3. Teringat Masa Lalu

1094 Kata
Selena hanya tersenyum getir saat melihat kondisi istri Frans yang terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Ia baru tahu jika wanita bernama Lily Smith yang merupakan istri dari Frans Louise, sedang terbaring koma di sana. "Aku turut berduka atas keadaan istrimu, Frans. Kalau boleh tahu apa yang terjadi dengannya?" tanya Selena. Karena merupakan seorang dokter, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Selena. Frans melirik Selena sekilas dan berusaha tersenyum. "Lily kecelakaan dalam perjalanan menemuiku saat itu," jelasnya singkat. "Sorry. Pasti sangat berat bagimu ...," lirih Selena. "Yah ... pada awalnya. Namun, setelah satu tahun berlalu, kami berusaha menerima kenyataan ini. Aku dan Finn mencoba untuk merelakannya. Sayangnya hal itu sia-sia. Aku masih terus berharap ada keajaiban menghampiri kami," terang Frans. "Finn? Anak kalian." Selena menebak. "Ya, usianya enam belas tahun bulan lalu. Dan ia sudah sangat baik dalam menghadapi kenyataan ini." Tangan Frans terulur untuk menyentuh kening Lily. Selena melihat apa yang laki-laki itu lakukan pada istrinya. Hal yang sangat manis untuk disaksikan. "Kamu sangat mencintainya. Aku yakin Tuhan akan mendengarkan do'amu dan Finn." Selena mundur. "Terima kasih," sahut Frans mencoba terdengar tenang. Nyatanya ia tidak begitu kuat. Selena menepuk bahu Frans. "Aku harus kembali. Sebaiknya Lily tidak menerima tamu dari luar terlalu lama. Seperti diriku ini." Frans tersenyum. Tentu saja, Selena seorang dokter. Ia pasti akan mengatakannya. "Ya, benar juga ...." Frans terlihat mengelus punggung tangan Lily. Ia berpaling dan tersenyum singkat ke arah Selena. "Aku akan mengantarmu ke luar." Selena menjauh dari ranjang rumah sakit. Kakinya melangkah untuk meninggalkan ruangan itu. Di depan pintu, mereka berhenti. "Terima kasih karena sudah mengijinkanku bertemu dengannya. Dia wanita kuat." "Mungkin. Sebaiknya begitu ... aku tidak ingin mengecewakan Finn. Aku bilang, ibunya akan bangun tidak lama lagi," ungkap Frans. "Kalian akan bertahan. Aku percaya," sambut Selena seraya menepuk punggung tangan Frans. Namun, saat menyadari kalau ia bukanlah dokter, Selena menarik tangan itu dengan cepat. "Aku pergi." Kini Selena benar-benar menjauh dari sana. "Sampai jumpa. Aku harap, berikutnya kita akan bertemu di tempat yang jauh lebih baik." Selena berbalik hanya untuk basa-basi. Proses memberikan senyum hangat pada wanita itu. "Yeah. Hati-hati di jalan." Mereka berdua berpisah di sana. Setelah meninggalkan lantai itu, Selena kembali menuju ke lantai dasar. Netranya menangkap bayangan jam yang menggantung di dinding lorong. Sudah jam setengah dia belas. Maka, ia akan mencari makan di dekat klinik itu saja. Hitung-hitung sekalian menghemat ongkos taksi. Selena berhenti di depan pintu klinik dan mengedarkan pandangan. Ternyata di dekat sana ada sebuah kafe kecil yang yang memiliki banyak pelanggan. Selena dan perut buncitnya melangkah ke sana. Ia tahu, jika ia tidak akan rugi mampir ke sana, karena aroma yang menghampiri Indra penciumannya begitu menggoda ingin dicoba. "Okey ... rasa laparku langsung bertambah berkali-kali lipat," gumam Selena. Saat baru menginjakkan kakinya di halaman Cafe, Selena langsung disambut oleh seorang pramusaji, yang kini bertugas membagikan selebaran berisi menu favorit mereka hari ini. Selena menerima kertas itu dengan senyum mengembang. Matanya mulai memindai isi dari selebaran yang baru saja ia terima. Satu nama menu spesial membuatnya tercengang. Berulang kali Selena membaca lagi nama menu itu sembari menunggu antriannya tiba. "Sorry, ada yang salah dengan menu di sini?" tanya seorang pemuda dengan bahasa Inggris yang sangat fasih. Walaupun begitu, Selena tahu jika yang berbicara bukanlah asli warga negara Amerika. Selena mengangkat kepalanya. "Oh, tidak. Saya hanya kaget saat melihat ada burger tempe yang menjadi menu spesial di sini. Apakah rasanya sangat enak?" tanya Selena pada sosok di depannya kini. "Well, Anda memang harus mencobanya sendiri. Saya akan memesankannya untuk Anda. Anda bisa duduk di sana, sambil menunggu pesanannya datang." Selena merasa tersanjung dengan kebaikan orang itu. Mungkin karena ia sedang hamil besar, sehingga hampir sebagian orang akan memperlakukannya dengan baik. "Terima kasih." Kaki Selena melangkah menuju sebuah meja bulat yang ditunjukkan oleh orang tadi. Ia meletakkan tasnya di atas meja dan mulai duduk menunggu. Lagi-lagi Selena mencoba untuk mengedarkan pandangannya pada titik yang bisa ia jangkau. Selena ingin melihat suasana daerah itu pada siang hari. Mungkin ia akan merindukan apa yang ia lihat sekarang, karena Selena sendiri punya tempat tinggal pribadi. Dan lokasinya agak jauh dari tempat itu. "Hei." Sebuah suara dan sentuhan pada bahu Selena, membuat wanita itu berpaling. "Eh, Frans?" sahutnya tidak percaya. Lagi-lagi orang itu muncul di sekitarnya. "Boleh aku bergabung di sini?" tanya Frans menunjuk kursi kosong di seberang Selena dengan sangat sopan. "Cafe ini adalah fasilitas umum, Frans. Tentu saja kamu boleh duduk di sana, tidak akan ada yang melarangnya," terang Selena mencoba untuk bersikap baik. Frans tersenyum puas. Mungkin tadinya ia kira Selena akan menolak. Ia menarik sebuah kursi yang masih rapat pada meja dan duduk di hadapan teman lamanyaa baik-baik. "Kukira kamu sudah pulang. Urusanmu sudah selesai, kan?" tanya Frans memastikan. "Yeah ... aku hanya tergoda oleh bau masakan yang sangat mengesankan ini." Frans meraih selebaran yang Selena letakkan di atas meja. Netranya mulai memindai isi menu yang mereka sajikan. "Aku tebak, kamu pasti ingin mencoba burger tempe ini, kan?" selidik Frans. "Kamu benar. Di tanah air, aku hanya menemukan tempe dalam bentuk yang begitu-begitu saja." "Really? Mungkin kamu belum menemukannya saja ...." "Ya. Mungkin juga." Begitulah. Siang itu berlalu dengan cukup menyenangkan. *** Saat ini Selena sudah berada di rumah Jean lagi. Ia cukup lelah, apalagi dengan perut besarnya. Selena merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Ia merogoh kantong coat-nya untuk menemukan benda pipih yang tadi ia simpan di sana. "Lalu ... buat apa nomor HP ini? Apakah aku akan bertemu lagi dengannya?" tanya Selena kepada dirinya sendiri. Pandangan Selena beralih pada sebuah pesan masuk yang baru saja muncul. Ia membukanya dan mendapati pesan masuk itu berasal dari Jean. "Sebentar lagi aku pulang. Kita akan pergi ke rumah barumu! Bagaimana, kamu sudah siap?" tanya pesan itu. Selena tersenyum. Tentu saja ia akan siap. "Okey. Aku akan menunggumu," balas Selena. Karena sudah sangat kenyang, Selena berniat untuk menyusun pakaiannya saja. Semalam ia sempat mengeluarkan beberapa pasang pakaian, karena bingung ingin mengenakan yang mana. Selena berniat untuk menyelesaikan semuanya sebelum Jean pulang. Saat sedang asyik dengan kegiatannya, entah kenapa pandangan Selena beralih ke arah meja rias milik Jean. Di sampingnya, terdapat sebuah bingkai foto yang menarik perhatiannya. Tangan Selena berhenti dengan kesibukannya. Ia berdiri dan mendekati bingkai foto itu. Di sana terlihat ada dirinya, Dokter Evelyn, Jean dan William. Selena mengingat masa-masa itu. Saat Jean menyambut mereka untuk liburan musim panas. "Siapa ya harus kusalahkan atas semua ini, Will?" tanya Selena pada bingkai foto di hadapannya kini. Dengan d**a yang terasa sesak, Selena meninggalkan kamar itu. Yang ia butuhkan adalah ketenangan dan waktu. Kenapa William tidak pernah bisa hilang dari pikirannya? [Bersambung]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN