Aku sudah berada di depan pintu rumah Leo. Aku melirik ke arah bel rumah, lalu menekannya. Tidak selang beberapa lama pintu rumah terbuka memperlihatkan Leo yang sedang dalam keadaan ma.buk berat. Matanya merah, wajahnya pun juga memerah. Ada apa dengannya?
"Leo? Kau kenapa?" Aku menatapnya dengan tatapan yang serius, aku khawatir dengan kondisinya sekarang. Mengapa ia harus seperti ini?
"Anna, kau disini? Sedang apa? Ayo masuk." Leo mempersilakanku masuk. Ia berjalan lebih dulu dengan langkah gontai dan seperti akan menabrak sesuatu. Kuputuskan untuk membantunya dan menuntunnya menuju sofa.
"Mengapa kau bisa seperti ini?" Aku menatap Leo, ia hanya tersenyum ke arahku.
"Entahlah."
"Dimana teman-teman mu? Mengapa kau tidak menghubungi mereka? Mengapa mereka membiarkanmu seperti ini sendirian?" tanyaku lagi.
"Entahlah."
Aku menghela nafas pelan, sulit untuk bicara dengannya dengan kondisi yang seperti ini.
"Tunggu disini, aku akan kembali dan membawa minum yang bisa membuatmu jauh lebih segar dan pastinya bisa cepat sadar dari ma.buk mu itu." Aku beranjak dari tempat duduk menuju dapur.
Kulihat di sekeliling tampaknya tidak ada sesuatu yang bisa dijadikan minuman yang menyegarkan. Perhatianku kini mengarah pada kulkas. Aku membukanya dan hanya menemukan beberapa makanan dan lemon saja.
Kupikir mungkin Lemon bisa membuat Leo sadar, aku mengambilnya lalu memeras sarinya. Ku campur sedikit air dan madu agar rasanya tidak terlalu pekat.
Setelah kurasa cukup, aku kembali menemui Leo. Matanya tertutup, apa mungkin ia tidur?
"Leo?" panggilku seraya terus menggoyangkan tubuhnya agar ia bangun.
Leo mendengus pelan, ia membuka matanya perlahan lalu menatapku dengan tatapan bingung.
"Minumlah." Aku menuntun Leo meminum minuman yang aku buat, ia tampak tidak suka tapi aku terus memintanya agar ia mau menghabiskannya. Tak selang beberapa lama ia tiba-tiba saja batuk dan memuntahkan cairan minuman yang sempat ia minum tadi. Perlahan kesadarannya mulai kembali.
"Sebaiknya kau beristirahat agar merasa jauh lebih baik," saranku padanya.
"Terimakasih," ucap Leo. Ia terus menatap manik mataku.
"Tidak masalah, kau istirahatlah di kamar. Jangan disini, aku akan pulang setelah membersihkan ini semua."
"Mengapa kau melakukan ini padaku? Bukannya kau tidak menyukaiku? Ah iya, kau sangat membenciku bukan?"
"Sejak kapan aku mengatakan hal itu?"
"Tidak usah bohong. Aku sangat tau seperti apa perasaanmu itu. Kau tidak suka denganku karena aku selalu mengusik dan ikut campur urusanmu bukan?"
"Sudahlah, Leo. Tidak usah melantur. Kau bicara omong kosong," ucapku padanya.
Leo terdiam cukup lama. Ia bangkit dari kursi lalu berjalan dengan sempoyongan.
"Aku akan membantumu!" Aku menghampiri Leo lalu memegang lengannya dan membantunya untuk ke kamar.
"Aku tidak tau mengapa kau melakukannya, tapi terimakasih."
"Iya."
Aku menuntun Leo menuju kamarnya lalu membantunya merebahkan tubuhnya yang kekar itu ke kasur king size miliknya. Setelah itu aku menyelimutinya sebelum keluar kamar.
Setelah ku antar Leo ke kamarnya, aku mulai membersihkan lantai bekas Leo muntah tadi. Baunya tidak pekat, hanya ada bau alkohol saja yang tercium. Sepertinya ia benar-benar minum banyak.
Setelah ku rasa semuanya bersih, aku kembali untuk mengintip Leo dari balik pintu, aku mengecek apakah ia benar-benar tidur atau tidak.
Rupanya ia benar-benar tidur, aku bisa melihat wajahnya yang kelihatan sangat lelah.
Aku menghela nafas pelan, akhirnya semuanya selesai, dengan begitu aku bisa pulang ke rumah dalam keadaan tenang.
Ini pertama kalinya aku melihat sisi tidak berdaya pada Leo. Ia terlihat sangat lemah, entah apa yang membuatku sampai berempati seperti ini. Aku merasa Leo benar-benar membutuhkanku tadi, sampai saat di kampus pun aku tidak bisa fokus dibuatnya.
Atau mungkin rasa yang aku rasakan hanya bentuk empati saja karena Veronica memintaku untuk menjaga Leo, ya itu mungkin sedikit aneh tapi itulah yang sebenarnya.
***
Aku pulang ke rumah, ternyata ayah belum pulang. Kemudian aku bergegas ke kamar untuk mandi dan juga beristirahat. Rasanya hari ini lumayan melelahkan untukku. Banyak hal yang terjadi.
Usai mandi, aku langsung menuju dapur untuk mencari makanan yang mungkin bisa mengganjal perutku yang lapar. Aku hanya menemukan sosis saja dan juga mie instan. Daripada harus memasak makanan yang lain atau memesan makanan pasti akan membutuhkan waktu yang lama, aku memilih makan mie instan saja.
Aku jadi teringat Leo, apa yang pria itu lakukan sekarang? Apakah dia sudah makan? Atau mungkin dia masih tidur? Aku mendadak mengkhawatirkan dirinya.
Ku ambil ponselku untuk menghubungi Leo, ku harap dia akan mengangkatnya. Setelah menunggu cukup lama akhirnya Leo mengangkat telepon dariku. Suara seraknya terdengar syahdu, mungkin saja ia baru bangun tidur ketika mendengar ponselnya berdering.
"Ada apa?" tanya Leo dari balik sambungan telepon.
"Kau sedang apa?"
"Tidur. Kenapa?"
"Kau sudah makan? Ah iya, tentu belum. Kau kan hanya ingat minum alkohol saja, ucapku secara terang-terangan.
"Jangan menasehatiku!"
"Tidak, aku tidak menasehati mu. Sebaiknya kau bangun dan mandi lalu makan, itu akan membuatmu merasa jauh lebih baik," saranku pada Leo. Entah dia akan mengindahkan ucapanku atau tidak.
"Tunggu-tunggu. Kau meneleponku untuk mengatakan hal ini? Sungguh, aku benar-benar tidak menyangkanya. Aku heran mengapa kau tiba-tiba saja peduli padaku."
Deg!!
Jantungku berdegup kencang, bagaimana bisa aku menjawab ucapan Leo. Ada apa denganku? Mengapa aku tiba-tiba menunjukkan sikap peduli pada Leo?
"Itu..."
"Apa?" timpal Leo dengan cepat.
"Aku hanya mengingat pesan Veronica saja. Aku sama sekali tidak ada niat seperti apa yang kau pikirkan. Aku hanya menjalankan apa yang sudah di amanahkan padaku!" seruku pada Leo.
"Iya-iya, baiklah." Leo langsung menutup teleponnya tanpa mengatakan sesuatu, memang sangat keterlaluan.
Usai Leo menutup teleponnya, aku langsung membuang ponselku ke kasur, ya ampun aku benar-benar dibuat malu. Kenapa aku harus menghubungi dirinya lalu berlagak peduli padanya? Dia pasti berpikir bahwa aku sangat peduli dengan kondisinya itu.
"Ada apa denganku?" gumamku.
Anna POV end
Tingg!!
Sebuah pesan masuk pada ponsel Anna berhasil membuat fokusnya teralihkan. Anna langsung bergegas mengambil ponselnya untuk mengecek siapa yang telah mengiriminya pesan.
Tertera nama Leo disana, ia mengirimi Anna pesan. Tapi mengapa ia tiba-tiba mengirimi Anna pesan?
(Aku sangat lapar, mau ikut makan denganku?) tulis Leo melalui pesan singkat yang ia kirim.
Sontak mata Anna membulat, ia tidak menyangka Leo mengiriminya pesan untuk mengajaknya makan malam. Ntah Anna harus memberi respon seperti apa pada pesan yang Leo kirim.
Cukup lama Anna memandang ponselnya dengan tatapan kosong. Ia bingung harus menjawab apa. Tampaknya Leo sudah tidak sabar menunggu respon Anna, ia langsung menghubungi Anna untuk bertanya apa responnya, apakah ia setuju atau tidak.
"Halo?" sapa Anna.
("Kenapa?")
"Apa yang kenapa?"
("Kenapa kau hanya membaca pesan ku tapi tidak membalasnya? Aku sudah menunggu beberapa menit, tapi kau tidak membalasnya. Kau bisa mengatakan ya atau tidak,") ujar Leo.
"Maaf."
("Jadi apa? Kau setuju atau tidak? Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran.")
"A-aku... Leo, ini sudah malam. Ayahku juga pasti akan pulang. Aku takut jika ayahku tau," ucap Anna terus terang.
("Ya atau tidak?")
"Kenapa kau tidak mengajak Joshua atau Christ? Mereka pasti akan setuju."
("Aku hanya ingin makan denganmu.")
"Oh begitu, ya."
("Cepat katakan, ya atau tidak. Kau membuang-buang waktuku.")
"Sebenarnya aku ingin. T-tapi aku takut pada ayahku, ini juga sudah larut, dimana kita bisa menemukan restaurant yang buka?"
("Kalau begitu aku akan membawa makanan kesana, tunggu. Aku akan datang secepatnya.")
Tut tut tut!!
Lagi dan lagi Leo mematikan ponselnya tanpa mengatakan apapun. Anna bahkan belum berkata ya atau tidak, tapi dia langsung menarik kesimpulan untuk makan di kamar Anna, memang pria yang seenaknya.
Waktu bergulir dengan cepat, dengan kekhawatiran, Anna bolak-balik memutari kamarnya. Ia khawatir Leo akan datang disaat ayahnya pulang, jika hal itu benar terjadi ia jelas akan mendapat masalah.
Terdengar suara mobil, Anna langsung bergegas menuju ke arah jendela, dan benar saja yang datang adalah James, ayahnya Anna. Bagaimana sekarang? Bagaimana ia harus mengatasi hal ini? Bagaimana jika Leo langsung datang tiba-tiba?
"Bagaimana ini?" gumam Anna. Ia mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Leo tapi ponselnya tidak aktif, ini benar-benar akan menjadi masalah.
Anna berharap semoga Leo tidak jadi datang, jika ia datang Anna tidak akan bisa mengatasi segalanya.
Tak selang beberapa lama, pintu balkon Anna seperti ada yang mengetuknya.
Tok tok tok!!
Bunyinya lumayan nyaring, Anna mengintip, ia harus cari tau siapa yang datang dan orangnya adalah Leo. Ia membawa beberapa bungkus kantong plastik yang Anna yakini adalah makanan yang ia beli. Bagaimana ini? Haruskah Anna membuka pintu untuknya? Tapi bagaimana jika yang ia lakukan ternyata di ketahui oleh James?
"Cepat buka pintunya! Jika kau berlama-lama, ayahmu akan tau kehadiranku!!" Samar-samar terdengar suara Leo yang meminta Anna untuk membukakan pintu untuknya. Anna sendiri masih dilanda keraguan, ia benar-benar takut.
Baiklah, Anna harus membuka pintunya. Ia juga tidak ingin mengambil resiko, bagaimana jika ternyata James melihat Leo berdiri di balkon kamar Anna?
Ceklek!!
Anna membuka pintu, ia menatap Leo dengan tatapan kesal.
"Kenapa lama sekali?" keluh Leo. Ia masuk tanpa meminta izin lebih dulu, Anna hanya bisa diam lalu menutup pintu balkonnya kembali.
"Kenapa kau datang kesini?" tanya Anna, ia terlihat kesal. "Apa kau tidak lihat, ayahku baru saja pulang!" sambung Anna
"Bukankah aku sudah mengatakan akan datang kesini?"
"Tapi aku belum menjawab ya atau tidak, 'kan!!"
"Shutt!!" Leo menaruh satu jarinya untuk meminta Anna agar tidak bersuara.
"Kau tidak ingin ketahuan tapi suaramu sangat lantang. Diamlah, kita tidak akan ketahuan jika kau bisa menutup mulutmu!"
"Kau..."