki yang menggunakan Hoodie hitam berpadukan celana jeans robek di beberapa bagian. Lelaki itu juga menggunakan masker dan topi, tapi kerlingan nakal di matanya tidak kuasa tertutupi. Anca menggeleng tegas. Ekspresi takut dan keluh yang sempat tersemat di wajahnya, kini telah terganti dengan ekspresi datar dan mata yang menghunus tajam. Rahang Anca tampak mengeras saat lelaki yang satunya itu menatap Mori penuh makna. "Sepertinya gadis ini butuh tumpangan," kata lelaki yang baru saja menyudahi perbincangannya di ponsel. Lelaki itu tersenyum miring ketika menyadari targetnya menciut. Mori melangkah mundur, merapatkan tubuhnya di samping Anca yang bergeming. "Jangan deket-deket, kalau nggak mau leher lo patah." Anca sontak menoleh, menatap Mori ngeri. Tidak menyangka ucapan s***s itu meluncur di bibir perempuan mungil ini. "Kita lagi dalam bahaya," gumam Anca yang masih dapat didengar oleh Mori. "Aku tahu." "Kamu bisa bela diri nggak?" Anca kembali bergumam. Mori menoleh sekilas, lalu menggeleng kecil. Dulu, ia sempat didaftarkan taekwondo oleh sang nenek. Tapi karena Mori tidak tertarik dengan olahraga bela diri yang berasal dari Korea itu, akhirnya ia memilih mundur dan menerima omelan sang nenek. Lalu, sekarang ia mulai menyesalinya. Ternyata, penyesalan memang selalu diakhir. "Berikan ke kami vesva itu!" Lelaki yang menggunakan topi itu berucap dengan nada kasar sambil menunjuk vesva yang dipegang Anca. Sedangkan lelaki satunya yang hanya menggunakan kaos tipis itu berjalan ke belakang tubuh Mori—menatap intens setiap jengkal tubuhnya. Kurang ajar! "Tidak. Vesva ini bukan hak kalian. Dasar pecundang!" bentak Mori, hampir tercekat. Lelaki bertopi itu melangkah maju dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Mori. "Mungil, tapi cukup pemberani." Lelaki itu menarik sudut bibirnya membentuk senyum mengejek. Merasa terpojokkan, Mori tanpa pikir panjang melangkah mundur, sialnya, lelaki satunya berdiri tepat di belakang. Ingin berpaling ke samping, tapi lelaki bertopi itu membuka kedua tangannya—mengepung Mori dengan wajah kesenengan. Sial. Kenapa tidak ada kendaraan yang lewat? "Mau kemana adik manis?" Lelaki berkaos tipis itu terkekeh geli. Lalu menatap ke arah Anca yang bergeming dan berkata, "Pergi sana. Kami udah nggak butuh sama vesva lo. Karena yang ini jauh lebih menarik," katanya seraya mencolek dagu Mori yang langsung ditepis kasar. Mori hampir menangis dalam teriakannya meminta tolong. "Tidak akan ada yang mendengar lo adik manis. Temen cowok lo aja nggak peduli!" Benar. Anca tidak peduli. Rasanya Mori ingin menendang lelaki itu kuat-kuat. Lihat, bahkan Anca bergeming dengan mulut terkunci, tanpa mau menoleh—melihat Mori yang kesulitan. "Mau apa lo? Lo maju selangkah aja, gue tendang lo!" pekik Mori seperti orang kesetanan. Dua lelaki itu tidak peduli, malah mereka semakin terkekeh melihat tingkah Mori yang menendang tak tentu arah. Akan tetapi, sebelum lelaki bertopi itu berhasil menyentuh pundak Mori, sebuah tendangan mendarat di pinggangnya. Tidak sampai di situ, tendangan kembali dilayangkan ke arah punggungnya hingga menimbulkan bunyi yang patah. Terkejut melihat rekannya terguling ke aspal, lelaki berkaos tipis itu pun sontak mendorong Mori hingga terjatuh dan menghampiri penyebab tumbangnya lelaki bertopi itu. "Ternyata lo suka main kasar!" bentaknya penuh emosi. Anca menatap lelaki itu penuh perhitungan sambil menarik lengan jaket yang ia gunakan hingga ke siku, lalu menekuk jarinya membentuk kepalan dan memasang kuda-kuda. Mori tercengang tak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Anca yang selalu bertingkah manja, menyebalkan, dan sombong, kini berdiri kokoh dengan keringat menetes dari rambutnya. Wajah lelaki itu mengeras hingga urat lehernya menegang. Mata yang selalu menampilkan raut polos dan manja, kini terganti dengan tatapan tajam yang penuh kilatan emosi. "Tau gitu gue habisin lo dari tadi!" bentak lelaki berkaos tipis itu sambil melayangkan tendangan ke arah Anca. Secepat lelaki ia menendang, secepat itu pula Anca menghindar, lalu menangkap pergelangan lelaki itu dan mendorongnya hingga tersungkur ke aspal. Umpatan-u*****n kasar menyerbu pendengaran Mori dan Anca. Meski begitu, tidak berselang lama, lelaki itu bangun dan berniat ingin memukul, tapi kalah cepat dengan tinjuan Anca di rahang kirinya. Darah segar mengalir di sudut bibir lelaki itu. Tidak puas sampai di situ saja, Anca berniat ingin melayangkan tinjuan sekali lagi, tapi terhenti saat Mori berteriak meminta tolong. Di sana, Mori berdiri dengan kedua tangan di tekuk ke belakang oleh lelaki bertopi yang sempat Anca tendang. Seringain bodoh dan menjijikkan terpampang jelas di samping kanan leher Mori yang terbuka. Lelaki itu menunduk, menghirup bau tubuh Mori yang penuh peluh. Membutakan diri dengan tatapan Anca yang menggelap. "Jangan sentuh dia, s****n!" teriak Anca penuh amarah. "Kenapa? Mau juga? Ayo, kemari!" ledek lelaki itu dan semakin mengencangkan tangannya di pergelangan Mori. Melihat targetnya tidak dalam keadaan siap, maka lelaki berkaos tipis itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melayangkan tendangan di pinggang Anca. Mori terpekik saat Anca ambruk ke tanah. Mata perempuan itu berkaca-kaca sambil terus meronta. Ringisan meluncur di bibir Anca. Badannya terasa ingin remuk hanya karena satu tendangan. Anca menggeram menangkap tangis penuh ketakutan Mori. Perlahan, ia bangun meski sedikit sempoyongan, dan tanpa aba-aba, ia melayangkan bogeman di wajah lelaki berkaos tipis itu secara bertubi-tubi—tidak memberi kesempatan untuk mengampuni barang sejenak. Lelaki bertopi yang memegangi Mori, menatap Anca dengan sorot takut melihat rekannya terbaring tak berdaya. Karena merasa terintimidasi, lelaki bertopi itu dengan cepat mengambil cuter di saku celananya, sedang tangannya yang satu segera melingkar di leher Mori. "Gue nggak segan ngabisin nyawa cewek ini!" Ancam lelaki bertopi itu. Anca menatap lelaki itu beberapa detik, sebelum menyorot Mori sendu sambil memberikan kode melalui tangannya. Mori mengernyit dalam ketakutan. Namun, saat menangkap gerakan telunjuk Anca yang tertekuk lalu berdiri tegak dan bergerak ke belakang, Mori segera menyundul bagian dagu lelaki yang memeluknya dari belakang itu. Tidak sampai di situ, Mori juga menyikut perut lelaki itu tanpa ampun hingga lilitan di lehernya terlepas. Tanpa membuang waktu, Mori segera berlari ke arah Anca yang tersenyum bangga kepadanya. "Kamu membuatku takut jika esok hari aku tak lagi dapat mendengar omelanmu," kata Anca sambil menarik Mori ke dalam pelukan hangatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN