Black Catcher

1133 Kata
Leo masuk ke dalam markas dengan langkah terburu-buru. Tujuan utamanya adalah menemui Vincent untuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan "Dimana Vincet?" tanya Leo pada semua anak-anak Black Catcher yang tengah asik bermain kartu. "Kami belum melihatnya sedari tadi. Dia belum pulang ke markas sejak tadi siang," ujar Irene yang tiba-tiba datang keluar dari ruangannya. "Kemana dia?" ucap Leo membatin. Ponselnya bahkan tidak aktif sama sekali. Leo melirik Irene sekilas, "Beritahu Vincent untuk langsung datang ke ruanganku ketika ia sudah datang. Dan kau Christ? Ikut aku, aku perlu bicara denganmu." Leo segera pergi menuju ruangannya di susul oleh Christ. Setibanya di ruangan, Leo langsung memukul meja dengan keras. Brakkk!! Leo berbalik lalu menantap Christ dengan tajam, "Kau tau apa yang menjadi kesalahanmu?" Christ mengangguk, ia tau apa yang membuat Leo sangat marah sekarang. Ini karena kelalaiannya dan teman-temannya. "Mengapa kalian sampai lalai dengan tugas yang telah aku berikan, huh? Anak-anak Red Bulls sudah keluar masuk ke daerah kekuasaan kita dan kau dan anak-anak yang lain hanya duduk diam sambil bermain kartu disini? Kenapa kau mendadak jadi seperti ini Christ?" Leo tidak habis fikir, Christ merupakan salah satu orang kepercayaannya tapi ia sudah melalaikan tugas yang Leo berikan padanya. "Maaf." Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir Christ. "Apa kau tau ada salah satu dari mahasiswa yang tewas akibat ulah Red Bulls? Katakan dengan jujur!!" bentak Leo. Teriakan Leo sukses membuat semua anggota gang yang berada di luar langsung menghentikan aktivitasnya. "Kami tidak tau, Leo." "Tentu kau tidak tau!!" sela Leo. "Ada seorang gadis yang menemukan mayat pria itu lebih dulu dariku, dan aku tidak yakin ia bisa menutup mulutnya rapat-rapat." Nada suara Leo kini menurun, mungkin ia sudah bisa mengontrol emosinya. "Kami akan memastikan gadis itu untuk tutup mulut, aku akan mengurusnya," ujar Christ. "Tidak perlu, aku yang akan mengurus gadis itu. Aku dapat kabar bahwa anak-anak Red Bulls tadi melintasi kawasan kita, apa kau bisa mengurusnya? Jika tidak, aku akan memerintahkan Joshua." "Baik, aku akan mengurusnya. Kalau begitu aku permisi," pamit Christ. *** Saat melewati koridor kampus sendirian Anna dikejutkan dengan kemunculan David yang tiba-tiba saja. Ia seperti jailangkung saja. Anna menepuk bahu David dengan pelan, "Kau mengagetkan ku," keluh Anna. Ia mengusap dadanya pelan. David hanya tertawa saja, "Kau meninggalkanku aku sampai mencarimu kemana-mana, jadi bagaimana? Apakah kita bisa membahas tentang tugas yang diberikan Tuan Randy sekarang?" tanya David. Ia membawa dua buku tebal yang Anna yakini adalah bahan untuk membahas tugas. "Baiklah, tidak masalah." "Ayo, ikut aku. Aku punya tempat terbaik yang pastinya nyaman dan sunyi sehingga tidak ada yang bisa mengganggu kita belajar," ajak David. "Kau sangat tau segala hal tentang kampus ini, Vid. Aku salut padamu, baiklah ayo!" seru Anna dengan penuh semangat. Mereka berdua berjalan beriringan sembari terus bercanda. David benar-benar sosok pria yang sangat baik, Anna beruntung bisa menjadi temannya. Yah walaupun banyak orang yang mengejek David karena penampilannya yang terbilang kuno dengan buku-buku yang tidak pernah lepas dari tangannya, tapi dibalik itu semua, David ada sosok pria yang sangat baik. Mereka berhenti dibawah pohon yang cukup besar dengan kursi panjang yang berada dibawah teduhnya pohon besar itu. "Kita akan belajar disini?" tanya Anna pada David yang dibalas anggukan kepala olehnya. Daerah yang David pilih memang sangat sepi dan nyaman. Saat mereka berdua tengah asik membahas buku yang masing-masing mereka pegang tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang pria yang sontak membuat Anna dan David terkejut. Mereka berdua saling menatap, lalu dengan bersamaan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut mencari siapa yang sudah berteriak nyaring. Anna melihat dua orang pria yang berdiri berhadapan, mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius. Anna kenal satu pria yang sedang berteriak itu, pria itu adalah Leo. Pria tempramental yang sangat Anna kenali. Tetapi ada satu hal yang menarik perhatian Anna, seorang pria yang hanya berdiri tenang tanpa ada emosi yang terlihat di wajahnya. Ia hanya diam mendengarkan ocehan dan makian yang Leo lontarkan padanya. Pria dengan rambut berwarna hitam pekat, tubuh yang kekar itu telah menarik perhatian Anna. Baju yang ia kenakan berwarna abu-abu beda dengan Leo yang selalu saja mengenakan baju berwarna hitam seperti orang yang berduka saja. "Apa yang kau lihat?" tanya David. "Ah, bukan apa-apa." Anna menundukkan pandangannya ke arah bawah. "Kau melihat mereka? Leo dan Vincent." David paham apa yang saat ini ada dipikiran Anna. Mata Anna membulat, ia langsung menatap David dengan tatapan yang serius. "Apa kau mengenal pria yang bersama Leo itu?" tanya Anna dengan sangat antusias. "Bukan cuma aku yang tau, semua orang juga tau siapa pria yang bersama Leo. Seperti yang pernah ku jelaskan sebelumnya padamu, Leo adalah ketua gang yang sangat ditakuti di kota ini dan tentu ketua memiliki wakil bukan? Nah, pria yang memakai baju abu-abu itu adalah wakil ketua gang Black Catcher sekaligus menjadi orang kepercayaan Leo karena Vincent adalah sahabatnya sejak kecil," jelas David panjang lebar. Anna terdiam memahami apa yang David jelaskan padanya. Ia kembali melirik dua orang pria itu, ia tersenyum kaku. "Ku fikir semua anggota gang itu memiliki sikap yang sama seperti Leo, sama-sama tempramental dan tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Tapi, pria itu berbeda. Bagaimana bisa ia bersikap tenang ketika Leo terus memakinya?" Anna menantap David. "Vincent memang dikenal pria yang jauh lebih tenang dari teman-temannya. Dan cuma dia yang mampu membuat Leo tenang ketika sedang emosi. Tapi ada hal yang harus dihindari ketika ia marah, amarahnya mungkin akan jauh lebih parah daripada Leo," timpal David. David terlihat sangat tau segala hal tentang Black Catcher apa ini hanya sebuah kebetulan saja? Atau memang semua orang tau akan hal ini? Itu sebabnya David menjelaskan segalanya pada Anna. "Vincent sangat berbeda dengan Leo. Oh iya, ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu." Anna kini menantap David dengan tatapan yang serius. "Katakanlah." "Aku sempat melihat beberapa orang memakai sebuah pin, dan bentuk pinnya itu sama. Inisial BC dengan warna dominan gold, apa kau tau artinya?" Anna teringat akan pin yang ia temukan waktu itu. "Pin itu merupakan identitas anggota Black Catcher. Semua orang yang menjadi anggota Black Catcher wajib memakai pin itu sebagai tanda pengenal, dan tidak sembarangan orang bisa masuk menjadi anggota Black Catcher. Mereka memiliki seleksi tersendiri yang terbilang sulit." "Tapi.. mengapa aku melihat seorang gadis juga memakai pin yang sama?" Rasa ingin tau Anna kian menjadi, ia menanyakan segala hal yang ingin ia ketahui tentang gang black catcher. "Ya mereka juga anggota Black Catcher. Tidak hanya pria yang bisa menjadi anggotanya, wanita juga bisa. Tapi, wanita perannya hanya sebagai bagian medis saja karena mereka tidak diizinkan untuk ikut bertarung." "Oh, mereka semua sudah memiliki tugas yang memang sudah ditetapkan oleh Leo. Baiklah, kurasa hanya itu yang ingin aku ketahui." Anna kembali mengarahkan pandangannya ketempat dimana ia tadi melihat Leo dan Vincent tapi sayangnya mereka sudah tidak ada. Anna bahkan tidak menyadari kalau mereka sudah pergi. Anna kembali berbalik menatap David. "Kita lanjut?" "Ah iya, ayo!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN