2. Menikah tanpa Restu!

2096 Kata
Sang ayah berjalan cepat memasuki kamar dari Davona. Beliau mengemasi semua barang-barang Davona seperti pakaian dan juga beberapa pernak-pernik foto dan hiasan Davona ke dalam sebuah koper besar. Sang ibu yang menyadari hal itu langsung berupaya menghentikan sang ayah. Akan tetapi Beliau malah kembali mendapatkan kekerasan hingga Beliau tidak sadarkan diri. Kepala Beliau dibenturkan ke tembok. Davona yang menyaksikan hal itu berteriak sekencang-kencangnya. Ia meneriaki ayahnya seorang psikopat. Tentu saja hal itu membuat sang ayah marah besar dan bersiap akan menghajar Davona kembali. Untungnya teriakan Davona mengundang kerumunan tetangga yang akhirnya melerai pertikaian tersebut. Davona dan ibunya dilarikan ke rumah tetangga yang berada di depan rumah mereka. Sedangkan sang ayah berusaha ditenangkan oleh tetua kampung. Mereka berusaha memberikan pengertian bahwa setiap keluarga pasti memiliki masalah. Namun semua masalah pasti memiliki jalan keluarnya dan bisa diselesaikan dengan cara baik-baik.. Setelah pertikaian tersebut sang ayah memilih untuk sementara waktu menetap di perkebunan mereka. Beliau mengatakan butuh waktu sendiri untuk menenangkan situasi hatinya. Tak lupa Beliau juga meninggalkan sejumlah uang untuk Davona dan ibunya bertahan hidup selama Beliau tidak ada. “Bu, ibu, boleh enggak nanti malam Derek main ke sini?” tanya Davona saat menemani ibunya memotong sayuran di dapur. “Derek pria yang kemarin itu, 'kan?” tanya sang ibu dengan senyuman hangatnya. “Iya Bu, yang kemarin itu, entah kenapa Vona merasa selalu bahagia ketika ada Derek di samping Vona.” “Ya sudah, kalau memang menurut kamu dia pria yang baik dan bisa menjaga kamu. Ya boleh-boleh saja. Ibu malah ingin mengenalnya lebih jauh lagi.” “Ha! Yang benar nih Bu? Vona boleh ajak dia ke sini?” “Iya boleh. Selagi tidak ada ayahmu di rumah. Ibu bisa menutupi hubungan kalian dengan satu syarat, kamu dan dia jangan melakukan hal-hal yang tidak-tidak.” “Ibu tenang saja, kalau masalah itu Vona janji tidak akan membuat Ibu kecewa.” “Terima kasih, ya Sayang. Kamu sudah menjadi anak yang kuat meski kamu hidup dengan orang tua yang sangat keras.” “Yang keras itu ‘kan Ayah, Bu. Tapi tidak dengan Ibu. Justru Vona bangga dengan Ibu. sudah ribuan kali Ibu disakiti oleh Ayah. Namun lagi dan lagi, Ibu bisa memaafkan Ayah. Bahkan tidak pernah menceritakan keburukan Ayah kepada orang lain.” “Davona anakku. Kelak kamu akan menikah dan menjalani biduk rumah tangga. Kamu akan paham bagaimana rasanya mencintai, tapi ingin melepaskan. Sakit tapi terpaksa bertahan. Vona Sayang, rumah tangga itu tidak gampang. Banyak kejutan-kejutan yang mampu mengguncang jiwa.” “Tapi Vona yakin, Bu. Hanya dengan menikah Vona bisa lepas dari Ayah. Dan bisa membawa Ibu dalam kehidupan rumah tangga kami.” “Tidak Nak. Ketika kamu sudah menjadi seorang istri yang sah dari seorang pria. Maka Ibu dan ayahmu sudah menjadi nomor ke sekian dari kewajiban yang harus kamu lakukan. Ibu hanya takut Nak. Ibu takut kamu merasakan pedih yang Ibu rasakan, Ibu ingin kamu bahagia seperti orang-orang. Jangan seperti Ibu mendapatkan seorang pria yang kasar dan selalu merendahkan Ibu.” “Tapi Derek itu orangnya baik, Bu. Dia sangat penyayang dan juga anaknya sangat to the point.” “Syukurlah. Jika Vona yakin dia pria yang benar-benar baik. Karena banyak sekali pria yang memiliki topeng pada saat masa pengenalan dia akan menggunakan topeng kebaikan. Dia akan menunjukkan betapa baiknya dia. Namun setelah kamu resmi menjadi miliknya, maka aslinya akan terbongkar.” “Apa benar demikian, Bu” “Tentu saja Davona, di dunia ini semua orang memiliki topengnya masing-masing. Akan tetapi ada yang menggunakannya untuk kebaikan dan ada juga yang menggunakannya untuk memanfaatkan orang lain. Ibu berharap kamu menemukan orang yang mungkin dari luar terlihat biasa saja atau bahkan terlihat lugu. Namun hatinya teramatlah baik itu yang Ibu harapkan.” “Baik Bu, Vona yakin Derek adalah laki-laki terbaik yang diciptakan Tuhan untuk Davona.” “Ya sudah sebaiknya Vona istirahat. Biar Ibu yang memasak untuk kita makan malam nanti.” “Makasih Ibu, pokoknya di dunia ini Ibu memang wanita terbaik yang pernah Vona temui.” Setelah mengatakan hal itu Davona langsung meninggalkan ibunya. Ia langsung masuk ke kamar dan berusaha berbaring di atas kasurnya. Seketika wajahnya tersipu malu sepertinya ia tengah membayangkan Derek kekasih tercintanya. Dan lebih bahagianya lagi, nanti malam mereka akan kembali bertemu. Derek akan mengunjungi Davona di rumahnya. Davona bangkit dari tempat tidurnya menuju lemari dan memilah-milah pakaian untuk ia kenakan nanti malam. Sedangkan di tempat lain, Derek tengah bersama teman-temannya. Dia terlihat tidak begitu antusias untuk bertemu dengan Davona. Sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan dan rencanakan. Derek dihampiri oleh seorang wanita cantik dengan fashion yang terlihat seperti model. Wanita itu terlihat begitu intens dengan Derek. Dan jika saja Davona melihat hal tersebut sudah dipastikan ia akan hancur sehancur hancurnya. “Derek nanti malam temenin aku makan yuk,” ajak gadis itu seraya menjentikkan telunjuknya di dagu Derek. “Aduh, Ta! Jangan nanti malam, ya. Soalnya nanti malam jam aku ada acara sama keluarga,” dusta Derek. “Yah, terus kapan dong Derek mau temenin Dita makan malam.” “Lain kali ya, lain kali Derek janji akan temani makan di mana pun Dita mau, oke?” “Ok deh kalau gitu.” Derek terlihat menghembuskan nafas panjang. Pertanda ia merasa lega. Seolah-olah satu masalah besarnya sudah terselesaikan dengan baik. Malam harinya, Davona sudah bersiap dengan gaun hitam selutut yang memperlihatkan ia terlihat sangat cantik, ia berdandan natural dengan hiasan pita di rambutnya. Davona terlihat sangat cantik. Dia terlihat gugup sehingga beberapa kali ia terlihat mondar-mandir di ruang tamu menunggu kedatangan Derek. Sang ibu yang melihat hal tersebut malah tertawa. Ya, begitulah ketika seseorang sedang jatuh cinta. Terkadang ia akan terlihat sangat lucu di depan orang lain. Kemayu tidak sadar bahwa kegelisahan dan rasa gugupnya tersebut terlihat sangat menggemaskan. Tidak lama setelah itu di depan sana terdengar suara klakson mobil Derek. Tin! Tin! Davona berlari menuju pintu dengan senyum terkembang bahagia. Davona menyambut kedatangan Derek dengan sangat gembira. Sepertinya Davona benar-benar merasakan dunianya ada pada sosok Derek. Pria yang sebenarnya hanya memanfaatkan kepolosan dia. Davona tidak sadar sudah berurusan dengan manusia paling licik. “Hai, Der,” sapa Davona dengan wajah tersipu. “Apa kabar kamu, Sayang? Ibu mana? Ini aku ada bawa sesuatu untuk kalian,” ujar Derek terlihat sangat peduli pada Davona dan ibunya. “Ibu ada di dalam, ayo masuk.” “Iya.” Keduanya masuk dan menemui ibu dari Davona. Derek langsung mencium tangan sang calon ibu mertua. Derek memang sangat pintar mengambil hati orang lain. Terlebih seorang wanita, ia seakan memiliki jurus jitu untuk meluluhkan hati pada wanita. Tidak peduli tua atau muda. Semuanya akan tetap terbuai dengan perilaku yang Derek tunjukkan. Berbeda dengan pria. Biasanya mereka akan saling memahami karakter sesama pria tanpa harus mengenal lebih jauh. Mungkin karena pada dasarnya, mereka memiliki sudut pandang yang sama. “Nak Derek, sudah makan?” tanya ibu Davona. “Sudah Bu, tadi sebelum ke sini Derek makan dulu karena Ibu membuatkan lauk kesukaan Derek,” sahut Derek dengan sangat sopan. “Oh kalau boleh tahu memangnya apa makanan kesukaan, Nak Derek?” “Bukan sesuatu yang spesial Bu hanya sayur asam.” “Wah, kok bisa ya ketepatan sekali. Vona itu sangat jago membuat sayur asam.” “Yang benar, Bu? Kalau begitu pilihan Derek tepat sekali. Tidak hanya cantik, pintar, baik, tapi dia juga pintar memasak.” “Ya, ya, Vona sejak kecil memang sudah mandiri, Nak.” “Wah, saya tidak menyangka. anak sepolos dia sudah terbiasa hidup mandiri.” “Iya mandiri dalam artian yang tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya, terlebih ketika kami sibuk bekerja.” “Hebat, pilihan Derek memang tidak pernah salah.” Suasana perbincangan semakin nyaman dan semakin asyik. Banyak topik yang diangkat menjadi perbincangan malam itu. Seketika rumah yang biasanya hening sunyi, menjadi hangat dan terasa seakan keluarga mereka memang bahagia seperti keluarga kecil pada umumnya. Tidak ada keributan tidak ada pertikaian tidak ada caci maki. Dan memang inilah suasana yang diidam-idamkan oleh Davona sejak kecil. Ia selalu menuliskan keinginannya dalam sebuah buku yang disebutnya my dream life. Mungkin Davona kecil ingin menggambarkan apa yang sebenarnya ia inginkan dalam sebuah keluarga. Dia juga ingin seperti anak-anak lain terkadang ia justru merasa iri kepada anak-anak yang ada di luar sana. Mengapa ia tidak bisa hidup sebahagia mereka. Mengapa apa hanya Davona yang harus merasakan sakitnya di bawah tekanan seorang ayah yang selalu menuntut. Berbagai hal yang mungkin sulit dilakukan oleh Davona. Namun ia harus tetap melakukan hal itu, kalau tidak sudah pasti segala sumpah serapah akan ia dapat. Davona kecil kerap kali menangis dalam sunyi. Tangisan itu tidak ada suaranya, hanya ada air mata yang mengalir tiada henti. Hingga ia tertidur dan terbangun kembali besok pagi. Sering kali Davona berharap esok ia akan terbangun di tempat yang berbeda. Berharap apa yang ia lalui hari ini hannyalah mimpi dan dia bukanlah Davona. “Kadang aku merasa iri melihat wanita lain di luar sana, mereka terlihat sangat sempurna hidupnya. Dia dicintai oleh banyak pria, mendapatkan kasih sayang yang teramat cukup dari sosok atau figur seorang ayah. Bahkan hidupnya tampak tidak ada masalah sama sekali ia menjalani hari-harinya dengan kebahagiaan,” ujar Davona dengan tatapan menerawang, “kamu tahu Der dulu itu aku sempat berpikir bahwa hidupku ini memang diciptakan untuk merasakan pedihnya dunia. Bahkan aku tidak pernah berani membayangkan aku akan memiliki seorang kekasih seperti saat ini.” “Hei, kamu mana boleh bicara seperti itu, kita semua ini berhak untuk bahagia Vona,” sahut Derek terlihat langsung prihatin dengan apa yang dialami sang kekasih. “Aku tahu bahwa semua orang berhak bahagia. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkan kebahagiaanku itu sebelum aku mengenal kamu.” “Apa sekarang kamu bahagia, Vona?” “Tentu saja, aku sangat bahagia setelah aku bertemu denganmu dan belajar banyak hal darimu.” Derek tersenyum mendengar perkataan Davona. Sepertinya ia merasa bangga dan merasa dirinya sangat dibutuhkan oleh Davona. Setelah perbincangan malam itu berlalu. Derek pulang dengan tampak berseri-seri. Begitu pula Davona, ia terlihat sangat gembira karena sang ibu memberikannya waktu untuk mengobrol dan menghabiskan sisa malam itu bersama Derek. Davona menghampiri ibunya yang sedang membaca buku di kamarnya. Ia langsung memeluk sang ibu seperti layaknya anak kecil yang ingin meminta sesuatu kepada ibunya. Sang ibu pun menerimanya dengan hangat dan juga penuh cinta kasih. Kedua wanita dengan latar belakang pendewasaan yang berbeda. Namun ada satu ikatan di antara keduanya yang tidak bisa dipisahkan dari keduanya. Bagaimanapun jarak usia antara mereka membentang, akan tetapi sebagai seorang ibu, Timi tetap memahami keadaan sang anak. “Ibu, jika nanti Davona menikah dengan Derek, apa Derek akan tetap sebaik sekarang?” tanya Davona dengan semua kepolosannya. “Mungkin akan ada sedikit perubahan darinya. Setiap orang yang sudah berumah tangga biasanya tidak akan sama sebagaimana masa pendekatannya dulu,” terang sang ibu pada Davona yang mulai tampak semakin antusias dengan pernikahan. “Apa Ayah dulu juga bersikap manis kepada Ibu? Sehingga Ibu mau menikah dengan Ayah?” “Anakku, asal kamu tahu saja ayahmu itu adalah pemuda paling tampan di desa Ibu dulu. Beliau juga dikenal sebagai pemuda yang paling rajin berbakti kepada orang tuanya dan juga anaknya sangat baik. Sikapnya manis, sopan, bahkan tidak pernah berkata kasar sedikit pun. Sehingga semua orang menyukainya termasuk Ibu.” “Lantas apa yang menyebabkan Ayah berubah menjadi seperti sekarang ini Bu?” “Antahlah, Ibu juga tidak paham Nak. Mungkin karena Ibu sudah tua dan tidak Se-menarik dulu.” “Tapi, itu namanya tidak adil Bu. Mana bisa Beliau hanya mencintai kecantikan fisik dari Ibu saja. Sedangkan, Ibu memberikan Beliau hidup dan mati Ibu.” “Ibu memiliki masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh orang lain, Nak. Kakekmu tidak pernah setuju dengan hubungan kami. Akan tetapi, Ibu tetap nekat menikah dengannya.” “Apa! Kenapa Kakek tidak setuju Bu?” “Kata kakekmu dia bukan pria yang baik untuk Ibu. Suatu saat dia bisa saja mencampakkan Ibu ketika Ibu sudah tidak menarik baginya. Dan apa yang dikatakan kakekmu menjadi kenyataan.” “Benarkah demikian Bu? Lalu apa Ibu menyesal telah menikah dengan Ayah?” “Tidak. Ibu tidak menyesal sama sekali Nak.” “Tapi bukannya Ayah sudah menyakiti Ibu hampir setiap hari.” “Menikah dengan ayahmu adalah pilihan Ibu sendiri. Tidak ada yang memaksa, tidak ada pula yang meminta. Murni dari hati nurani Ibu sendiri. Maka dari itu tidak ada yang perlu Ibu sesali.” Mendengar hal itu, Davona seketika menatap langit-langit kamar ibunya ia berbaring di atas kasur. Tampaknya ia tengah menerawang jauh. Memikirkan segala sesuatu yang akan terjadi pada dirinya. Kurang lebih kisah Davona dan ibunya hampir mirip. Dan harusnya bisa menjadi pertimbangan bagi Davona, untuk mengambil keputusan dalam hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN